
Pesta telah usai. Para tamu yang sempat ramai memenuhi halaman samping sudah kembali pulang. Zeroun dan Kenzo masih tetap bertahan di rumah itu. Mereka mengelilingi meja berbentuk lingkaran.
Adit, Daniel, Serena dan Shabira juga ada di meja itu. Beberapa gelas Kristal telah diisi minuman wine berwarna Kristal.
Lukas, Biao dan Tama berdiri sebagai pengawal yang menjaga majikannya. Beberapa pelayan terlihat sibuk membersihkan lokasi pesta. Tuan dan Ny. Edritz sudah kembali istirahat di dalam kamar.
Serena mengambil gelas yang berisi wine itu lebih dulu. Sejak awal dia sudah tergoda untuk mencoba wine itu. Ia belum pernah tahu, bagaimana rasa minuman itu. Shabira dan Kenzo juga menyusul mengambil wine itu. Meneguk minuman mahal itu secara perlahan.
Dari kejauhan, Zeroun tersenyum memperhatikan Daniel. Dengan cepat, Daniel menahan tangan Serena saat ingin meneguk minuman itu. Mengganti gelas wine itu dengan minuman bersoda.
“Daniel ….” rengek serena dengan penuh kecewa.
“Bahkan Doktermu masih ada di sini.” Daniel menatap wajah Adit yang duduk di samping Zeroun.
“Adit, apa kau bisa membantuku untuk menjelaskan hal ini kepada Serena?” Daniel menatap wajah Adit dengan serius.
Adit tertawa sebelum menjawab pertanyaan Daniel, “Nona, mulai dari sekarang anda tidak diijinkan untuk meminum minuman beralkohol. Demi kesehatan anda dan program hamil yang sudah anda rencanakan.”
Seperti tidak ada pilihan lagi. Serena mengambil gelas berisi minuman bersoda itu, meneguknya secara cepat.
“Pelan-pelan,” ucap Daniel khawatir.
“Kau menyebalkan!” ucap Serena kesal.
Shabira tersenyum mendengar ocehan Serena. Wanita itu meletakkan gelas yang sudah kosong. Memperhatikan wajah Zeroun yang sejak tadi terlihat melamun.
“Kak Zeroun ….”ucap Shabira pelan.
Zeroun menatap wajah Shabira, sedangkan tatapan semua orang tertuju hanya pada Zeroun.
“Ada apa?” tanya Zeroun singkat.
“Apa yang Kakak pikirkan?” tanya Shabira dengan ragu.
Zeroun mengatur posisi duduknya, mengambil gelas minuman itu. Meneguknya secara perlahan. Mengukir satu senyuman sebelum menjawab pertanyaan Shabira.
“Aku hanya sedang memikirkan masa depanmu Shabira.” Zeroun menatap wajah Kenzo dengan seksama.
“Aku ingin kalian keluar dari dunia mafia. Itu dunia yang sangat buruk.”
Kenzo tersenyum mendengar perkataan Zeroun, “Aku tidak akan berbisnis dengan cara lama lagi. Tenang saja, Kakak ipar.”
“Kenzo, setelah kalian menikah aku ingin memberikan Z.E Group kepada Shabira. Sebaiknya kau juga membantunya untuk mengembangkan Z.E Group.” Zeroun menatap wajah Daniel dengan seksama.
“Daniel, bantu Kenzo dan Shabira dalam berbisnis. Aku yakin, Z.E. Group akan tetap jaya jika kau ikut campur tangan dalam mengolahnya.”
“Kau mau pergi?” celetuk Serena dengan wajah sedihnya.
Zeroun tersenyum memandang wajah Serena, “Aku harus pulang. Di sini bukan rumahku. Rumahku ada di Hongkong.”
Serena menunduk sedih saat harus berpisah dengan sahabat terbaiknya itu.
“Zeroun, apa kau ingin kembali ke dunia mafia?” Wajah Daniel berubah serius.
Zeroun mengangkat kedua bahunya dengan tenang, “Tidak ada pilihan kedua, aku harus menjalankan Gold Dragon lagi. Kita juga masih punya musuh yang harus kita habiskan hingga ke akar yang paling kecil bukan?”
