Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 108



Hari terus berganti. Hari ini adalah hari pernikahan Kenzo dan Shabira. Pesta itu di gelar di halaman rumah utama Daeshim Chen. Seluruh isi rumah dan halaman dipenuhi dengan bunga-bunga Lily favorit Shabira. Beberapa dekorasi pesta serba putih itu terlihat begitu mewah dan elegan. Pesta pernikahan itu sudah dipenuhi oleh tamu undangan. Beberapa pengawal terlihat siaga dalam berjaga-jaga.


Kenzo dan Shabira baru saja menyelesaikan akad pernikahan. Sepasang pengantin itu telah memasang wajah berseri karena bahagia. Saling berpegangan tangan menatap ke arah tamu undangan yang hadir.


Dari posisi yang tidak jauh dari pelaminan. Ada satu meja panjang yang menghadap ke taman bunga. Meja itu dipenuhi dengan orang–orang tersayang yang dimiliki Kenzo dan Shabira. Daniel dan Serena. Zeroun, Lukas. Adit dan Diva bersama Angel. Tuan dan Ny. Edritz. Sonia dan Aldi. Serta Tama dan Biao. Semua orang itu berbaur menjadi satu keluarga yang bahagia. Tidak ada lagi dendam dan sakit hati. Kini mereka adalah satu keluarga yang saling mendukung satu sama lain.


Hari mulai sore, pesta hampir berakhir. Shabira dan Kenzo berjalan ke arah meja yang dikelilingi keluarganya. Sepasang pengantin baru itu, duduk di kursi yang memang sudah disediakan sejak awal.


“Aku dan Kenzo sudah menikah.” Shabira terus-terusan termenung mengingat pernikahannya yang terasa seperti mimpi itu. Kini ia sudah resmi menyandang status Nona muda dari Kenzo Daeshim Chen. Shabira menatap Kenzo yang sedang duduk di sebelahnya. Sebelum menatap sekeliling meja yang kini di kelilingi orang orang yang ia cintai.


“Shabira, Aku sangat bahagia hari ini. kalian sudah menikah dan terlihat sangat serasi.” Serena tersenyum memandang Shabira.


“Terima kasih, Kak. Hari ini aku sangat bahagia. Aku tidak pernah bermimpi bisa memiliki keluarga sebanyak ini.” Shabira tampak menangis terharu. Membuat suasana meja makan itu hening seketika. Semua orang hanya fokus memandang sepasang pengantin baru itu.


“Walaupun kita tidak saudara kandung. Tapi, sampai kapanpun itu kau akan tetap menjadi adikku, Shabira,” jawab Serena dengan penuh keyakinan.


“Aku sangat bahagia kak, ini adalah mimpiku selama ini. Aku bisa memiliki dua orang kakak dan bisa hidup bersama pria yang aku cintai.” Shabira mengenggam tangan Kenzo hingga kesepuluh jari mereka beradu saling terkunci.


“Terima kasih sayang sudah hadir dalam hidupku.” Shabira mengukir senyuman indah memandang wajah Kenzo.


Kenzo mengangkat tangan mereka berdua sebelum mengecup tangan Shabira dengan penuh cinta, ”Aku juga sangat bahagia bisa menikah denganmu. Kau adalah sebuah kebahagiaan yang sengaja diciptakan takdir untuk menemani hidupku.”


Shabira beranjak dari duduknya. Wanita itu berjalan mendekati Zeroun yang terlihat duduk menatap wajahnya.


“Kak ….” ucap Shabira dengan suara pelan.


“Zetta, adikku.” Zeroun beranjak dari duduknya, membuka kedua tangannya untuk menerima tubuh Shabira di dalam pelukannya.


“Aku selalu mendoakanmu, agar kau selalu bahagia bersama Kenzo.” Zeroun menepuk pelan pundak Shabira. Membuat Shabira lagi-lagi meneteskan air mata.


“Apa Kakak akan pergi malam ini juga?” tanyanya dengan wajah sedih.


Semua orang yang mengelilingi meja itu hanya bisa menunduk sedih. Malam ini Zeorun akan pergi meninggalkan Jepang. Pria itu akan kembali pulang ke rumah miliknya di Hongkong. Hatinya sudah kembali tenang, bahkan ia bisa pergi tanpa beban sedikitpun.


Zetta, adik kandungnya juga sudah menikah. Sahabatnya Serena, juga sudah bahagia bersama Daniel. Pria itu ingin membuka lembar baru untuk menjalani kehidupan yang jauh lebih baik.


“Shabira, Kakak sudah pernah bilang bukan. Disini bukan rumah Kakak. Rumah Kakak ada di Hongkong. Kau boleh main-main ke sana bersama Kenzo. Kita bisa bertemu lagi lain waktu.” Zeroun menepuk pundak adiknya dengan mata berkaca-kaca.


