
Bandar Udara Internasional Osaka
Suasana malam terlihat sangat sunyi, udara terasa dingin. Cahaya rembulan juga tidak muncul di malam itu. Langit terlihat gelap tanpa ada cahaya rembulan. Bintang-bintang yang biasa muncul juga bersembunyi.
Zeroun duduk manis di dalam jet pribadi miliknya. Memutar-mutar pistol yang ada digenggaman tangannya. Membayangkan masa-masa jayanya dulu, di dunia mafia. Tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam pikiran, kalau pria berusia 28 tahun itu akan kembali ke dalam dunia mafia. Dunia penuh darah dan deraian air mata.
“Laura!” Zeroun membayangkan wajah Laura, pria itu pernah bertemu langsung dengan Laura.
“Seharusnya sejak dulu aku membunuh gadis kecil ini!” Zeroun meletakkan senjata apinya ke atas meja. Memandang wajah Lukas yang baru saja tiba.
“Selamat malam, Bos. Saya sudah menyelesaikan tugas ringan saya hari ini.” Lukas menunduk hormat.
Zeroun tersenyum tipis, “Kita harus menyelesaikan misi selanjutnya.”
“Pesawat akan berangkat beberapa menit lagi, Bos. Perjalanan memakan waktu 10 jam.” Lukas menjelaskan riwayat perjalanan malam mereka saat ini.
“Ya, aku juga tidak ingin menyerang di malam hari. Apa Kenzo juga berangkat malam ini?” Zeroun menatap tajam.
“Benar, Bos. Kenzo dan yang lainnya juga berangkat malam ini.” Lukas duduk di salah satu kursi, memasang sabuk pengaman.
“Kita akan bertemu dengan mereka di sana.” Zeroun menatap ke luar jendela. Pesawat mulai bergerak meninggalkan bandara tersebut.
“Bos. Laura menyekap anak kecil bernama Angel. Kemungkinan, Nona Erena juga melindungi anak kecil itu. Kita tidak akan mudah menyelamatkan mereka berdua secara bersamaan.”
Lukas sudah menganalisa keadaan di lokasi kejadian. Semua anggota Gold Dragon sudah menceritakan kesulitan yang akan mereka hadapi nantinya.
“Rakitan Bom Laura, juga semakin bagus saat ini.” Sambung Lukas lagi dengan wajah serius.
Zeroun hanya diam tanpa kata. Memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya saat ini. Luka di perutnya masih basah. Pria tampan itu, juga memiliki harapan besar kepada pasukan yang dipimpin Kenzo. Upaya ini harus bisa menyelamatkan Serena tanpa ada yang terluka lagi.
Erena … hatiku masih terasa sakit saat aku mengingat wajahmu. Bahkan lebih sakit daripada luka di perut ini ….
***
Dua mobil melaju kencang menembus kabut malam. Kenzo dan Shabira ada di baris paling depan. Sepanjang jalan Kenzo terus menggenggam tangan Shabira. Hatinya dipenuhi rasa khawatir untuk melakukan misi penyelamatan Serena saat ini.
“Sayang, kenapa wajahmu seperti itu?” Shabira menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo dengan manja.
“Kita baru saja bertemu. Semua masalah ini datang dengan begitu cepat.” Kenzo masih memfokuskan pandangan jalan di depan.
“Aku yakin, ini akan jadi pertarungan terakhir kita sebelum menikah.” Shabira tersenyum manis untuk memberi semangat kepada Kenzo.
“Sayang. Jangan pernah tinggalkan aku. Apapun yang akan terjadi nanti ….” Kenzo memandang wajah Shabira sesaat.
“Tidak akan. Aku sangat mencintaimu, Kenzo Daeshim Chen.” Shabira tersenyum manis, mencium pipi Kenzo dengan mesra.
Kenzo tersenyum tipis, sebelum menambah laju mobilnya saat ini.
Daniel dan Biao berada di belakang mobil Kenzo. Biao mengambil alih kemudi malam itu. Wajahnya tampak serius dengan tatapan mata yang tajam. Daniel membuang tatapannya keluar jendela. Pikirannya masih terus dipenuhi dengan nama Serena.
“Tuan. Tama sudah mengurus semuanya. Setelah tiba di Thailand, kita akan istirahat beberapa jam sebelum bertemu dengan pemilik ACI Group.” Biao memandang wajah Daniel sesaat, sebelum memfokuskan pandangannya ke jalan depan lagi.
“Apa pasukan kita sudah bertambah?” Daniel memandang wajah Biao dengan penuh harap.
“Saya sudah mengirim beberapa pasukan yang kita punya ke Thailand, untuk melakukan penyelidikan. Tapi, semua pasukan yang saya kirim hilang tanpa kabar, Tuan.” Biao memasang wajah sedih. Ini pertama kalinya ia berhadapan dengan musuh yang bisa menghancurkannya dalam hitungan detik.
