Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 42



Di rumah utama.


Siang sudah berganti malam. Serena terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Ia baru saja mengalami mimpi buruk. Serena memandang wajah Daniel yang duduk memandang wajahnya. Serena duduk dan bersandar di sebuah bantal.


“Apa aku tidur terlalu lama?” tanya Serena dengan wajah murung.


Daniel mengambil tangan Serena, menciumnya, “Kau terlihat sangat lelah, sayang. Apa mimpi buruk?”


Serena mengangguk cepat. Wajahnya dipenuhi keringat. Ia melamun sejenak, mengingat kembali mimpi buruk yang baru saja ia alami.


Apa dia dalam bahaya.


“Sayang, apa yang kau pikirkan?” Daniel mengusap lembut rambut Serena.


“Apa Shabira sudah pulang?” Serena mengalihkan pembicaraan.


“Belum. Mungkin sebentar lagi dia akan datang bersama Kenzo.” Daniel beranjak dari tempat tidur.


“Daniel ….” Serena menarik tangan Daniel, memandangnya dengan seksama.


“Apa kau marah padaku?” Serena kembali ingat, pertemuannya dengan Zeroun tadi siang.


Daniel kembali duduk menatap wajah Serena. Ia menyentuh pipi Serena dengan lembut. Daniel mengukir satu senyuman.


“Aku gak marah, sayang. Aku sangat khawatir padamu. Aku takut kehilangan dirimu lagi.” Wajah Daniel berubah sedih.


“Maafkan aku karena sering membuatmu khawatir.” Serena memeluk tubuh Daniel. Ia tahu, apa yang kini di rasakan oleh Daniel.


Tok … tok …


Suara ketukan pintu mengalihkan keduanya. Serena melepas pelukannya dari tubuh Daniel.


“Ada Apa?” tanya Daniel singkat.


“Tuan Kenzo ada di bawah, Tuan.” Teriak Pak Han dari luar.


“Aku akan segera turun,” jawab Daniel dari dalam kamar.


“Baik, Tuan.”


Daniel memandang wajah Serena, “Kenzo pasti datang untuk mengantar Shabira, ayo kita turun dan temui mereka.”


Serena hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia beranjak dari tempat tidur. Daniel merangkul pinggang Serena membawanya turun ke bawah.


Di ruang utama, Kenzo dan Shabira duduk di sofa yang sama. Shabira bersandar sambil memandang ke atas. Sedangkan Kenzo, sibuk mengotak atik handphone yang kini ia genggam. Dahinya mengkerut saat melihat satu pesan singkat yang baru saja ia terima. Ia memandang wajah Shabira dengan raut wajah khawatir.


“Ada apa?” tanya Shabira penasaran.


“Zeroun menyerang markas White Tiger,” ucap Kenzo pelan. Ia mengkhawatirkan keselamatan Zeroun saat ini. Sahabat yang pernah membantu bisnisnya.


Shabira terdiam. Ia juga menyimpan rasa khawatir terhadap keselamatan Zeroun saat ini.


“Apa tidak sebaiknya kita pergi untuk membantunya?” Shabira menarik tangan Kenzo, ingin membawanya pergi membantu Zeroun saat ini.


“Perkelahiannya sudah selesai. Wubin menusuk belati ke perut Zeroun. Andai saja kita dapat info ini jauh lebih cepat, aku akan pergi untuk membantunya,” ucap Kenzo dengan raut wajah Kecewa.


“Kenapa dia bisa seceroboh itu. Ia pemimpin Gold Dragon, kenapa bisa sampai tertusuk sebuah belati!” protes Shabira. Di sela-sela kekhawatirannya, Shabira juga tidak rela kalau Zeroun dalam bahaya. Ia sudah menganggap Zeroun sebagai atasan yang selalu ia hormati.


“Belati?” ucap seseorang dari kejauhan.


Kenzo dan Shabira kaget saat mendengar suara Serena. Shabira beranjak dari duduknya, untuk mendekati posisi Serena saat ini.


“Kakak, kakak sejak kapan berdiri di situ,” ucap Shabira penuh basa-basi.


Daniel melepas rangkulannya dari pinggang Serena. Ia duduk di salah satu sofa yang tidak jauh dari Kenzo. Shabira menarik tangan Serena agar duduk bersama dengannya.


Apa Wubin menyerangnya malam ini? kenapa dia harus terluka.


Serena masih melamun memikirkan keadaan Zeroun saat ini.


“Kakak, apa kakak baik-baik aja? aku dengar tadi siang kakak di serang.” Shabira memecah lamunan Serena.


“Aku baik-baik saja.” Serena mengukir senyuman untuk menyembunyikan raut wajah sedihnya saat ini.


Daniel terus memandang wajah Serena dengan seksama.


Aku tahu, saat ini kau pasti sangat mengkhawatirkan pria itu, Serena.


“Daniel, Aku dan Shabira belum makan malam. Ayo kita makan. Tadi aku sudah menyuruh Pak Han untuk menyiapkan makan malam untuk kita.” Kenzo memecah suasana yang hening itu.


“Sayang, ayo kita makan.” Daniel beranjak dari duduknya, berjalan ke arah Serena.


