Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 78



Thailand. Rumah Sakit.


Serena terbangun dari mimpi buruknya. Suatu mimpi yang mengingatkannya dengan perbuatan di masa lalu. Mimpi yang pernah ia alami di dunia nyata waktu dulu. Napasnya terengah-engah seperti orang yang habis berlari berkeliling lapangan. Baju yang kini ia kenakan basah karena keringat.


Serena memandang wajah Daniel yang tertidur pulas di sampingnya. Pria itu tidur dengan wajah yang sangat tenang. Salah satu tangannya menggenggam tangan Serena dengan begitu erat, hembusan napasnya sangat teratur.


“Daniel ….” Serena menyentuh wajah Daniel, dengan mata berkaca-kaca.


“Kenapa Aku bisa membencimu saat itu? bahkan berniat untuk membunuhmu.” Serena mengukir senyuman tipis.


“Tapi, setelah kita menikah kau memang sering menyiksaku bukan? kau juga pria yang jahat. Jika waktu itu kita berhasil bertemu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kau dan aku sama-sama menolak pernikahan itu bukan?” Serena tertawa kecil saat melihat tingkah bodohnya waktu dulu.


Perlahan, Daniel membuka matanya saat mendengar tawa kecil yang keluar dari bibir Serena. Pandangannya masih sedikit belum jelas. Daniel menyentuh pipi Serena untuk memastikan, kalau Serena benar bangun malam itu.


“Sayang, kau belum tidur?” Daniel mengusap lembut pipi Serena.


“Daniel, apa kau pernah melihat wajahku sebelum bertemu denganku di rumah sakit dulu?” Tiba-tiba saja Serena ingin membahas hal itu lagi bersama Daniel.


“Belum, Mama berulang kali memberiku foto putri Tuan Wang yang cantik ini. Tapi, berulang kali juga aku tidak melihat wajahnya.” Daniel tersenyum manis.


“Kau bohong! bahkan setelah bertemu denganku, kau juga tidak pernah memujiku cantik.” Serena memasang wajah cemberut favoritnya.


Daniel tertawa kecil saat melihat wajah Serena. Ia menarik tubuh Serena agar merapat dengan tubuhnya. Tanpa permisi, pria itu mencium bibir Serena dengan durasi yang cukup lama. Matanya terpejam untuk melepaskan kerinduannya selama ini.


Daniel melepaskan cumbuan singkatnya. Napas mereka berdua saling beradu. Daniel memejamkan matanya sejenak, sebelum memandang wajah cantik Serena lagi.


“Sayang, maafkan aku. Aku terlalu lama menyadari cinta ini. Sejak pertama kali menikah denganmu, hanya namamu yang selalu memenuhi pikiranku saat itu." Daniel diam sejenak.


"Hanya saja, aku terlalu gengsi untuk mengungkapkan rasa cinta itu kepadamu.” Daniel mengusap rambut Serena yang lembut.


Serena tersenyum memandang Daniel, “Apa kau tahu Daniel. Setiap kali kau menyiksaku dan mengancamku hanya karena hal-hal sepele, aku selalu ingin memberontak dan membalas semua perbuatanmu. Mungkin sikap jahatmu itu yang membuatku jadi jatuh cinta padamu.”


Serena juga tertawa kecil saat mengingat, awal-awal pernikahannya saat itu.


“Serena, Aku sangat mencintaimu.” Daniel melekatkan hidungnya dengan hidung Serena.


“Aku juga sangat mencintaimu, Daniel.” Serena memejamkan matanya.


“Jangan sedih lagi. Aku yakin, secepatnya kau akan hamil lagi, karena setelah lukamu sembuh kita akan pergi ke pulau untuk berbulan madu.” Daniel menyeringai nakal.


“Pantai?” tanya Serena dengan senyum bahagia.


“Ya, Pantai. kau sangat suka dengan pantai bukan? pulau itu milik keluarga Chen. Jadi kita bebas melakukan apa saja dipulau itu.


