
Sonia beranjak dari duduknya. Adit juga ikut berdiri sambil memegangi tubuh Sonia yang masih terlihat lemah tak berdaya. Perlahan, wanita itu melangkahkan kakinya untuk mendekati Serena. Wajahnya juga sedih saat melihat Serena hanya menunduk sambil memikirkan kepergian Shabira yang mendadak.
“Serena ….” ucap Sonia dengan begitu lembut.
Serena menatap wajah Sonia yang pucat, wanita itu mengukir senyuman manis saat melihat Sonia dan Aldi yang kini ada di sampingnya.
“Sonia, apa kau baik-baik saja? bagaimana dengan lukamu? kata Daniel, Lukas telah menyerangmu malam itu.” Serena memperhatikan perut Sonia yang tertutup baju yang saat itu ia kenakan.
Sonia tersenyum bahagia saat melihat kekhawatiran Serena saat itu. Rasa bersalah dan penyesalan semakin besar memenuhi isi hatinya. Sonia meraih tangan kiri Serena dengan penuh kesedihan.
“Serena, luka ini memang pantas aku dapatkan. Aku wanita yang jahat. Cinta telah membutakanku, hingga aku sanggup melakukan semua kejahatan ini kepada kalian.” Lagi-lagi buliran air mata menetes membasahi pipi Sonia. Wanita itu duduk di pinggiran tepat tidur Serena, sambil menggenggam erat tangan Serena.
“Sonia, jangan bersedih lagi. Aku sudah memaafkanmu. Hanya saja, aku ingin Daniel juga mengucapkan maaf padamu.” Serena memalingkan wajahnya dari Sonia.
Sonia menggeleng kepalanya, “Jangan Serena, jangan lakukan itu. Aku yang salah, kenapa kau harus menyuruh Daniel meminta maaf kepadaku?”
Serena hanya diam tanpa ingin menjawab pertanyaan Sonia. Di sini lain ia masih menyimpan dendam kepada Sonia, namun disisi lain lagi ia juga memiliki rasa kasihan terhadap keadaan Sonia.
Aku hanya ingin Daniel meminta maaf padamu, karena selama ini dia selalu mengabaikan perasaanmu, Sonia. Bahkan sebelum aku hadir di antara kalian. Aku tahu, kalau kau wanita yang baik. Cinta yang sudah membuatmu menjadi wanita jahat seperti ini. Sama seperti diriku dulu, karena cinta pada dunia luar yang aku miliki. Aku berubah menjadi wanita yang jahat, bahkan menyebabkan Papa sangat membenci diriku waktu itu. Aku tidak harus menyalahkanmu saat ini. Jika aku masih diberi kesempatan untuk berubah, kenapa kau juga tidak berhak mendapatkan kesempatan yang sama sepertiku.
“Serena ….” Sonia mempererat genggamannya, saat melihat wanita itu hanya melamun dan tidak menjawab pertanyaannya.
Serena menatap wajah Sonia lagi, “Sonia, kita bisa menjadi teman bukan? apa sekarang kau tidak membenciku lagi?” Serena memasang senyuman kecil di bibir pucatnya.
“Maafkan aku, Serena. Kau memang pantas berada di samping Daniel. Kau wanita yang baik dan memiliki hati yang lembut. Seandainya saja, aku bisa mengenalmu sejak awal. Maka semua ini tidak akan terjadi.”
“Jangan membahas masa lalu lagi. Masa laluku terlalu buruk, kau juga pasti sudah mengetahui semuanya.” Serena mengedipkan sebelah matanya di hadapan Sonia.
Kedua wanita itupun tertawa lepas saat merasakan perasaan lega di hatinya. Aldi yang berdiri tidak jauh di belakang Sonia juga mengukir senyuman bahagia. Suasana ruangan yang di awali dengan suasana mencengkam itu berakhir dengan penuh canda tawa. Bukan hanya mendapat kata maaf dari Serena, tapi Sonia juga bisa menjalin tali persahabatan dengan Serena. Wanita itu sangat bahagia karena bisa berada sedekat itu dengan Serena.
Sonia menarik tubuh Serena untuk memeluknya dengan penuh rasa bersalah, “Terima kasih, Serena. Terima kasih.”
“Aku tidak melakukan apapun, jangan katakan terima kasih,” ucap Serena pelan.