“Apa kita akan menyerang langsung? Kita berempat?” Daniel menatap wajah Biao dengan tajam.
Daniel membuang napas dengan kasar ke arah jendela, “Maafkan aku, Biao. Aku tidak berani memberi jaminan apapun untuk ini. Kau sudah lama bekerja denganku, setelah kita berhasil menyelamatkan Serena, kau boleh pergi menjalani kehidupanmu dengan bebas.”
“Maafkan saya, Tuan. Tapi, jika saya boleh memilih, saya ingin tetap ada di samping anda. Sampai akhir hayat yang saya miliki, saya ingin selalu melindungi anda, Tuan.”
Daniel Tersenyum tipis, “Apa kau tidak ingin menikah dan membentuk kehidupan baru dengan keluarga baru?” Daniel menatap wajah Biao dengan serius.
“Saya dikutip di jalan. Tidak kenal saudara maupun orang tua. Sejak saya ikut bersama anda, saya memiliki saudara dan orang tua. Ijinkan saya membalas budi kepada keluarga anda, Tuan.” Biao tidak ingin meninggalkan Daniel. Baginya Daniel adalah prioritas utama yang harus ia miliki dan ia lindungi.
Daniel tidak lagi menjawab, pria berjas hitam itu lebih memilih memejamkan mata sejenak. Menarik napas untuk menenangkan pikirannya saat ini.
.
.
.
Thailand, 05.00 Pagi.
Masih cukup pagi saat rombongan Kenzo tiba di Thailand. Mereka memilih salah satu hotel ternama yang ada di negara tersebut. Mengatur stategi selanjutnya, untuk misi menyelamatkan Serena. Beistirahat di satu kamar yang sama, untuk melindungi satu dan yang lainnya.
“Salah satu tempat ini, akan menjadi tempat penyekapan Serena.” Kenzo menandai beberapa titik yang ada di dalam peta.
“Apa kita harus berpisah lagi untuk menyelamatkan Kak Erena?” Shabira memandang wajah Kenzo dengan raut wajah sedih.
“Gak sayang. Kita akan selalu bersama. Aku gak ingin jauh darimu ….” Kenzo tersenyum manis.
“Daniel, ini untukmu ….” Kenzo memberi satu buah pistol.
“Mulai sekarang, pegang senjata itu dan gunakan dengan tepat.” Kenzo menyusun peluru-peluru yang akan ia gunakan untuk penyerangan.
“Senjata ini bisa kita dapatkan dengan mudah, karena kita mengenal Marvels.” Shabira kembali mengingat tempat pesembunyiannya waktu itu.
“Aku dan Biao, akan mendatangi pertemuan pagi ini. Kita jumpa di titik temu yang sudah di tentukan.” Daniel memandang belati dan pistol yang kini ada di tangannya.
“Kita serang rumah ini. Laura pasti ada di situ, bersama dengan Serena. 3 jam lagi kita kumpul di titik pertemuan.” Kenzo memandang wajah Daniel dan Biao secara bergantian.
“Baiklah, aku dan Biao akan segera membereskan masalah kerja sama ini. Secepatnya, kami akan berangkat ke lokasi itu.” Daniel beranjak dai duduknya.
“Daniel, hanya kita berempat yang tersisa. Aku harap, kau bisa menjaga dirimu saat kita menyerang nanti.” Kenzo memandang wajah Daniel dengan seksama.
Daniel tersenyum tipis, “Jaga Shabira. Hal itu sudah cukup. Apapun yang kita hadapi nanti, kita pasti bisa menyelamatkan Serena dari tempat itu.” Daniel menepuk pelan pundak Kenzo.
“Kelompok Marvels juga tidak ingin membantuku saat ini. Mereka sudah hidup tenang. Tidak ingin bertarung lagi ….” Wajah Shabira berubah sedih.
“Sayang, saat ini kita memang harus berjuang sendiri tanpa bantuan siapapun. Apa kau takut?” Kenzo menarik pinggang Shabira.
Shabira menggeleng pelan, “Aku sudah biasa hidup di jalan. Tanpa saudara dan tidak pernah takut untuk mati. Tapi ….” Shabira memandang wajah Kenzo, menyentuh pipinya dengan lembut.
“Sejak jatuh cinta pada dirimu, aku tidak ingin pergi meninggalkan dunia ini. Aku sangat mencintaimu, Kenzo.” Buliran air mata menetes.
Kenzo menarik Shabira ke dalam pelukannya. “Semua akan baik-baik saja. Kita semua akan selamat.”
Daniel dan Biao hanya bisa menjadi pendengar setia. Sejak awal, Daniel sudah tahu bagaimana masa lalu Shabira. Namun Biao, ia baru saja tahu tentang masa lalu Shabira saat ini. Ia tidak pernah berpikir, kalau Shabira hidup di jalanan seperti dirinya dulu.
Kau wanita yang tangguh! di jalanan, hidup sangat keras. Membuat siapa saja menjadi sosok yang kuat.