Satu hal yang paling penting, tidak akan ada penyusup lagi, untuk menggagalkan bulan madu kita.” Daniel mencubit pelan pucuk hidung Serena.


“Keluarga Chen sangat kaya bukan? pasti punya harta yang begitu berlimpah hingga bisa membeli sebuah pulau.” Serena memasang wajah serius.


“Sayang, apa kau sekarang ingin membahas tentang materi? selama ini kau tidak pernah menggunakan kartu yang aku berikan.


Kenapa sekarang tiba-tiba ingin menghitung kekayaan keluarga Chen?” Daniel mengerutkan dahinya.


“Aku hanya menghitung berapa persen sahamku di dalam keluarga Chen.” Serena mengukir senyuman licik.


“Kau bisa mengambil semuanya, jika berjanji untuk tidak pernah meninggalkanku lagi.” Daniel mempererat pelukannya di pinggang Serena. Masih dengan posisi tidur saling berhadapan.


“Apa kau belum percaya padaku, Daniel?” Serena menatap wajah Daniel dengan begitu tajam.


Daniel mencium pucuk kepala Serena dengan lembut, “Aku selalu percaya, kalau kau tidak akan pernah meninggalkan diriku, Serena.”


Serena tersenyum manis sebelum memejamkan mata.


Hari masih sangat pagi untuk bangun saat itu. Daniel dan Serena melanjutkan tidurnya yang terpotong beberapa menit. Daniel melepas pelukannya agar tidak mengenai luka Serena yang masih basah. Serena berbaring sambil mengatur posisi nyamannya saat itu.


***


Matahari kembali bersinar dengan terang. Suasana rumah sakit itu juga sudah mulai dipenuhi dengan keramaian. Beberapa pengawal masih siap berjaga didepan rumah sakit maupun depan kamar Serena dan Zeroun.


Tuan dan Ny. Edritz baru saja turun dari mobil. Semalaman mereka tidur di salah satu hotel yang dekat dengan rumah sakit. Tuan Edritz memperhatikan beberapa pasukan Gold Dragon yang masih setia untuk menjaga keamanan.


“Ma, apa mereka pasukan mafia Gold Dragon?” bisik Tuan Edritz pelan.


“Kenapa Papa tanya Mama? apa Papa gak tahu?” Ny. Edritz tidak memperdulikan ucapan Tuan Edritz. Wanita paruh baya itu masih asyik melanjutkan langkah kakinya.


“Ma, bukannya mama yang selama ini menyelidiki masa lalu Serena. Pasti Mama lebih banyak tahu daripada Papa.”


Tuan Edritz masih belum menyerah, ia terus saja bertanya sambil berjalan mengikuti langkah Ny. Edritz.


Ny. Edritz menghentikan langkah kakinya, menarik napas dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan. Menatap wajah Tuan Edritz dengan tatapan tidak terbaca.


“Mama hanya menyelidiki beberapa hal yang bisa mengingatkan Serena dengan masa lalunya, Pa. Mama tidak menyelidiki Serena hingga hubungan percintaannya dengan pria bernama Zeroun itu.” Ny. Edritz menekan tombol lift.


“Zeroun Zein? Pria itu pengusaha baru bukan di kota ini? Papa gak pernah menyangka, kalau pria itu adalah ketua mafia.” Tuan Edritz mengerutkan dahinya.


“Setiap orang punya masa lalu, termasuk Zeroun Zein itu. Bahkan pria itu hampir saja membuat rumah tangga putra kita hancur.” Ny. Edritz kembali mengingat momen Serena menembak Daniel dan lebih memilih pergi dengan Zeroun.


“Sudahlah, sebaiknya kita melupakan semua tentang pria itu. Sekarang kita fokus sama kesehatan Serena saja.” Tuan Edritz berjalan keluar saat pintu lift terbuka.


