
Hari berganti malam. Cuaca yang panas berubah menjadi dingin. Serena duduk di ruang utama menunggu kepulangan Daniel. Membaca satu majalah sambil meminum jus apel favoritnya. Sesekali ia tersenyum saat membayangkan wajah Daniel. Serena melirik ke jam yang melingkar di tangannya. Hari sudah semangkin larut, tapi Daniel tidak kunjung pulang.
“Sudah lewat 30 menit, tapi belum juga muncul.” Serena meletakkan majalah di atas meja, mengambil sebuah handphone untuk menghubungi Daniel.
“Bahkan nomornya tidak aktif. Apa dia berniat untuk membalasku, hari ini.” Serena meletakkan handphone itu ke atas meja. Bersandar dengan santai menatap ke arah atas. Serena menghirup udara yang terasa segar, sambil memegang perutnya yang lapar.
“Aku sangat lapar, kenapa dia tidak kunjung pulang,” ucap Serena semangkin frustasi.
Pak Han muncul dari dapur, berdiri di samping Serena sambil membungkuk hormat.
“Selamat malam, Nona. Sebaiknya anda menunggu Tuan Daniel di kamar. Di sini udara sangat dingin, Nona. Tidak baik untuk kesehatan anda.” Pak Han tersenyum ramah.
“Aku ingin menunggunya pulang, Pak Han ….” tolak Serena dengan nada yang lembut.
“Baik, Nona. Saya akan menemani anda di sini.” Pak Han berdiri tegab mendampingi Serena.
Tidak biasanya Tuan pulang terlambat dan tidak memberi kabar.
Pak Han menarik napas dalam, sambil memandang ke arah pintu utama. Namun, tidak kunjung ada tanda-tanda Daniel akan pulang.
Mata Serena mulai terasa berat. Udara yang terasa dingin, membuat Serena mulai memejamkan mata. Tubuhnya bersandar di sofa dengan sangat nyaman. Serena tertidur dengan nyenyak.
Pak Han memandang wajah Serena yang terlihat tenang. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum.
“Anda pasti sangat lelah, hingga tertidur di sini, Nona.”
Suara klakson mobil mengalihkan pandangan Pak Han. Ia berjalan ke arah pintu utama, untuk menyambut kedatangan Daniel malam itu.
Biao membuka pintu mobil, untuk memberi jalan kepada Daniel. Daniel turun dengan wajah yang sangat ceria.
“Selamat malam, Tuan.” Pak Han membungkuk hormat.
“Dimana Serena, Pak Han?” Daniel memandang wajah Pak Han dengan serius.
“Nona ada di ruang utama, Tuan. Nona menunggu anda sampai ketiduran,” jawab Pak Han pelan.
“Siapkan makan malam di kamar.” Daniel melangkah masuk ke dalam rumah. Tama dan Biao mengikuti langkah Daniel dari belakang. Sedangkan Pak Han pergi ke arah dapur, menyiapkan makan malam untuk Daniel dan Serena.
Daniel berjalan perlahan ke arah sofa. Bibirnya tersenyum saat melihat Serena tertidur dengan sangat tenang.
“Sayang, maafkan aku.” Daniel mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya. Sebelum berjalan, ia melirik ke arah Tama dan Biao.
“Kita lanjut di S.G.Group besok. Malam ini istirahatlah.”
“Baik, Tuan.” Tama dan Biao membungkuk secara bersamaan.
Daniel berjalan ke arah tangga sambil membawa Serena di dalam gendongannya. Serena membuka matanya perlahan, saat tubuhnya terasa terayun-ayun di udara. Ia memfokuskan pandangan matanya yang masih belum jelas.
“Daniel,” ucap Serena pelan.
“Iya sayang, ini aku. Maafkan aku sudah membuatmu menunggu.” Daniel terus membawa tubuh Serena ke dalam kamar. Ia meletakkan Serena di atas tempat tidur secara perlahan.
“Kenapa lama sekali pulangnya,” protes Serena.
Daniel duduk di samping Serena, meraih tangan Serena ke dalam genggamannya.
“Tadi ada rapat mendadak di kantor. Ada sedikit masalah, tapi semua sudah selesai. Aku bahkan tidak sempat memberi kabar, karena terlalu sibuk bekerja. Maafkan aku, sayang.”
“Baiklah, kali ini aku maafkan. Tapi jangan diulangi lagi.” Serena memasang wajah cemberut andalannya.
“Aku janji, tidak akan mengulanginya.” Daniel mengecup pucuk kepala Serena dengan lembut. Mengambil kota merah kecil dari dalam saku.
“Apa itu?” tanya Serena penasaran.
