
Bandara Udara Internasional Phuket.
Helikopter itu berhenti di lapangan udara yang sangat luas. Beberapa pasukan Gold Dragon membungkuk hormat saat melihat Serena turun dari Helikopter. Tatapan mata Serena terus mencari-cari ke segala arah. Ia mencari keberadaan Kenzo dan Shabira yang tidak muncul di lokasi itu.
“Dimana Kenzo?” tanya Erena kepada salah satu pasukan Gold Dragon.
“Maaf, Bos. Kami belum mendapat kabar apapun dari Bos Kenzo ataupun Bos Zeroun.” Pria itu membungkuk hormat.
“Kenapa kalian masih di sini! pergi selamatkan mereka!” teriak Serena dengan suara serak.
“Maaf, Bos. Kami diperintahkan untuk menjaga anda saat ini.”
Plaakkk!
Satu tamparan mendarat di pipi pria itu. Serena mengepal kuat tangannya yang merah karena menampar pria itu dengan kuat.
“Apa kau tidak lihat? aku dalam keadaan selamat. Aku baik-baik saja! Saat ini orang yang ada dalam bahaya adalah mereka, kalian semua pergi bantu mereka.”
Emosi Serena sudah tidak terkontrol lagi. Hatinya di penuhi amarah saat melihat tubuhnya yang tidak berdaya.
“Sayang, jangan seperti itu. Kau masih sakit, jaga emosimu. Dokter bilang, kau tidak boleh terlalu banyak pikiran.” Ny. Edritz memegang kedua lengan Serena.
“Tapi, Daniel ma ….” Suara Serena semakin serak dan hampir habis.
Serena menatap wajah pasukan Gold Dragon yang berbaris di depannya, “Pergi, selamatkan Zeroun dan Daniel di rumah sakit. Aku akan menjaga diriku dengan baik, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku.” Serena berlutut di hadapan pasukan Gold Dragon.
“Bos, apa yang anda lakukan?” Pasukan Gold Dragon terbelalak kaget.
“Aku mohon.” Serena mengatupkan kedua tanganya untuk memohon.
“Baik, Bos. Kami akan pergi. Jaga diri anda dengan baik.” Pria itu membungkuk hormat di depan Serena, sebelum memimpin pasukan Gold Dragon untuk pergi meninggalkan lapangan udara.
Serena menangis sejadi-jadinya. Tuan dan Ny. Edritz juga ikut sedih saat melihat ketidakberdayaan Serena saat itu.
“Sudah, Serena. Sudah. Jangan menangis lagi.” Ny. Edritz membantu Serena untuk berdiri.
Belum sempat Serena berdiri, semua pandangan yang ia lihat goyang. Serena memegang perutnya yang sakit. Wanita itu memejamkan mata dan hampir terjatuh. Tuan Edritz menangkap tubuh Serena, dengan gerakan cepat.
“Dokter! panggilkan Dokter,” teriak Ny. Edritz kepada beberapa petugas yang ada di bandara.
“Masuk, Nyonya. Di dalam pesawat sudah ada dokter yang bisa merawat Nona Erena.” Satu pramugari turun dari pesawat saat melihat kekacauan yang terjadi. Wanita itu membawa Tuan dan Ny. Edritz masuk ke dalam pesawat pribadi milik Zeroun Zein.
“Serena, bangunlah sayang.” Wajah Ny. Edritz di selimuti dengan ketakutan. Satu persatu masalah bertambah dan memenuhi isi pikirannya. Kepalanya juga terasa sakit dan pusing memikirkan semua masalah itu.
Seorang dokter menyambut Serena di dalam pesawat. Perlahan, Tuan Edritz meletakkan tubuh Serena di atas tempat tidur mini yang tersedia di dalam pesawat itu.
Tidak selang beberapa lama, Kenzo dan Shabira juga tiba di dalam pesawat itu.
“Kak Erena,” teriak Shabira dari kejauahan. Wajah Shabira berubah panik saat melihat tubuh Serena terbaring lemah di atas tempat tidur.
“Apa yang terjadi?” Shabira menatap tajam wajah pramugari itu.
“Serena pingsan, dia terlalu banyak pikiran saat ini.” Ny. Edritz menjawab pertanyaan Shabira sambil menggenggam erat tangan Serena. Dari arah berlawanan, Dokter masih sibuk memeriksa keadaan Serena.
“Sepertinya lukanya kembai terbuka. Nona ini terlalu banyak bergerak, seharusnya dia tidak banyak jalan sebelum lukanya kering. Ini bisa berakibat fatal, jika tidak di tangani dengan cepat." Wajah Dokter itu tidak terbaca lagi. Membuat hati semua orang takut dan cemas akan keadaan Serena saat itu.
"Apa yang terjadi, Dok?" ucap Shabira pelan.
"Nona ini harus segera melakukan operasi ulang.” Dokter itu menatap wajah Kenzo dan Shabira dengan serius.
“Itu tidak mungkin, Dok. Keadaan di luar terlalu berbahaya.” Kenzo menatap wajah Serena dengan kesedihan.
“Saya bisa memberinya obat untuk meredahkan pendarahannya beberapa jam.”
“Kita berangkat ke Jepang sekarang juga,” ucap Shabira sambil menghapus setiap tetesan yang menetes deras.
“Tapi, Daniel dan Zeroun?” ucap Kenzo pelan.