Serena menatap ke arah pintu saat pintu itu terbuka secara perlahan. Wajah Tama yang pertama kali ia lihat, karena Tama yang mendorong pintu untuk memberi jalan kepada beberapa orang yang berbaris di belakangnya.
Daniel, Zeroun, Lukas dan Biao masuk secara bergantian ke dalam ruangan itu. Mereka sudah mengenakan pakaian yang rapi dengan beberapa perban putih di bagian kepala. Senyum mengembang mewarnai wajah Serena saat itu. Bukan hanya dirinya, Sonia juga kembali bernapas lega dan bisa tersenyum bahagia, saat melihat Daniel dan Zeroun pulang dengan selamat.
Daniel berjalan beriringan bersama Zeroun menuju ke tempat tidur Serena. Kedua pria itu melirik ke arah tangan Sonia yang masih menggengam tangan Serena dengan begitu akrab.
Melihat tatapan Daniel dan Zeroun, Sonia melepas genggamannya dari Serena. Wanita itu turun dari tempat tidur dan melangkah mundur mendekati Aldi. Pria itu kembali menggenggam tangan Sonia untuk menjaga keseimbangan tubuh Sonia agar tidak terjatuh.
“Sayang ….” ucap Daniel dengan begitu lembut. Pria itu berjalan ke sisi kiri Serena sedangkan Zeroun berjalan ke sisi kanan Serena.
Serena menatap wajah Daniel dan Zeroun secara bergantian saat kedua pria itu kini berada di sampingnya. Hatinya terasa bahagia, namun ada sedikit keraguan. Kedua pria itu menatapnya dengan begitu intens, hingga membuat Serena menjadi salah tingkah saat itu. Serena menunduk sejenak, sebelum menatap wajah Daniel lebih dulu.
“Daniel, apa kau baik-baik saja? apa yang terjadi di sana?” tanya Serena dengan nada yang lembut.
Daniel menatap wajah Zeroun sebelum menggenggam tangan Serena, “Sayang, aku dan Zeroun baik-baik saja. Kami melalui hari yang menyenangkan selama di Thailand.” Daniel mengukir senyuman manis.
Zeroun hanya diam tanpa kata, pria berbadan tinggi itu tidak bisa mengeluarkan kata lagi. Baginya sudah cukup dengan melihat keadaan Serena baik-baik saja. Zeroun menatap wajah Sonia yang masih berdiri tidak jauh dari posisi Daniel.
“Nona Sonia, terima kasih atas bantuan yang sudah anda kirim.” Zeroun menatap wajah Sonia dengan tatapan tidak terbaca. Membuat lawan bicaranya menjadi salah tingkah. Bagaimanapun juga, semua kekacauan itu disebabkan olehnya. Sudah sepantasnya dia juga yang menyelesaikan masalah itu.
“Aku … Aku ….” Sonia tidak bisa mengukir kata maaf ketika ia berada di depan Daniel dan Zeroun saat itu.
“Sonia yang membantu kalian?” Serena menatap wajah Zeroun dengan penuh tanya.
“Zeroun, tunggu!” teriak Daniel.
Zeroun tidak menghiraukan teriakan Daniel. Pria itu pergi begitu saja menuju ke arah pintu. Lukas mengikuti jejak kakinya dari belakang.
Sonia menunduk takut dengan penuh rasa bersalah. Ia tahu, kalau saat ini Zeroun pergi karena sangat membenci dirinya. Perlahan ia mengangkat kedua tangannya untuk melingkari tangan Aldi yang berdiri di sampingnya. Hanya pria itu yang kini bisa melindungi dari bahaya.
“Sonia, terima kasih karena kau sudah menolong Daniel di sana. Aku tidak tahu, kalau kau telah mengirim orang untuk membantu Daniel.” Serena mengukir senyuman manis dengan penuh bahagia.
“Serena, memang semua salahku. Seandainya saja semalam orang-orang yang aku kirim tidak datang tepat waktu. Maka aku akan menyimpan rasa bersalah seumur hidupku. Kau juga tidak akan memaafkanku seumur hidupmu, Serena.” Sonia masih menunduk dengan wajah takut.
“Daniel, kau juga harus minta maaf pada Sonia. Selama ini kau sudah melukai hatinya,” ucap Serena sambil menatap serius wajah Daniel.
