
“Aku tidak tahu, ini ide yang bagus atau tidak. Tapi aku harap, ide ini bisa menyelamatkanmu dari masalah serena,” teriak Kenzo dengan nada yang tinggi. Ia terus melajukan sepeda motornya, menembus keheningan malam.
“Kau tenang saja Kenzo, semua akan baik-baik saja,” jawab Serena dengan santai, sambil terus menikmati pemandangan dari atas motor.
Langit yang tadinya cerah kini mulai gelap, malampun telah menyelimuti kota. Cahaya matahari sudah berganti, dengan sorot lampu yang bersinar menerangi malam. Kenzo terus melajukan motornya ke suatu tempat, yang di minta oleh Serena. Perasaan bersalah mulai muncul dipikirannya. Tidak pernah terlintas sedikitpun di kepalanya, untuk membuat Serena dalam masalah.
“Maafkan aku, Serena.” Satu kata yang pantas ia katakan saat ini.
“Kau tidak salah Kenzo, aku bahagia. Terima kasih sudah memberiku kebebasan seperti ini. Bahagia ini akan aku ingat seumur hidupku,” jawab Serena dengan senyuman.
“Serena, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu. Kau tidak harus menjawabnya jika tidak ingin menjawab,” ucap Kenzo pelan dan tetap fokus pada pandangan depan.
“Apa yang ingin kau tahu?” tanya Serena sambil mengerutkan keningnya. Serena mulai memfokuskan telinganya, untuk mendengar pertanyaan Kenzo.
“Ada hubungan apa kau dengan S.G. Group. Hingga semua pengawal menjagamu sampai seketat itu?” ucap Kenzo perlahan, rasa penasaran yang semangkin besar membuat dirinya memberanikan diri untuk bertanya.
“Aku ....” jawabnya sambil terbata.
Belum sempat Serena menjawab, Sepeda motor yang di kemudikan Kenzo terhenti secara tiba-tiba. Pandangan yang tidak nyaman untuk dipandang, telah ada di hadapan keduanya. Tidak ada jalan untuk lari, sepeda motor Kenzo sudah di kepung dengan mobil pengawal dari S.G. Group.
Terlihat Biao turun dari salah satu mobil, yang sudah menghadang. Lelaki itu berjalan cepat, mendekati Serena dan Kenzo.
“Akhirnya kita bertemu lagi, Tuan Muda Kenzo.” Biao tersenyum tipis, memandang Kenzo.
“Biao,” ucap Serena dan Kenzo bersamaan.
“Aku tidak tahu, apa hubungan di antara kalian. Tapi yang pasti, jangan temui Nona Serena lagi mulai sekarang.”
“Apa yang kau katakan Biao? Kau tidak punya hak untuk melarangku berteman dengan siapapun,” ungkap Serena marah. Serena memandang wajah Biao dan beberapa pengawal yang sudah mengelilingi mereka berdua.
“Maafkan saya Nona. Jika anda tidak ingin berada dalam masalah, sebaiknya anda masuk ke dalam mobil,” pinta Biao lembut, sambil membuka pintu mobil untuk Serena.
"Kau!” Melihat tidak punya pilihan, Serena turun dari sepeda motor Kenzo. Ia masuk ke dalam mobil, yang telah disiapkan untuknya.
“Aku harap ini yang terakhir kalinya. Saya berjumpa dengan anda!” Dengan wajah penuh emosi, Kenzo pergi meninggalkan kerumunan mobil yang mengepungnya dengan Serena.
Semua rencana indah yang telah dirangkai oleh Serena, arus berakhir di tengah jalan. Serena meminta Kenzo, untuk mengantar dirinya kembali ke rumah sakit. Beberapa kalimat sudah ia persiapkan, untuk menjadi alasan penyelamatan diri. Namun, semua harus ia simpan di dalam hati.
Tadinya aku ingin bilang pada mereka, kalau aku tersesat saat ingin membeli sesuatu untuk Diva. Tapi kenapa mereka harus menemukanku di sini.
Serena menunduk frustasi.
Kini rasa berani yang sudah ia siapkan, harus meleleh seperti sebuah lilin. Tatapan mata Biao adalah sebuah perintah, untuk Serena tetap diam. Tapi rasa penasaran yang ia miliki, membuat Serena tidak merasa takut sama sekali. Ia justru ingin mengorek informasi, hubungan apa yang terjalin antara Biao dan Kenzo. Tatapan mata kedua pria yang tadi ada dihadapannya, adalah tatapan kebencian.
