Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kembali Pulang



Daniel masih menatap tajam ke arah punggung Kenzo yang kini telah menghilang dari pandangan matanya. Satu pukulan yang sempat ia layangkan ke wajah Kenzo, kini menyisakan satu tanda kemerahan pada punggung tangan Daniel. Namun rasa sakit itu tidak begitu terasa, jika dibandingkan rasa sakit di hatinya kini. Perhatian Kenzo kepada Serena, lagi-lagi membuat suasana hatinya memburuk.


Daniel melirik sebentar ke beberapa pengawal yang kini tergeletak di atas lantai dengan beberapa luka memar. Daniel terlihat membuang nafasnya secara kasar, dan membalikkan tubuhnya untuk melangkah ke satu ruangan yang tidak asing baginya.


Daniel masuk ke dalam ruangan itu dengan gusar, lagi-lagi ia masuk tanpa permisi dengan pemilik ruangan itu. Di dalam ruangan berukuran sedang itu, terlihat Adit yang masih fokus pada beberapa berkas pasien yang kini ada diatas mejanya. Satu orang perawat wanita juga terlihat membantu kesibukan Adit di situ.


“Daniel, ada apa? apa Serena baik-baik saja?” ucapannya terhenti dan melirik sebentar ke arah Daniel, “Maksudku, Nona Serena,” sambungnya lagi dengan satu senyum meledek di bibirnya.


“Adit, aku ingin Serena pulang ke rumah hari ini juga!” pinta Daniel secara tiba-tiba.


“Ada apa? kenapa kau ingin Serena pulang?” tanya Adit bingung.


“Aku ingin kau mengurus kepulangan Serena saat ini juga!” tanpa memberi penjelasan kepada Adit, Daniel berlalu pergi meninggalkan ruangan Adit.


“Apa lagi yang terjadi,” ucap Adit pelan yang terlihat membuang nafasnya secara kasar.


Secepat mungkin Adit memberi satu perintah kepada perawat yang kini ada di sampingnya. Daniel tidak pernah menerima penolakan, sifat angkuh itu sudah dikenal Adit sejak dulu. Apapun yang ia perintahkan, akan selalu terlaksana dan terjadi.


Tidak ingin banyak berfikir terlalu keras, kini Adit telah beranjak dari duduknya untuk mencari informasi yang bisa menjawab pertanyaannya saat ini. Satu-satunya tujuan Adit saat ini adalah menuju ke ruang rawat Serena. Langkahnya kembali terhenti saat melihat beberapa pengawal yang bertugas menjaga Serena, kini duduk di atas kursi yang panjang dengan beberapa luka di bagian tubuh maing-masing.


“Ada apa? kenapa kalian di penuhi luka seperti ini?” tanya Adit yang kini sudah berada di depan pengawal-pengawal itu.


“Tuan Kenzo datang dan memaksa masuk ke dalam ruangan noan muda, tuan,” jawab salah satu pengawal itu.


“Jadi semua ini karena Kenzo!” ucap Adit pelan dan kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menemui Daniel di dalam.


Di dalam kamar, Adit melihat Serena yang kini sedang duduk bersandar di atas ranjang dengan raut wajah khawatir. Pandangan matanya mencari keberadaan Daniel, yang saat ini ingin ia temui.


“Dokter Adit!” sapa Serena pelan.


“Dimana Daniel?” tanya Adit yang masih mencari-cari keberadaan Daniel.


Serena hanya menggeleng pelan, sejak mendengar keributan yang terjadi di depan kamar. Daniel tidak lagi masuk ke dalam ruangan Serena.


“Nona Serena, apa keadaanmu sudah membaik? apa kepalamu masih terasa sakit?” tanya Adit yang kini kembali memeriksa keadaan Serena.


“Aku sudah jauh lebih baik,” jawab Serena pelan.


“Aku akan sering-sering memeriksa luka itu, jika nanti kau sudah berada di rumah utama.”


“Aku sudah boleh pulang, dokter?” tanya Serena dengan raut wajah senang.


“Ya, kau akan cepat sembuh jika berada di rumah. Aku akan melepas jarum infuse ini,” jawab Adit yang kini mencoba untuk melepas jarum infuse dari punggung tangan Serena, “Selesai,” sambung Adit lagi.


