
Semua orang yang ada di lokasi itu terbelalak kaget, saat melihat logo yang melekat pada jas hitam pria-pria misterius itu.
“Tuan, ini ….” ucapan Biao terhenti.
“Bukannya kau bilang pasukan S.G. Group sudah tidak tersisa lagi?" Daniel menatap wajah Biao dengan tatapan tajam.
“Daniel, siapa yang mengirim orang sebanyak ini untuk menolong kita?” Kenzo menatap wajah Daniel untuk menagih satu jawaban.
Handphone Daniel bergetar. Pria berjas hitam itu mengambil handphone dari dalam saku. Menatap layar handphone sambil mengerutkan dahinya.
“Mama!” celetuk Daniel kaget.
“Pasti ini hadiah dari Ny. Edritz?” Kenzo melipat kedua tangannya.
“Siapa Ny. Edritz?” Shabira memandang wajah Kenzo.
“Mertua Serena,” jawab Kenzo singkat.
“Kak Erena punya mertua yang keren. Ia bisa membantu kita saat kita berada dalam posisi genting seperti ini.” Mata Shabira berkaca-kaca karena bahagia.
Daniel memandang wajah Kenzo dan Biao secara bergantian, sebelum mengangkat panggilan masuk mama kesayangannya itu.
“Hallo, Ma. Apa Mama baik-baik saja?” tanya Daniel dengan penuh basa-basi.
[Jangan terlalu ramah Daniel. Kau sangat mengecewakan mama. Sejak awal mama memintamu untuk menjaga Serena dengan baik. Kenapa menantu kesayangan mama bisa sampai di culik, dan hampir saja menjadi korban ledakan bom yang mematikan itu.]
“Maafkan Daniel, Ma. Daniel ….” Belum sempat ia membela diri, Ny. Edritz sudah melanjutkan perkataanya.
[Daniel. Kalau saja mama tidak mengirim orang untuk melihat keadaanmu dan Serena, mama tidak akan pernah tahu apa yang terjadi pada Serena. Cepat bawa Serena pulang, dan mama gak mau Serena terluka sedikitpun. Apa kau mengerti, Daniel?] Nada Ny. Edritz semakin memekakan telinga.
“Daniel janji, Ma. Daniel akan membawa Serena dengan selamat.”
Tanpa banyak kata lagi. Ny. Edritz memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Daniel masih terpaku memperhatikan layar handphonenya.
“Sepertinya kau mengalami rumah tangga yang sama dengan orang tuamu, Daniel.” Ledek Kenzo sambil menahan tawa.
“Apa maksudmu, Kenzo?” Daniel menatap wajah Kenzo dengan tatapan tidak suka.
“Lebih jago istri dari pada suami.” Kenzo tidak lagi bisa menahan tawa, ia melampiaskan tawanya dengan puas.
Shabira mencubit perut Kenzo, “Apa yang kau katakan. Hal itu juga berlaku dalam rumah tangga kita nanti.” Menatap wajah Kenzo dengan senyuman penuh arti.
“Maafkan Aku sayang. Tidak masalah rumah tangga lebih jago istri dari pada suami. Yang penting kita saling mencintai.” Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya.
Biao hanya menunduk, agar tawa yang terukir di bibirnya tidak terlihat oleh Daniel.
Nona Serena memiliki keberanian yang sama dengan Ny. Edritz. Perkataan Tuan Kenzo benar. Sepertinya rumah tangga keluarga besar Chen dipenuhi dengan suami-suami takut istri.
“Biao. Aku juga akan menghukummu.” Daniel melipat kedua tangannya, menatap wajah Biao dengan kesal.
“Maafkan saya, Tuan.” Biao menunduk hormat.
“Sudah saatnya, Daniel. Kita akan membagi tugas saat ini, karena pasukan kita sudah cukup banyak. Kau dan Biao bisa memimpin pasukan S.G. Group. Aku dan Shabira akan memimpin Gold Dragon.”
Kenzo menatap pasukan Gold Dragon dan S.G. Group bergantian. Hatinya sudah dipenuhi keyakinan, kalau kali ini mereka akan memenangi pertarungan.
“Aku setuju dengan rencanamu, Kenzo.” Daniel menatap wajah Kenzo dengan tatapan tajam.
“Ingat Daniel! Kau harus bisa menembak tanpa menggunakan hati. Bunuh semua musuh yang menghalangi jalanmu. Jangan beri mereka kesempatan sedikitpun, meskipun hanya satu detik.” Kenzo menepuk pelan pundak Daniel.
“Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Serena.”
