Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 22



Shabira masih diam, Ia sudah tersenyum penuh kemenangan saat itu. Ikatan demi ikatan terbuka. Shabira di angkat ke atas tempat tidur. Pakaiannya mulai di buka satu persatu.


Belum sempat pria itu menarik resleting, Shabira sudah membuka matanya. Ia memukul pria yang kini ada di hadapannya. Hingga pria itu terjatuh dan tidak sadarkan diri. Shabira berdiri dan memukul dua pria yang lainnya. Hingga ketiga pria itu tergeletak di atas lantai.


“Kau mengirim pria lemah untuk membunuhku.” Shabira tersenyum tipis. Ia memandang gaun pengantin, yang kini ia kenakan.


“Aku tidak bisa kabur dengan pakaian ini.” Shabira mengambil pisau, dan memotong gaunnya. Hingga menjadi sebuah dres pendek. Shabira berjalan keluar, ia ingin segera pergi meninggalkan tempat itu.


Wanita itu ada di depan, melihat Shabira lari, “Kejar wanita itu!”


Wanita itu memerintahkan bawahannya yang tersembunyi untuk mengejar Shabira. Melihat lawannya dengan jumlah banyak, Shabira berlari meninggalkan gedung itu. Shabira melompat dari jendela.


Pria –pria itu mengejar Shabira tanpa kenal putus asa. Shabira berlari di tengah jalan yang sunyi, Ia melihat satu mobil melintas. Memberhentikan mobil itu dengan berdiri di tengah jalan, untuk menghalangi.


Mobil itu berhenti, tapi pria-pria itu sudah mendekat. Shabira melawan pria itu satu persatu. Wanita itu kembali datang dan memegang sebuah pisau. Berjalan mendekati Shabira secara diam-diam. Mengarahkan pisau itu, ke tubuh Shabira dari belakang.


Shabira terperanjat kaget, melihat pemandangan yang ada di belakangnya. Lukas sedang menahan pisau itu, dengan tangan kosong. Bagian dalam pisau mengiris telapak tangannya.


Ia memandang wanita itu dengan ekspresi dingin. Meskipun saat ini, cairan merah berkucur deras dari telapak tangannya. Tapi ia tidak terlihat kesakitan sedikitpun.


Wanita itu tampak terperangah melihat kelakuan Lukas. Ia berusaha untuk menarik pisau itu, tapi Lukas sudah menariknya dan membuangnya jauh-jauh.


“Aku akan membunuhmu! kau harus membayar setiap tetesnya.” Tatapan Lukas tidak lagi terbaca.


Dia mencekik wanita itu dengan satu tangan. Membuat wanita itu kesulitan untuk bernapas. Mengangkat tubuh wanita itu tanpa belas kasih. Hingga wanita itu tidak lagi bernapas. Lukas mencampakkan wanita itu ke jalanan. Menatapnya dengan senyuman tipis.


“Kau di sini!” Shabira kenal Lukas. Ia tahu, kalau Lukas adalah orang kepercayaan pria yang paling di cintai oleh bosnya.


Lukas membalikkan badannya, menuju ke arah mobil. Ia tidak terlalu tertarik dengan masalah Shabira saat ini.


“Tunggu!” Shabira berteriak dan berlari mengejar Lukas. Tanpa persetujuan Lukas, ia ikut masuk ke dalam mobil.


Lukas memandang dingin wajah Shabira. Ia tidak suka melihat Shabira masuk ke dalam mobil, tanpa ijin darinya. Shabira tahu arti tatapan itu. Ia menarik napas dalam, sebelum membela dirinya saat ini.


“Lukas, kau masih punya hutang padaku. Kau ingat, waktu penembakan di jalan. Kau tertembak di bagian dada. Aku yang membawamu ke rumah sakit. Kau tahu, jika aku tidak menolongmu, maka kau juga tidak akan berada di mobil ini bersamaku.” Shabira tersenyum licik. Ia tahu senjata yang harus di gunakan saat ini.


Lukas tidak lagi banyak bicara. Ia melajukan mobilnya. Meninggalkan jalanan itu. Dengan tatapan lurus ke jalan depan. Ia tidak ingin banyak bicara.


