
Kini Daniel dan Serena sudah ada di dalam mobil. Daniel mengemudikan sendiri mobil itu. Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menatap wajah cantik Serena. Hingga membuat Serena tersipu malu.
“Lihat jalan ….” Serena memalingkan pandangannya ke luar jendela.
“Aku tidak bisa fokus menyetir mobil, jika ada wanita secantik dirimu di sampingku,” ucap Daniel dengan lembut, ia meraih tangan Serena dan menciumnya berulang kali.
“Daniel, kita mau makan dimana?” Serena menatap wajah Daniel dengan manja.
“Aku yakin kau menyukai tempatnya.” Daniel menambah laju mobilnya.
Beberapa saat kemudian. Mobil itu berhenti di sebuah cafe, yang terletak di pinggir pantai. Serena tersenyum bahagia, saat melihat hamparan laut biru yang kini ada di hadapannya.
“Tempat ini ….” Serena menutup mulutnya karena takjub.
“Apa kau suka sayang?” tanya Daniel pelan.
Serena mengangguk cepat, “Aku sangat suka.”
“Ayo kita turun.”
Daniel dan Serena turun bersamaan. Daniel mendekati Serena yang masih berdiri mematung di samping mobil. Merangkul pinggang Serena dan membawanya masuk ke dalam cafe itu.
“Aku tidak pernah ke sini sebelumnya,” bisik Serena di telinga Daniel.
“Berarti aku orang pertama, yang mengajakmu ke sini. Apa kau bahagia?”
“Terima kasih sayang ….” Serena mencium pipi Daniel dengan mesra.
Daniel tersenyum bahagia, mendapat ciuman dari Serena siang ini, “Aku akan sering-sering membawamu ke sini.”
“Benarkah?” tanya Serena dengan wajah serius.
“Ya, jika kau terus menciumku seperti ini.” Daniel mencium pipi Serena.
Serena mencubit perut Daniel dengan pelan. Wajahnya memerah, ketika beberapa orang memandang ke arah dirinya.
Daniel memilih kursi yang berada di pinggiran pantai. Kursi itu, hanya berbatas sebuah pagar besi berwarna putih dengan pantai. Serena dan Daniel duduk berhadapan. Suasana makan siang itu terlihat sangat romantis. Hembusan angin dari pantai, membuat rambut Serena berterbangan.
Satu pelayan mengenakan pakaian hitam putih, mendatangi meja Daniel dan Serena. Ia memberikan dua buku yang berisi list menu yang tersedia di cafe itu. Daniel tidak membuka buku itu. Ia hanya menatap wajah Serena, yang terlihat serius memilih aneka makanan yang ia sukai.
“Sayang, apa kau sudah memilih makanan yang kau suka?” Daniel menatap wajah Serena yang terlihat bingung.
“Semua sangat enak. Aku bingung harus memilih yang mana,” jawab Serena dengan polos.
“Bawakan saya menu special dari cafe ini.” Daniel menyandarkan tubuhnya dengan santai.
Serena menutup buku menu itu. Pelayan itu mengambil kedua buku menu, dan menundukkan kepala sejenak. “Baik, Tuan. Mohon di tunggu.”
“Kenapa memesan dengan cara seperti itu.” Serena memandang wajah Daniel dengan penuh tanda.
“Sayang, perhatianmu teralihkan ke buku menu itu selama satu jam.” Daniel mengerutkan dahinya.
Serena menahan tawa dengan menutup mulutnya, “Sayang, kau cemburu dengan buku menu itu?”
“Aku tidak suka, jika kau seperti itu, Serena.”
“Baiklah, aku minta maaf. Karena sudah mengabaikanmu, beberapa detik.” Serena meledek Daniel lagi.
“Kau mengabaikanku selama satu jam!” protes Daniel tidak terima.
“Ya, ya. Aku yang salah. Jangan marah lagi. Bukankah kau memiliki senyuman yang manis.” Serena tersenyum untuk merayu Daniel.
