Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 5



Serena tersenyum dengan wajah bahagia. Semua cerita tentang Biao kembali mengingatkannya denagn Shabira. Sejak kecil, adik angkatnya itu sudah bisa bertarung dan menembak. Hal itu juga yang membuat bakat Shabira bisa diperhitungkan dalam bertarung.


Serena memandang langit-langit biru yang begitu cerah. Bibirnya lagi-lagi tersenyum saat membayangkan wajah Daniel waktu kecil dulu.


“Sejakkecil Daniel pria yang keras kepala,” ucap Serena pelan.


Pak Sam tertawa mendengar perkataan Serena, “Anda benar, Nona. Sejak kecil, tidak ada yang bisa memperbaiki sikap keras kepala Tuan Daniel. Hanya Nona satu-satunya orang yang bisa mengubah Tuan Daniel. Sejak Nona hadir di rumah ini, saya merasa rumah ini semakin berwarna. Ada canda tawa. Bahkan sikap Tuan Daniel yang sombong itu sudah berangsur hilang saat anda selalu sabar menghadapinya.


[Apa kalian puas menceritakanku?]


Serena tersenyum kecil. Wanita itu sudah bisa membayangkan wajah kesal suaminya saat ini.


“Pak Sam, bagaimana dengan Pak Han dan Tama?” Serena menatap wajah Pak Sam, berharap pria itu mau melanjutkan ceritanya lagi.


“Pak Han hadir di rumah utama setelah kejadian itu, Nona. Pak Han yang membuat formasi perlindungan rumah utama. Sejak dulu, Pak Han memang sudah menjadi orang kepercayaan Tuan Edritz. Hanya saja, beliau tidak ingin rumahnya di awasi layaknya rumah penjahat. Tetapi, sejak kejadian itu. Tuan Edritz memanggil Pak Han untuk mengurus segala keperluan rumah utama.” Pak Sam menarik napasnya dengan begitu tenang.


“Bisa dibilang. Rumah utama ini masih tetap berdiri hingga saat ini karena Pak Han. Semua pelayan-pelayan wanita tidak ada lagi yang diepekerjakan oleh Pak Han. Ia lebih memilih pria karena bisa melindungi keluar Edritz saat keadaan berbahaya.”


“Wanita juga bisa bertarung,” jawab Serena dengan penuh percaya diri.


“Tidak semua wanita di dunia ini seperti anda, Nona.” Pak Sam mengukir senyuman indah.


[Benar itu Pak Sam. Wanita seperti Serena tidak ada lagi didunia ini.]


“Apa kau bisa diam!” celetuk Serena mulai kesal.


“Maaf, Nona,” jawab Pak Sam penuh rasa bersalah.


Serena menutup mulutnya saat melihat wajah Pak Sam yang berubah, “Bukan anda Pak Sam. Tetapi nyamuk di telinga ini.” Serena menghempaskan tangannya seolah-olah mengusir nyamuk.


“Lalu, setelah itu. Apa tidak ada lagi orang yang ingin mencelakai keluarga Edritz?”


Pak Sam mengangguk pelan, “Bisa dibilang begitu, Nona. Sejak kejadian itu, Tuan Daniel dan Biao sekolah di rumah. Penjagaandi perketat hingga tidak ada yang bisa bebas keluar masuk rumah utama. Identitas Tuan Daniel benar-benar ditutupi agar tidak ada yang mengenal wajahnya. Hingga Tuan Daniel beranjak dewasa dan memasuki bangku kuliah. Di sanalah Tuan Daniel berpisah dengan Biao. Biao hanya menjagaTuan Daniel dari kejauhan. Ia tidak ingin kuliah seperti Tuan Daniel.”


“Kenapa?”


“Bosan katanya,” ucap Pak Sam sambil tertawa kecil.


“Nona, Biao memang tidak pernah serius dalam belajar. Semua ilmu yang kini ia miliki semua adalah buah kesabaran dari Tama. Pria itu yang sudah membuat Biao menjadi pria yang cukup pintar danahli dalam perusahaan.”


“Tama … Ya, Aku selalu tahu kalau dia pria yang cukup pintar. Dia mahasiswa terbaik di kampusnya. Tuan Edritz menawarkan pekerjaan dengan imbalan yang cukup tinggi bukan?” Serena menatap wajah Pak Sam dengan penuh tanya.


