Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 19



Daniel pergi ke showroom mobil sport. Tama dan Biao menemani Daniel pagi itu. Daniel tersenyum memandang arah luar jendela. Ia sudah membayangkan wajah bahagia Serena, ketika menerima mobil baru yang ia berikan.


“Maaf, Tuan. Jika ada saingan, kemungkinan pihak showroom akan menaikan harga. Mobil ini sudah ada di level tertinggi.” Tama menjelaskan detail keadaan yang akan mereka hadapi di dalam showroom nantinya.


“Berapapun harganya, aku harus mendapatkan mobil itu,” jawab Daniel santai. Ini pertama kalinya ia membuang uang yang begitu banyak demi sebuah mobil.


Biao melirik Daniel dari balik spion, ia tersenyum mendengar ucapan Daniel barusan.


Ini bukan anda, Tuan Daniel. Anda sangat mencintai Nona Serena, hingga rela mengorbankan apapun demi kebahagiaannya.


Biao menambah laju mobilnya.


Beberapa saat kemudian, Mobil yang ditumpangi Daniel tiba di depan Showroom. Gedung itu menjulang tinggi dengan beberapa securiti yang berjaga. Wanita cantik berpakaian resmi menyambut kedatangan Daniel saat itu.


“Selamat pagi, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu dengan senyum ramah.


“Saya ada janji dengan Pak Alfan, apa beliau ada di dalam?” tanya Tama dengan senyum ramah juga.


“Anda dari keluarga Edritz Chen?” tanyanya dengan penuh hormat.


“Benar,” jawab Tama singkat.


“Mari ikut saya. Pak Alfan sudah menunggu anda di rungannya.”


Wanita itu berjalan duluan. Daniel mengikuti langkahnya dari belakang. Daniel melihat sekeliling Showroom, terdapat banyak mobil bermerk terkenal di sana. Ini pertama kalinya ia mengunjungi showroom langsung untuk membeli mobil. Selama ini, urusan sepele seperti itu di urus oleh Tama atau Biao.


“Silahkan masuk, Tuan.”


Wanita itu membukakan pintu. Memberi jalan kepada Daniel untuk masuk. Tama dan Biao juga mengikuti langkah Daniel dari belakang.


Satu pemandangan yang tidak pernah ia pikirkan. Di dalam ruangan itu terdapat Zeroun Zein dan juga Kenzo. Ketiganya terlihat berbincang hangat.


“Tuan Daniel, selamat datang.” Pria bernama Alfan melangkah ke arah Daniel, menyambut Daniel. Ia mengulurkan tangan sebagai tanda sambutannya.


“Tuan Alfan. Senang bertemu dengan anda.” Mata Daniel terpusat pada Zeroun yang duduk dengan santai.


Zeroun menatap kedatangan Daniel dengan tatapan tidak suka.


Pria ini lagi. Untuk apa dia ke sini.


Zeroun mengumpat dalam hati. Suasana hatinya menjadi buruk saat melihat wajah Daniel ada di hadapannya saat ini.


“Mari, silahkan duduk.” Pria itu membawa Daniel ke arah sofa yang juga di duduki Zeroun dan Kenzo.


“Daniel, aku tidak menyangka kalau kau akan ke sini. Ada perlu apa ke sini? Pak Alfan adalah temanku. Ia akan membantumu dengan baik.” Kenzo tersenyum menyambut Daniel.


Daniel hanya diam, ia tidak ingin banyak bicara. Tatapan matanya ia alihkan agar tidak memandang wajah Zeroun Zein. Tama dan Biao berdiri di belakang kursi Daniel. Saling menatap tanpa bisa mengeluarkan satu katapun.


“Begini Tuan. Mobil yang kalian minta hanya ada satu unit. Saya bingung harus memberikan mobil ini pada siapa. Tuan Zeroun atau Tuan Daniel, kalian memesan di waktu yang bersamaan. Saya tahu, kalian mampu membeli mobil ini dengan harga berapapun. Saya tidak ingin mendapat nilai jelek, dari perusahaan ternama seperti kalian. Jadi, saya hanya ingin sedikit berdamai di sini.”


Pak Alfan menjelaskan keadaan sebenarnya. Ia tersenyum dengan penuh kebanggaan. Saat ini, dua pimpinan perusahaan besar, duduk di hadapannya untuk bernegosiasi mobil yang ia jual.


Ternyata sainganku Daniel. Pasti ia ingin memberikan mobil ini untuk Erena. Aku tahu selera Erena.


Zeroun tersenyum tipis memandang wajah Daniel.


“Kalian ingin membeli mobil yang sama?” tanya Kenzo dengan wajah penuh tanya.


“Aku ingin memberikan mobil ini kepada istriku, Serena.” Tatapan mata Daniel berubah tajam. Ia sengaja memamerkan keinginannya, untuk memberi rasa cemburu pada Zeroun.


“Serena meminta mobil sport?” tanya Kenzo tidak percaya.


Daniel diam sesaat, ia tidak ingin banyak menjelaskan, “Aku yang memberinya sebagai hadiah. Mobil ini hanya satu di negara ini. Dia pasti akan sangat bahagia, jika aku memberikan mobil ini sebagai hadiah.”


“Dan, kau Zeroun? untuk siapa mobil ini? Apa kau sudah menemukan pengganti Erena?” ledek Kenzo sambil tersenyum bahagia.


“Aku ingin memberikan mobil ini pada wanita yang sangat aku cintai. Dia sudah menunggu kedatanganku saat ini.” Mata Zeroun berubah dingin.


