Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kembali Lagi



Kini Daniel sudah duduk manis di samping ranjang Serena. Tatapan matanya masih ia fokuskan pada wajah Serena yang tertidur dengan tenang. Ny. Edritz dan Adit juga masih ada di ruangan itu untuk memastikan keadaan Serena selanjutnya setelah pergerakan tangan yang baru saja terjadi.


“Daniel, kau tidak kembali ke kantor?” tanya Adit sambil memeriksa beberapa alat bantu pada tubuh Serena.


“Tidak!” ucapnya singkat.


“Daniel, apa semua baik-baik saja?” tanya Ny. Edritz dengan wajah takut.


“Mama tidak perlu menanyakan hal itu pada Daniel, karena mama pasti tau jawabannya!” ungkap Daniel yang masih dipenuhi rasa kesal terhadap kedua orang tuanya.


“Maafkan mama Daniel”, ucap Ny. Edritz lirih. “Mama hanya ingin kalian berdua bahagia”, sambungnya lagi.


“Daniel, tidak mau membahas masalah itu di sini ma”, gumam Daniel sambil kembali menatap wajah Serena.


Raut wajah marah memang sangat jelas terlihat di wajah Daniel. Tiap kali ia bertemu dengan tuan ataupun Ny. Edritz. Akan tetapi hingga detik ini, Daniel justru tidak ingin memaksa kedua orang tuanya untuk membongkarkan semua rahasia Serena.


Meskipun Daniel mengetahui semua niat baik yang ada di pikiran Papa dan Mamanya, tapi rasa kecewa atas semua kebohongan yang sudah direncanakan membuat hatinya menjadi sakit.


“Kenapa semua harus menjadi buruk seperti ini ma”, gumam Daniel dalam hati tanpa mampu memandang wajah sang ibunda.


Rasa sayang Daniel memang sangat besar terhadap Ny. Edritz. Tiap kali ia memiliki masalah dalam hidup, Ny. Edritz lah yang menjadi tempat ia bercerita. Namun masalah hidupnya kali ini justru di ciptakan oleh sang ibu.


“Mama pulang dulu ya Daniel, tolong jaga Serena untuk mama”, gumam Ny. Edritz pelan sambil berlalu pergi meninggalkan kamar itu.


“Kau tidak seharusnya sekeras itu pada ibumu Daniel!” seru Adit yang menyaksikan pertikaian dingin yang ada dihadapannya.


“Aku tidak tau lagi, harus bagaimana”, ucap Daniel frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.


“Semua akan baik-baik saja Daniel”, sambil menepuk pelan pundak Daniel. “Kebenaran pasti akan selalu menang, kau hanya perlu bersabar menunggu waktu itu tiba Daniel”.


“Terima kasih Adit, karena kau mau merawat Serena”.


“Jangan ucapkan kata itu, aku tidak terlalu suka mendengarnya”, gumam Adit santai dan tersenyum lebar memandang Daniel.


“Kau selalu saja seperti itu”, balas Daniel sambil membalas senyuman Adit.


“Aku harus pergi, ada beberapa pasien VVIP yang ingin mendapat pelayananku hari ini”, ucap Adit sambil mengedipkan matanya.


Daniel hanya tersenyum kecil saat melihat Adit melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Matanya kembali berkaca-kaca saat pandangannya kembali pada wajah Serena.


“Serena, kau harus segera bangun. Kau harus membantuku untuk menjawab semua kekacauan ini!” gumam Daniel sambil menggenggam tangan Serena.


“Aku sudah bangun sejak tadi”, celetuk Serena tiba-tiba.


“Serena! Kau!” secepat kilat Daniel melepas genggaman tangan Serena dan berdiri dari duduknya.


Daniel masih menatap wajah Serena dengan serius. Matanya tidak berkedip sedikitpun untuk memastikan pandangan yang kini ada di hadapannya adalah nyata.


“Kenapa kau memandangku seperti itu?” ucap Serena pelan sambil memandang sekeliling kamar “Dimana ini?”.


Serena kembali mengingat peristiwa yang terjadi di hutan. Tatapan matanya ia tujukan pada Daniel untuk meminta jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia ajukan.


“Sejak kapan kau sadar Serena!” ketus Daniel sambil melipat kedua tangannya.


“Sebelum seseorang berkata ingin keluar untuk memeriksa pasien VVIP, apa dia seorang dokter?” tanya Serena dengan wajah serius.


“Dia Adit, sekaligus dokter yang menjagamu selama beberapa hari ini”, jawab Daniel cepat.


“Dimana mama?” sambil kembali memeriksa setiap sudut ruangan itu.


“Mama baru saja pulang”, kini Daniel kembali duduk di kursi yang ada di samping Serena.


“Apa kau pikir ini sebuah lelucon Serena?” tanya Daniel tiba-tiba.


