Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 2



Mobil yang dikendarai Lukas, sudah tiba di halaman rumah yang begitu besar. Satu pengawal berlari cepat ke arah mobil Zeroun yang baru saja tiba. Membuka pintu Zeroun dengan hati-hati. Dan menunduk hormat saat Zeroun sudah keluar dari mobil.


Zeroun melangkah cepat masuk ke dalam rumah, tanpa memperdulikan pengawal yang menunduk hormat menyambutnya. Langkahnya semangkin ia percepat, menuju ke arah kamar. Lukas melangkah cepat ke arah dapur, untuk mencari obat-obatan untuk Zeroun.


Di dalam kamar, Zeroun membuka dasinya secara paksa. Melemparkan jas hitam itu ke sembarang arah. Zeroun membuka kemeja putih itu, secara perlahan.


Memandang tubuhnya yang kini berada di depan cermin. Terlihat kain kecil berwarna merah hitam, yang kini terikat di tangan kanannya.


Zeroun tersenyum sesaat sebelum mengambil satu buah pis*u di laci lemarinya. Zeroun membuka kain kecil itu dan meletakkannya di atas meja. Zeroun mengarahkan pis*u itu ketangan kanannya. Dan mencungkil peluru itu, agar keluar dari tangannya.


Zeroun teriak begitu keras, hingga teriakannya memenuhi isi kamarnya saat ini. Peluru itu berhasil ia keluarkan, tetesan cairan merah berkucur deras di tangan kanannya saat ini.


“Bos!”


Lukas berlari kencang menghampiri Zeroun.


Dengan sigap, Lukas menutup luka itu dengan kapas. Dan melilitkan perban, di tangan Zeroun. Wajahnya terlihat khawatir saat melihat Zeroun hanya diam tanpa kata.


“Maafkan saya bos,” ucap Lukas penuh rasa bersalah.


“Kau tidak perlu minta maaf,” jawab Zeroun dingin.


Lukas baru saja menyelesaikan pengobatannya terhadap Zeroun. Lukas melangkah mundur dari hadapan Zeroun.


“Tolong segera minum obat ini bos.” Lukas melangkah pergi meninggalkan kamar Zeroun.


Zeroun mengambil butiran obat yang sudah di siapkan Lukas, dan meminumnya dengan cepat. Mengambil satu gelas air, yang sudah tersedia di sana. Menghabiskan isinya dengan begitu cepat.


“Arion! Aku akan membalasmu!”


Zeroun berdiri tegab di depan cermin, memandang tubuhnya dengan seksama. Tubuhnya terlihat begitu sempurna. Di bagian dadanya terdapat tato naga yang menjadi simbol gengnya saat ini. Perutnya yang six pack, membuat dirinya terlihat sangat kekar.


Zeroun adalah ketua geng mafia Gold Dragon. Geng mafia terkuat yang masih jaya saat ini. Arion adalah ketua geng White Tiger, geng mafia yang menjadi musuh Zeroun. Dan ingin menghabisi Zeroun dengan kejam. Merebut geng mafia yang di miliki Zeroun, dan membuat Zeroun bertekuk lutut di kakinya.


Zeroun melangkah ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Hari ini ia menjalani harinya dengan begitu melelahkan.


Zeroun berendam di dalam bak mandi, sambil memejamkan kedua matanya. Di dalam pikirannya kembali muncul, wajah Erena yang berbalik badan untuk memandangnya. Zeroun tersenyum bahagia, saat wajah Erena kini memenuhi pikirannya.


“Kenapa kau selalu muncul di dalam pikiranku, Erena.”


Lukas kembali masuk ke dalam kamar Zeroun, membawa satu pelayan untuk membersihkan kamar Zeroun saat ini. Lukas mendekat ke arah pintu kamar mandi, dan mengetuknya cepat.


“Bos, apa anda ingin makan? Saya akan menyiapkan makan malam anda,” ujar Lukas yang menanti jawaban.


“Aku tidak ingin makan! tinggalkan aku sendiri!” teriak Zeroun dari dalam kamar mandi.


Lukas menjauh dari pintu dan melangkah pergi meninggalkan kamar Zeroun. Satu pengawal yang tadi ikut masuk dengannya, juga pergi mengikuti Lukas dari belakang.


