Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 49



Wubin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin berlari sejauh mungkin saat ini. Tiga mobil yang sudah menunggunya di tepian jalan, juga sudah melaju mengiringi mobilnya. Ia terus memandang ke arah spion untuk memastikan, kalau tidak ada orang yang kini mengikutinya.


“Sial! kenapa mereka menyerang di saat seperti ini. Aku masih terluka. Tidak akan menang melawan mereka saat ini.” Wubin menambah laju mobilnya.


Mobil Sport berwarna putih, muncul dari persimpangan jalan. Wubin menatap tajam mobil itu, ia terbelalak kaget saat melihat Kenzo dan Shabira di dalam itu.


“Sepertinya sudah tidak ada jalan lain, selain melawan mereka. Jumlahku jauh lebih banyak, mereka hanya berdua.” Wubin melajukan mobilnya ke arah jalanan sepi.


Di dalam mobil, Kenzo menghubungi beberapa bawahannya untuk mengepung Wubin saat ini.


Di persimpangan jalan depan, semua pasukan Kenzo berhasil menghadang laju mobil Wubin. Hingga Wubin tidak memiliki pilihan lain selain menyerah saat ini.


Wubin menghentikan laju mobilnya. Ia mengambil dua pistol, mengokang pistol itu dengan cepat. Ia menembak ke salah satu mobil yang ada di depannya. Tembakan Wubin mengenai bagian belakang, tempat bahan bakar mobil itu. Hingga percikan api dari pistol itu bersatu dengan bahan bakar minyak mobil. Dalam hitungan detik, mobil itu meledak dan diikuti beberapa mobil lainnya.


“Pikirkan dua kali untuk menghentikanku.” Wubin melajukan mobilnya lagi, meninggalkan lokasi itu.


“Dia sedikit cerdas, tapi aku jauh labih pintar darinya.” Kenzo melajukan mobilnya lagi. Mengikuti laju mobil Wubin yang meluncur dengan sangat cepat.


“Kau terlalu meremehkannya. Ia pria licik.” Shabira menatap ke arah depan dengan raut wajah kesal.


Wubin dan beberapa rombongannya, berhenti di sebuah jalan sepi. Ia turun dari mobil untuk menyambut kedatangan Kenzo dan Shabira. Beberapa pengawal miliknya, sudah siap melindungi dirinya dengan senjata laras panjang yang kini ada di genggaman masing-masing.


Kenzo menghentikan laju mobilnya. Ia memandag wajah Shabira dengan tatapan tajam.


“Jika saat ini, aku memintamu untuk berdiam di dalam mobil. Apa kau akan mematuhi perintahku, Shabira?”


“Tidak, aku ingin menghabisi pria itu dengan tanganku sendiri.” Shabira mengambil pistol dan membuka pintu mobil dengan cepat. Ia berjalan keluar dari dalam mobil, tanpa menunggu perintah dari Kenzo.


“Ya, seharusnya aku tahu. Kalau kau akan menjawab seperti itu.” Kenzo juga turun dari dalam mobil. Ia menatap wajah Wubin dengan tatapan penuh kebencian.


Wubin tersenyum licik, ia melipat kedua tangannya. Menatap wajah Kenzo dan Shabira secara bergantian.


“Aku akui, kau sangat hebat Kenzo. Kau berhasil meratakan pertahananku yang sangat kuat itu. Tapi kau belum menang, selama aku masih bisa berdiri dengan kedua kakiku ini.” Wubin memasang wajah bahagia untuk menutupi rasa takutnya saat ini.


Shabira menodongkan pistol ke arah Wubin, ia sudah tidak sabar untuk menembak Wubin saat ini juga. Kenzo menahan pistol Shabira, ia memandang wajah Shabira sambil menggeleng pertanda tidak setuju.


“Jangan gegabah sayang.” Kenzo mengalihkan pandangannya ke arah Wubin.


“Dimana Erena?” tanya Kenzo dengan penuh kesabaran.


“Apa kau melakukan semua ini karena wanita itu?” Raut wajah Wubin berubah serius.


“Kau!” Lagi-lagi Shabira terpancing emosi.


“Sayang, dia hanya memancing kita untuk menyerang lebih dulu. Tenanglah.” Kenzo meredahkan emosi Shabira lagi.


Shabira membuang tatapan matanya dari kenzo. Ia merasa sangat kesal, saat Kenzo terus melarang dirinya saat ini.


“Aku tahu, kau ada di balik pengeboman hari ini!” teriak Kenzo dari kejauhan.


“Apa kau menuduhku mencelakai wanita itu hari ini?” Wubin tersenyum tipis.


“Aku tahu, semua ini rencanamu, Wubin. Sejak dulu, kau sangat menginginkan nyawa Erena.” Kenzo memandang Wubin dengan tatapan menuduh.


“Aku lebih suka nyawa Zeroun daripada nyama wanita itu. Tapi jika nyawa wanita itu lebih dulu pergi, aku akan merayakannya dengan bahagia.” Wubin tertawa terbahak-bahak dengan penuh bahagia.


“Wanita itu juga pembunuh. Selain aku, banyak yang ingin membunuhnya. Apa kau pikir perbuatannya di masa lalu, sudah bersih dan tidak terungkap lagi? jangan terlalu bodoh, Kenzo. Banyak yang menyimpan dendam padanya, atas prilaku nakalnya saat itu.” Wubin memandang Shabiran dengan tatapan menghina.


Kenzo mengangkat senjata yang kini ia genggam, menodongkan senjata itu ke arah Wubin.


“Tidak ada pilihan lain. Ucapkan kata terakhirmu, saat ini Wubin.”


Wubin tersenyum tipis, “Apa kau mangancamku, Kenzo?”


