Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 110 (End)



Biao terus mengikuti langkah Daniel yang terlihat berlari kecil. Wajahnya semakin panik dan diselimuti kekhwatiran, saat Daniel sempat meneriakkan nama Nona mudanya.


“Tuan, apa yang terjadi dengan Nona Serena? apa pengawal yang kita siapkan gagal melindungi Nona?”


Biao membuka pintu mobil penumpang sambil menatap wajah Daniel. Namun, pertanyaannya terlihat diabaikan oleh Daniel. Pria itu tidak lagi bisa berpikir jernih sebelum melihat langsung keadaan Serena saat ini.


Biao berlari ke arah bangku kemudi. Melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan halaman luas milik S.G.Group. Sesekali matanya melirik ke arah spion. Pria itu benar-benar sangat penasaran. Namun, keberaniannya untuk bertanya sudah tidak ada lagi. Wajah Daniel terlihat tidak bersahabat saat itu.


Terdengar suara handphone dari saku Daniel. Pria itu mengangkat panggilan masuk dari Kenzo masih dengan wajah khawatir.


[Daniel, Serena ….]


“Aku sudah tahu. Kirimkan alamat rumah sakitnya, aku dalam perjalanan menuju ke sana,” jawab Dnaiel cepat tanpa banyak basa-basi lagi.


[Darimana kau tahu?] tanya Kenzo penuh selidik.


“Kirimkan alamatnya sekarang. Jangan banyak tanya lagi!” teriak Daniel mulai kesal.


[Baik, baik. AKu juga lagi di jalan menuju ke rumah sakit.] Kenzo memutuskan panggilan teleponnya.


Daniel memejamkan mata untuk mengatur hembusan napasnya. Pria itu membuka pesan singkat Kenzo yang berisi alamat rumah sakit tempat Serena di rawat.


“Itu alamatnya,” ucap Daniel tanpa semangat.


Biao memperhatikan layar gps yang ada di hadapannya. Pria itu lagi-lagi menambah laju mobilnya agar segera tiba di lokasi tujuan.


Beberapa menit kemudian.


Mobil Daniel dan Kenzo tiba di rumah sakit itu secara bersamaan. kedua pria itu bertemu di depan pintu masuk rumah sakit. Berlari dengan cepat masuk ke dalam.


“Dimana Serena?” tanya Daniel sambil mencari-cari.


Kenzo berlari ke arah resepsionis. Menanyakan nomor kamar Serena saat itu. Pria itu berjalan ke arah lift, diikuti Daniel dan Biao dari belakang.


Lift terbuka. Wajah pertama yang dilihat Kenzo adalah Shabira. Wanita itu baru saja ingin masuk lift untuk menunggu Kenzo di bawah.


“Kenzo,” ucap Shabira masih dengan wajah takut. Wanita itu memeluk suaminya dengan wajah takut.


“Shabira, dimana Serena? apa yang terjadi padanya?” tanya Daniel dengan wajah panik di level tertinggi.


“Kak Erena ada di dalam, Dokter masih memeriksanya.” Shabira menunjuk ke arah ruang rawat inap Serena.


Daniel berlari menuju ke ruangan itu. Mendorong pintu untuk masuk ke dalamnya. Tidak ada satu orangpun yang bisa menghalangi langkahnya saat itu. Biao juga mengikuti langkah Daniel dari belakang.


“Serena, sayang apa kau baik-baik saja? apa yang terjadi pada dirimu?” Daniel menatap wajah Serena yang sudah membuka mata. Pria itu berlari untuk memeluk tubuh istrinya yang lagi duduk dengan posisi bersandar.


“Daniel ….” Serena mengukir satu senyuman kecil.


“Sayang, kau membuatku khawatir.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya.


“Apa anda suami Nona Serena, Tuan?” tanya Dokter wanita yang berdiri di pinggir tempat tidur Serena.


“Ya, Dok. Saya suaminya. Apa yang terjadi pada istri saya, Dok?” tanya Daniel dengan tatapan yang sangat serius.


Kenzo dan Shabira juga masuk ke dalam kamar. Shabira berlari mendekati Serena untuk memastikan Kakak kesayangannya baik-baik saja.


“Selamat, Tuan. Nona Serena hamil. Anda akan menjadi seorang Ayah.” Dokter itu memasang senyuman yang indah saat menyampaikan kabar gembira itu kepada Daniel.


“Hamil?” tanya Daniel dan Serena bersamaan.


Dokter itu mengangguk pertanda setuju, “Usianya memasuki 4 minggu. Sebaiknya mulai sekarang, anda harus menjaga kesehatan anda dan kandungan anda, Nona.”


“Daniel, apa aku akan menjadi seorang ibu?” Serena memegang perutnya yang masih rata.


“Kakak, selamat Kak.” Shabira terlihat bahagia mendengar kabar kehamilan Serena. Wnaita itu menggandeng tangan Kenzo dengan bibir tersenyum indah.