“Kakak, jika kakak dalam bahaya dan butuh bantuan kami. Kakak harus segera menghubungi kami.” Shabira juga berubah sedih saat harus melepas kakak kesayangannya itu pergi beberapa minggu lagi.
“Shabira, aku harap aku tidak akan pernah melibatkan kalian lagi. Aku akan hidup dengan tenang dan bahagia di sana, saat wanita yang aku sayangi juga bahagia di sini.” Zeroun menatap wajah Shabira dan Serena bergantian.
“Zeroun, Aku dan Daniel akan selalu datang setiap kali kau butuh bantuan kami.” Serena menatap Zeroun dengan serius.
“Tidak ada yang bisa melarangmu, Serena. Kau boleh datang, aku tidak akan pernah marah. Tapi, tetap pikirkan keluarga yang baru kau bentuk ini. Jangan terlibat dengan masalah lagi.” Zeroun memandang wajah Daniel dan Serena bergantian.
“Aku dan Serena sangat suka terlibat dalam masalah, Zeroun. Apapun yang aku dengar, jika itu masalah yang membahayakan nyawamu. Detik itu juga kami semua akan datang untuk membantumu.” Daniel tersenyum memandang wajah Serena.
“Bukankah begitu sayang?”
Serena mengangguk dengan senyuman penuh kemenangan, “Benar.”
“Kita semua saudara. Jika sudah menjadi saudara, kami tidak akan pernah membiarkan saudara kami melewati masalah sendirian.” Kenzo menambah ucapan Daniel dan Serena dengan begitu tenang.
“Ok, baiklah. Kita semua petarung.” Zeroun mengambil gelas yang baru saja terisi minuman.
“Kita semua saudara.” Mengangkat gelas itu ke atas.
“Satu dalam bahaya semua juga harus dalam bahaya. Kita akan saling melindungi satu sama lain. Dimanapun dan kapanpun saat sudara kita membutuhkan, kita wajib datang untuk menolongnya.”
“Cheers,” sambung semua orang yang melingkari meja itu.
Malam itu persahabatan dan persaudaraan antara Zeroun dan Daniel semakin kuat. Tidak ada lagi dendam atau sakit hati. Semua sudah bangkit untuk melupakan masa lalu yang pernah terjadi. Memetik satu pelajaran dari setiap masalah yang sudah mereka lewati.
“Ok, ok! sudah selesai sedih-sedihnya. Sekarang saatnya kita main game. Ayo Biao bagikan kartunya,” ucap Adit penuh semangat.
“Kau sangat bersemangat Adit. Apa kau bisa memenangkannya?” ledek Tama yang kini berdiri di belakang Adit.
“Kau ini, jangan panggil namaku Adit kalau aku tidak bisa mengalahkan dua wanita cantik dihadapanku ini. Mungkin kalau mengalahkan Zeroun aku yakin tidak bisa.” Adit mulai memperhatikan kartu yang dibagikan oleh Biao.
Zeroun tertawa saat mendengar perkataan Adit. Pria itu membuka kartunya perlahan sebelum memandang wajah Adit lagi.
“Dokter Adit, satu hal yang harus kau ketahui. Kalau aku pernah kalah bermain kartu ini oleh seorang wanita, apa kau mau tahu siapa wanita itu?” Zeroun menatap Adit dengan wajah bahagia.
“Siapa?” Adit menatap wajah Serena dan Shabira bergantian.
“Kita main saja, nanti juga ketahuan siapa yang menang. Malam ini aku akan mengalahkanmu Serena.” Kenzo membuka kartunya dengan penuh percaya diri. Diikuti dengan Shabira.
Sementara Daniel hanya memandang wajah Serena dengan seksama. Pria itu tidak pernah memiliki pengalaman apapun dalam hal perjudian.
“Sayang, kau sering berjudi?” tanya Daniel dengan wajah tidak percaya.
“Tidak sering, hanya beberapa kali. Aku juga harus bisa berjudi jika ingin menghabisi mangsaku di areal judi.” Serena membuka kartunya secara perlahan, sebelum melihat angka kartunya Serena menatap wajah Daniel dengan seksama.
