Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 41



Beberapa mobil berwarna hitam, berhenti di hadapan Zeroun dan Serena. Daniel dan pengawal lainnya tiba di sana, untuk menyelamatkan Serena. Daniel keluar dari mobil, dan berlari kencang mendekati Serena.


“Sayang, kau tidak apa-apa? apa kau baik-baik saja?” Daniel menarik tubuh serena ke dalam pelukannya. Wajahnya sudah dipenuhi raut wajah khawatir.


“Aku baik-baik saja.” Serena tersenyum memandang Daniel.


Diva keluar dari dalam mobil, dan berlari mendekati Serena.


“Nona, apa ada yang terluka? saya melihat pria itu menodongkan pistol di hadapan, Nona. Anda berkelahi dengan pria itu.” Diva terus memeriksa tubuh Serena, dan memastikan kalau Serena baik-baik saja.


Biao dan Tama hanya diam tanpa kata. Melihat beberapa pria yang sudah tidak bernapas, tergeletak di parkiran. Keduanya menatap wajah Zeroun, sebelum saling memandang satu sama lain.


“Siapa yang ingin mencelakaimu?” Daniel memegang kedua pipi Serena dan menatapnya dengan penuh tanya.


“Aku tidak mengenal pria itu.” Serena hanya menundukkan pandangannya.


Daniel berbalik badan, memandang wajah Zeroun yang masih berdiri di sana, “Tuan, terima kasih. Anda sudah menyelamatkan istri saya.”


“Anda tidak perlu berterima kasih, Tuan Daniel. Saya melakukan semua ini, karena menolong sesama manusia.”


“Sekali lagi terima kasih, Tuan.”


Daniel tersenyum ramah. Ia merangkul pinggang Serena dan membawanya pergi dari tempat itu. Dengan cepat Serena menghentikan langkah kakinya.


“Ada apa?” tanya Daniel bingung.


Tanpa menjawab, Serena memutar arah tubuhnya. Lukas terus memandang wajah Serena. Serena berjalan mendekati Zeroun dan melempar detonator peledak ke hadapan Zeroun. Zeroun menangkap benda itu dengan begitu tenang. Tanpa banyak kata, Lukas berjalan ke bawah mobil yang di tumpangi Serena.


Daniel dan yang lainnya terperanjat kaget. Saat Lukas keluar dengan membawa benda peledak yang sangat bahaya. Lukas berjalan mendekati Zeroun, “Ini milik White Tiger, Bos.”


Serena memandang ke arah Zeroun dengan tatapan tidak terbaca. Daniel merangkul pinggang Serena untuk mengalihkan pandangan Serena dari Zeroun. Hati Daniel sudah diselimuti rasa cemburu. Ia tidak sanggup, jika harus berlama-lama melihat Serena dan Zeroun bersama.


“Sayang, kau baik-baik saja? ayo kita pulang. Kau harus istirahat,” bisik Daniel.


Serena tidak memiliki banyak pilihan, ia mengikuti perintah Daniel. Serena mengikuti langkah Daniel yang kini membawa tubuhnya. Tama masuk ke dalam mobil Serena bersama Diva. Sedangkan Biao masuk ke dalam mobil yang sama dengan Daniel.


Di dalam mobil, Serena memandang ke arah luar jendela sambil melamun. Ia tahu, Wubin masih hidup dan akan terus menyerang dirinya. Hatinya sedikit tenang, saat melihat sikap Zeroun yang sudah tidak lagi memperdulikan dirinya.


“Sayang ….” Daniel memecah lamunan Serena. Menarik lembut tangan Serena.


“Aku sudah bilang, seharusnya kau membawa penjaga. Tapi kau sangat keras kepala.” Protes Daniel. Ia sangat takut, jika Serena berada dalam bahaya.


“Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir.” Serena tersenyum manis.


“Wubin yang melakukan semua ini?” tanya Daniel dengan penuh tanya.


Serena menggeleng pelan, ia tidak ingin membahas masalah itu bersama Daniel. Ia tidak ingin Daniel semangkin khaatir kepada dirinya.


Kenapa kau masih melindungiku? aku bisa melakukan semuanya sendiri. Aku tidak ingin mempersulit hidupmu lagi.


***


Zeroun masih berdiri diam di parkiran. Ia menggenggam erat detonator peledak yang kini ada di genggaman tanganya.


Lukas terus memperhatikan raut wajah Zeroun saat ini. Suasana hening mencengkam, tidak ada satu orangpun yang berani berbicara saat ini. Semua orang tertunduk takut menunggu perintah Zeroun.


“Sepertinya dia sudah memberi undangan untuk kita. Kita harus mengunjunginya saat ini.” Zeroun memasang senyum tipis dengan tatapan mata yang sangat tajam.


Zeroun dan beberapa pengawal lainnya menyerang markas White Tiger. Kesabaran Zeroun sudah semangkin habis. Ia ingin membunuh Wubin saat ini juga. Beberapa pria bertubuh tegab menghalangi jalan masuk Zeroun. Dengan wajah santai dan satu gerakan profesional, Lukas berhasil menaklukan penjagaan depan.