“Saya permisi dulu, Tuan.” Dokter itu berjalan pergi meninggalkan ruangan. Diikuti beberapa perawat dari belakang.


“Mama, harus tahu tentang ini.” Daniel mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Mengotak atik ponselnya untuk memberi kabar bahagia kepada wanita yang sangat ia sayangi.


“Ma, Daniel dan Serena punya kabar gembira buat Mama.” Daniel menatap wajah Serena dengan senyum mengembang.


[Daniel, ada apa? Kau terlihat sangat bahagia pagi ini.] jawab Ny.Edritz dari kejauhan.


“Ma, Serena hamil. Mama akan segera punya cucu,” jawab Dnaiel dengan suara penuh suka cita.


[Daniel, apa kau serius? Serena hamil? sekarang kalian ada di mana?] tanya Ny. Edritz.


“Di rumah sakit CUYI, Ma. Nanti Daniel kirim alamatnya,” sambung Daniel.


[Mama dan Papa akan segera ke sana. Jaga Serena dengan baik, Daniel.]


Panggilan terputus. Daniel memasukkan ponselnya ke dalam saku sebelum menatap wajah Serena lagi. Mengelus lembut rambut Serena, sebelum mengecup lagi pucuk kepala istrinya karena bahagia.


“Daniel, aku masih bingung. Kenapa kau bisa tahu Serena ada di rumah sakit? Shabira hanya memberi kabar kepadaku. Handphone Serena dan Shabira tertinggal di rumah.” Kenzo menatap wajah Daniel dengan penuh tanya.


Daniel tersenyum kecil, “Karena alat ini, kenzo.”Daniel melepas handsfree yang terpasang di telinganya. Pria itu juga mengambil handsfree dari telinga Serena.


“Kakak gunakan alat itu lagi?” Shabira kenal jelas alat itu. Dulu, Serena juga pernah memberinya alat seperti itu. Alat itu juga yang membuat Shabira bisa selalu tahu, kapan Serena berada di dalam bahaya.


Serena mengangguk, “Aku memberikan alat ini pada Daniel, agar dia tidak lagi khawatir saat aku pergi meninggalkan rumah.” Serena menatap wajah Daniel dengan senyuman.


“Sayang, aku berpikir kalau alat ini hanya milikku satu-satunya. Ternyata aku orang kedua yang memakainya.” Daniel memasang wajah sedikit kecewa.


“Tuan Daniel, alat itu masih baru dan model yang berbeda. Karena milik kami berdua sudah hilang saat kami melawan musuh di Hongkong.” Shabira melipat kedua tangannya membela Serena.


Serena tertawa kecil mendengarkan perkataan Daniel. Wanita itu menarik tangan suaminya dengan stau senyuman.


“Sayang, alat ini aku pesan untuk kita berdua. Aku sengaja membuat alat ini, karena aku sangat mencintaimu.”


Daniel lagi-lagi luluh dengan perkataan Serena. Pria itu menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Biao juga tersenyum bahagia memandang momen bahagia saat itu. Satu harapan yang selama ini diimpikan oleh keluarga Edritz Chen telah terkabulkan.


Serena akan melahirkan cucu kesayangan dari keluarga Edritz Chen. Cucu yang selalu diimpikan oleh Ny. Edritz.


“Serena, selamat. Aku juga berharap, istriku ini bisa segera mengandung. Agar usia anak kita nnati tidak berjauhan.” Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya.


Shabira tersenyum mendengarkan ucapan Kenzo. Wanita itu juga memiliki harapan besar, agar segera mengandung cucu dari keluarga Daeshim Chen.


“Sayang, aku sangat mencintaimu. Terima kasih untuk semua perjalanan penuh cinta ini.” Daniel mengecup bibir Serena, mengabaikan semua orang yang masih memandang ke arah dirinya.


“Biao, pejamkan matamu. Pemandangan seperti ini tidak pantas dilihat oleh pria jomblo seperti dirimu.” Kenzo menatap wajah Biao dengan satu senyuman kecil.


Biao hanya bisa menundukkan wajahnya saat melihat pemandangan itu. Matanya terpejam sambil berusaha untuk melupakan pemandangan yang baru saja ia lihat.


Serena,


Wanita misterius itu harus melewati kisah percintaan yang jauh lebih misterius dari dirinya. Kalau memang sudah jodoh kemanapun tetap akan bertemu.


Berliku jalan yang harus dihindari oleh Serena, tetapi pilihan terakhir hidupnya tetap bersama Daniel. Hatinya sempat bercabang menjadi dua. Hingga ia merasakan satu keadaan, yang lebih baik mati daripada harus memilih. Semua itu sudah berhasil ia lewati. Jika kebanyakan orang bersahabat menjadi cinta. Tapi dihidup Serena, cinta yang menjadi sahabat.


~Tamat~