“Sayang, aku bisa membuatmu menang malam ini,” bisik Serena sambil mengedipkan mata.
Daniel tersenyum mendengar perkataan Serena, “Wow, Aku memang memiliki istri yang luar biasa.”
Malam yang penuh kekompakan itu mereka mulai dengan bermain kartu. Canda tawa memenuhi meja berbentuk lingkaran itu. Wine yang dipesan Daniel secara khusus juga sudah mulai habis. Hanya tersisa beberapa botol yang masih berisi.
“Tidak mungkin! pria ini tidak pernah berjudi. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi pemenang malam ini.” Adit berdiri dengan wajah protes.
Tama dan Biao juga terbelalak kaget saat melihat kartu Daniel yang keluar sebagai pemenang pada malam itu.
Shabira hanya tersenyum mendengar perkataan Adit. Wanita itu berdiri untuk menatap mata Adit secara langsung.
“Tuan, siapapun yang duduk di samping Kak Erena bisa menjadi pemenangnya.” Shabira menatap wajah Serena dengan wajah yang sudah mabuk.
“Kak Erena kau curang! Kau membuat Tuan Daniel menang malam ini.” Shabira menunjuk ke arah Serena dengan tubuh sempoyongan.
“Sayang, Ayo kita pulang.” Kenzo menepuk pelan kepalanya saat melihat Shabira sudah hampir tidak sadarkan diri.
“Biar Shabira pulang bersamaku,” ucap Zeroun. Pria itu beranjak dari duduknya mendekati Shabira.
“Shabira tidak bisa minum, ia wanita yang sangat mudah mabuk,” ucap Serena yang juga berdiri dari duduknya.
“Serena, kenapa kau tidak bilang dari awal.” Kenzo menatap kesal wajah Serena.
Serena tertawa, “Kau juga mabuk, Kenzo. Kalian ini sepasang kekasih yang payah.” Serena menatap wajah Biao yang tidak jauh dari posisinya.
“Biao, tolong antarkan Kenzo ke kamar.” Daniel mengerti tatapan khawatir dari Serena.
“Baik, Tuan.” Biao menunduk hormat menerima perintah Daniel.
“Serena, Aku tidak mabuk!” protes Kenzo sebelum ia tidak lagi sadar karena mabuk.
“Serena, Daniel. Aku dan Shabira pamit pulang. Jaga kesehatanmu dengan baik.” Zeroun mengangkat tubuh adiknya yang kini sudah tidak sadarkan diri.
“Hati-hati, Zeroun,” jawab Daniel.
Lukas mengikuti langkah Zeroun dari belakang. Begitu juga Biao yang berjalan membawa tubuh Kenzo untuk menuju ke kamar yang biasa digunakan oleh Kenzo sejak dulu.
“Aku juga harus pulang, Daniel.” Adit memutar tubuhnya sebelum berjalan menuju ke arah pintu utama. Tama mengikuti Adit dari belakang, untuk mengantar tamu majikannya hingga depan pintu utama.
Serena menatap wajah Daniel yang kini berdiri di sampingnya, “Apa kau tidak mabuk?” tanya Serena sambil memperhatikan wajah Daniel yang tidak berubah sama sekali.
“Jika hanya minum beberapa gelas seperti tadi, aku tidak akan mabuk.” Daniel merangkul pinggang Serena.
“Ayo kita masuk ke kamar dan istirahat.” Daniel membawa tubuh Serena menuju ke kamar tidur. Matanya sudah terasa sangat berat dengan tubuh yang begitu lelah.
Malam sudah semakin larut. Rumah utama yang semula dipenuhi keributan kini sudah kembali sunyi. Keadaan di rumah itu terlihat sangat tenang. Hanya ada beberapa pelayan pria yang baru muncul untuk membersihkan meja yang sempat digunakan Daniel dan yang lainnya bersenang-senang.
Dari lantai bawah Pak Han menatap Daniel dan Serena yang kini menaiki anak tangga. Pria itu tersenyum dengan gembira saat bisa melihat Tuan dan Nona mudanya masih menunjukkan sikap harmonis seperti biasa.
“Tuan Daniel, selamat ulang tahun. Semoga anda selalu dikelilingi orang-orang yang menyayangi anda.”