
Di dalam ruang rawat Serena. Suasana terasa sangat tenang. Tidak terdengar suara lain disana selain bunyi monitor detak jantung di atas meja. Daniel tidur dengan lelap, masih dengan tangan yang memeluk tubuh Serena.
Monitor detak jantung Serena masih berjalan dengan normal. Serena masih memakai beberapa alat di tubuhnya. Selang oksigen juga masih terpasang di hidungnya.
Serena membuka matanya secara perlahan. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang masih belum jelas. Tangannya bergerak pelan untuk menyentuh wajah Daniel yang ada di samping kepalanya. Buliran air mata menetes dari pelupuk matanya.
“Daniel ….” ucap Serena dengan suara yang sangat lemah.
Tangan Serena menyentuh pipi Daniel, membuat Daniel tersadar dari tidurnya. Pria itu merasa hangat di bagian pipi kirinya saat tangan Serena menyentuhnya. Daniel memegang tangan Serena yang masih terpasang selang infus dengan tatapan tidak percaya.
“Serena ….” ucap Daniel dengan nada yang sangat pelan. Buliran air mata juga menetes saat ia bisa melihat Serena membuka mata lagi. Daniel mengukir senyuman indah di bibirnya.
Serena membalas senyuman Daniel dengan satu senyuman kecil di bibirnya yang masih terlihat pucat.
“Dokter,” ucap Daniel kebingungan.
“Aku akan memanggilkan Dokter,” Wajah Daniel berseri-seri.
Daniel berlari cepat kearah pintu untuk memberi perintah kepada anak buahnya.
“Panggilkan Dokter segera! Serena sudah sadar.” Daniel memutar tubuhnya kembali masuk ke dalam kamar.
“Baik, Tuan.” Pengawal itu menunduk hormat sebelum pergi mencari Dokter.
Daniel menyentuh pipi Serena dengan wajah bahagia, menghapus buliran air mata yang menetes membasahi wajah.
“Sayang, apa masih terasa sakit?” tanya Daniel dengan wajah sedih.
Serena menggeleng kepalanya pelan, tanpa ingin menjawab pertanyaan Daniel. Tubuhnya terasa lemah dan tidak berdaya saat itu.
Satu Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam kamar Serena. Daniel melangkah mundur untuk memberi jalan kepada Dokter itu. Daniel memperhatikan Dokter yang kini memeriksa Serena dengan seksama.
Perlahan, seorang perawat melepas beberapa alat dari bagian dada Serena. Selang oksigen juga tidak lagi dibutuhkan oleh Serena. Kini, Serena bisa bernapas dengan leluasa tanpa ada halangan lagi.
“Dokter, apa istri saya baik-baik saja?” tanya Daniel penuh rasa khawatir.
Dokter itu mengukir senyuman manis di bibirnya, “Nona Serena sudah jauh lebih baik, Tuan. Hanya tinggal masa pemulihan saja.” Dokter itu menyingkir untuk memberikan jalan pada Daniel.
Daniel melangkah pelan mendekati tubuh Serena, “Sayang, aku sangat bahagia bisa melihatmu membuka mata seperti ini.” Daniel mengusap rambut Serena dengan lembut.
“Saya permisi dulu, Tuan. Jika ada sesuatu yang terjadi, segera panggil saya.” Dokter itu tersenyum ramah.
“Terima kasih, Dok,” jawab Daniel singkat, sambil membalas senyuman Dokter itu.
Dokter dan beberapa perawat itu pergi meninggalkan ruangan Serena. Mereka juga kembali bernapas lega saat melihat kondisi pasien yang mereka tangani sudah jauhlebih baik.
Di depan ruangan Serena, langkah Dokter itu di tahan oleh Kenzo yang baru saja muncul.
“Dok, bagaimana keadaan Serena?” tanya Kenzo dengan penuh rasa khawatir.
“Nona Serena sudah sadar. Keadaannya sudah jauh lebih baik.” Dokter itu tersenyum dengan napas lega.
“Terima kasih, Dok.” Tanpa menunggu lama, Kenzo menerobos masuk ke dalam kamar Serena.
Di dalam kamar, Daniel mencium kening Serena karena bahagia. Matanya masih berkaca-kaca karena terlalu bahagia. Serena juga tersenyum melihat Daniel saat itu. Perlahan ia menyentuh wajah Daniel yang terlihat kurus dan pucat.
“Apa kau juga sakit, Daniel?” tanya Serena pelan.