Kenzo beranjak dari duduknya untuk mendekati Shabira dan Zeroun. Pria itu juga terlihat sedih saat harus melepas kepergian kakak ipar sekaligus sahabat terbaiknya itu. Pertama kali Kenzo terjun ke dalam bisnis gelap.


Zeroun adalah pria tangguh yang pertama kali ia kenal. Zeroun yang mengajarinya cara berbisnis. Cara melawan musuh dan melindungi diri. Meskipun jarak sempat memisahkan mereka berdua. Tapi, takdir lagi-lagi mempertemukan keduanya. Kini dua pria yang saling bersahabat itu berganti status menjadi saudara.


“Kakak Ipar, apa tidak bisa pergi 1 bulan lagi atau 2 bulan lagi,” rengek Kenzo sambil menatap wajah Zeroun. Membuat suasana yang tadi hening dipenuhi air mata berubah menjadi tawa.


“Kenzo, jaga adikku. Aku tidak bisa menunda kepergianku hari ini.” Zeroun melepas pelukannya dari tubuh Shabira. Menarik tangan Shabira dan Kenzo agar saling bersatu.


“Kalian harus hidup bahagia di sini. Aku juga akan selalu bahagia, jika kalian berdua bahagia di sini. Jangan pernah bermain dengan api lagi. Biarkan semua yang pernah terjadi menjadi satu kenangan untuk di ingat sesekali.” Zeroun mengukir senyuman.


Lukas berdiri di belakang Zeroun. Pria itu ingin mengingatkan jadwal keberangkatan mereka bebapa jam lagi. Mendengar perkataan Lukas, Serena menekuk dalam kepalanya. Wanita itu terlihat meneteskan air mata karena akan berpisah dari sahabat terbaiknya.


Daniel menatap Serena dengan wajah sedih. Pria itu menggenggam erat tangan Serena, sebelum menariknya agar berdiri. Satu senyuman kecil terukir di bibir Daniel, sebelum pria itu menarik tangan istrinya ke arah Zeroun berada.


Zeroun menatap wajah Serena dengan seksama. Matanya masih berkaca-kaca. Kedua tangannya terbuka untuk memeluk tubuh Serena.


Serena menatap wajah Zeroun sebelum menatap wajah Daniel. Wanita itu masih menunggu persetujuan suaminya saat ia ingin memeluk sahabatnya sebelum pria itu pergi. Daniel melepas genggaman tangannya, mengangguk pertanda setuju.


Serena berjalan pelan mendekati tubuh Zeroun. Tanpa permisi lagi, ia memeluk tubuh Zeroun dengan erat. Tangisnya pecah detik itu juga. Wanita itu membenamkan kepalanya di dalam pelukan Zeroun.


“Kau sangat menyebalkan. Kenapa kau harus membuatku menangis seperti ini,” protes Serena di tengah-tengah isak tangisnya.


“Maafkan aku, Serena.” Zeroun menepuk pelan pundak Serena. Memejamkan matanya untuk menikmati momen haru itu. Bibirnya kembali mengukir senyuman sebelum melepaskan pelukan itu.


“Jangan sedih lagi, kau harus berjanji padaku untuk selalu hidup bahagia.” Zeroun menghapus buliran air mata yang membasahi wajah Serena.


Serena mengangguk, “Zeroun, berjanjilah kau juga akan selalu bahagia di sana.”


“Ingat pesanku Daniel. Jaga permataku dengan baik.” Zeroun meraih tangan Daniel untuk menyatukannya dengan Serena.


“Kau tidak boleh memberikan goresan sedikitpun pada permata berhargaku ini,” sambung Zeroun dengan satu senyuman.


“Aku berjanji, Zeroun. Akan menjaga Serena dengan segenap jiwa dan ragaku.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya.


“Bos, sudah waktunya.” Lukas kembali mengingatkan Zeroun.


“Kakak,” ucap Shabira sebelum memeluk tubuh Zeroun lagi. Walaupun ia bisa menemui Zeroun di Hongkong. Tapi, rasanya perpisahan hari itu sangat menyesakkan dada. Wanita itu belum rela, kalau harus hidup berjauhan dengan kakak kandung yang baru saja ia temukan.


Semua orang yang ada di meja itu beranjak dari duduknya. Mereka ingin berjabat tangan dengan Zeroun, untuk melepas kepergian pria itu.


“Kau harus jadi wanita yang kuat. Jangan mudah menangis seperti ini.” Zeroun melepas pelukan Shabira. Menghapus air mata Shabira yang saat itu masih menetes deras.


