Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 97



Tuan Edritz tertawa saat mendengar pertanyaan Daniel pagi itu. Tawanya pecah hingga membuat ruangan meja makan dipenuhi dengan suara miliknya.


Ny. Edritz juga menyusul tawa sang suami dengan wajah bahagia. Mereka dua tidak pernah menyangka, kalau Daniel bisa memiliki pikiran seperti itu terhadap ibu kandungnya sendiri.


“Daniel, kenapa kau bertanya seperti itu? tentu saja mamamu ini tidak pandai bertarung. Apa kau berharap mamamu ini wanita jagoan seperti Serena?” tanya Tuan Edritz disela-sela tawanya.


Serena menutup mulutnya dengan tangan sambil menahan tawa. Pertanyaan konyol suaminya itu membuat dirinya juga menyimpan tawa yang begitu menggelikan.


Dari meja yang tidak terlalu jauh, Kenzo dan Shabira juga tersenyum mendengar perbincangan antar orang tua dan anak itu.


Daniel bersandar dengan wajah kecewa, “Tapi mama terlihat berpengalaman saat berada di medan perang. Aku pikir menikah dengan wanita jagoan adalah garis keturunan untuk keluarga Chen.”


Ny. Edritz tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Daniel, “Daniel, untuk melakukan hal seperti itu mama tidak perlu jago bela diri. Mama cukup punya uang dan membayar orang yang akan mama beri pekerjaan."


By. Edritz menatik napas sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Sejak dulu, mama punya satu orang kepercayaan yang selalu mengikuti perintah mama. Seperti Biao yang selalu menjagamu. Pria itu yang selalu memberi tahu mama, setiap kali orang yang mama sayangi berada dalam bahaya.” Ny. Edritz kembali mengingat tangan kanannya yang selama ini menjadi rahasia dirinya.


“Lalu, Ny. Daeshim?” tanya Daniel pensaran.


Ny. Edritz memandang wajah Kenzo dengan seksama, “Ny. Daeshim memang wanita yang jago bela diri. Hal itu yang membuatnya celaka dan meninggal dunia. Kenzo, salama ini kami dan Tuan Daeshim merahasiakan kematian ibumu. Ny. Daeshim tidak pernah menderita sakit. Ia meninggal karena dibunuh oleh seseorang yang pernah menjadi musuhnya. Sejak awal menikah, Tuan dan Ny. Daeshim sudah terjun ke dunia mafia.” Ny. Edritz melamun sejenak membayangkan wajah Ny. Daeshim yang tidak sempat lama menikmati statusnya menjadi Ny. di keluarga Chen.


“Ibumu meninggal saat kau masih berusia 1 tahun. Sejak saat itu Tante yang lebih sering mengurusmu. Kau juga sangat akrab dengan Daniel. Kalian berdua terlihat seperti adik kakak yang saling menyayangi. Tante juga sering membawamu ke rumah ini bahkan menyiapkan satu kamar khusus untukmu. Tuan Daeshim sibuk dengan bisnisnya diluar. Ia tidak punya banyak waktu untuk memperhatikanmu.”


Shabira mencengkram tangan kenzo, untuk memberi kekuatan kepada pria itu. Kisah yang kini diceritakan oleh Ny. Edritz menjadi satu cerita haru yang membuat semua orang kembali sedih. Sama dengan Serena, wanita itu juga kembali mengingat Tuan Wang. Hatinya seperti diremas dan terasa perih saat mengingat kematian Tuan Wang karena dibunuh oleh seseorang.


“Tante, terima kasih karena selama ini sudah menjaga Kenzo dengan begitu baik. Kenzo sangat menyayangi Tante, seperti Kenzo sayang kepada orang tua Kenzo sendiri.” Kenzo tersenyum memandang wajah Ny. Edritz.


Namun, dalam waktu singkat. Semua tatapan mata yang mengelilingi meja makan itu. Kembali fokus pada wajah sedih Serena. Wanita itu melamun dengan wajah senduh yang menyayat hati.


Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya saat ia menyadari buliran air mata yang menetes. Pria itu tahu, kalau kini istrinya kembali merindukan pria paruh baya yang mengasuhnya sejak kecil.


“Sayang, Tuan Wang sudah tenang di sana. Di sini ada aku, Papa, Mama, Kenzo dan Shabira yang sangat menyayangimu.” Daniel mencium pucuk kepala Serena dengan kelembutan.


Suasana yang sempat ramai itu berubah hening saat semua orang tidak mampu mengeluarkan kata lagi. Daniel memandang wajah Ny. Edritz sebelum menatap wajah Serena lagi.


“Sayang, ayo kita istirahat di kamar.” Daniel berdiri untuk membawa tubuh Serena.


“Daniel, jaga Serena. Mama ingin menemani Kenzo dan Shabira untuk menemui WO kenalan mama.” Ny. Edritz juga beranjak dari duduknya.


“Iya, Ma.” Daniel membawa tubuh Serena menuju ke lantai atas.


“Tante ingin membantu Kenzo beneran?” tanya Kenzo dengan wajah berseri-seri.


