
Masih belum berada pada zona yang aman, bukan hanya pengawal keluarga Edritz Chen yang sedang mencari keberadan Daniel dan Serena. Tetapi seluruh bawahan Arion dan Wubin juga telah berpencar untuk menemukan keberadaan Serena terlebih dahulu.
Beberapa di antaranya sudah menyamar untuk memperoleh informasi akan keberadaan Serena. Seseorang yang berada tidak jauh dari vila sudah terlihat dengan senyum lebar yang terukir di bibirnya. Informasi yang baru saja ia dengar adalah sebuah kabar gembira bagi sang atasan. Segera ia mengelurkan ponsel yang tersimpan di saku celananya.
“Tuan, mereka berada di hutan. Seseorang dalam perjalanan menyusul mereka,” ucapnya saat memberi kabar tentang keberadaan Serena melalu panggilan telepon genggamnya.
“Baik Tuan, saya akan segera ke sana,” sambungnya lagi, dan memutuskan panggilan telepon itu.
Kenzo terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Merasa tidak memiliki persiapan sebelumnya, Kenzo mulai mengkhawatirkan keberadaan dirinya saat ini. Bukan hanya sebuah firasat, kenyataan buruk sudah ada di depan mata. Segerombolan orang bersenjata dan mobil-mobil yang sudah menghalangi jalan Kenzo sudah siap menyambut kedatangan mereka bertiga.
Tidak hilang akal, Kenzo segera menekan layar handphonenya untuk memberi kode pertanda bahaya kepada semua bawahannya untuk segera datang menolongnya.
“Mereka ada di sini Daniel,” ucap Serena dengan suara serak.
Hatinya kembali di penuhi kekhawatiran, rasa nyaman yang baru saja ia rasakan beberapa menit sebelumnya harus terganti lagi menjadi suatu kenyataan buruk. Hanya diam di dalam mobil, seperti hanya menunggu malaikat maut datang menjemput. Kini Kenzo dan Daniel sudah sama-sama memegang sebuah pistol dan bersikap waspada terhadap beberapa orang yang sudah melangkah mendekati mobilnya.
“Daniel, apapun yang terjadi tetap lindungi Serena. Pengawalku akan segera tiba beberapa menit lagi, kita harus bisa mengulur waktu sampai mereka tiba,” ucap Kenzo memberi penjelasan kepada Daniel.
“Serena, tetap di dalam mobil. Biar aku dan Kenzo yang turun untuk menghadapi mereka,” perintah Daniel kepada Serena dengan tatapan mata tajam memandang wajah Serena.
Hanya mengangguk pelan, meskipun hatinya ingin selalu ada di samping Daniel tapi saat ini ia tidak ingin membuat Daniel dalam masalah karena keegoisannya. Dengan perlahan Daniel dan Kenzo melangkahkan kakinya turun dari mobil. Tatapan kebencian sudah melekat di wajah keduanya.
“Siapa kalian, apa yang kalian inginkan dari kami,” ucap Kenzo memulai pembicaraan.
“Serahkan wanita itu pada kami, dan kalian akan terbebas dari semua masalah ini,” jawab Wubin santai.
Pria itu memiliki banyak nyawa cadangan, lihatlah wajahnya yang sudah tidak karuan itu dan kini dia masih berani mengancamku.
Kenzo memandang sini ke arah lawannya saat itu.
“Tidak akan, kami tidak akan menyerahkannya semudah itu,” balas Kenzo santai.
Kenzo begitu peduli dengan keselamatan Serena, tapi ini bukan saatnya untuk membahas hal itu.
Daniel memandang wajah Kenzo sebelum memandang ke arah Serena yang masih berada di dalam mobil.
“Aku tidak perlu meminta persetujuan dari kalian berdua, karena saat ini juga aku akan membawanya pergi.” Wubin maju beberapa langkah mendekati mobil.
Sebuah pistol yang di genggam oleh Kenzo sudah siap menyambut kedatangan Wubin saat itu.
“Wah ... wah ... kau ingin bermain-main denganku, anak muda.” Membuang pistol yang ada di genggamannya, “Mari lawan aku dengan tangan kosong.” sambil mengacungkan jarinya di hadapan Kenzo.
