Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kunjungan Serena Part. 2



Pertikaian yang terjadi antara Serena dan Sonia, tidak hanya memenuhi lantai 53. Suara keduanya juga terdengar, hingga ke dalam ruangan Daniel. Biao dan Tama hanya saling menatap, ketika mendengar keributan yang kini terjadi di depan ruangan Daniel.


“Ada apa dengan Sonia?” tanya Daniel pada Biao.


“Saya akan memeriksanya, tuan,” Beranjak dari duduknya dan melangkah keluar.


Biao sempat terdiam sejenak, saat melihat sosok Serena yang kini ada di hadapannya.


“Nona Serena, kenapa anda ada di sini?” tanya Biao yang kini sudah ada disamping Diva.


“Aku ingin bertemu dengan Daniel,” jawab Serena cepat.


“Nona muda yang tidak memiliki sopan santun.” tambah Sonia yang masih kesal.


“Jaga bicara anda, Sonia!” teriak Biao tidak suka.


“Dia bahkan berani menamparku dan mengancam untuk menghabisiku!” sambung Sonia.


“Menampar?” tanya Biao tidak percaya dan memandang ke wajah Serena.


“Itu karena dia telah menyakiti hati nona Serena,” ucap Diva membela.


“Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu. Tingkahnya hanya akan merusak nama besar Daniel Edritz Chen,” ucap Sonia yang masih tidak terima.


“Apa benar, nona Serena menampar Sonia?” tanya Biao pelan.


Serena hanya mengangguk cepat, tidak ingin mengeluarkan kata. Pikirannya kembali dipenuhi dengan rasa bersalah. Serena tidak pernah memiliki niat, untuk membalas ucapan Sonia dengan tamparan. Hal itu datang secara tidak di sengaja.


“Kau melakukan hal yang tepat, nona,” ucap Biao kegirangan.


Serena dan Diva hanya terbelalak kaget, menerima respon Biao saat ini. Sedangkan Sonia, menggepal tangannya dengan kuat untuk menahan rasa emosinya saat ini.


“Anda mendukung nona Serena, tuan?” tanya Diva tidak percaya.


“Ya, hanya karena aku seorang lelaki. Kalau aku seorang wanita, aku sudah memukulnya sejak dulu,” jawab Biao dengan tatapan benci pada Sonia.


Sonia berlari kencang menuju kearah lift. Matanya terasa perih dan beberapa buliran air mata mulai mengucur deras membasahi pipinya. Kali ini dia tidak lagi memiliki kekuatan, untuk merebut hati Daniel. Semua yang berada di samping Daniel, adalah orang yang kuat.


“Aku akan membuat perhitungan denganmu, Serena!” ucap Sonia saat sudah berada di dalam lift.


Biao hanya tersenyum tipis memandang kepergian Sonia. Hingga ia kembali teringat, dengan sikap Serena hari ini.


‘Aku rasa sifat mafia anda, sudah mulai muncul di permukaan, nona,’ gumam Biao dalam hati.


“Biao, apa Danielmasih sibuk? Aku ingin bertemu dengannya sebentar saja,” pinta Serena dengan lembut.


“Tuan ada di dalam, nona. Saya akan mengantar anda masuk ke dalam.”


Biao berjalan ke arah pintu ruangan Daniel, Serena dan Diva juga mengikutinya dari belakang. Detak jantung Serena, sudah berdetak dengan cepat. Langkah kakinya semangkin berat, untuk masuk ke dalam ruangan itu.


“Nona,” ucap Diva yang melihat Serena menghentikan langkah kakinya, “Ada apa?” tanya Diva pelan.


Serena hanya diam, memandang tangan Biao yang ingin menarik handle pintu.


“Hentikan Biao!” ucap Serena cepat.


“Ada apa nona?” tanya Biao bingung.


“Apa dia akan memarahiku lagi?” tanya Serena frustasi.


“Bukankan anda bilang, anda tidak takut dengan tuan Daniel, nona?”


Serena hanya diam untuk mengumpulkan keberanian. Serena tidak ingin usahanya kali ini, menjadi sia-sia. Tujuan utama datang ke S.G. Group, untuk membawa Daniel pulang dan menemui Ny. Edritz.


“Nona,” sapa Biao lagi, yang sejak tadi menunggu keputusan Serena.


“Aku,” ucapan Serena terhenti, saat melihat pintu terbuka secara cepat.


“Serena, apa yang kau lakukan di sini.”


Daniel berdiri tegab di ambang pintu. Matanya masih tidak percaya dengan kehadiran Serena saat ini. Tama yang berada di belakang Daniel, hanya melirik sebentar ke arah Serena.


‘Nona Serena, apa dia tahu kalau tadi aku sedang berbohong,' gumam Tama dalam hati.


“Maafkan aku.”


Hanya kata yang kini keluar dari bibir Serena. Tiap kali ia berhadapan langsung dengan Daniel, bibirnya tidak mampu mengeluarkan banyak kata.