Serena tersenyum manis, ia berdiri dari duduknya mendekati tubuh Daniel. Serena menggandeng tangan Daniel dengan mesra.


“Ayo kita makan, Sayang.” Serena membawa tubuh Daniel ke arah meja makan.


Kenzo juga meraih tangan Shabira, dan membawanya ke arah meja makan.


Beberapa pelayan telah selesai menyajikan makan malam untuk Daniel dan Kenzo. Pelayan-pelayan itu menunduk hormat saat melihat Daniel dan yang lainnya tiba. Pelayan itu membuka kursi, untuk duduk sang majikan.


Serena duduk di sebelah kanan Daniel. Sedangkan Kenzo dan Shabira, duduk di sebelah kiri Daniel.


Pelayan-pelayan itu membungkuk hormat, sebelum pergi meninggalkan meja makan.


Suasana ruang makan itu terlihat sangat santai. Sesekali Shabira merebut makanan Kenzo untuk mengganggunya. Serena dan Daniel ikut tertawa saat melihat tingkah kekanak-kanakan Shabira dan Kenzo.


Beberapa saat kemudian, makan malam telah berakhir. Dengan cepat, para pelayan datang untuk merapikan meja makan.


“Dimana Biao dan Tama?” tanya Kenzo sambil mencari.


“Di ruang kerja. Ada beberapa pekerjaan yang tertunda tadi siang,” jawab Daniel sambil memandang wajah Serena.


“Maafkan aku, aku selalu merepotkan.” Serena menunduk dengan raut bersalah.


“Itu artinya, jangan pergi sendiri tanpa pengawal lagi. Kau sudah kalah, Sayang. Mulai sekarang, jangan membantah peraturanku lagi.” Daniel mencubit pucuk hidung Serena.


“Jangan khawatir, Tuan. Mulai besok, Aku akan selalu mendampingi Kak Erena. Kami akan baik-baik saja. Aku akan melindunginya seperti dulu lagi.” Shabira memandang wajah Daniel untuk membela Serena.


“Sayang, Aku juga gak mengijinkanmu pergi tanpa pengawal.” Kenzo angkat bicara.


“Aku bisa melindungi diriku dan Kak Erena,” protes Shabira tidak terima.


“Sayang, jangan terlalu sombong, kalian cuma berdua. Mereka akan datang dari segala penjuru. Aku gak mau kalian berdua dalam bahaya.” Kenzo tidak ingin kalah debat dengan Shabira malam ini.


Serena dan Shabira hanya bisa diam tanpa kata. Sudah tidak ada lagi yang bisa di ucapkan untuk membela diri saat ini, selain menuruti peraturan baru yang di buat Daniel dan Kenzo.


“Daniel, biar aku yang memilih pengawal untuk Serena dan Shabira,” ucap Kenzo di sela-sela keheningan.


“Aku serahkan semuanya padamu, Kenzo.” Daniel tersenyum penuh kemenangan.


Maafkan aku sayang. Aku harus melakukan semua ini, demi keselamatanmu.


Daniel memandang wajah Serena yang berubah murung dan tidak bersemangat. Kenzo juga memandang wajah Shabira yang menunduk sedih.


Kenzo menggenggam tangan Shabira, “Jangan seperti itu. Ini semua karena cintaku yang besar untukmu, sayang.”


“Aku mau istirahat.” Shabira beranjak dari duduknya.


“Sayang, apa kau marah padaku.” Kenzo menahan langkah Shabira. Daniel dan Serena memandang wajah Shabira dan Kenzo secara bergantian.


“Kau menyebalkan!” Shabira memasang wajah kecewa.


“Sayang ….” bujuk Kenzo dengan kesabaran.


“Tapi aku bisa jaga diri. Sejak dulu, gak ada yang bisa mengalahkan kami berdua.” Shabira kembali duduk sambil protes.


Serena bersandar dengan tenang, menarik napas dalam, “Shabira, sebaiknya kita turuti perkataan Kenzo. Sekarang Wubin sudah menggunakan bahan peledak. Aku tidak pernah berurusan dengan benda seperti itu sebelumnya.”


“Bahan peledak? Bom?” Wajah Shabira berubah panik.


Serena mengangguk cepat, “Aku akan menang melawannya tadi siang. Kalau pria itu tidak mengeluarkan detonator peledak.”


Shabira memandang wajah Kenzo, “Apa kau bisa menjinakkan Bom?” tanya Shabira penuh keraguan.


Kenzo menggeleng pelan, “Cuma Zeroun dan Lukas yang suka main-main dengan benda seperti itu.”


Kenzo memandang wajah Serena. Ia tahu, kalau Serena pasti tahu kemampuan Zeroun. Serena membalas pandangan mata Kenzo dengan penuh arti. Meskipun ia tidak mengeluarkan kata, tapi Kenzo sudah mengerti arti tatapan mata Serena saat itu.


Kenapa aku bisa begitu bodoh. Di sini ada Daniel. Kenapa aku membahas masalah Zeroun di hadapannya.


Daniel hanya menjadi pendengar setia di malam itu. Baginya, Serena setuju dengan pengawal yang ia siapkan, sudah membuat suasana hatinya gembira. Ia tidak ingin membahas masalah Zeroun lagi.