“Aku tidak akan membiarkan pembunuh sepertimu berkeliaran dengan bebas.” Kenzo menatap wajah Wubin dengan tajam.


Wubin memandang ke segerombolan mobil yang baru saja tiba. Ia tersenyum penuh kemenangan, pasukan yang sudah ia siapkan telah tiba.


“Aku tidak akan kalah dengan semudah itu, Kenzo.” Wubin kembali masuk ke dalam mobil. Duduk manis di dalam mobil untuk menonton pertunjukan yang baru saja di mulai.


Kenzo dan Shabira memutar tubuhnya. Memandang ke arah pria bersenjata yang kini akan menyerang mereka.


Kenzo mendekati tubuh Shabira, “Masuk ke dalam mobil Shabira, beri tahu yang lainnya posisi kita saat ini.” Kenzo masih menyimpan harapan, kalau Daniel dan Biao akan datang untuk menolongnya. Ia tidak tahu, apa yang saat ini terjadi di rumah itu.


Shabira memandang wajah Kenzo dengan tatapan tajam, “Kau ingin bertarung sendiri? Aku tidak yakin, kau akan menang. Aku tetap di sini untuk membantumu.”


Tanpa banyak kata, Shabira menembak satu persatu musuh yang kini berdiri di hadapannya.


Kenzo menarik napas dalam, mengepal kuat tangannya, “Sudah ku duga, ia tidak akan mematuhi perintahku lagi, saat ini. Dasar wanita keras kepala!” Kenzo mengangkat senjata dan menembak satu persatu musuh, membantu Shabira saat ini.


Tidak cukup dengan baku tembak. Shabira dan Kenzo juga bertarung dengan tangan kosong. Saat pria-pria itu semangkin dekat dengan dirinya. Wubin hanya duduk tersenyum di dalam mobil, sambil meminum satu kaleng minuman bersoda.


“Wanita itu juga sangat tangguh. Ia sama dengan wanita yang memiliki seribu nyawa itu.” Wubin meneguk minumannya secara perlahan.


“Tapi, aku jadi penasaran dengan musuh baru yang dimiliki wanita itu.”


Shabira terjatuh di tengah jalan. Kakinya terluka parah saat seorang pria memukul kakinya dengan besi yang sangat kuat.


Duarr!


Shabira menembak pria itu. Hingga pria itu terjatuh dan tidak lagi bernyawa. Namun, rasa sakit di kakinya, membuat Shabira tidak lagi bisa berjalan.


Di tempat lain. Kenzo masih bertarung hebat dengan beberapa pria bertubuh tegab. Ia tidak lagi bisa membantu Shabira, saat ini lawan yang ia hadapi lumayan tangguh dan dalam jumlah yang banyak.


“Shabira, jaga dirimu, sayang.” Kenzo melirik ke arah Shabira yang terduduk di tengah jalan.


Wubin tersenyum licik, ia menghidupkan mobilnya. Saat ini, pikirannya di penuhi dengan rencana jahat untuk menabrak Shabira yang sudah jatuh di jalanan.


“Saatnya aku menghabisi nyawamu.” Wubin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tatapan matanya ia fokuskan pada Shabira yang ada di depan matanya.


Shabira memandang mobil Wubin yang kini melaju cepat untuk menabrak dirinya. Dengan sekuat tenaga, Shabira berusaha untuk bangkit dan menghindari tabrakan mobil Wubin saat ini. Namun, lagi-lagi ia terjatuh, kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi.


“Pria ini. Harusnya aku menembaknya sejak awal!” Shabira memandang mobil Wubin dengan tatapan tajam.


“Shabira awas!” teriak Kenzo dengan penuh kepanikan.


Satu pria memukul tubuh Kenzo dari belakang, Kenzo terjatuh di atas tanah. Ia menembak satu persatu pria yang berdiri di hadapannya. Matanya kembali fokus pada mobil Wubin yang kini ingin menabrak Shabira. Air mata menetes dari pelupuk matanya saat melihat wanita yang sangat ia cintai, dalam bahaya.


“Shabira ….” Kenzo semangkin putus asa, saat mobil Wubin sudah semangkin dekat.


Duarr!


Shabira menembak salah satu ban depan mobil Wubin. Mobil itu hilang kendali dan banting stir ke arah kiri. Shabira terhindar dari tabrakan mobil itu. Ia duduk sambil tersenyum penuh kemenangan. Mobil Wubin terguling-guling di jalanan. Hingga akhirnya berhenti dengan posisi terbalik.


Wubin keluar dari dalam mobil itu dengan luka di sekujur tubuhnya. Ia merangkak perlahan untuk meninggalkan mobilnya yang hampir meledak.


Shabira mengintai Wubin. Ia menarik pelatuknya secara perlahan untuk menembak tubuh Wubin.


“Ini untuk Kak Erena!”


Duarr!


Tembakan Shabira tepat sasaran. Wubin tergeletak tak berdaya, sebelum mobil itu meledak. Tubuh Wubin ikut terbakar dengan ledakan mobil itu.


Kenzo kembali bernapas lega. Ia berdiri dengan jalan tertatih-tatih untuk menolong Shabira saat ini.


“Sayang, apa kau baik-baik saja.” Kenzo mengangkat tubuh Shabira yang sudah lemah dan tidak lagi bertenaga.


“Aku mencintaimu ….” ucap Shabira dengan nada yang lirih, sebelum ia memejamkan mata dan tidak sadarkan diri.


Kenzo berjalan ke arah mobil, membawa Shabira ke rumah sakit. Mobil sport putih itu melaju dengan cepat, meninggalkan lokasi pertarungan dengan kemenangan.


Author tepati janji ya, karena ud lebih 20k jlh vote jadi crazy up. 🤭


Bagi Author vote yg banyak lagi ya, biar rangkingnya naik...🤣🤣