Setelah membalas jabatan tangan satu persatu orang yang ia kenali. Bibirnya mengukir senyuman lagi, sebelum memutar tubuhnya. Pria itu berjalan dengan begitu tenang meninggalkan rumah utama Daeshim Chen. Langkahnya terasa begitu ringan saat ia bisa melepas orang yang ia sayangi, bersama orang yang bisa ia percaya.


‘Sudah waktunya untuk pindah dari tempat ini. Aku akan kembali pulang ke rumah yang selama ini mengajariku arti sebuah kehidupan. Aku sempat meninggalkan rumah itu untuk mencari kebahagiaan di luar. Tidak pernah aku sangka, kini aku kembali ke tempat itu lagi. Saat aku sudah berhasil mendapatkan kebahagiaan yang selama ini aku cari. _ Zeroun Zein


***


Malam telah tiba. Pesta pernikahan itu telah berakhir. Semua orang sudah pergi meninggalkan kediaman Kenzo Daeshim Chen. Hanya tersisa beberapa pelayan yang kini membersihkan lokasi pesta. Kenzo dan Shabira sudah berada di kamar milik mereka berdua.


Kamar itu dihias dengan suasana yang begitu romantis. Terdapat lilin-lilin yang menghiasi lantai. Kelopak bunga mawar bertaburan di atas tempat tidur beralaskan seprei berwarna putih.


Kenzo masuk ke dalam kamar sambil menggendong tubuh Shabira. Pria itu benar-benar bahagia di malam pengantinnya. Hari yang ia tunggu-tunggu selama ini telah tiba. Kesabaran yang ia miliki untuk menunggu Shabira, kini membuahkan hasil. Pria itu berhasil menikahi Shabira. Wanita yang sangat ia cintai sejak dulu.


Kenzo menurunkan tubuh Shabira dengan hati-hati. Menatap wajah wanita itu dengan seksama. Wajah Shabira terlihat sangat cantik malam itu. Membuat Kenzo tidak lagi bisa menunggu untuk menyentuhnya.


“Sayang, apa malam ini aku boleh menyentuhmu?” Satu pertanyaan yang membuat wajah Shabira berubah merah merona.


“Ya, Kenzo, sekarang aku istrimu, seluruh tubuhku ini milikmu.” Shabira berjalan mendekati tubuh Kenzo melingkarkan kedua tanganya di leher jejang milik Kenzo.


Kenzo mengerang menahan perasaanya, perlahan dia menyentuh dagu Shabira untuk mendongakan kepalanya. Mengecup bibir Shabira dengan begitu lembut, lama kelamaan ciuman itu berubah panas dan menggoda. Tanpa permisi lagi Kenzo menjelajahi seluruh bagian mulut Shabira. Pelukan Shabira mengencang, jemarinya mulai mengacak-ngacak rambut Kenzo bagian belakang dengan mata terpejam.


Ciuman itu berakhir saat Kenzo menyadari kalau istrinya sudah sulit bernapas. Kenzo melanjutkan ciumannya ke pipi Shabira, kemudian beralih ke telinga. Menghembus lembut napasnya di belakang telinga Shabira, membuat Shabira memekik kegelian dan tertawa kecil.


“Shabira, aku sangat menginginkanmu.”


Dengan lembut diangkatnya Shabira dan di baringkan diatas ranjang. Pria itu mengecup bibir Shabira lagi. Jemarinya mulai menyentuh lembut bagian depan gaun pengantin yang kini di kenakan Shabira.


“Apa aku boleh membuka penghalang ini?” tanya Kenzo dengan nada yang begitu sensual.


Shabira merona malu sebelum dia duduk dari tidurnya. Kenzo membantu membuka resleting gaun putih itu. sesekali ia menggoda Shabira dengan kecupan-kecupan kecil di bagian punggung Shabira yang terlihat mulus. Dalam waktu yang singkat gaun itu jatuh di permukaan lantai. kini wanita berstatus istrinya itu semakin tampil menggoda. Dengan penuh kesabaran, Kenzo melepas semua kain yang menutupi tubuh shabira. Hingga membuat wanita itu bertelanjang dada di depannya. Lagi-lagi pria itu mengecup bibir Shabira hingga wanita itu tergeletak di atas kasur.


Malam pertama itu berlangsung dengan penuh cinta dan bahagia. Hingga beberapa saat kemudian tubuh mereka berdua telah saling berpelukan.


“Aku mencintaimu, Shabira.” Pria itu mencium pucuk kepala Shabira sebelum berbaring di atas tempat tidur dan menarik tubuh istrinya agar tidur di pundak tangannya. Memeluk wanita itu dengan erat sebelum memejamkan mata. Sepasang pengantin baru itu terlelap di bawah selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.


.


..


...


Zeroun udah ada di Novel "Moving On".


...


..


.