“Baiklah, hari ini aku maafkan. Tapi jangan pernah ulangi lagi.”
“Siap, Bos!”
Serena memandang ke arah pantai. Langit cerah berwarna biru, tampak menyatu dengan lautan yang juga berwarna biru. Serena merasakan ketenangan saat ini. Ia tersenyum bahagia, saat melihat wajah Daniel yang kini ada di hadapannya.
Tidak menunggu lama, beberapa pelayan datang membawa aneka makanan dan minuman yang di minta oleh Daniel. Serena tersenyum bahagia, saat melihat aneka makanan lezat yang kini ada di hadapannya.
Daniel menggeleng pelan, saat melihat wajah Serena, “Sayang, ayo kita makan. Kau pasti sangat lapar.”
Daniel dan Serena memulai makan sianganya. Beberapa menu tampak sudah habis, sebagian lainnya masih tersisa sedikit. Serena memegang perutnya, yang sudah terasa kenyang. Daniel meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja.
“Sayang, apa kau mau tambah?” tanya Daniel dengan senyuman.
“Tidak, tidak. Aku sudah sangat kenyang, Daniel.”
Daniel tertawa melihat sikap Serena. Ia juga mengalihkan pandangan matanya ke arah pantai yang indah. Daniel meraih tangan Serena dan menggenggamnya dengan erat.
“Jangan pergi lagi ya ….” Daniel mencium punggung tangan Serena.
Serena mengangguk pelan, “Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Daniel.”
Daniel kembali ingat dengan kunjungan mendadak Serena siang ini. Ia tahu, kalau ada hal penting yang ingin disampaikan Serena kepada dirinya.
“Sayang, apa yang ingin kau katakan?”
Serena memandang wajah Daniel dengan senyuman. Ia mulai merangkai kata untuk membujuk Daniel, agar mengijinkan Diva untuk pulang setiap sore.
“Sayang … jika aku minta sesuatu, apa kau akan mengabulkannya?” tanya Serena dengan lembut.
“Tergantung, jika kau memintaku untuk meninggalkanmu, aku tidak akan mengabulkannya,” jawab Daniel santai.
“Tidak … aku tidak meminta hal itu. Aku hanya minta, ijinkan Diva untuk pulang tiap sore ke rumahnya. Kasian Angel, ia terlalu kecil untuk di tinggal. Apa kau mau mengabulkan permintaanku,” ucap Serena dengan wajah memohon.
“Sayang, itu urusan Pak Han dan Biao. Mereka yang mengatur semuanya.”
“Aku yakin, Biao tidak setuju. Tapi … jika kau setuju, ia tidak akan bisa membantah lagi,” ucap serena dengan penuh percaya diri.
“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa mengambil resiko. Aku akan mengganti Diva, jika ia tidak bisa menetap di rumah utama.” Daniel melepas tangan Serena.
Serena terdiam untuk sesaat. Ia tidak ingin gagal hari ini, “Sayang … aku sangat percaya dengan Diva. Dia wanita yang baik. Kasian Angel, jika kita memberhentikan Diva. Ia masih ingin bekerja di rumah utama.”
“Baiklah, aku akan mengijinkan Diva pulang sore. Tapi setelah Biao berhasil menyelidikinya. Aku tidak ingin ada masalah di kemudian hari.”
Serena tersenyum manis, “Terima kasih sayang ….”
“Kau semangkin pandai dalam merayu.” Daniel menarik pipi Serena.
“Au, sakit.” Serena mengusap lembut pipinya.
Daniel hanya tertawa bahagia melihat sifat manja Serena. Hatinya terasa bahagia, saat Serena tertawa untuk dirinya.
“Daniel … tadi di mobil, aku sempat menanyakan tentang pernikahan pada Biao. Wajahnya berubah panik, ia seperti tidak suka saat aku menanyakan hal itu.”
“Ya, pernikahan. Apa Biao sudah menikah?” tanya Serena dengan wajah serius.