Shabira tersenyum penuh kemenangan.


Untung saja Lukas datang. Aku tidak tahu, bagaimana jadinya jika pria ini tidak menolongku tadi.


Shabira memandang ke luar jendela. Ia tahu, jalan yang kini di tuju oleh Lukas. Jalan itu mengarah ke rumah Zeroun Zein. Shabira tahu, ia akan bertemu Serena di sana nantinya.


“Hentikan mobilnya!” teriak Shabira.


Lukas menghentikan mobilnya. Memandang wajah Shabira dengan penuh tanya.


“Aku tidak ingin bertemu dengan Kak Erena dulu. Kenzo akan menemukanku di sini. Aku yakin, Tuan Daeshim masih memiliki banyak orang untuk mencelakaiku.” Shabira tertunduk sedih.


Lukas menarik napas dalam, ia sangat tidak suka berurusan dengan wanita. Wanita selalu membuat dirinya menjadi susah, “Mau kemana?” tanya Lukas singkat.


“Antar aku ke suatu tempat. Setelah mendengar kehilanganku. Kak Erena akan menemuiku di tempat itu. Ia pasti tahu, kalau aku bersembunyi di tempat itu.” Shabira tersenyum manis untuk merayu Lukas.


Tanpa banyak bicara, Lukas memutar arah mobilnya. Ia melajukan mobilnya ke tempat yang diiginkan Shabira. Lukas tidak ingin membantu Shabira. Semua ini ia lakukan karena ia punya utang pada Shabira. Setelah ia membantu Shabira, ia merasa telah melunasi hutangnya terhadap Shabira.


Mobil Lukas berhenti di lingkungan aneh. Lukas menatap tajam, lingkungan yang ada di depan matanya.


“Terima kasih. Hutangmu akan lunas, jika kau tidak memberi tahu siapapun tentang tempat ini. Tempat ini sangat rahasia. Kau bisa membeli senjata apapun di dalamnya. Kau juga tidak bisa sembarang masuk ke dalamnya. Jika ingin bertemu denganku, kau bisa menyebutkan namaku atau Kak Erena. Ingat dengan bahasa asing.” Shabira tersenyum sebelum turun dari mobil.


Lukas hanya memandang Shabira dari dalam mobil. Ia tidak terlalu peduli dengan perkataan Shabira. Tapi ia mengingat pesan Shabira. Kalau tidak boleh memberi tahu tempat ini pada siapapun. Lukas memutar mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


***


Serena dan Zeroun menatap wajah Shabira dan Lukas bergantian. Sejak tadi mereka hanya mendengarkan cerita dari Shabira.


Zeroun kembali penasaran dengan Lukas. Kenapa sekarang Lukas bisa berada di satu ruangan dengan Shabira. Ia tahu sifat bawahannya itu sejak lama. Lukas tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Apa lagi sampai terkurung di dalam satu ruangan yang sama.


Lukas mengerti arti tatapan mata Zeroun. Ia menundukkan kepala sebelum mengeluarkan kata.


“Maafkan saya. Kau pria licik, bisa saja melakukan hal itu untuk membodohiku.” Shabira membuang pandangannya dari wajah Lukas.


“Shabira ….” Serena menatap wajah Shabira dengan penuh tanya.


“Iya, kak.”


“Kenapa kau tidak ingin kembali dengan Kenzo?”


Shabira menarik napas dalam, sebelum mengungkapkan isi hatinya saat ini.


“Aku tahu, kakak sudah meninggalkan dunia kita. Kakak ingin hidup bahagia bersama Tuan Zeroun. Jadi aku tidak ingin kakak mendapat masalah lagi. Kenzo masih ada di dunia mafia. Itu akan membuat hidup semangkin sulit bukan. Aku menikmati ketenangan seperti ini.


Walaupun aku masih sangat mencintainya.”


Wajah Shabira berubah sedih. Ia tidak pernah tahu, kalau Serena sudah menikah dengan pria lain. Bukan dengan Zeroun Zein.


Serena dan Zeroun saling menatap satu sama lain. Lukas juga memandang wajah Serena dan Zeroun. Ia mengalihkan pandangnnya ke arah Shabira dengan tatapan benci.