“Kita harus tetap mengulur waktu Daniel, aku akan melawannya. Kau tetap lindungi Serena,” bisik Kenzo pelan di telinga Daniel.
“Baik lah! Kenzo, berhati-hatilah,” jawab Daniel pelan.
Arion yang sudah geram dengan keberadaan Serena yang tidak kunjung bisa ia dapatkan sudah menodongkan sebuah pistol kearah Serena. Matanya sudah dipenuhi api kebencian yang ingin segera ia selesaikan.
Duarr
Suara tembakan di mulai, Daniel berhasil membuat pistol yang digenggam Arion terjatuh dan tergeletak di atas tanah. Seperti sebuah aba-aba, suara tembakan itu memancing semua orang yang ada di sana untuk menyerang Daniel.
Tembakan ia arahkan ke sembarang arah, hinga peluru yang ia miliki tidak sebanding dengan jumlah orang yang ada di hadapanya. Kini Kenzo dan Daniel larut dalam pertarungan yang cukup menegangkan itu. Serena hanya bisa diam mematung melihat pemandangan yang kini ada di hadapannya. Hatinya tidak lagi bisa sabar untuk menunggu.
Tanpa memperdulikan janji yang sudah ia katakan untuk berdiam diri di mobil, kini Serena sudah turun dari mobil. Sebuah pistol yang baru saja ia temukan di dalam laci mobil Kenzo menjadi senjatanya untuk menyelamatkan Daniel dari orang-orang yang ingin mencelakainnya.
DUARR! DUARR!
Peluru mulai keluar dari pistol yang ada di tangan Serena, secara profesional Serena menembak dengan santai dan tepat pada Sasaran. Ekspresi wajahnya dingin. Tatapan matanya tajam seperti ingin melahap siapa saja yang menghalanginya.
Beberapa orang menjadi korban dari peluru yang di lepas oleh Serena. Langkah Serena semakin dekat dengan tubuh Daniel. Hanya ada Daniel yang terukir di kepalanya, Secepat mungkin ia melangkahkan kakinya yang kini hampir mendekati punggung Daniel.
DUARR!
Seperti sebuah bom waktu yang baru saja diledakkan oleh Arion di hadapan Serena. Kini pandangan matanya mulai gelap, sosok wajah Daniel juga sudah samar-samar seperti sebuah bayangan.
Dengan tegar ia memberanikan dirinya untuk melihat ke arah perut yang sudah di penuhi banyak darah itu. Dengan senyum di bibir dan sebuah kata yang sangat ingin untuk ia sebutkan detik ini.
“Daniel ....” ucap Serena lirih sebelum akhirnya ia terjatuh di atas tanah.
“Serena!” teriak Daniel dan Kenzo bersamaan.
Kini sosok yang menjadi target utama untuk mereka lindungi sudah terjatuh di atas tanah. Cucuran darah sudah mengganti warna dres putih yang dikenakan Serena menjadi merah.
Dengan sigap Kenzo mengambil pistol yang tidak jauh dari posisi ia berdiri, dua tembakan ia tujukan ke arah Wubin dan Arion secara bersamaan.
Dalam waktu yang bersamaan, segerombolan bawahan keluarga besar Chen sudah tiba di lokasi. Tidak berada di atas kemenangan, Wubin dan Arion sudah tidak memiliki kemampuan untuk melawan lagi.
Jumlah yang sudah tidak tertandingi itu telah membekuk semua orang yang berada di pihak Arion. Tidak memiliki jalan keluar untuk kabur, kini Wubin dan Arion hanya bisa pasrah melihat kekalahan yang datang pada nasib hidupnya.
“Setidaknya aku sudah berhasil menembakmu, Erena,” ucapnya pelan dengan senyum licik yang terukir di bibirnya.
Hingga akhirnya ia juga terjatuh karena sudah tidak mampu lagi menahan sakit sebuah tancapan peluru yang tepat mengenai dadanya.
Daniel segera berlari menemui Serena, tubuh Serena kini sudah ada dalam pelukannya. Air mata pun menetes dari mata Daniel. Seperti tidak memiliki tenaga lagi. Daniel hanya diam sambil memeluk kepala Serena yang ada tepat di depan dadanya.
“Serena, bertahanlah!”