Daniel menggeleng pelan, “Belum, Tama dan Biao belum menikah. Mereka tidak bisa menikah.”
“Tidak bisa menikah? kenapa?” Serena menatap wajah Daniel dengan serius.
“Karena mereka tidak memiliki wanita untuk dinikahi,” jawab Daniel santai.
“Daniel … jangan bercanda.” Serena memasang wajah cemberut, dan menatap ke arah pantai.
Daniel beranjak dari duduknya, mendekati tubuh Serena. Ia menarik tangan Serena, dan membawanya untuk berdiri menghadap ke pantai.
“Sayang, Tama dan Biao tidak akan menikah sebelum kita mendapatkan keturunan.”
Serena menatap wajah Daniel. Ia tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Daniel, “Kenapa harus seperti itu?”
Daniel memandang wajah Serena, menyentuh pipi Serena dengan lembut, “Memang itu perjanjiannya. Mereka bekerja karena papa. Dalam surat perjanjiannya, mereka tidak bisa meninggalkan aku begitu saja. Mereka tidak di benarkan untuk menikah, jika kita belum mempunyai anak.”
“Tapi ini tidak adil bagi Tama dan Biao.”
“Mereka tahu isi perjanjian itu sebelum menandatanganinya.”
Serena kembali diam, ia tidak lagi bisa mengeluarkan kata. Perkataan Daniel membuat dirinya sedikit syok. Ia tidak pernah menemukan perjanjian seperti itu sebelumnya.
“Jika perjanjian itu dibatalkan, apa mereka bisa menikah?” Serena memandang wajah Daniel dengan serius.
“Jangan pernah bermimpi. Mereka tidak akan pernah mau membatalkannya, sayang ….” Daniel menarik tubuh Serena, dan memeluknya dari belakang.
“Aku tidak mengerti, kenapa mereka mau mengorbankan masa depan hanya untuk orang lain,” protes Serena lagi.
“Sayang, mereka orang pilihan. Nyawa S.G.Group ada di tangan mereka.”
“Kenapa bisa seperti itu?” Serena memandang wajah Daniel yang ada di sampingnya.
“Sudahlah, lain kali kita bahas lagi. Sekarang kita pulang.”
“Pulang? kau tidak kembali ke S.G.Group lagi?”
“Tidak, aku ingin pulang bersama istriku.” Daniel melepas pelukannya. Menggenggam tangan Serena. Ia memanggil seorang pelayan dan membayar semua pesanan.
Serena masih melamun memikirkan perkataan Daniel. Ia tidak pernah menyangka, kalau masa depan Tama dan Biao, kini tergantung ada dirinya.
Maafkan aku sayang ....
***
Z.E. Group.
Zeroun duduk tenang di balik meja kerja miliknya. Tubuhnya bersandar dengan tenang. Tatapan matanya tertuju pada pemandangan di luar jendela. Hari ini ia hampir berhasil menemui Serena. Sejak Serena berangkat dari rumah utama, mobil Zeroun sudah mengikuti mobil Serena dan Biao. Tapi ia tidak punya kesempatan untuk menemui Serena.
“Daniel Edritz Chen, ia menjaga Serena seperti sebuah berlian.” Zeroun berdiri dari duduknya, memukul meja dengan sekuat tenaga.
Tatapan matanya berubah dingin. Ia menatap ke sembarang arah dengan wajah tidak terbaca lagi. Tangannya terkepal kuat. Ia menahan amarah yang kini membara di dalam hatinya.
Tok … Tok …
Zeroun mengalihkan pandangan matanya, saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
“Masuk,” ucap Zeroun singkat. Ia kembali duduk di kursi besar yang berputar itu.
Seorang wanita berpakaian resmi masuk ke dalam ruangan. Ia menunduk hormat, sebelum menyampaikan sesuatu.
“Permisi, Tuan. Ada yang ingin bertemu dengan anda.”
“Siapa?” tanya Zeroun cepat.
