
Matahari kembali bersinar. Pagi ini, Ny. Edritz sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya sudah jauh lebih stabil dari sebelumnya. Di dalam ruangan itu juga ada Tuan Edritz. Daniel sengaja mengatur ruangan itu agar bisa dihuni oleh kedua orang tuanya secara bersamaan.
Pagi itu, Daniel dan Serena sudah ada di rumah sakit. Serena juga membawa kedua bayi kembar mereka untuk mengunjungi Tuan dan Ny. Edritz. Kenzo dan Shabira belum tiba.
“Pa, apa Papa baik-baik saja?” tanya Daniel sambil duduk di tepi ranjang Tuan Edritz. Sejak tadi malam, pria paruh baya itu sudah sadar. Namun, sang istri belum menunjukkan tanda-tanda akan segera terbangun.
“Papa baik-baik saja, Daniel. Tapi, Mama ....” ucap Tuan Edrizt dengan wajah sedih.
“Mama akan baik-baik saja, Pa. Dokter bilang Mama akan segera bangun. Kondisi Mama sudah jauh lebih baikan.”
“Papa tidak bisa menjaga Mamamu, Daniel.” Tuan Edritz meneteskan air mata. Ini pertama kalinya pria paruh baya itu melihat istrinya tertidur dengan wajah tenang dalam waktu yang cukup lama. Hatinya di selimuti kesedihan, “Andai saja Papa tidak mengajak Mamamu pergi, Pasti-”
“Pa, ini salah Serena. Serena tidak sadar kalau musuh masa lalu Serena sudah tiba di kota ini. Selama ini Serena selalu menganggap aman kehidupan indah yang kini Serena jalani.”Serena menatap wajah Tuan Edritz dengan ekspresi penuh rasa bersalah.
“Sayang, kau juga tidak salah. Tidak ada yang bersalah dalam kejadian ini. Baik Papa ataupun dirimu, Sayang. Jadi berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri.” Daniel menghela napas. Menatap sedih wajah Ny. Edritz.
Serena duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Ny. Edritz. Di samping Serena ada dua buah hatinya yang kini tertidur nyenyak di dalam trolly. Satu tangannya menggenggam dengan erat tangan wanita paruh baya itu. Sesekali Serena mengecup tangan Ny. Edritz sebagai wujud kasih sayangnya yang sangat besar.
Perlahan, Ny. Edritz menggerak-gerakkan tangannya. Serena sempat keget saat itu. Bibirnya mengukir senyuman bahagia sambil memperhatikan wajah Ny. Edritz dengan seksama.
“Daniel, Mama,” ucap Serena pelan.
Tuan Edritz segera beranjak dari tempat tidurnya. Pria paruh baya itu berjalan cepat untuk mendekati tubuh istrinya. Ny. Edritz membuka matanya secara perlahan. Bibirnya yang pucat mengukir senyuman kecil.
“Apa cucu Mama baik-baik saja?”ucap Ny. Edrit dengan suara yang sangat pelan. Tidak ada hal yang lebih penting di dalam pikiran Ny. Edritz pagi itu selain keselamatan kedua cucunya.
“Cucu Mama baik-baik saja,” jawab Tuan Edritz sambil mengusap lembut rambut Ny. Edritz, “Mama udah buat Papa sangat takut.”
“Mereka ada di sini, Ma,” jawab Daniel dan Serena secara bersamaan. Daniel mengangkat baby Al sedangkan Serena menggendok baby El. Sepasang suami istri itu telah mengganggu tidur lelap si bayi kembar. Hingga akhirnya terdengar tangisan atas bentuk protes dua bayi berusia empat bulan itu.
Semua orang tertawa dengan wajah bahagia. Sama halnya dengan Ny. Edritz yang baru saja terbangun.
“Maafkan Mama ya, Sayang,” ucap Serena pelan sambil mengecup pipi buah hatinya.
Ny. Edritz menggengam erat tangan Tuan Edritz. Mengukir senyuman bahagia karena bisa melihat orang-orang yang ia sayangi kini baik-baik saja.
“Pa, Mama sangat bersyukur masih bisa melihat wajah Papa dan anak cucu Mama.”
Tuan Edrizt mengecup pucuk kepala Ny. Edritz. Kami akan selalu ada di sini bersama Mama. kita akan selamanya bersatu dan membentuk kebahagiaan yang sejak dulu kita impikan.”
Daniel dan Serena tersenyum bahagia. Tidak ada kebahagian lain selain melihat wajah orang yang di sayangi tersenyum bahagia.
Kini keluarga besar Edritz Chen bisa merasakan kebahagiaan yang sangat sempurna. Impian Ny. Edritz sejak awal pernikahan Daniel dan Serena telah terkabul. Lahirnya Aleonora Edritz Chen dan Eleonora Edritz Chen, merupaka harta yang tak ternilai lagi. Tidak ada kata lain yang bisa dirasakan oleh Ny. Edritz selain sempurna.
Sama halnya dengan Serena. Wanita tangguh itu juga sangat menikmati kehidupannya yang sekarang. Lahirnya dua buah hati yang cukup menggemaskan itu membuat Serena tidak mau menuntut apa-apa lagi. Hidupnya sudah terasa cukup sempurna.
Daniel. Si pria angkuh yang sudah menguasai semua hal yang terbilang mustahil untuk ia lakukan. Bukan hanya idenya yang cemerlang dalam memimpin S.G. Group hingga jaya. Tapi, sejuta cinta yang ia miliki juga mampu mengubahnya menjadi pria yang cukup sempurna di mata Serena. Apapun itu bisa ia lakukan. Daniel tipe pria pantang menyerah jika hal itu berhubungan dengan wanita yang ia cintai.
Semua orang mendapat kebahagiaannya masing-masing.
~Terima kasih~
Tamat