Daniel membuka kotak itu di hadapan Serena sambil tersenyum, “Hadiah untuk istriku tercinta.” Daniel mengeluarkan satu buah kalung.
“Kalung ini sangat indah.” Serena tersenyum melihat kalung yang kini di pegang Daniel. Kalung berlian berbentuk hati berwarna merah. Berlian itu dikelilingi beberapa berlian kecil berarna putih.
“Aku akan memakaikan kalung ini di lehermu.” Daniel memakaikan kalung itu di leher jenjang Serena. Ia tersenyum puas, saat melihat kalung itu melingkar di leher Serena. Kalung itu terlihat serasi dengan warna kulit Serena.
“Sudah lama aku memesan kalung itu. Jauh sebelum kau mengingat masa lalumu, Serena.” Daniel menggenggam erat tangan Serena, sebelum menciumnya.
“Terima kasih, sayang. Aku sangat menyukai kalung ini.” Serena tersenyum bahagia.
“Pak Han akan segera datang. Aku memintanya untuk menyiapkan makan malam di dalam kamar. Aku mandi dulu ya sayang.” Daniel beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Serena juga beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah kaca. Serena duduk di kursi sambil tersenyum bahagia. Serena memegang kalung itu, memperhatikannya dengan seksama.
“Kalung ini sangat indah, aku tidak pernah berpikir, kalau ia bisa romantis seperti ini.”
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Serena. Ia tahu kalau Pak Han yang mengetuk pintu itu.
“Masuk,” teriak Serena dari dalam.
Pak Han masuk dengan beberapa pelayan di belakangnya. Pelayan itu membawa aneka makanan, untuk makan malam Daniel dan Serena. Meletakkan makanan itu di atas meja dengan perlahan.
Pak Han membungkuk di samping Serena, “Nona, ada lagi yang bisa saya bantu. Apa anda membutuhkan sesuatu?”
“Tidak Pak Han. Makanan itu sudah cukup banyak. Terima kasih.” Serena tersenyum manis.
“Saya permisi dulu, Nona.” Pak Han membungkuk hormat. Ia memutar tubuhnya dan berjalan ke arah pintu. Beberapa pelayan juga mengikuti langkah Pak Han dari belakang.
Beberapa menit kemudian, Daniel sudah selesai mandi. Rambutnya yang basah, membuat penampilannya terlihat semangkin tampan malam itu. Serena berdiri dan berjalan mendekati Daniel.
“Sayang, sudah selesai mandi?” tanya Serena dengan senyuman.
Serena melangkahkan kakinya, ia memeluk tubuh Daniel sambil memejamkan mata, “Aku sangat mencintaimu.”
Daniel tersenyum manis, dan membalas pelukan Serena, “Aku juga sangat mencintaimu, Serena.”
Serena melepas pelukannya dari tubuh Daniel, “Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar sejak tadi.”
Daniel merangkul pinggang Serena, membawa Serena ke arah sofa. Daniel dan Serena duduk di kursi yang sama, mengambil beberapa menu lalu memakannya dengan lahap. Sesekali mereka saling tersenyum, sebelum melanjutkan makan makan hingga selesai.
***
Kenzo membawa Shabira ke markas pribadi miliknya, dengan menggunakan sepeda motor. Shabira memeluk tubuh Kenzo dengan erat, mengunci kedua tangannya di perut Kenzo. Kenzo melajukan sepeda motor itu dengan cepat.
“Sayang, aku sangat rindu momen seperti ini,” teriak Shabira dengan penuh bahagia.
“Sepeda motor ini menjadi teman setiaku, saat kau tidak ada, Shabira.” Kenzo menarik lagi, gas sepeda motor itu hingga melaju semangkin cepat.
Kenzo memberhentikan sepeda motornya di depan lorong yang sangat gelap. Shabira turun, memperhatikan lorong gelap itu dengan seksama. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Shabira ingin mengambil pistol yang ia bawa sejak tadi.
“Jangan.” Kenzo menahan tangan Shabira.
“Tempat apa ini? terlihat sangat berbahaya.”
“Ayo masuk.” Kenzo menarik tangan Shabira untuk masuk ke dalam.
Baru beberapa langkah berjalan, Kenzo menghentikan langkah kakinya. Ia tersenyum sambil memandang wajah Shabira. Kenzo mengangkat satu tangan ke atas, memetik jarinya untuk memberi kode.
Satu lampu sorot hidup lebih dulu. Di susul lampu-lampu kecil lainnya. Beberapa lampu warna warni juga hidup. Lorong itu mulai terlihat jelas. Ada banyak pria dan wanita berdiri di sana, dengan wajah penuh tanya.