Daniel meraih tangan Serena, “Aku juga akan sakit, jika kau sakit Serena. Aku bisa kembali sehat, jika melihatmu sehat.” Mengecup tangan Serena dengan lembut.
“Serena, apa kau baik-baik saja?” tanya Kenzo yang baru saja muncul di hadapan Daniel dan Serena.
Serena tersenyum manis, “Aku sudah jauh lebih baik, dimana Shabira?” tanya Serena sambil mencari.
“Shabira masih ada di atap bersama Zeroun.” Kenzo memajukan langkah kakinya untuk mendekati Serena.
“Kau membuat semua orang khawatir Serena. Kenapa kau selalu saja melindungi seorang pria.” Kenzo protes, ia melipat kedua tangannya. Menatap wajah Serena dengan wajah penuh tanya.
“Di vila kau juga tertembak karena melindungi, Daniel. Serena, meskipun kau wanita yang jago bela diri. Tapi, kau hanya seorang wanita. Jangan selalu menjadi pahlawan seperti itu,” sambung Kenzo dengan kesal. Hatinya juga luka tiap kali melihat sahabat terbaiknya itu terluka.
“Kenzo, Kau ini! kenapa kau memarahi istriku seperti itu!” protes Daniel tidak terima.
“Aku tidak memarahinya, hanya memberi nasehat agar dia tidak jadi wanita ceroboh seperti itu.” Kenzo mengalihkan pandangnnya dari wajah Serena.
Serena mengukir senyum kecil, “Bukan aku yang ingin melakukan itu,” ucap Serena pelan.
Daniel dan Kenzo menatap wajah Serena dengan penuh tanya.
“Sejak kecil, aku tidak pernah bisa melihat orang yang dekat denganku dalam bahaya. Walaupun orang itu bukan Daniel atau Zeroun, aku akan tetap melindunginya. Jika aku dekat dengan orang itu. Aku tidak ingin melihat orang lain pergi. Rasa kehilangan itu jauh lebih perih jika dibandingkan luka tembakan ini.” Serena kembali mengingat saat ia kehilangan Tuan Wang untuk selamanya di rumah sakit.
“Serena, maafkan aku. Tapi, aku harap ini yang terakhir kalinya.” Kenzo memandang Serena dengan penuh rasa bersalah.
Serena membalas ucapan Kenzo dengan satu senyuman manis.
Suara pintu terbuka. Semua orang memandang ke arah pintu. Zeroun dan Shabira muncul dari balik pintu. Serena memperhatikan tangan Shabira yang melingkari tangan Zeroun.
“Kakak, kakak sudah bangun?” Shabira melepas tangannya dari tubuh Zeroun. Berjalan cepat mendekati Kenzo.
“Ya, apa semua baik-baik saja?” Serena memandang wajah Zeroun yang terlihat masih pucat.
“Semua baik-baik saja, Kak.” Shabira mengukir senyuman bahagia.
Zeroun tidak ingin mengeluarkan kata. Baginya, melihat Serena kembali membuka mata sudah suatu kebahagiaan yang tidak bisa diungapkan dengan kata. Zeroun berdiri di depan tempat tidur Serena memandang wajah Serena dengan seksama.
“Shabira, apa aku boleh minta tolong?” Serena menatap wajah Shabira sambil tersenyum kecil.
“Tentu. Kakak tidak harus bertanya. Apa yang bisa aku lakukan untuk Kakak? apa Kakak sudah tahu, kalau wanita jalang itu yang melakukan semua ini? apa Kakak ingin aku menghabisi nyawanya?” tanya Shabira dengan penuh antusias.
“Shabira ….” ucap Kenzo dan Zeroun bersamaan.
Serena tertawa kecil, “Aku hanya ingin memintamu untuk membawa Angel kesini. Aku sangat merindukannya.”
“Angel?” tanya Shabira pelan.
“Ya.” Serena menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Aku akan membawa Angel untuk menemui Kakak.” Shabira memutar tubuhnya, berjalan ke arah pintu.
“Aku ikut.” Kenzo menarik tangan Shabira. Menggandeng pinggang Shabira dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu.
Kenzo tahu, kalau Serena ingin berbicara sesuatu yang penting kepada Daniel dan Zeroun.
Pintu kembali tertutup saat Shabira dan Kenzo menghilang dari balik pintu.
Serena mencoba untuk duduk dari tidurnya.
“Sayang, apa yang kau lakukan? Kau belum boleh banyak bergerak.” Daniel menahan tubuh Serena.