Daniel menyentuh pipi Serena sebelum memandang ke arah Sonia, “Maafkan aku Sonia, karena tidak bisa membalas cintamu selama ini. Karena aku, kau jadi berubah seperti ini.”
Sonia mengukir senyuman bahagia, tidak pernah ia membayangkan kalau Daniel akan mengucapkan kata maaf yang tulus kepada dirinya.
“Daniel, terima kasih.” Buliran air mata menetes karena perasaan bahagia yang kini ia rasakan.
“Daniel, Sonia sudah berubah. Aku berjanji, untuk menjaga Sonia agar ia bisa selalu menjadi wanita yang baik seperti dulu lagi.” Aldi tersenyum memandang wajah Daniel dan Serena.
Dari kejauhan, Tama dan Biao masih berdiri tegab mendengarkan cerita Sonia. Sesekali Tama tersenyum saat melihat wajah Biao saat itu. Hatinya juga bahagia, saat melihat sahabat terbaiknya itu lolos dari maut yang begitu mengerikan.
“Biao, sudah saatnya kau berhenti bermain-main dengan senjata. Kini saatnya kau ….”
“Aku akan membunuhmu juga, jika kau membahas soal pernikahan. Ingat Tama, kau sudah membohongiku!” Biao melipat kedua tangannya dengan wajah serius.
Tama tidak lagi berani mengganggu Biao saat itu. Pria itu lebih memilih diam dan menjadi pendengar setia.
Saat Tama menemui Daniel di ruangan Adit, ia menceritakan semua persahabatan yang terjalin antara dirinya dan Adit. Awalnya semua orang tidak merespon dengan serius. Namun, saat Tama melanjutkan ceritanya dan mengatakan kalau dia juga besahabat dengan Sonia dan Aldi waktu dulu, semua mata yang ada diruangan itu menatapnya dengan tatapan membunuh.
Apa Biao belum memaafkanku? bisa-bisanya dia bilang kalau aku bekerja sama dengan Sonia selama ini.
Tama memasang wajah sedih, pria itu tidak tahu harus berbuat apa untuk mendapatkan kepercayaan Biao lagi. Sejak pertama kali kenal dengan Biao, ini pertama kalinya Biao memasang wajah menyeramkan saat menatap wajahnya. Seperti tidak memiliki jalan keluar lagi, Tama lebih memilih pasrah dan menerima sifat Biao saat ini.
Dari kejauhan, Daniel menatap wajah Biao dan Tama secara bergantian. Ia sangat kenal dengan sikap bawahannya sejak dulu. Bahkan ia juga mengerti, kalau saat ini kedua bawahan nya itu sedang bertengkar.
“Tama, antar Biao pulang untuk istirahat,” perintah Daniel.
“Baik, Tuan.” Tama membungkuk hormat diikuti Biao yang juga membungkukkan tubuhnya.
“Satu lagi,” Daniel memasang wajah penuh arti sambil tersenyum licik.
“Aku mau kau menemani Biao di dalam kamarnya. Aku rasa Biao memiliki trauma yang begitu berat saat ini. Bahkan ia sering menyebut namamu saat sedang bertarung semalam.” Daniel terlihat menahan tawanya saat berhasil mengerjai Tama dan Biao saat itu.
Biao memasang wajah tidak suka, sejak tadi ia ingin menghindar dari Tama. Namun, Daniel justru menyuruh mereka untuk berada di dalam satu kamar miliknya.
“Tama, kau di situ bukan untuk bersantai, tapi mengurus beberapa masalah yang terjadi di S.G.Group,” sambung Daniel lagi.
Mendengar perkataan Daniel, Biao dan Tama hanya bisa menurut tanpa berani membantah. Setelah membungkukkan tubuhnya lagi, kedua pria itu pergi meninggalkan ruangan rawat Serena dengan wajah yang datar.
Daniel dan Serena juga mengukir senyuman bahagia. Saat ini, tidak ada lagi musuh yang mengelilingi hidup keduanya. Serena kembali memikirkan kepergian Zeroun yang secara tiba-tiba. Bahkan ia belum sempat untuk menanyakan keadaannya saat itu. Wajahnya berubah sedih saat tidak bisa mengucapkan satu katapun untuk Zeroun saat pria itu ada di sampingnya.
Zeroun, kenapa kau pergi. Selain kepada Daniel, aku juga sangat mengkhawatirkan keadaanmu.