“Apa maksudmu Daniel?” tanya Serena dengan wajah mulai bingung.


“Kau bangun tiba-tiba dan itu sangat jarang terjadi bukan. Kecuali kau berniat untuk mengerjaiku lagi!”


“Apa maksudmu aku harus bangun dengan membuka mataku secara perlahan seperti yang ada di sinetron?” tanya Serena mulai kesal.


“Kau ini, benar-benar wanita yang menyebalkan!”.


“Apa kau baik-baik saja Daniel?” gumam Serena pelan, terlihat senyum kecil kembali menghiasi wajah cantik Serena.


“Aku baik-baik saja!” jawabnya singkat.


“Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya”, sambil berusaha bangkit dari tidurnya “Aduh, sakit”, Serena memegang perut yang terkena tembakan.


“Serena, apa kau baik-baik saja”, tanpa menunggu jawaban dari Serena, Daniel berlari ke arah pintu.


“Panggilkan Adit, cepat!” perintahnya pada pengawal yang berjaga.


“Kenapa sangat sakit”, gumam Serena dalam hati.


Matanya kembali melebar saat ia mengingat baku tembak yang terjadi di hutan itu. Saat tubuhnya di lumuri darah dan ia tidak lagi mengingat semuanya.


“Aku tertembak waktu,,,waktu itu, makanya terasa sakit”, ucapnya pelan sambil melihat ke arah Daniel yang mulai mendekati dirinya.


“Serena, bertahanlah. Adit akan segera datang untuk memeriksamu”, gumam Daniel dengan raut wajah panik.


Serena hanya tertawa bebas mendengar perkataan yang baru saja di ucapkan oleh Daniel. Wajah panik Daniel kali ini menjadi penyemangat dalam dirinya untuk segera sembuh.


“Kenapa kau tertawa?” tanya Daniel mulai kesal.


“Kau tidak memarahiku Daniel?” tanya Serena dengan senyuman.


“Kenapa aku harus marah?”


“Karena aku sudah merepotkan dirimu! Kau selalu mengatakan hal itu tiap kali aku membuatmu dalam masalah”.


Belum sempat Daniel membalas perkataan Serena, Adit sudah lebih dulu muncul di hadapan keduanya.


“Kau sudah sadar nona Serena?” tanya Adit sambil terus melangkah ke arah Serena.


Serena kembali mengingat wajah Adit yang samar-samar ada pada ingatannya di pesta pernikahan.


“Apa dia sahabat Daniel, aku belum pernah bertemu dengan dirinya”, gumamnya dalam hati.


“Aku sudah beberapa kali memeriksa keadaanmu nona, kau tidak perlu secanggung itu”, ledek Adit sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Kau hanya perlu memeriksanya, tanpa perlu menjelaskan statusmu Adit!” balas Daniel yang masih berada di samping Serena.


Adit hanya tersenyum tipis tanpa mau membalas perkataan yang baru saja dilontarkan Daniel. Tangannya kembali memeriksa bekas luka tembakan yang ada pada tubuh Serena.


“Lukanya masih basah, kau tidak boleh terlalu banyak bergerak nona”, gumam Adit sambil mengakhiri pemeriksaannya. “Aku harus kembali”, menatap Daniel untuk memberi sebuah kode.


“Kau sudah boleh pergi!” ucap Daniel singkat.


Adit berlalu dari ruangan itu, hatinya terasa lega saat kini Serena sudah kembali sadar dari koma nya beberapa hari.


“Apa kau mau makan Serena?” tawar Daniel yang sangat mengerti akan sifat Serena yang tidak pernah bisa menahan lapar.


“Apa aku boleh makan?” tanya Serena dengan wajah riang.


“Siapa yang berani melarangmu untuk makan? dia akan berhadapan dengan diriku”, ucap Daniel angkuh, namun pikirannya kembali pada kejadian di apartemen yang membiarkan Serena kelaparan dan tidak mengijinkan Serena untuk mencari makanan. “Kau tidak perlu membahas soal di Apartemen itu, itu hukuman”. Sambungnya cepat, sebelum Serena kembali memotong perkataannya.


Tawa Serena kembali pecah saat mendengar ungkapan yang baru saja di katakan oleh Daniel. Hatinya merasa nyaman saat orang pertama yang ia lihat waktu membuka mata adalah Daniel. Satu senyuman indah sudah melekat indah di bibir Serena yang masih terlihat pucat.


---------------------------------------


**Selamat malam semua pembaca setia Cinta Mafia.


baca juga karya kedua Author yuk.


judulnya "GRISYEL".


Jangan lupa kasih bintang 5 ya ke author, biar semangat update nya tiap hari.


Jangan lupa Vote ya teman2.


like dan komen.


jadikan Favorit untuk dpt notif tiap kali update.


Terima kasih author ucapkan kepada semua pembaca setia Cinta Mafia**.