“Hallo semuanya. Ini Shabira, separuh nyawaku ada pada dirinya. Dia akan menjadi istriku secepatnya.” Kenzo meraih tangan Shabira dan menciumnya dengan penuh cinta.
“Mulai sekarang, kalian juga harus menuruti perintahnya. Lindungi dia, dimanapun ia berada.” Kenzo menatap semua orang dengan tatapan tajam.
“Baik, Bos,” ucap semua orang secara serempak.
“Selamat datang, Nona Shabira.” Semua orang yang ada di sana menunduk hormat, menyambut kedatangan Shabira.
Shabira tersenyum penuh haru. Ini pertama kalinya ia di sambut dengan begitu meriah. Sejak dulu, Shabira tidak pernah tahu, kalau Kenzo memiliki markas rahasia di Jepang.
“Senang bertemu dengan kalian semua.” Shabira tersenyum memandang Kenzo, Ia merangkul tangan Kenzo dengan begitu manja.
“Kalian bisa mulai pestanya.” Kenzo memberi perintah.
Suara musik mulai terdengar. Beberapa wanita perpakaian seksi mulai menari ditengah-tengah. Semua orang melingkari arena itu. Semua terlihat bahagia dan menikmati suasana. Kenzo menarik tangan Shabira dan membawanya ke arah kursi yang ada di ujung.
Shabira terus memperhatikan keadaan lorong itu. Terdapat banyak minuman keras di sana. Beberapa pria bertubuh tegab juga tampak memegang senjata. Wanita seksi dan asap rokok juga bertebaran dimana-mana.
“Tempat apa ini?” tanya Shabira penasaran.
“Tempat untuk bersenang-senang. Semua anak telantar tinggal di tempat ini.” Kenzo mengambil dua minuman kaleng, memberikan satu kaleng pada Shabira.
“Punya senjata api, berarti mereka bisa menembak?” tanya Shabira lagi.
Kenzo menarik tangan Shabira, hingga Shabira duduk di atas pangkuannya, “Tentu saja, baik pria ataupun wanita di tempat ini semua punya senjata. Itu berguna untuk melindungi diri mereka dari bahaya.”
Shabira terdiam untuk sesaat. Meskipun dulu ia pernah berada di tengah keramaian seperti ini, tapi saat ini terasa berbeda. Suasana di lorong itu terasa lebih nyaman. Berbeda dengan markas Queen Star dulu, suasana di sana, terlihat menakutkan dan mencengkam.
“Melamun lagi.” Kenzo mencium pipi Shabira dari samping.
Shabira tersenyum, ia melihat gitar favorit Kenzo ada di atas meja, “Sayang, nyanyikan satu lagu untukku.”
Kenzo tersenyum penuh arti, “Apa bayarannya?”
“Kau boleh minta apa saja,” jawab Shabira dengan santai.
“Kau akan menyesal sayang.” Kenzo tersenyum penuh arti.
Shabira berdiri dari pangkuan Kenzo. Ia melipat kedua tangannya dan memperhatikan Kenzo dengan seksama.
Meskipun Kenzo tidak mengeluarkan satu kata perintah. Saat tangan Kenzo menyentuh gitar itu, suasana berubah hening. Semua orang memfokuskan pandangan mata mereka pada Kenzo.
Semua orang yang ada di sini. Menghormatimu, Kenzo.
Shabira tersenyum bahagia.
Kenzo duduk di atas tumpukan ban dan mulai memetik tali gitarnya. Ia tersenyum memandang Shabira dengan mata berkaca-kaca.
.
.
Memories ~ Maroon 5 (Kalau mau tahu lagu Kenzo, dengerin lagunya😉)
.
Shabira menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Buliran air mata menetes membasahi pipinya. Lagu itu menggambarkan perasaan Kenzo saat ia pergi. Shabira berlari mendekati tubuh Kenzo. Kenzo juga berdiri, meletakkan gitar itu pada tempatnya.
Shabira memeluk Kenzo dengan begitu erat, “Aku mencintaimu, Kenzo. Maafkan aku….”
Kenzo tersenyum dan membalas pelukan Shabira. Ia mencium aroma tubuh Shabira sambil memejamkan mata. Rasa sakit yang selama ini ia rasakan karena rindu, sudah terobati.
“Mana bayaranku?” tanya Kenzo di sela-sela suasana romantis itu.
Shabira melepas pelukannya, mengalungkan tangannya pada leher Kenzo. Ia mengecup bibir Kenzo dengan penuh cinta, matanya terpejam. Suasana hening seketika sebelum semua orang bertepuk tangan melihat kebersamaan Shabira dan Kenzo malam itu.