Mafia's In Love

Mafia's In Love
Mr. X Vs Kenzo



“Dimana kau menyembunyikannya!” teriak Kenzo dengan emosi yang sudah berada di level tinggi dan genggaman tangan yang sudah mengepal kuat.


“Aku tidak pernah menyembunyikan dirinya, Kenzo!” teriak Mr.X dengan nada yang tidak kalah tinggi.


“Beraninya kau muncul di hadapanku lagi!” Kenzo melihat ke sembarang arah untuk memberi kode kepada beberapa pengawal yang sudah bersembunyi di di balik dinding dan tiang-tiang batu.


Puluhan pengawal Kenzo telah keluar dari tempat persembunyiannya. Satu senjata api juga sudah berada di genggaman pengawal itu masing-masing. Senjata yang di arahkan langsung pada rombongan Mr.X, yang kini menjadi musuh bagi Kenzo.


Biao hanya terbelalak kaget melihat kerumunan orang bersenjata, yang tiba-tiba muncul dan kini ada di hadapannya. Kedua belah pihak yang memang sangat ia kenal. Biao melangkah mundur menjauhi kerumunan tersebut. Entah dari pihak mana yang kini harus dia bela. Tatapan matanya masih ia fokuskan pada pimpinan utama, penyerangan hari ini.


'Mereka saling kenal?' batin Biao yang masih menyimpan rasa penasaran kepada Kenzo dan Mr.X.


Mr. X menatap tajam ke arah beberapa pengawal Kenzo yang kini sudah mengepung dirinya. Satu senyum tipis sudah melingkar di bibirnya. Namun, sikap Mr. X masih terlihat santai dan tidak terpancar rasa takut sedikitpun.


“Kau selalu bersifat gegabah Kenzo!” masih dengan tatapan tajam.


“Seharusnya kau menghilang dari dunia ini!” jawab Kenzo dengan tatapan tidak suka.


“Apa kau pikir aku berada di kota ini untuk mengikuti dirimu?” tanya Mr. X mulai dengan nada yang rendah.


“Berhentilah bersikap ramah padaku! seharusnya aku sudah menghabisimu sejak dulu,” teriak Kenzo dengan penuh kesal.


“Kenzo, percayalah padaku,” ucap Mr.X pelan untuk meluluhkan hati Kenzo yang kini sudah di sulut api emosi yang begitu besar.


“Seharusnya aku tidak pernah percaya padamu!” teriak Kenzo hingga memekakan telinga.


“Kenzo! kau tidak memiliki bukti apapun untuk menuduhku!” seru Mr.X yang sudah berada di batas akhir kesabarannya.


“Sekali lagi aku tanya padamu, dimana kau menyembunyikannya!” sudah menodongkan pistol tepat di depan wajah Mr.X.


Dengan sigap, beberapa pengawal Mr.X juga sudah mengangkat semua senjata yang mereka miliki. Tatapan benci sudah terpancar di wajah semuanya. Sejenak suasana yang kini di kerumunin banyak orang itu, terlihat sunyi tanpa suara.


“Setelah Shabira hilang, Erena meninggal Kenzo,” ucap Mr. X pelan dengan pancaran wajah sedih di matanya.


Perlahan Kenzo menurunkan senjata yang tadi sempat ia todongkan di hadapan Mr.X. Hatinya kembali luluh, saat mendengar satu nama yang pernah ada di telinganya itu. Bukan hanya dirinya, tapi pria yang kini menjadi sosok tersangka yang ia tuduh juga merasakan apa yang kini ia rasakan.


“Apa maksudmu?”


“Erena kecelakaan, setelah satu minggu hilangnya Shabira,” ucap Mr. X mencoba untuk menjelaskannya.


Deg, jantung Kenzo kembali berhenti untuk berdetak. Meskipun nama yang baru di sebutkan oleh lawan bicaranya, merupakan sosok yang tidak pernah ia temui.


Namun Kenzo sangat kenal dengan sosok pemilik nama, meskipun secara langsung tidak pernah bertemu.


Erena adalah gadis yang sangat penuh misteri, semua yang terjun di dunia bisnis gelap akan mengenal nama Erena. Namun belum ada satu orang pun yang pernah tahu wajah sang pemilik nama. Hanya Mr.X yang menjadi kekasih sang wanita misterius, yang sangat paham dengan detailnya wajah sang kekasih.