“Wah, wah. Kalian merebutkan satu mobil untuk wanita. Cinta memang membutakan mata kita bukan. Aku tidak bisa banyak membantu. Kalian berdua orang yang aku kenal. Aku hanya bisa melihat, siapa yang berhasil mendapatkan mobil ini.” Kenzo bersandar di sofa yang empuk.


Seorang OB masuk membawa beberapa gelas teh. Ia meletakkan teh itu di atas meja dengan hati-hati. Menundukkan kepalanya sebelum pergi meninggalkan ruangan yang terasa dingin itu.


“Silahkan di minum, Tuan.” Pak Alfan mencoba untuk memecahkan suasana hening yang terjadi.


“Bisa langsung kita mulai? Aku tidak ingin, istriku terlalu lama menunggu di rumah.” Daniel menatap wajah Pak Alfan dengan tajam.


“Oh, tentu Tuan Daniel. Kita akan memulainya sekarang juga,” ucap Pak Alfan dengan senyuman tipis.


.


.


.


“Tuan Daniel, berhenti.” Zeroun melangkah ke arah Daniel dengan senyum penuh kemenangan.


“Satu kesalahan membuatku kalah darimu. Tapi untuk seterusnya aku akan menjadi pemenangnya. Bersiaplah untuk menjadi orang yang selalu kalah dalam pertarungan.”


Zeroun memandang wajah Daniel dengan penuh kebencian.


“Jaga ucapan anda, Tuan.” Biao mengepal kuat tangannya.


“Maaf, Tuan. Sebaiknya anda jangan menghalangi jalan Tuan Daniel. Kami harus segera pulang,” ucap Tama dengan kelembutan. Ia tidak ingin membuat keributan di dalam showroom itu.


“Silahkan.” Zeroun menghindar, ia memberi jalan kepada Daniel.


Daniel berjalan cepat melewati Zeroun. Matanya melirik tajam saat berpapasan dengan Zeroun. Ia masih menahan amarahnya saat ini.


Kenzo keluar dari ruangan Pak Alfan. Ia melangkah ke arah Zeroun.


“Apa kalian bermusuhan gara-gara mobil ini?” Kenzo menatap wajah Zeroun dengan penuh tanya.


“Sudah biasa dalam bisnis bukan?” Zeroun mengukir senyum tipisnya.


“Sebenarnya tadi aku ingin membelanya. Kenapa kau tidak mengalah saja. Aku juga mengenal Serena, ia wanita yang spesial. Dia wanita yang pantas mendapatan mobil itu.”


“Aku juga akan memberikan mobil itu kepada wanita yang special.” Zeroun menepuk pelan pundak Kenzo. Ia memutar tubuhnya untuk meninggalkan Kenzo sendiri di sana.


***


Di dalam mobil, Daniel masih diam membisu. Ia mengepal kuat tangannya. Hatinya sungguh kecewa, karena tidak berhasil mendapatkan mobil itu. Zeroun menawar harga yang fantastis, hingga tidak bisa ia lawan lagi.


“Pria itu rela jatuh miskin, demi sebuah mobil,” ucap Daniel dengan nada menghina.


“Maaf, Tuan. Saya tidak berhasil mendapatkan mobil itu.” Tama mengerti suasana hati Daniel hari ini.


“Apa kau tahu kekayaan pria itu, Tama?” Biao memandang wajah Tama dari balik kemudi.


“Aku rasa dia memiliki banyak harta karun tersembunyi.” Tama memandang ke luar jendela. Ia kembali mengingat negosiasi yang terjadi di dalam ruangan itu.


Beberapa saat kemudian. Mobil Daniel tiba di rumah utama.


Satu pengawal membukakan pintu untuk Daniel. Daniel keluar dari mobil dengan yang tergesah-gesah. Ia menjejaki anak tangga dengan cepat. Masuk ke dalam kamar dengan wajah kecewa. Membuka pintu perlahan.


Kamar itu kosong, Daniel mencari-cari Serena.


Ia membuka pintu kamar mandi, tapi tidak juga menemukan Serena di sana. Sepucuk surat tergeletak di atas tempat tidur. Daniel melangkah ke arah tempat tidur. Jantungnya berdetak cepat. Ia mengambil surat itu dan membacanya dengan seksama.


--------------------------------------------


Sayang …


Aku harus pergi untuk beberapa hari. Aku harus menyelesaikan masalah yang belum selesai di masa lalu. Ingat perkataanku tadi. Sampai kapanpun, hati dan raga ini hanya milikmu. Aku tidak akan menghianatimu. Jangan cari aku, karena itu akan mempersulit rencana yang aku buat. Aku akan membawa Shabira kepada Kenzo. Semua akan baik-baik saja. Jangan melakukan hal bodoh yang tidak ku suka. Maaf, karena sudah kabur lagi.


I Love You, Daniel.


______________________________________________


Daniel menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meletakkan surat itu di atas dadanya. Memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


“Apa aku harus memborgol tanganmu, agar kau tidak kabur-kaburan seperti ini.”


Daniel memejamkan matanya. Mengatur emosi yang memenuhi pikirannya saat ini. Hatinya sudah kecewa hari ini. Ia baru saja gagal mendapatkan mobil itu. Sekarang istri yang paling ia cintai, telah kabur entah kemana.


“Apa kau bertemu dengan pria itu.”


Daniel kembali mengingat perkataan Zeroun di showroom. Ia kembali mengingat perkataan Serena, untuk tidak mencarinya dan mempercayai dirinya.


“Bagaimana aku bisa diam saja! Kau pergi bersama pria itu!”


Akhir-akhir ini mood author ge baik, pengennya nulis aja.😂.


Jangan Lupa, Like, Dan Vote nya.


Selalu beri komen positif yang membangun ya.


Love Readers 😘😘😘😘😘