
Tidak terasa musim dingin akan segera berakhir. Hidup Biao mengalami banyak perubahan sejak Sharin sering hadir untuk menemani hari-harinya. Senyum dan tawa Sharin, mengubah sifat Biao yang sangat sulit tersenyum kini menjadi murah senyum. Apa saja tingkah dan permintaan Sharin selalu saja membekas di dalam ingatan Biao.
Malam ini, Sharin meminta Biao untuk menemaninya mengunjungi festival salju yang ada di kota Sapporo. Ada banyak pengunjung yang hadir dalam acara itu. Bukan hanya penduduk lokas, bahkan wisatawan asing juga banyak yang datang mengunjungi festival salju dan es itu. Di dalam festival salju itu, setiap pengunjung bisa melihat patung yang tingginya mencapai 15 meter dan lebar 25 meter.
Hari yang terlihat sangat cerah. Membuat semua pengunjung terlihat berbahagia. Sama halnya dengan Sharin. Sejak tadi, wanita itu tidak bisa menghentikan senyuman indah yang terukir sejak awal. Setiap kali melihat spot fhoto yang indah, Sharin meminta Biao untuk mempotretnya dengan segera.
Biao seperti seorang pengawal yang sedang menemani majikannya berjalan-jalan. Apapun yang diperintahkan Sharin, dengan hati yang ikhlas ia turuti.
“Apa kau tidak lelah?” ucap Biao sebelum duduk di sebuh kursi besi sambil memandang keadaan sekitar.
“Aku tidak lelah. Apa Paman lelah?” tanya Sharin sambil tersenyum.
Biao menggeleng pelan. Kedua bola matanya tidak lagi bisa berhenti untuk menatap wajah ceria Sharin. Walau ada banyak orang di lokasi itu. Tapi, di dalam pandangan Biao hanya ada Sharin seorang. Biao mulai merasakan sesuatu yang nyaman dan memiliki.
“Paman, di mana Paman Tama? Apa dia tidak ikut ke festival ini?” Sharin menatap wajah Biao saat wanita itu tidak mendapatkan jawaban.
“Paman,” ucap Sharin sekali lagi sambil mendekatkan wajahnya dengan Biao.
Biao semakin membisu. Debaran jantungnya semakin tidak karuan. Ia tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini sebelumnya. Bahkan untuk mengeluarkan kata saja, bibirnya seperti terkunci.
“Paman ....” ucap Sharin sekali lagi dengan raut wajah bingung. “Apa Paman baik-baik saja?” Sharin mengeryitkan dahi sambil menatap wajah Biao dengan tatapan curiga.
“Aku baik-baik saja,” ucap Biao sambil mengalihkan tatapan matanya ke arah lain. Pria itu tidak ingin Sharin tahu dengan perasaan gak karuan yang kini memenuhi hatinya.
Sharin mengangguk, “Paman, ayo kita ke sana.” Sharin menunjuk ke lapangan luas yang di penuhi salju. Wanita itu berencana untuk bermain-main di atas tumpukan salju sambil membentuk sebuah boneka.
Biao tidak menjawab. Pria itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke tujuan yang diinginkan Sharin. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku sambil berjalan dengan langkah yang sangat tenang.
Tidak seperti Sharin, wanita itu justru berlari sangat kencang agar segera tiba di tempat tujuan. Ia sudah tidak sabar untuk bermain-main di atas tumpukan salju. Langkahnya benar-benar sangat cepat. Hingga akhirnya ia tersandung dan terjatuh di atas tumpukan salju. Tubuh Sharin terlungkup di atas salju. Kedua tangannya ke depan.
Biao tidak lagi bisa menahan tawa saat melihat Sharin terjungkal. Pria itu tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Saat Sharin beranjak, wajah dan topinya di penuhi dengan salju. Biao menambah level tawanya. Tingkah Sharin siang itu benar-benar seperti hiburan tersendiri untuk Biao.
“Paman, kau sangat menyebalkan,” protes Sharin sambil mengambil segenggam salju di tangannya. Tanpa menunggu lama, Sharin melempar salju itu tepat ke arah wajah Biao. Sepertinya lemparan Sharin cukup beruntung. Walau melemparnya dengan teknik asal saja. Tapi, salju itu berhasil melekat di wajah Biao.
Kali ini Sharin yang gantian tertawa. Wanita itu duduk di atas tumpukan salju sambil tertawa melihat wajah Biao.
“Sekarang kita impas, Paman.” Sharin berusaha bangkit dari duduknya. Wanita itu berdiri di hadapan Biao masih dengan tawa yang masih belum berhenti.