“Hati-hati, Kenzo.” Daniel memutar tubuhnya untuk mendekati rombongan S.G. Group yang berbaris, bersama Biao.
Kenzo dan Shabira juga memutar tubuhnya untuk menemui rombongan Gold Dragon yang sudah siap untuk bertarung.
Semua orang masuk ke dalam mobil masing-masing. Berjalan dengan arah yang berbeda. Rombongan Kenzo berjalan di jalur kanan. Sedangkan rombongan Daniel berjalan dari jalur kiri.
“Sayang, ingat. Jangan pernah jauh-jauh dariku!” Kenzo kembali mengingatkan Shabira.
“Tenang saja, Bos!” Shabira tersenyum manis.
Rombongan Kenzo tiba di lokasi halaman belakang. Beberapa pasukan Gold Dragon sudah mengambil posisi untuk menjadi penembak jitu. Beberapa yang lainnya, mendekati pagar yang membatasi rumah itu.
Shabira berjalan dengan penuh semangat. langkahnya terhenti saat Kenzo menarik tangannya.
“Ada apa? kita harus cepat. Tidak ada waktu untuk bersantai lagi.” Shabira memandang wajah Kenzo dengan penuh tanya.
Kenzo mengeluarkan kotak merah, mengeluarkan satu cincin berlian dari dalamnya. Menarik tangan Shabira sambil tersenyum manis.
“Sayang, aku ingin kau memakai cincin pernikahan kita. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi setelah ini. Yang aku tahu, kau sudah memakai cincin pernikahan kita dan akan selalu menjadi istriku.” Kenzo menyematkan cincin itu di jari manis Shabira, tanpa menunggu persetujuan sang pemilik jari.
Shabira tersenyum dengan debaran jantung yang tidak normal. Buliran air mata sudah tertahan di pelupuk matanya. Ia mengambil satu cincin yang ada di kotak itu, meyematkannya ke jari Kenzo sebagai ikatan janji untuk mereka saat ini.
“Apapun yang terjadi, aku akan tetap menikah denganmu, kenzo. Aku akan menjadi istrimu, dan kau akan menjadi suamiku untuk selamanya dan satu-satunya.” Shabira mengalungkan tangannya di leher Kenzo, mengecup bibir Kenzo dengan penuh cinta.
“I Love You ….” Shabira memandang wajah Kenzo dengan mata berkaca-kaca.
“I Love You to.” Kenzo menarik tubuh Shabira, membalas kecupan bibir Shabira. Hatinya kembali tenang, saat mendengar perkataan Shabira.
“Kita harus segera menyelesaikan misi ini.” Shabira memegang kedua pipi Kenzo.
Kenzo tidak lagi membalas perkataan Shabira. Ia mengokang senjata laras panjang dan menyimpan pistol kecil favoritnya. Ia sudah siap untuk menyerang dan bertarung melawan Laura.
DUUAAAMMM!
Satu ledakan bom terjadi di halaman belakang, saat salah satu pasukan Gold Dragon tidak cukup waspada.
“Berhati-hatilah. Perhatikan setiap langkah kaki kalian,” teriak Kenzo dari kejauhan.
Shabira melangkah perlahan mengikuti langkah kaki Kenzo dari samping. Memperhatikan keadaan sekitar dengan sangat waspada. Satu ledakan Bom itu sudah cukup untuk menyambut kedatangan mereka pagi itu.
.
.
Di halaman depan, Daniel dan pasukan S.G. Group sudah berjalan dengan hati-hati untuk masuk ke dalam halaman rumah Laura.
Beberapa pengawal yang berjaga juga sudah berhasil mereka taklukan. Biao berdiri di samping Daniel untuk terus melindunginya. Menatap waspada atas beberapa titik bom yang akan meledak jika di pijak, meskipun tanpa sengaja.
“Tuan. Sepertinya mereka meletakkan Bom dengan jarak 1 meter. Kita bisa melewati jalan-jalan ini dengan hati-hati.” Biao memperhatikan bentuk permukaan tanah yang berbeda.
“Beritahu yang lain agar tetap waspada.” Daniel melangkahkan kakinya dengan hati-hati, untuk melewati jalanan kosong yang dipenuhi bom di bawah tanah.
Belum jauh pasukan Daniel melangkah masuk, mereka sudah di sambut tembakan dari arah rumah. Semua pasukan S.G. Group dengan cepat membalas tembakan itu. Baku tembak pun tidak terhindari lagi. Daniel dan Biao juga ikut dalam aksi baku tembak yang memekakan telinga itu.
DUARR! DUAARR! DUARR!!