Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Bab. 44



Beberapa bulan kemudian....


Pagi yang cerah. Daniel dan Serena sibuk bermain dengan twin baby pagi itu. Hari ini hari minggu. Daniel tidak pergi ke S.G. Group untuk bekerja. Pria itu lebih memilih seharian bermain dengan kedua buah hatinya yang kini sudah menginjak usia 4 bulan.


Wajah twin baby terlihat semakin menggemaskan setiap harinya. Walaupun Daniel telah menyiapkan dua baby sister khusus untuk membantu Serena menjaga anak-anak mereka, tapi tetap saja Daniel ingin turun tangan langsung untuk menjaga buah hatinya ketika libur tiba. Pria itu dengan telaten mengganti popok atau membuatkan susu untuk baby twin saat Serena sedang sibuk melakukan hal lain.


“Daniel, dimana Serena?” Suara Ny. Edritz mengagetkan Daniel.


“Mama ... Serena lagi ke atas, Ma. Ada yang mau di ambil. Mama mau kemana?” tanya Daniel dengan tatapan menyelidik. Penampilan Ny. Edritz pagi itu memang terlihat seperti orang yang ingin pergi.


“Mama dan Papa mau ke luar kota beberapa hari. Kami akan segera pulang secepatnya.” Ny. Edritz membungkukkan tubuhnya untuk memberikan cucu-cucunya kecupan hangat, “Mereka berdua selalu saja membuat Mama sulit untuk pergi dari rumah ini.”


“Mama bisa bermain lagi dengan baby Al dan El setelah kembali nanti, Ma.”


“Mama pergi dulu, Daniel.” Ny. Edritz menepuk pelan pundak Daniel sebelum melangkahkan kakinya pergi menuju ke arah depan pintu utama.


Daniel memandang punggung Ny. Edritz dengan tatapan serius. Entah kenapa tiba-tiba saja pria itu merasakan firasat buruk. Namun, dalam sekejab Daniel menghilangkan firasat buruk itu. Ia lebih memilih bermain dengan kedua anaknya di bandingkan memikirkan lebih jauh lagi firasat buruk yang sempat menghantuinya.


Beberapa saat kemudian, Serena muncul dengan mainan di tangannya. Daniel tersenyum saat melihat istrinya muncul dengan senyuman yang cukup indah.


“Sayang, apa kau pergi ke kamar selama beberapa menit hanya untuk mengambil mainan itu?” tanya Daniel sambil mengeryitkan dahi.


“Tentu saja. Tidak. Aku tadi menelpon Shabira. Hari ini jadwal periksa kandungan di rumah sakit. Setelah dari rumah sakit, ia ingin singgah untuk menemui twin baby.” Serena duduk di samping Daniel sambil memainkan mainan yang baru saja ia temukan di kamar.


Pak Han muncul dengan wajah yang sangat panik. Daniel dan Serena memandang Pak Han dengan tatapan penuh tanya.


“Ada apa, Pak Han? Kenapa wajah anda terlihat ketakutan seperti itu?” tanya Serena sambil menggendong Baby Al di pelukannya.


“Tuan dan Nyonya ....” ucapan Pak Han tertahan di tenggorokan. Pria itu terlihat sangat sulit untuk menyampaikan informasi yang baru saja ia dapat saat ini.


“Apa yang terjadi sama Mama dan Papa? Bukankah mereka baru saja pergi meninggalkan rumah, Pak Han?” Daniel juga gak kalah paniknya dengan Serena pagi itu.


“Tuan dan Ny. Edritz mengalami kecelakaan, Tuan,” ucap Pak Han sambil menunduk sedih.


“Apa?” tanya Daniel dan Serena secara bersamaan.


“Dimana Mama dan Papa sekarang? Daniel ....” Serena terlihat sangat sedih hingga air mata di pipinya tiba-tiba saja terjatuh.


“Mereka sudah di bawa ke rumah sakit, Nona.”


“Daniel, ayo kita lihat Mama,” ucap Serena dengan tangisan di pipinya.


Daniel mengangguk, “Ayo, sayang. Kita akan berangkat ke rumah sakit sekarang juga.”


Baru beberapa detik mereka membicarakan kecelakaan Tuan dan Ny. Edritz, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan di halaman depan. Daniel dan Serena semakin waspada pagi itu.


“Apa itu?” ucap Serena sedikit bingung.


“Aku juga tidak tahu. Biar aku periksa,” jawab Daniel sambil berlari pergi menuju ke sumber suara. Diikuti Pak Han dari belakang.