“Masuklah,” ajak Daniel dengan lembut.


Dengan cepat Serena mendongakkan kepalanya. Hatinya masih tidak percaya, dengan kata sambutan yang baru di ucapkan oleh Daniel. Senyum manis kembali melingkar di bibirnya yang manis.


Daniel melangkah masuk ke dalam ruangan, Serena mulai mengikuti langkah Daniel. Sedangkan Tama, melangkah keluar dari ruangan untuk menemui Biao dan Diva. Meskipun Daniel belum memberi perintah apapun, Tama lebih memilih berada di luar.


“Apa semua akan baik-baik saja,” ucap Diva khawatir saat melihat pintu sudah kembali tertutup rapat.


Biao hanya melirik sebentar ke arah Tama, dengan tatapan tidak suka. Tidak ingin banyak bicara, Biao melangkah pergi menuju ke ruang kerjanya.


“Ayo Diva, kau bisa menunggu nona Serena di sana,” ajak Tama dengan lembut.


Tama melangkah menuju ke arah jendela, yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini. Tama berdiri tegab menghadap ke arah jendela. Dengan memasukkan kedua tangannya di dalam saku, Tama terlihat menikmati pemandangan kota pada siang ini.


Diva hanya melirik sebentar ke arah Tama, sebelum mengingat pernyataan Ny. Edritz saat di rumah sakit.


“Bukannya tuan Tama sudah meninggal?” tanya Diva penuh rasa takut.


“Benarkah? darimana kau tahu?”


“Ny. Edritz yang memberi tahukan hal itu pada nona Serena. Saat itu saya juga ada di sana.”


“Aku tidak akan mati dengan semudah itu.” Tama membalikkan tubuhnya dan memandang wajah Diva yang masih terlihat takut.


“Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud bicara seperti itu,” ucap Diva penuh penyesalan.


“Aku tidak marah, semua memang memiliki pemikiran seperti itu.” Melirik ke arah meja Sonia yang kosong, “Dimana Sonia?”


“Nona Sonia pergi ke arah lift, tuan.”


“Pergi? ini belum jam makan siang.” Melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya.


“Nona Sonia bukan pergi untuk makan, tapi ….” ucap Diva tertahan.


“Tapi ….” tanya Tama yang semangkin penasaran.


“Tapi karena marah.”


“Marah?” ulang Tama.


“Iya tuan,”


“Kenapa dia marah?”


“Tadi nona Serena menampar nona Sonia. Lalu tuan Biao datang, dan membela nona Serena.”


“Tunggu, nona Serena menampar Sonia? apa kau yakin dengan ucapanmu, Diva?” tanya Tama masih tidak percaya.


“Benar tuan. Bahkan nona Serena berkata, kalau dia bisa dengan mudah menghabisi nona Sonia.”


Deg, jantung Tama terhenti seketika. Pernyataan Diva, kembali menimbulkan rasa khawatirnya kepada Serena. Tama sangat takut, jika Serena kembali mengingat masa lalunya. Hal itu juga akan membuat Serena pergi meninggalkan Daniel.


‘Apa ingatannya mulai kembali,’ gumam Tama dalam hati.


Di dalam ruangan Daniel, Serena kembali merasa kagum meihat luasnya ruang kerja Daniel saat ini. Matanya tertuju pada beberapa furniture mewah yang ada di ruangan itu. Bukan hanya satu set sofa yang besar. Daniel juga memiliki meja kerja yang berukuran besar, yang terletak di samping jendela kaca. Gorden besar berwarna biru muda itu, juga terlihat menghalangi masuknya cahaya matahari siang ini.


“Serena,” sapa Daniel, saat melihat Serena hanya melamun memandang ke sekeliling ruangan.


“Ruangan ini sangat indah,” ucap Serena pelan.


“Kau menyukainya?” tanya Daniel yang masih berdiri di hadapan Serena.


“Aku sangat suka berada di sini,” jawab Serena jujur.


“Duduklah,” ajak Daniel, yang menarik pelan tangan Serena menuju ke arah sofa, “Untuk apa kau ke sini, Serena?” tanya Daniel saat keduanya telah duduk berdampingan.


“Daniel, mama sangat membutuhkanmu. Dia tidak mau makan, jika kau tidak menemaninya hari ini. Apa kau sangat sibuk hari ini? luangkan sedikit waktu saja, untuk menemui mama.” ucap Serena cepat.


“Aku belum ingin menemunya,” jawab Daniel singkat.


“Kenapa Daniel?” tanya Serena bingung.


“Apa itu tujuanmu datang kemari, Serena?” tanya Daniel dengan tatapan dingin.


Serena mengangguk pelan, hatinya kembali di penuhi rasa takut. Tatapan mata Daniel yang tadi lembut, sudah berubah menjadi dingin.


.


.


.


Jangan Lupa, di baca juga ya karya kakakku.


Cinta Untuk Dokter Nisa dan Arsitek Cantik.


Like, Komen , Vote


Terima kasih sudah membaca