“Apa kau pikir Tantemu ini hanya becanda tadi?” Ny. Edritz tersenyum kecil.


“Terima kasih, Tante.” Kenzo dan Shabira mengucapkan kata itu secara bersamaan.


“Pa, Mama pergi dulu. Papa istirahat saja di rumah. Nanti malam kita akan mengadakan pesta ulang tahun Daniel.” Ny. Edritz menerima tas yang baru saja di ambil pelayan dari kamar pribadinya.


“Pesta ulang tahun?” tanya Kenzo bingung.


“Kenzo belum menyiapkan kado untuk Daniel. Apa yang diinginkan Daniel saat ini, Tante?” Kenzo menatap wajah Ny. Edritz menunggu satu jawaban.


“Sepertinya tahun ini Daniel tidak akan meminta sesuatu yang aneh-aneh. Anak itu sudah banyak berubah sejak menikah dengan Serena. Dia jauh lebih dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan.” Ny. Edritz berjalan meninggalkan ruang makan.


Kenzo dan Shabira mengikuti langkah Ny. Edritz dari belakang. Sedangkan Tuan Edritz berjalan santai menuju ke arah kamar.


“Tante, apa seluruh S.G. Group juga diundang seperti biasa?” tanya Kenzo saat mereka berjalan beriringan.


“Tentu saja, seperti biasa. Oh iya, satu lagi. Kau harus mengundang Kakakmu, Shabira. Tante mengundangnya secara pribadi.” Ny. Edritz tersenyum memandang wajah Shabira.


“Kak Zeroun?” tanya Shabira pelan.


“Ya, dia pria sukses di kota ini. Selain itu ia juga sudah menjadi sahabat terbaik Daniel dan Serena. Tante ingin dia datang di hari bahagia ini.” Ny. Edritz berjalan ke arah mobil yang pintunya sudah terbuka.


Sedangkan Kenzo dan Shabira menuju ke arah mobil pribadi milik Shabira. Dua mobil itu melaju dengan cepat meninggalkan kediaman Edritz Chen.


***


Di dalam kamar.


Daniel membantu Serena untuk berbaring di tempat tidur. Dengan lembut ia menyentuh wajah Serena sebelum mengecup pipinya. Daniel duduk di pinggiran tempat tidur sambil menarik tangan Serena ke dalam genggamannya.


“Sayang, apa kau kembali memikirkan Tuan Wang?” tanya Daniel dengan penuh hati-hati.


Serena tersenyum kecil, “Aku sangat merindukan Papa akhir-akhir ini.”


“Kita akan berkunjung ke makam Tuan Wang sebelum pergi bulan madu. Bagaimana? apa kau bisa kembali tersenyum seperti biasa?” Daniel menatap wajah Serena dengan kesedihan.


“Terima kasih, Daniel.” Serena mengukir senyuman indah miliknya.


“Jangan sedih lagi, aku akan selalu membuatmu merasa bahagia, Serena.” Daniel mengecup tangan Serena dengan lembut.


“Sayang, selamat ulang tahun.” Serena tersenyum menatap wajah Daniel.


“Aku hampir lupa, maafkan aku.” Sambung Serena dengan wajah sedih.


“Kau tidak perlu mengingat kapan ulang tahunku Serena. Tapi ingat namaku seumur hidupu. Itu adalah hal terindah yang aku inginkan dari dirimu.” Daniel mendekatkan wajahnya di depan wajah Serena.


“Aku sangat mencintaimu, Serena Wang. Istriku, cinta pertamaku, pacarku sekaligus tunanganku.” Daniel mengecup bibir Serena dengan begitu mesra.


Baginya tidak ada kado paling istimewa jika dibandingkan senyuman manis milik Serena. Wanita itu sudah merubah sikap sombong dan angkuh yang ia miliki menjadi satu sikap lembut yang penuh kasih sayang. Tidak ada lagi sifat egois yang sejak dulu memenuhi hatinya.


Semua sifat buruk yang pernah dimiliki Daniel sudah musnah bertukar sifat yang baik. Semua perubahan itu terjadi sejak ia mulai mengenal cinta. Cinta memang sudah merubah Daniel yang dulu menjadi Daniel yang jauh lebih baik.


Cinta Serena juga berhasil menyatukan perselisihan antara Kenzo dan Daniel. Cinta Serena berhasil menyatukan hubungan saudara kandung antara Shabira dan Zeroun. Serena seperti sebuah malaikat yang dikirim ke bumi untuk menyatukan semua orang yang sedang berselisih.


"Daniel, tidak ada jalan hidup yang tidak memiliki akhir. Seperti yang kini aku rasakan. Takdir hidupku memilikimu untuk selama-lamanya. Mencintaimu untuk selama-lamanya. Takdir tidak pernah mempermainkanku. Takdir hanya menguji hatiku dan merubah diriku menjadi yang lebih baik. Agar aku bisa selalu bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini. Terima kasih, Papa. Semua pilihan Papa memang yang terbaik untuk hidup Serena saat ini."