Serena berlari ke arah lemari yang selama ini di gunakan Daniel menyimpan senjata.


“Siapa yang berani menyerangku sepagi ini!” Serena meletakkan dua anaknya di dalam trolly. Wanita tangguh itu terlihat bingung untuk melindungi buah hatinya. Tidak ada satupun penghuni rumah yang ia percaya saat ini. Satu tanganya sudah memegang sebuah pistol untuk menjaga kedua buah hatinya dari bahaya.


“Erena!” teriak seseorang yang tiba-tiba saja muncul. Seorang pria dengan tubuh kekar dan tato di sekujur tubuhnya muncul di hadapan Serena. Satu tangannya menodongkan senjata api tepat ke arah Serena saat itu.


Serena mematung beberapa detik sambil memperhatikan tato pria itu. Bibirnya tersenyum kecil saat ia berhasil mengingat pemilik ukiran tato itu.


“Heels Devils. Untuk apa kalian datang ke sini?” tanya Serena dengan wajah angkuhnya.


Daniel muncul di belakang pria itu sambil menodongkan senjata api, “Siapa kau? Untuk apa kau datang mengganggu keluargaku?”


Pria itu tertawa dengan suara yang cukup keras. Beberapa pasukan yang ia miliki juga sudah berhasil masuk ke dalam rumah utama.


“Tentu saja membunuh penghuni rumah ini. Yang paling penting nyawa anda, Nona Erena.” Satu kedipan mata ia buat sebelum pria itu menarik pelatuk pistolnya. Tapi, dengan cepat Daniel menembak pistol yang di genggam pria itu hingga terjatuh.


“Apa anda berani menantang saya?” ancam Pria itu sambil menatap tajam wajah Daniel.


Serena mendorong Trolly twin baby ke belakang tubuhnya. Wanita itu memikirkan cara yang tepat untuk mengusir tamu yang tidak di undang agar segera pergi meninggalkan rumah utama. Serena tidak ingin ada banyak darah di rumah itu nantinya.


“Bawa kedua anakku ke arah taman belakang,” perintah Serena pada satu baby sister yang kini berdiri di sampingnya.


“Baik, Nona.” Baby sister itu terlihat sangat ketakutan.


Saat melihat kedua buah hatinya sudah cukup jauh, Serena tidak lagi menunggu. Wanita itu mengeluarkan satu tembakan ke arah musuhnya. Namun, lawan Serena cukup waspada saat itu. Daniel juga mengeluarkan tembakan ke arah pria berbadan kekar itu. Tapi tidak ada satupun yang tertancap di tubuh pria itu.


Serena memutar tubuhnya sebelum menembak satu persatu Heels Devils yang juga berusaha menembaknya. Hingga tiba-tiba bom asap di keluarkan oleh pria itu dan membuat tatapan mata Serena terhalangi. Wanita tangguh itu berlari ke arah taman untuk mengejar dua buah hatinya. Ia tidak ingin kedua anaknya celaka saat itu.


Daniel terus saja melempar tembakan tepat ke arah Heels Devils tadinya berada. Setelah asap itu hilang, Daniel tidak lagi menemukan siapapun di dalam rumahnya. Semua orang yang baru saja menyerang rumah utama, kini hilang tanpa jejak sedikitpun. Daniel juga kembali ingat dengan istri dan anaknya. Pria itu berlari ke arah taman belakang untuk melihat keadaan Serena dan twin baby.


“Sayang,” ucap Daniel dengan napas lega. Pria itu bisa kembali tenang saat melihat kedua buah hatinya kini ada di gendongan Serena.


“Daniel, apa kau baik-baik saja?” Serena berjalan untuk mendekati suaminya.


“Aku baik-baik saja. Tapi, siapa mereka?”


“Heels Devils,” jawab Serena pelan.


“Untuk apa mereka datang ke sini dan menyerang kita? Apa mereka musuhmu, Sayang?”


Serena menggeleng pelan, “Aku tidak pernah memiliki masalah apapun dengan geng mafia ini. Sekarang kita harus segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Mama dan Papa.”


Daniel mengangguk. Walau ia cukup takut untuk pergi dari rumah saat ini. Namun, ia juga sangat ingin melihat keadaan kedua orang tuanya.


Serena berjalan sambil kembali memikirkan penyerangan Heels Devils pagi ini.


Untuk apa mereka menyerangku? Aku harus segera menyelidiki semua ini. Aku tidak ingin keluargaku dalam bahaya. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini dan mengusir mereka untuk kembali ke Brasil.