Biao membersihkan salju yang sempat melekat di wajahnya. Tidak mau kalah dengan Sharin, Biao juga mengambil segenggam salju dan melemparnya ke arah Sharin. Tapi, lemparan Biao tidak tepat sasaran. Sharin berlari untuk menghindari salju yang sempat mengejar dirinya.
Biao berdiri sambil memandang wajah Sharin. Kali ini Biao benar-benar yakin dengan perasaannya. Ia tidak sekedar kagum dan tertarik dengan Sharin. Tapi, dirinya telah jatuh hati kepada Sharin. Keponakan sahabatnya yang memiliki kesan buruk sebelum mereka bisa sedekat ini. Canda dan tawa Sharin telah membuat Biao mulai menikmati hidup.
“Aku akan membalasmu Sharin!” teriak Biao sambil terus mengejar Sharin.
Setelah berlari cukup jauh, akhirnya Sharin merasakan kakinya yang kini terasa sangat lelah. Sharin duduk di atas salju dengan kaki di tekuk. Menatap wajah Biao yang kini duduk di sampingnya.
“Kau wanita yang cukup jago saat berlari, Sharin,” ucap Biao sambil mengatur napasnya yang kini terputus-putus.
“Apa itu ungkapan kalau Paman kalah dariku?” ucap Sharin dengan canda tawanya.
Biao menggeleng kepalanya sambil memandang ke arah depan.
Sharin, secepatnya aku akan mengungkapkan isi hatiku kepadamu. Aku harap kau tidak mengecewakanku nantinya. Aku tidak ingin kau menjadi milik orang lain, Sharin. Namamu telah terukir indah di dalam hatiku. Aku harap, selamanya akan menetap di situ.
***
Di tempat yang tidak terlalu jauh dari posisi Sharin dan Biao berada. Ada Tama yang sejak awal mengikuti keponakan dan sahabatnya itu. Melihat Biao tertawa menimbulkan rasa bahagia di dalam hati Tama. Pria itu tidak pernah menyangka, dari puluhan wanita yang sempat ia perkenalkan. Ternyata gadis berusia 20 tahun yang bisa meluluhkan dinginnya hati Biao. Namun, ada rasa ragu di dalam hati Tama. Ia tahu bagaimana sikap keponakannya. Kini ada dua insan yang memiliki tujuan hidup yang saling bertolak belakang.
Tama sangat yakin kalau Sharin hanya sekedar kagum pada Biao. Sedangkan Biao, bukan hanya kagum, tapi pria itu telah jatuh hati kepada keponakan cantiknya.
“Tama,” ucap seseorang dari belakang tubuh Tama. Satu suara yang sangat tidak asing dalam hidup Tama. Sebuah suara yang ia rindukan selama ini. Dengan hati dipenuhi keraguan, Tama memutar tubuhnya untuk melihat ke sumber suara.
Tama mematung saat melihat Anna berdiri di hadapannya. Sudah dua bulan ia berjuang untuk mendapatkan hati Anna. Tapi, tidak juga membuahkan hasil hingga akhirnya ia menyerah. Namun, di saat ia menyerah justru wanita yang ia perjuangkan salama ini sekarang ada di depan matanya.
“Anna,” ucap Tama ragu-ragu.
Anna mengangguk dengan senyuman kecil. Tanpa mau mengeluarkan kata lagi, Anna berlari untuk memeluk Tama. Wanita itu sangat merindukan Tama. Sahabat sekaligus cinta pertamanya. Ia tidak lagi mau melakukan hal bodoh yang membuat dirinya kehilangan pria yang ia cintai.
“Maafkan aku, Tama. Aku sungguh jahat karena menghukummu dengan cara seperti ini. Maafkan aku,” ucap Sharin dengan penuh kesungguhan.
Tama melingkarkan tangannya di pinggang Anna. Memeluk tubuh wanita itu dengan penuh kerinduan. Hatinya sangat bahagia, karena bisa mendapatkan maaf dari wanita yang sangat ia cintai selama ini.
“Anna, aku sangat mencintaimu,” ucap Tama tanpa mau menunggu lagi. Ia tidak ingin kehilangan Anna untuk kesekian kalinya.
“Aku juga mencintaimu, Tama,” jawab Anna sambil mempererat pelukanya. Matanya terpejam untuk merasakan kehangatan tubuh pria yang sangat ia cintai saat ini. Sepasang kekasih masa kecil yang terpisah selama bertahun-tahun itu akhirnya kembali menyatu. Tidak ada lagi wajah sedih yang terpancar dari raut wajah Tama. Pria itu sudah cukup bahagia karena akhirnya bisa memeluk wanitanya lagi.