“Seorang wanita bernama Sonia. Dia CEO dari ALCO Group,” jawab wanita itu dengan rasa takut.
“Untuk apa dia ke sini?” Zeroun menatap tajam.
“Nona Sonia ingin menawarkan kerja sama, dengan Z.E.Group, Tuan.”
“Suruh dia masuk!” Zeroun memutar kursi miliknya. Membelakangi wanita yang menjadi sekretarisnya itu. Saat ini ia tidak ingin memikirkan masalah perusahaan. Di dalam pikirannya, hanya ada nama Erena dan Erena.
Wanita itu memberi jalan kepada Sonia untuk masuk ke dalam ruangan. Ia kembali menutup pintu, saat Sonia sudah masuk ke dalam ruangan Zeroun.
Tak ..Tak..
Sepatu high heels milik Sonia, terdengar dengan jelas. Ruangan kerja milik Zeroun terlihat sangat hening. Sonia tersenyum memandang Zeroun yang kini membelakanginya.
“Selamat siang, Tuan Zeroun Zein.”
Zeroun memutar kursi itu. Menatap tajam wajah Sonia yang kini berdiri di hadapannya. Ia kembali mengingat wajah Sonia. Ia pernah bertemu dengan Sonia, saat menjalankan kerja sama dengan S.G.Group.
“Anda ….” ucapannya tertahan. Ia tahu, kalau Sonia ke sini bukan sebagai sekretaris Daniel lagi.
“Perkenalkan. Nama saya Sonia Ananta, Tuan.” Sonia mengulurkan tangannya di depan Zeroun sambil tersenyum manis.
“Bukannya anda sekretaris Daniel di S.G.Group?” Zeroun tidak menyambut uluran tangan Sonia, ia menatap wajah Sonia dengan penuh selidik.
Sonia menarik tangan yang sempat ia ulurkan, ia duduk di kursi yang ada di dekatnya, “Ya, itu memang benar. Tapi untuk sekarang dan seterusnya, saya bukan sekretaris pria itu lagi.”
“Untuk apa anda ke sini, Nona Sonia?” Zeroun menatap tajam wajah Sonia yang kini berhadapan dengan dirinya.
“Saya ingin menawarkan kerja sama dengan Z.E.Group. Anda tidak akan pernah rugi, Tuan. ALCO Group berkembang pesat selama satu tahun terakhir ini.”
“Anda bisa mengurus semua itu dengan sekretaris saya. Tidak perlu berjumpa dengan saya langsung. Anda tahu, saya memiliki banyak pekerjaan.” Zeroun menyandarkan tubuhnya. Ia tidak suka dengan kedatangan Sonia siang ini.
Sial. Pria ini tidak gampang aku rayu. Aku harus berhasil mengajak pria ini bekerja sama. Ini satu-satuya cara untuk menghancurkan S.G.Group.
Sonia terdiam sejenak, ia memikirkan cara untuk mendapatkan kepercayaan dari Zeroun.
“Tuan, sepertinya anda tahu kedatangan saya ke sini bukan hanya untuk kerja sama. Tapi saya ingin minta bantuan dengan anda. Saya akan membayar anda, dengan separuh saham milik ALCO Group.” Sonia tersenyum tipis. Ia sangat yakin, kalau Zeroun akan tertarik dengan penawaran yang ia berikan.
“Maaf, Nona. Tapi saya memiliki banyak pekerjaan. Sebaiknya anda keluar.” Zeroun menunjuk ke arah pintu. Memalingkan pandangannya dari Sonia.
“Tolong saya, Tuan.” Sonia memohon di depan Zeroun. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Maaf, Nona. Jika anda tidak ingin pergi, saya akan memanggil securiti untuk mengusir anda.” Zeroun mengambil telepon, menekan satu nomor.
Sonia berdiri dari duduknya, ia mengepal kuat kedua tangannya, “Tolong bantu saya untuk menghancurkan S.G. Group!”