Beberapa saat kemudian, Zeroun sudah selesai dengan ritual berendamnya. Mengenakan setelan santai, Zeroun melangkah ke arah tempat tidur.


Menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman, dan mulai memejamkan matanya yang indah. Zeroun larut dalam tidur malamnya dan melupakan segala kekacauan yang terjadi saat ini.


Malam yang penuh dengan kelelahan sudah biasa ia lewati. Hidup Zeroun memang selalu di penuhi dengan ragam masalah, yang tidak kunjung memperoleh solusi.


***


Pagi yang cerah kembali muncul. Suasana rumah Zeroun terlihat sangat tenang. Sebuah rumah yang berukuran luas dan di lengkapi satu kolam renang yang indah. Beberapa pengawal bersenjata terlihat berdiri tegab untuk berjaga-jaga. Di setiap pintu dan sudut ruangan terdapat sosok pengawal.


“Kenapa aku memimpikannya! Wanita itu sudah membuatku gila!” ucap Zeroun frustasi.


Satu ketukan pintu, mengalihkan pandangan Zeroun saat ini.


“Masuk!” ucap Zeroun singkat.


Lukas masuk ke dalam kamar dengan mengenakan setelan yang sudah rapi. Membungkuk penuh hormat, sebelum mengungkapkan tujuannya saat ini.


“Selamat pagi bos! Saya akan menyiapkan sarapan untuk anda, anda ingin makan di kamar atau di bawah.”


“Aku akan makan di bawah!” jawab Zeroun singkat.


“Baik bos, saya akan menyiapkannya. Ada yang ingin bertemu dengan anda.”


“Siapa?”


“Wanita bernama Alice.”


“Aku akan menemuinya setelah selesai mandi.”


“Baik bos.” Melangkah mundur meninggalkan Zeroun.


Lukas melangkah pergi, untuk meninggalkan Zeroun sendiri di dalam kamar.


Zeroun turun dari tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya yang semalam terasa lelah, pagi ini sudah bertenaga lagi.


“Untuk apa Alice datang kemari,” ucap Zeroun pelan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Zeroun sudah keluar dari kamar mandi. Zeroun sudah mengenakan pakaian formal yang biasa ia kenakan. Menyemprotkan wewangian parfum, untuk menonjolkan sisi maskulinnya.


Zeroun melangkah cepat meninggalkan kamarnya saat ini. Di depan pintu, dua pengawal sudah menunduk hormat menyambut Zeroun. Zeroun terus saja melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan.


Beberapa pelayan terlihat menyiapkan sarapan untuk Zeroun. Satu pelayan juga sudah menarik kursi untuk di duduki Zeroun saat ini. Zeroun hanya mengambil dua lembar roti yang di beri sedikit selai. Menyantapnya dengan cepat, lalu meminum jus jeruk yang sudah tersedia di sampingnya.


Zeroun kembali beranjak dari duduknya, untuk melangkah ke arah ruangan pribadi miliknya.


Di dalam ruangan itu, terdapat seorang wanita dengan dres hitam yang sangat ketat. Dres itu menjulang panjang ke bawah, namun terbuka hingga ke atas pa*anya. Baju itu tidak menutupi bagian punggungnya secara keseluruan. Hingga satu tato yang terukir indah di punggung belakang wanita itu, tampak begitu sangat jelas.


“Zeroun Zein, senang bertemu denganmu.” Alice menyambut kedatangan Zeroun dengan satu pelukan hangat.


“Untuk apa kau ke sini?” tanya Zeroun dingin.


Zeroun menuang sebotol anggur ke dalam gelas bertangkai, dan memberikannya kepada Alice. Alice menerima minuman itu, dan meneguknya secara perlahan. Tatapan matanya terus ia arahkan ke wajah tampan milik Zeroun.


“Aku hanya merindukanmu, sayang.” Alice tersenyum, meletakkan gelas itu dengan penuh hati-hati.


“Benarkah?” tanya Zeroun dengan raut wajah tidak percaya.


Alice melangkah mendekat ke tubuh Zeroun. Mengalungkan kedua tangannya di leher Zeroun, dan mencium leher Zeroun dengan penuh gair*ah.


“Aku ingin menjadi kekasihmu,” bisik Alice yang kini menggoda Zeroun di telinganya.


Like, Komen, Vote