“Jika tidak banyak tahu, jangan banyak bicara!” ucap Lukas kepada Shabira.


“Apa makasudmu? memang sejak awal kau sangat menyebalkan. Seharusnya aku mengusirmu sejak tadi pagi.” Shabira melawan perkataan Lukas, dan menatap wajahnya dengan benci.


“Kalau bukan karena permintaan Bos Zeroun. Aku juga tidak ingin merayumu hingga sore seperti ini.” Lukas menatap wajah Shabira.


Zeroun berdehem, untuk memecah perseteruan Shabira dan Lukas. Ia tidak suka melihat ada perdebatan di depan matanya. Serena hanya melipat kedua tangannya. Ia juga memandang tajam Lukas dan Shabira.


“Maaf, Bos.” Lukas tertunduk dalam, dengan penuh rasa bersalah.


“Besok malam kita pulang ke negara X. Kau harus menemui Kenzo. Aku tidak ingin terus menyimpan rasa bersalah terhadap dirinya,” ucap Serena dengan santai.


“Kakak sudah bertemu dengan Kenzo?” Wajah Shabira berubah panik. Ia takut, jika Kenzo melakukan hal yang buruk kepada Serena.


“Ya, dia pria yang baik. Seharusnya aku mengenalnya sejak awal. Aku percaya, ia akan menjagamu dengan baik.” Serena tersenyum, ia kembali mengingat Kenzo saat menyelamatkan nyawanya di taman bunga dan di hutan.


“Baiklah, jika kakak meminta hal itu. Apa dia masih mencintaiku. Aku sudah meninggalkannya begitu saja di pesta pernikahan kami.” Wajah Shabira berubah sedih.


Serena tersenyum manis, “Ia masih mencintaimu hingga sekarang. Ia membuat satu lagu, untuk mengutarakan kerinduannya pada dirimu.” Serena kembali ingat lagu yang di nyanyikan Kenzo saat dipantai waktu itu.


“Benarkah? Ya, dia selalu menggodaku dengan gitar itu.” Wajah Shabira memerah. Ia kembali mengingat masa-masa indahnya bersama Kenzo.


“Malam ini kita istirahat di sini dulu. Tempat ini sangat aman.” Serena beranjak dari duduknya, ingin pergi ke arah kamar.


Zeroun menahan langkah Serena, “Kita tidur di rumah saja. Di sana juga aman.”


Serena menggeleng pelan, “Di sini saja,” ucap Serena dengan lembut. Dan melepaskan tangan Zeroun.


Serena berjalan masuk ke arah kamar untuk istirahat. Zeroun hanya memandang punggung Serena dengan tatapan sedih.


Shabira memandang Zeroun dan Serena bergantian. Ia menyimpan rasa curiga, namun tidak berani untuk bertanya.


Sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka. Kenapa sikap mereka tidak seperti dulu lagi.


Di kamar. Serena memejamkan matanya, di atas tempat tidur sederhana. Ia menenangkan pikirannya. Hatinya terasa sedikit lega, saat masalah Shabira dan Kenzo sudah selesai. Hanya tinggal satu masalah lagi, menyelesaikan hubungannya dengan Zeroun. Ia manarik napas dalam dan tidur dengan tenang.


Shabira masuk ke dalam kamar dengan hati-hati. Naik ke atas tempat tidur yang sama dengan Serena. Memeluk Serena dengan penuh kerinduan.


“Kakak jangan pergi lagi. Aku tidak ingin hidup tanpa kakak.” Shabira memejamkan matanya sambil memeluk Serena yang sudah tertidur.


Di ruangan depan, Zeroun masih duduk berhadapan dengan Lukas. Hatinya terasa sakit saat menerima penolakan dari Serena. Meskipun ia tahu, sejak awal tujuan Serena adalah menemukan Shabira. Tapi Zeroun tidak ingin berada jauh dari Serena.


“Bos, apa anda mau kembali ke rumah?” Lukas memandang wajah Zeroun.


“Tidak, aku ingin tetap di sini bersamanya. Siapkan tempat untuk istirahat.”


Lukas berdiri dari duduknya, “Baik, Bos.”