Lukas berjalan masuk lebih dulu, untuk memastikan keselamatan Zeroun. Di dalam markas, pasukan Zeroun di sambut dengan beberapa pria lagi. Namun, Lukas berhasil mengalahkan mereka dengan cepat dan mudah.


Hingga tiba-tiba, semua orang mengeluarkan pistol mereka dan saling menodong satu sama lain. Pria yang tadi siang kembali muncul untuk menyambut Zeroun dengan sinis.


“Selamat datang, Zeroun Zein. Anda sudah di tunggu di dalam.” Pria itu memberi jalan kepada Zeroun untuk masuk menemui Wubin.


Di dalam ruangan yang hanya berdinding kaca. Ruangan itu sangat transparan. Dari arah luar, semua orang bisa melihat ke arah dalam. Wubin duduk dengan tenang, ia menyambut kedatangan Zeroun saat ini.


“Kali ini kau yang berkunjung ke markas sederhana milikku. Apa kau suka? tempatnya sangat menyenangkan bukan? Apa kau datang untuk membunuhku?” Wubin menatap wajah Zeroun dengan penuh kebencian.


“Aku hanya sedikit menghindar dan tidak melawanmu akhir-akhir ini. Karena aku pikir, kematian terlalu mudah untuk orang seperti dirimu.”


Zeroun menjatuhkan dirinya di sofa empuk berwarna merah. Ia menuang sebotol wine ke dalam gelas kristal.


“Kau terlalu percaya diri, Zeroun Zein.” Wubin tersenyum tipis memandang Zeroun. Ia beranjak dari duduknya.


“Aku ke sini hanya ingin memperingatimu. Jangan pernah libatkan wanita, dalam masalah kita.” Zeroun meneguk wine itu secara perlahan.


“Kau bahkan membunuh pegawaiku, Zeroun.” Wubin tersenyum penuh kebencian berjalan mendekati Zeroun.


“Kau yang mengirim kematian untuknya.” Zeroun meletakkan gelas itu di kembali ke atas meja. Menatap Wubin dengan tatapan membunuh.


Wubin tidak lagi bisa menahan emosi. Ia berlari mendekati tubuh Zeroun, dan menarik kerah bajunya. Pertengkaran itu membuat semua anak buah mereka, saling menodongkan senjata. Zeroun memberi tanda kepada Lukas, untuk tidak memancing keributan.


“Aku ke sini. Hanya ingin meminta satu hal padamu, jangan dekati wanita itu lagi. Dia tidak terlibat dalam masalah ini.” Zeroun melepas paksa tangan Wubin. Merapikan jas yang kini ia kenakan.


“Wanita … sepertinya, aku semangkin tertarik dengannya. Dia begitu berarti dalam hidupmu bukan? bukan hanya nyawamu yang ku inginkan. Tapi nyawa


Erena, juga harus habis di tanganku.” Wubin membalas tatapan Zeroun, hingga pandangan keduanya saling berhadapan.


Zeroun masih menahan amarahnya, tidak ingin menyerang lebih dulu. Ia terus menatap mata Wubin tanpa berkedip. Mengepal kuat kedua tangannya.


“Aku akan melepas wanita itu, jika malam ini kau berhasil mengalahkanku!” Wubin membuka jas hitamnya, berjalan keluar dari ruangan itu.


Zeroun mengikuti langkah Wubin, untuk menerima tantangan yang kini di berikan.


Kedua geng mafia itu melingkari arena pertarungan. Zeroun dan Wubin tampak berdiri saling menatap benci. Lukas berjalan mendekat ke arah Zeroun, dan membuka jas milik Zeroun. Masing-masing mengeluarkan pistol yang tersimpan.


Pertarunganpun di mulai, Zeroun memiting Wubin dengan begitu mudah. Wubin semangkin tambah agresif, dia kembali membalas Zeroun. Keduanya saling memukul, hingga Zeroun berhasil menekuk kedua tangan Wubin dan memukul wajahnya dengan sangat sadis.


Wubin jatuh terjerembam, ia sudah kalah dalam pertarungan. Zeroun melangkah mundur untuk meninggalkan Wubin, ia tahu kalau Wubin tidak lagi bisa melawan dirinya. Zeroun tidak ingin langsung membunuh Wubin saat ini, meskipun ia memiliki dendam yang begitu besar.


Wubin mengambil belati yang tersimpan di sakunya. Ia kembali bangkit dengan sisa tenaganya dan menyerang Zeroun. Belati itu menusuk bagian perut Zeroun, cairan merah keluar dengan begitu deras. Zeroun jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Wubin juga tidak memiliki kekuatan lagi, ia pun jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri.


**Hallo Readers.


karena minggu ini jumlah vote gak sampek 20k. Jdi author gk crazy up.


Terima kasih saya ucapkan untuk yang uda mau like, komen, vote poin dan koin utk karya ini.


Semoga rejeki kita selalu berkah. aminn...😊😊


Author sayang readers....😚😚😚😚😚**