“Kita berada di negara ini demi Kak Erena. Jika sesuatu terjadi dengan Kak Erena, maka semua pengorbanan kita menjadi sia-sia.” Shabira memandang wajah pramugari itu dengan seksama.
“Apa Angel sudah ada di dalam pesawat ini?”
“Perintahkan pilot untuk segera lepas landas. Kita tidak lagi punya banyak waktu. Kak Erena harus segera di bawah ke rumah sakit.”
Meskipun sangat berat untuk meninggalkan Zeroun, tapi semua itu harus ia lakukan. Saat ini Shabira tidak memiliki pilihan kedua. Satu-satunya pesan Zeroun yang ia ingat. Lindungi Serena apapun yang terjadi.
“Baik, Nona.” Pramugari itu menunduk hormat. Sejak awal Zeroun sudah memberi tahu semua awak pesawat pribadinya, untuk menuruti semua perintah yang di katakan oleh Shabira.
“Bertahanlah, Kak. Semua akan baik-baik saja.” Shabira menggenggam erat tangan Serena.
Tuan dan Ny. Edritz mengambil posisi duduk di salah satu kursi. Memejamkan mata untuk melupakan masalah yang kini menimpah hidup mereka.
Kenzo hanya bisa diam, tidak banyak hal yang kini bisa ia lakukan. Ia tetap berada di situ untuk melindungi Shabira dan Erena.
Lukas dan Biao sudah pergi menjemput Daniel dan Zeroun. Kenzo sepenuhnya percaya kalau Daniel dan Zeroun akan segera kembali dalam keadaan selamat.
***
Rumah Sakit, di Thailand.
Rumah Sakit yang seharusnya menjadi tempat mengobati orang sakit, kini sudah berubah menjadi arena pertarungan antar mafia. Semua musuh yang pernah bekerja sama dengan Sonia, juga hadir dalam pertarungan itu.
Tembakan demi tembakan di lepas Daniel dan Zeroun secara bersamaan. Mereka berdua saling melindungi satu sama lain.
Datanganya pasukan Gold Dragon menimbulkan kekhawatiran di dalam diri Zeroun saat itu. Ia tahu kalau semua pasukannya datang karena perintah yang diberikan Erena. Ingin sekali Zeroun memukul semua bawahannya saat itu. Karena dengan beraninya mereka membiarkan Serena tanpa ada perlindungan.
Duarr! Duarr!
lagi-lagi baku tembak terdengar. Semua orang sibuk menyerang musuh yang ada di depan. Zeroun masih melamun memikirkan keselamatan Serena saat ini. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya terasa sakit dan jantungnya berdebar dengan cepat.
“Zeroun, apa kau sakit?” Daniel memegang pundak kiri Zeroun dengan penuh khawatir.
Zeroun menggeleng kepalanya pelan.
“Mereka semua berada di sini. Siapa yang akan melindungi Erena di bandara,” ucap Zeroun pelan.
Daniel mendongakkan kepalanya memandang satu persatu wajah Gold Dragon yang baru saja tiba. Hatinya juga di selimuti kekhawatiran saat mengingat posisi Serena saat ini.
“Kita harus segera menyelesaikan semua ini!” Daniel menatap wajah Zeroun dengan penuh keyakinan.
“Ini akan memakan waktu yang sangat lama. Belum ada setengahnya yang keluar menyerang kita. Bahkan pasukan yang kita miliki sudah hampir habis. Senjata kita juga sudah tidak ada lagi Daniel.” Zeroun membungkukan kepalanya.
“Apa kau tahu semua ini sejak awal?” Daniel menatap Zeroun dengan seksama.
Namun, Zeroun hanya diam tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan Daniel.
“Katakan padaku. Zeroun! Apa kau tahu semua ini sejak awal!” teriak Daniel sejadi-jadinya di tengah-tengah baku tembak.
Zeroun menganggukkan kepalanya dengan satu senyuman penuh kepahitan.
“Aku tahu, semua ini akan terjadi Daniel. Aku sudah menyuruhmu untuk pergi bersama Erena, kalian bisa hidup bahagia selamanya. Tapi kau malah lebih memilih mengantar nyawamu ke sini.” Zeroun menyandarkan tubuhnya di dinding. Menekan lukanya yang sudah di penuhi cairan merah.
Daniel menatap sedih keadaan Zeroun saat ini, “Zeroun, bertahanlah. Kita akan keluar dari tempat ini dengan selamat.”
Daniel bangkit dari tempat itu, berjalan ke arah musuh dan siap bertarung dengan tangan kosong. Peluru yang ada di dalam pistolnya sudah habis dan ia tidak lagi memiliki senjata saat ini.
Zeroun, kau mempertaruhkan nyawamu lagi dan lagi untuk wanita yang sudah memiliki suami. Apa sebesar itu cintamu kepada Serena. Aku akan melindungimu, Zeroun. Meskipun harus mempertaruhkan nyawaku saat ini. Aku yakin, kita bisa pulang ke Jepang dengan selamat.
Daniel menatap sedih wajah Zeroun Zein yang kini menahan luka.
Kita semua bisa menjadi saudara yang saling menyayangi. Bertahanlah, Zeroun! kau harus tetap hidup.
.
.
Vote yang banyakkk..
Vote 20k, kita Crazy up. 😉