“Ya, anda benar Nona. Tapi, lagi-lagi rumah ini kedatangan malaikat. Tama tidak pernah meminta hal-hal yang aneh atas jasa besarnya di S.G. Group. Semua yang ia kerjakan seperti benar-benar ia lakukan dengan ketulusan hati. Bukan karena imbalan atau apapun itu. Hal itu juga yang menyebabkan Tuan dan Ny. Edritz menganggap Biao dan Tama sudah seperti putra mereka sendiri. Bahkan hingga saat ini.”


Serena kembali membayangkan masa-masa indah saat Tama dan Biao berkenalan hingga akhirnya menjadi sahabat seperti sekarang, “Mereka seperti satu kesatuan yang tidak bisa untuk dipisahkan.”


Serena mengeryitkan dahi. Wanita itu kembali ingat dengan alasan Biao tidak ingin menikah.


“Pak Sam, bagaimana dengan hubungan asmara mereka berdua?”


***


S.G. Group.


Tama merapikan berkas-berkas penting yang ada di ruang rapat. Dari salah satu meja, terlihat Anna yang masih sibuk dengan layar laptopnya. Tama tersenyum saat melihat wajah wanita itu. Di dalam pikirannya, ia ingin mengorek informasi. Tentang hubungan Biao dengan wanita itu. Dengan langkah cepat dan pasti, Tama duduk di kursi yang ada di samping wanita bernama Anna itu.


“Nona Anna, apa anda sibuk?” Tama mengukir senyuman manis miliknya. Satu tangannya menopang dagu sambil menatap wajah cantik Anna.


Anna menutup layar laptopnya sebelum memandang wajah pria yang ada di sampingnya, “Tidak, ada yang bisa saya bantu. Tuan Tama?”


“Nona Anna, apa anda sibuk nanti malam? apa anda mau makan malam diluar?” Tama mengetuk-ngetuk meja kaca yang ada di hadapannya.


Anna mengukir senyuman manis, “Saya tidak sibuk, Tuan.”


“Terima kasih, apa anda mau pergi dengan teman saya? Biao?”


Wajah Anna berubah tidak suka, “Jika makan malam dengannya saya tiba-tiba sibuk, Tuan.” Anna merapikan barang-barangnya yang ada di atas meja. Wanita itu beranjak dari duduknya untuk segera pergi.


“Nona Anna, apa anda bermusuhan dengan Biao? apa dia melakukan hal yang membuat hati anda terluka. Saya mewakili Biao, meminta maaf kepada anda, Nona Anna.” Tama juga beranjak dari duduknya.


“Apa anda sungguh-sungguh meminta maaf?” Anna menaikan satu alisnya.


“Tentu, saya seorang pria yang selalu memegang setiap ucapan saya.” Tama memasukkan satu tangannya ke dalam saku.


Anna tersenyum manis. Wanita itu berjalan mendekati posisi Tama, “Temani Aku makan malam, jam 8 malam di Cafe Star” Anna berlalu pergi dengan satu senyuman bahagia.


Tama mematung di posisinya, “Cafe Star, jam 8. Bersama denganku?” Menunjuk wajahnya sendiri sebelum memejamkan mata.


“Aku ingin menjodohkan mereka, kenapa jadi Aku yang terjebak.” Tama duduk di kursi dengan wajah frustasi. Pria itu berpikir keras sambil memikirkan keputusan yang akan ia ambil untuk nanti malam.


“Aku harus memastikan dulu. Apa Biao benar-benar tidak tertarik dengan Anna.


Setelah dia mengatakan tidak tertarik, maka semua akan baik-baik saja.” Tama pergi meninggalkanruangan rapat itu dengan wajah penuh harap.


Satu-satunya tempat yang kini ingin ia kunjungi adalah ruang kerja milik Biao. Pria itu sudah tidak sabar untuk mengetahui isi hati Biao kepada wanita yang akan ia kencani nanti malam.


Dengan hati-hati ia membuka pintu ruang kerja Biao. Masuk ke dalamnya dengan senyuman mengembang.


“Biao, apa kau sibuk?” Duduk di atas meja yang ada di samping Biao.


“Katakan saja, apa tujuanmu datang kemari.” Biao sibuk memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya. Sudah mengenal Tama bertahun-tahun, membuat Biao mengerti sifat sahabatnya itu.


“Apa kau menyukai Nona Anna?” tanya Tama langsung tanpa basa basi. Pertanyaan Tama detik itu membuat Biao menghentikan aktifitasnya sejenak.


“Anna?” Mengeryitkan dahi.