“Aku tidak memiliki bukti yang kuat, untuk menuduh siapa yang menyebabkan kecelakaan itu. Tapi satu-satunya orang yang pernah tahu wajah Erena, adalah Arion! pasti dia yang sudah menyebabkan kecelakaan Erena waktu itu,” ucap Mr.X yang sudah terpancar wajah penuh dendam di matanya.


“Arion?” celetuk Biao tiba-tiba.


Mr. X dan Kenzo sangat larut dalam obrolan mereka. Hingga keduanya tidak sadar, jika masih ada sosok Biao yang sejak tadi sedang merekam semua pembicaraan mereka. Meskipun tidak bisa memperoleh informasi yang lengkap. Namun Biao berhasil memperoleh satu informasi tentang Arion.


Tatapan Mr.X dan Kenzo kembali beralih pada Biao, satu kecerobohan yang membuat keadaan menjadi semangkin rumit. Mr. X kembali menundukkan tatapan wajahnya. Satu buket bunga mawar merah yang kini ada di genggaman tangannya, kembali mengingatkan dirinya untuk mengunjungi istri dari Daniel Edritz Chen.


Bukan satu keadaan yang Mr.X inginkan, rencananya hari ini untuk menjenguk istri dari rekan bisnisnya itu harus gagal. Pertemuannya dengan Kenzo saat ini, berlangsung secara bersamaan dengan jam besuknya.


“Tuan Biao,” ucap Mr. X pelan.


“Iya tuan,” Biao menunduk hormat sebagai jawaban atas panggilan yang baru saja di ucapkan oleh Mr. X.


“Tolong berikan bunga ini pada istri Daniel. Lain kali saya akan kembali menjenguknya,” menyodorkan buket bunga mawar pada Biao.


“Baik tuan, saya akan memberikan bunga ini pada nona Serena,” jawab Biao yang kini sudah menerima bunga itu.


“Kita harus bicara Kenzo, tapi tidak di sini,” ajak Mr. X yang kembali menatap wajah Kenzo.


“Baiklah,” jawab Kenzo yang kembali memberi kode kepada pengawal yang ia miliki untuk bubar.


Kenzo berjalan ke arah mobil yang tidak jauh dari posisinya berada. Sebelum masuk ke dalam mobil, Kenzo melirik sebentar ke arah Biao yang masih berdiri mematung di sana. Tanpa banyak kata, Kenzo masuk ke dalam mobil.


Disusul dengan Mr. X yang kini sudah ada di dalam mobil miliknya. Satu perintah, ia ucapkan cepat kepada sang supir untuk pergi meninggalkan parkiran rumah sakit itu. Beberapa mobil yang sudah bergabung menjadi satu itu, kini melaju beriringan. Suasana parkiran itu kembali sunyi tanpa suara dan penghuni.


Sedangkan Biao, masih mematung memperhatikan kepergian Mr.X dan Kenzo di sana. Tatapan matanya beralih pada satu buket bunga mawar yang baru saja ia terima. Biao kembali bernafas legah, karena pertemuan yang sangat ia takuti hari ini tidak terjadi.


“Satu kebetulan yang fantastis,” ucap Biao pelan dan kembali melangkah menuju ke arah ruang rawat Serena.


Di dalam kamar, Daniel masih duduk diam di atas sofa. Matanya berulang kali melirik ke arah pintu yang tidak kunjung terbuka. Rasa khawatir sudah melekat jelas di wajah Daniel saat ini. Serena yang sejak tadi memperhatikan Daniel, hanya bisa diam tanpa berani untuk bertanya. Satu kata ancaman yang pernah diucapkan oleh Daniel, mengunci bibirnya untuk bertanya.


Hingga akhirnya, Biao masuk ke dalam kamar Serena. Dengan satu buket bunga mawar yang kini ada di genggaman tangannya.


**Disambung besok lagi ya, senin ini author sibuk banget.


Harus revisi dan promo novelnya...


yang uda baca komen dgn tanda ❤ ya.


Jangan Lupa Like dan Vote kakak...


terima kasih sudah membaca**. 🤗🤗🤗