Saat ingin keluar dari dalam lift, Tuan dan Ny. Edritz berpapasan dengan Lukas dan Biao yang ingin masuk ke dalam lift.


“Selamat pagi, Tuan, Nyonya.” Biao membungkuk hormat.


“Biao, kau mau kemana?” tanya Ny. Edritz cepat.


“Kami ingin menemui Tuan muda Kenzo di hotel, Nyonya.” Biao membungkuk hormat.


Lukas menatap tajam wajah Ny. Edritz dengan tatapan tidak suka. Wajah Ny. Edritz sangat tidak asing bagi dirinya saat itu.


“Hati-hati ya, segera kembali. Kita harus mengurus kepulangan Serena hari ini.” Ny. Edritz melirik ke arah Lukas sambil tersenyum ramah. Wanita paruh baya itu tidak menyadari tatapan Lukas saat itu. Tuan dan Ny. Edritz lebih memilih melangkah cepat menuju ke arah kamar Serena.


“Kenapa kau memandang Nyonya seperti itu?” Biao menatap wajah Lukas dengan penuh tanya.


Biao hanya menatap wajah Lukas dengan tatapan curiga. Biao dan Lukas diperintahkan Kenzo untuk menjemput mereka berdua di hotel. Ada satu hal yang ingin di sampaikan oleh Kenzo tanpa sepengetahuan Zeroun dan Daniel.


“Untuk apa Tuan Kenzo memanggil kita?” tanya Lukas tidak suka. Lukas masih ingin menemani Zeroun saat ini.


“Aku juga tidak tahu, mungkin karena masalah penyerangan musuh semalam.” Biao tahu, kalau semalam Gold Dragon menyerang sisa musuh yang masih berkeliaran di Thailand.


“Musuh.” Lukas tersenyum tipis.


“Kenapa?” Biao memandang wajah Lukas.


“Aku sudah melihat ilmu bela dirimu, Biao. Apa kau juga hidup di jalanan sama seperti Nona Shabira?” Lukas menatap wajah Biao dengan serius.


“Untuk apa kau menanyakan hal itu?” Biao mengalihkan pandangannya dari Lukas.


“Apa kau mudah untuk dikalahkan?” tanya Lukas lagi.


“Tentu saja tidak mudah untuk mengalahkanku. Apa kau ingin bertarung denganku?” Biao mengepal kuat tangannya.


“Aku tidak ingin bertarung denganmu. Aku hanya ingin memberi tahumu tentang musuh yang tadi kau sebutkan. Mereka hidup di jalan dan gak akan mudah untuk dikalahkan. Kita tidak akan pernah menang melawan mereka. Kita hanya bisa mencegah mereka untuk melukai majikan kita.” Lukas melangkah keluar saat pintu lift terbuka.


Biao mengikuti langkah Lukas, hingga posisi Biao berada di samping tubuh Lukas.


“Lukas, apa maksudmu? apa musuh kita masih banyak di sekitar sini.” Biao juga menghentikan langkah kakinya saat Lukas berhenti secara mendadak.


“Apa kau ingin tahu dimana musuh kita saat ini berada?” Lukas mengeluarkan pistol dari dalam sakunya.


Biao hanya diam memperhatikan arah pistol Lukas saat ini. Matanya terbelalak kaget, saat Lukas mengarahkan pistol itu pada wanita yang mengenakan pakaian perawat.


DUARRR!


“Jangan!” teriak Biao.


Wanita itu jatuh di tengah jalan dengan tubuh dipenuhi banyak cairan merah. Semua orang yang ada di rumah sakit terbelalak kaget, saat melihat perawat rumah sakit tergeletak karena tertembak. Sebagian orang berlari ketakutan, saat melihat pistol yang ada di gengaman Lukas.


“Lukas! apa kau sudah gila!” teriak Biao tidak terima dengan perbuatan Lukas.