“Apa kau mengenal Kenzo?” tanya Serena dengan penuh percaya diri, berharap Biao mau menjawab apa yang telah ia tanyakan.
“Sebaiknya anda persiapkan alasan. Untuk menyelamatkan diri anda, di depan Tuan Daniel, Nona,” jawab Biao dengan santai.
“Aku tidak perlu memikirkan itu, dia sendiri yang bilang kalau aku boleh menemui siapapun. Termasuk kekasihku,” ucap Serena mantap, saat kembali mengingat pernyataan Daniel tempo hari.
Biao hanya diam tanpa kata, pandangannya terus ia fokuskan ke arah jalan. Biao tidak ingin berdebat dengan Serena lagi.
Kenapa dia tidak lagi membantah perkataanku. Tunggu, sepertinya ini bukan arah jalan pulang ke rumah.
Serena menatap wajah Biao, “Mau kemana kita Biao? Kenapa kita tidak pulang saja.”
“Kita akan bertemu Tuan Daniel, Nona.” Biao tetap menatap jalan.
Ternyata dia serius dengan perkataannya. Apa yang harus aku jawab, ketika Daniel menanyakan kemana aku pergi.
Beberapa jam sebelum Serena ditemukan.
“Apa kau sudah mengecek semua CCTV?” ucap Biao, yang baru saja tiba di Rumah Sakit.
“Sudah Tuan, Nona muda pergi bersama seorang pria dengan mengendarai Sepeda Motor.” Pengawal itu memberikan sebuah laptop, yang berisikan sebuah video. Memutar semua rekaman.
“Kenzo?” ucap Biao kaget. Saat melihat sosok pria yang bersama Serena, adalah orang yang sangat ia kenal.
Biao mengambil sebuah Handphone dan kembali menghubungi Tama.
“Tama, aku ingin kau melacak keberadaan Nona Serena. Melalui ponsel yang kini ia gunakan,” perintah Biao dengan nada tinggi.
“Aku sudah melacaknya, Nona Serena berada di lokasi pantai,” jawab Tama dari kejauhan.
“Pantai?”
“Aku akan mengirimkan semua datanya, kau bisa melacaknya dari sana, Biao.”
“Tama, Nona Serena pergi bersama Kenzo.”
“Kenzo? Maksudmu Tuan muda Kenzo?” ucap Tama yang tidak kalah kagetnya dengan Biao.
“Sebaiknya kita rahasiakan ini dari Tuan Daniel, untuk melindungi Nona Serena.” Biao mengakhiri panggilan teleponnya.
Kring...kring... suara handphone Biao kembali berbunyi.
“Apa kau sudah menemukannya?” tanya Daniel yang mulai mengkhawatirkan keadaan Serena.
“Kami sudah mengetahui keberadaan Nona Serena, Tuan. Kami sudah bersiap untuk menjemput Nona Serena, di lokasi tersebut.”
“Bawak dia untuk menemuiku.”
“Baik, Tuan.”
Biao segera melacak keberadaan Serena, melalui aplikasi yang dikirimkan oleh Tama. Dengan sigap, ia melangkah pergi keluar rumah sakit untuk menjemput Serena.
Diikuti dengan beberapa mobil yang berisikan pengawal, Biao terus melajukan mobilnya menuju posisi Serena saat ini berada. Pandangan matanya terfokuskan pada satu pengendara sepeda motor yang sedang berboncengan.
“Pria itu selalu saja menaiki sepeda motor.” Biao menghentikan mobilnya, tepat di depan Sepeda motor Kenzo.
***
“Dimana dia?” tanya Serena dengan nada kesal.
“Tuan masih ada rapat penting malam ini, Nona.”
“Kenapa dia harus menyuruhku untuk menemuinya. Bukannya kami bisa bertemu di rumah nanti dan membicarakan masalah yang terjadi,” jawab Serena pelan.
“Tuan Daniel tidak ingin Nyonya Edritz mengetahui masalah ini, Nona,” jawab Biao pelan.
“Ternyata Mama tidak mengetahui semua ini. Aku tidak tahu, harus senang atau sedih mendengarnya.”
Pandangan Serena hanya bisa ia alihkan ke luar jendela. Rasa lelah dan perasaan takut ketika menghadapi Daniel, kini telah menjadi satu di dalam pikirannya.
Hingga beberapa saat kemudian, Serena tersadar. Lokasi yang kini akan ia kunjungi.
“Apartemen?”