Suara pintu terbuka, kembali mengalihkan pandangan Adit dan Serena. Daniel yang kini baru saja tiba di kamar Serena terlihat muram dan tdak bersemangat. Daniel melangkah cepat menuju ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.


“Apa Serena sudah bisa pulang?” tanya Daniel.


“Perawat masih mengambil kursi roda untuk membawa Serena hingga keparkiran,” jawab Adit yang kini juga sudah berada di sofa yang sama dengan Daniel.


“Kenapa dia terus saja muncul di hadapanku!” ucap Daniel kesal.


“Kau belum bisa untuk memaafkannya Daniel?”


“Aku harap kau segera menemukan solusinya Daniel!” ucap Adit.


Satu perawat wanita masuk dengan mendorong satu kursi roda yang sengaja disiapkan untuk mempermudah Serena. Dengan cepat Daniel beranjak dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah Serena.


“Kau harus pulang Serena.”


Serena hanya mengangguk mengerti, hatinya juga di selimuti rasa bahagia ketika mendengar kabar akan segera pulang ke rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Namun, rasa curiga masih tersusun rapi di dalam pikiran Serena saat ini. Serena selalu saja berfikir keras tentang hubungan yang pernah terjadi antara Kenzo dan Daniel, hingga mereka terlihat saling membenci.


“Serena,” ucap Daniel pelan, yang kini memecah lamunan Serena.


“Iya, ada apa Daniel?” tanya Serena kaget.


“Aku akan membantumu untuk duduk di sini,” menuju ke arah kursi roda yang kini ada di samping ranjang Serena.


Serena kembali mengangguk pelan, pertanda setuju. Bayang-bayang kamarnya yang nyaman sudah tergambar jelas di dalam angannya. Senyum kecil terlihat melingkar indah di bibir Serena.


“Apa kau senang bisa pulang, nona?” tanya Adit yang sejak tadi memperhatikan ekspresi wajah Serena.


“Ya, aku sangat senang bisa kembali ke rumah itu,” jawab Serena yang kini sudah terduduk manis di atas kursi roda.


“Baiklah, segera sembuh nona Serena. Jangan lupa untuk meminum obatnya secara teratur,” pesan Adit pada Serena.


“Ok, pak dokter,”


“Kami harus pergi sekarang, Adit!” ucap Daniel pelan dan kembali mendorong kursi roda Serena saat ini.


Hatinya kembali legah, saat kini Serena bisa kembali pulang. Rencananya untuk memutus jalan Kenzo menemui Serena kini telah berhasil. Kini Daniel bisa kembali fokus pada penyelidikan masa lalu Serena, tanpa perlu khawatir dengan keberadaan Serena di rumah sakit.


Serena duduk manis di kursi penumpang yang terletak di samping Daniel. Tidak ingin menggunakan jasa supir, kali ini Daniel sendiri yang mengemudikan mobilnya untuk membawa Serena kembali pulang ke rumah utama.


“Apa mama tahu, kalau hari ini aku akan pulang Daniel?” tanya Serena mencoba untuk memecah keheningan.


“Mama tidak mengetahuinya,” jawab Daniel ketus.


“Daniel, apa kau masih marah padaku?” ucap Serena pelan.


“Tidak,” jawabnya singkat.


“Daniel, maafkan aku,” ucap Serena lagi dengan nada yang semakin lirih.


“Jangan pernah temui Kenzo lagi Serena!” perintah Daniel dengan nada tinggi.


Serena kembali diam tanpa ingin membantah, tatapan matanya ia alihkan pada pemandangan jalan yang kini ada di luar jendela. Beberapa kerumunan orang yang ada tepian jalan.


Hatinya kembali rindu dengan sosok ayah yang sangat ia cintai. Sosok pahlawan yang selalu menjadikan senyum Serena sebagai prioritas utama. Air mata kembali menetes di wajah cantik Serena.


Secepat mungkin ia hapus buliran air mata yang kini sudah membasahi pipinya. Serena tidak ingin menambah beban dalam hidup Daniel. Meskipun ada sejuta pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Daniel saat ini. Namun, Serena mengurungkan niatnya untuk menciptakan suasana yang kembali tenang.


Sebelum lanjut, like dan komen dulu.


Authornya rela begadang demi pembaca setia lho...