Tanpa banyak kata, Lukas berjalan ke arah mobil. Ia duduk di balik kemudi dengan tatapan yang tidak terbaca lagi. Biao juga masuk ke dalam mobil, membanting pintu mobil sebelum menagih satu penjelasan kepada Lukas.


Belum sempat Biao mengeluarkan kata, tatapan Biao terhenti pada segerombolan orang berpakaian hitam-hitam yang siap menembak di depan mobilnya.


“Pertarungan belum berakhir!” Lukas memasang handsfree untuk memberi kode kepada semua pasukan Gold Dragon.


“Kita tidak bisa pergi dari sini! Tuan Daniel dan Nona Serena masih ada di dalam.” Biao ingin membuka pintu mobil.


“Kau akan mati tertembak jika keluar dari dalam mobil ini.” Lukas mengambil handphonenya untuk menghubungi Zeroun.


“Bos, kita di serang lagi!” ucap Lukas dengan wajah tenang.


[Dimana Kenzo dan Shabira?] tanya Zeroun dengan tenang.


“Mereka berdua masih ada di hotel, saya dan Biao akan menjemput mereka. Tapi, bagaimana dengan anda?”


[Lindungi Shabira, aku yakin mereka sudah mengetahui kalau Zetta adalah Shabira. Saat ini, mereka akan mengincar Shabira.]


“Baik, Bos.” Tanpa menunggu lama, Lukas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Beberapa pasukan Gold Dragon juga sudah siap siaga mengikuti mobil Lukas dari belakang.


Beberapa sisanya menjaga rumah sakit untuk melindungi Zeroun. Mobil itu membuat beberapa musuh yang menghadang berlari untuk minggir.


Lukas menatap tajam wajah musuh saat mobil itu melewati segerombolan musuh.


“Darimana kau tahu, kalau wanita tadi musuh?” Biao menatap wajah Lukas dengan penuh tanya. Hatinya sangat kagum dengan kecekatan yang dimiliki Lukas saat ini.


“Aku sudah ingin membunuh wanita itu sejak tadi malam. Hanya saja waktunya belum tepat.”


“Sejak tadi malam musuh sudah ada didekat kita?” tanya Biao tidak percaya.


Lukas memasang senyuman tipis, “Kau tidak menyadarinya? Tuan Daniel memiliki pengawal yang payah,” ucap Lukas menghina.


“Apa Tuan Kenzo tahu semua ini?”


Lukas mengangguk cepat, Tuan Kenzo dan Bos Zeroun tahu semua ini. Mereka masih merahasiakan semuanya dari Nona Shabira. Seharusnya saat ini, Nona Shabira ada di dalam kamar Nona Erena bersama Bos Zeroun. Tapi, Tuan Kenzo tidak bisa membawanya keluar dari hotel.”


Biao memandang dari spion, memperhatikan mobil musuh yang tidak lagi mengikuti mereka.


“Mereka tidak mengikuti kita. Bagaimana kalau mereka menyerang rumah sakit?” Wajah Biao sudah berubah khawatir. Dengan cepat ia mengambil handphone untuk memberi kabar itu kepada Daniel.


“Jangan hubungi Tuan Daniel atau siapapun. Tuan Zeroun akan mengatur semuanya. Jangan merusak rencana yang sudah ia susun.” Lukas menangkis handphone itu dari tangan Biao.


“Apa lagi yang kalian rencanakan?” ucap Biao semakin prustasi.


Lukas tidak lagi menjawab pertanyaan Biao. Ia tetap fokus dengan laju mobilnya untuk melindungi Nona mudanya. Biao memandang keluar jendela dengan wajah yang dipenuhi rasa bersalah. Ini pertama kalinya ia pergi meninggalkan Daniel, saat pria itu dalam bahaya.


“Tuan, semoga anda baik-baik saja.”


.


..


...


Baca juga karya kedua Author.


"Permaisuri Modern"


Terima kasih.