“Aku ingin duduk. Sangat bosan berbaring seperti ini.” Serena terus berusaha untuk duduk.
“Biar aku bantu,” jawab Daniel cepat.
Zeroun hanya diam memandang wajah Serena. Menarik napas dalam saat melihat sifat keras kepala Serena saat itu.
“Apa seperti ini nyaman?” Daniel memberi bantal untuk sandaran Serena.
Serena mengangguk cepat dengan senyuman indah.
“Zeroun, bagaimana dengan lukamu?” Sebelum Serena memejamkan mata ia melihat Zeroun tertembak dan jatuh ke permukaan lantai yang sama dengan dirinya.
“Sudah jauh lebih baik. Sebaiknya kau lebih memikirkan kesehatanmu saat ini.”
“Zeroun, maafkan aku.” Serena menunduk sedih.
Jantung Zeroun berdebar sangat cepat. Ia tahu, Serena tidak akan mengucapkan kata maaf jika hanya kejadian di rumah Laura.
Apa lagi yang ingin kau katakan Erena. Kenapa hidupmu selalu dipenuhi banyak rahasia.
Pria itu terus saja menebak-nebak kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Serena.
“Untuk apa kau minta maaf?” Zeroun memandang wajah Daniel dan Serena bergantian.
Serena memandang wajah Daniel sejenak, sebelum memandang wajah Zeroun lagi.
“Aku mendengar semua cerita yang kau katakan tadi sore, bersama Shabira.”
Zeroun mengukir senyuman tipis, melipat kedua tangannya. Menatap tajam wajah Serena dengan penuh pertanyaan.
“Apa kau mengetahui sesuatu sejak awal?” Mata Zeroun berubah tajam.
Daniel memperhatikan tatapan Zeroun dengan penuh amarah. Ingin sekali ia berontak saat itu juga. Semua masih ia tahan demi kesehatan Serena saat ini. Hatinya juga diselimuti cemburu yang begitu besar.
Serena menggeleng pelan, “Aku tidak tahu.”
“Apa kau tahu, kalau Shabira adalah Zetta?” tanya Zeroun penuh selidik.
Serena mengukir senyuman tipis, “Aku baru mengetahuinya detik ini.”
“Kau menyembunyikan sesuatu Erena. Aku tahu tatapan matamu itu.” Zeroun mengepal kuat tangannya.
Serena hanya diam tanpa ingin mengeluarkan kata lagi.
“Sebaiknya anda jangan memberi tekanan kepada Serena, Zeroun. Serena baru saja sadar. Dokter bilang, Serena tidak boleh banyak pikiran.” Daniel menatap dingin wajah Zeroun. Ingin sekali ia mengusir Zeroun saat itu juga.
“Kau masih berhutang satu penjelasan kepadaku Serena. Apapun yang kau katakan, aku selalu mempercayainya.” Zeroun memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar Serena.
Serena hanya diam memandang punggung Zeroun yang berlalu pergi.
“Sayang, apa yang terjadi? apa masih ada rahasia yang kau sembunyikan dariku?” Daniel memegang kedua pipi Serena dengan wajah sedih.
“Tidak ada,” jawab Serena pelan.
Shabira dan Kenzo kembali masuk ke dalam kamar. Shabira tidak membawa Angel saat itu. Serena mengerutkan dahinya dengan penuh tanya.
“Dimana Angel?” tanya Serena cepat.
“Dia baru saja tidur. Perawat itu tidak menginjinkan kami untuk membawanya,” jawab Shabira dengan wajah cemberut.
“Masih ada hari esok,” sambung Kenzo dengan senyum manisnya.
“Shabira, apa kau masih ingat pengawal yang paling lama bekerja untuk Queen Star?” Serena menatap wajah Shabira dengan penuh harap.
“Tentu, apa kakak ingin aku memanggilnya?” tanya Shabira tanpa curiga.
“Apa dia bisa datang ke sini untuk menemuiku?” Wajah Serena berubah berseri.
“Aku tidak tahu pria itu ada dimana. Tapi, aku akan berusaha untuk mempertemukan Kakak dengan pria itu. Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Serena mengangguk cepat, “Ya, ada satu hal yang sejak dulu ingin aku tanyakan padanya.”
“Jika itu sangat penting. Aku akan segera mencarinya.” Shabira mengeluarkan handphone dari dalam sakunya.
Serena melamun memandang ke arah depan.
Apa mommy sudah mengatur semua ini sejak awal. Kenapa semua ini berhubungan satu sama lain.