
Kenzo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasa kecewa menyelimuti hati dan pikirannya saat ini. Pria itu terus memukul keras setir mobilnya.
“Zeroun! kenapa kau setega ini padaku. Aku tidak pernah menyangka, kalau kau akan melakukan hal sepicik ini untuk mendapatkan Serena.”
Kenzo memberhetikan mobilnya di parkiran rumah sakit. Berjalan dengan langkah gusar menuju ke kamar perawatan Shabira yang terletak di lantai atas. Belum sempat ia masuk ke dalam lift, Kenzo jumpa dengan Daniel dan Biao yang juga ingin menuju ke kamar Shabira.
“Apa semua aman, Kenzo? Kenapa wajahmu terlihat lesu seperti itu?” tanya Daniel dengan penuh curiga.
“Maafkan aku, Daniel. Aku tidak berhasil membujuk Zeroun.” Kenzo menunduk sedih.
“Jangan terlalu di pikirkan. Kita akan mencari cara lain.” Daniel bersikap dengan sangat santai.
Sejak awal ia sudah tahu, kalau Zeroun tidak akan semudah itu untuk menolong dirinya menyelamatkan Serena.
Pintu lift terbuka. Daniel dan Kenzo berjalan beriringan menuju ke kamar Shabira.
Di dalam kamar, Shabira duduk manis di atas tempat tidur. Ia membaca majalah untuk menghilangkan rasa bosannya saat itu. Wajah pasien wanita itu terlihat bahagia, saat melihat Kenzo dan Daniel tiba di sana.
“Kenzo, bagaimana? apa malam ini kita bisa berangkat untuk menolong Kak Erena?” tanya Shabira dengan penuh harap.
“Maafkan aku sayang. Tapi Zeroun tidak mau membantu kita lagi.” Kenzo berjalan ke arah tempat tidur Shabira.
“Tidak mungkin. Zeroun pasti mau menolong Kak Erena.” Shabira tidak percaya, kalau Zeroun bisa melupakan Serena secepat itu.
“Dia mau menolong kita, kalau Daniel berjanji menceraikan Serena setelah berhasil menyelamatkannya.” Kenzo memandang wajah Daniel.
Daniel mengepal kuat tangannya saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Kenzo. Biao juga memandang wajah Daniel yang saat ini sudah berubah dan tidak bersahabat lagi.
“Daniel. Kau tidak perlu melakukan itu. Kita akan tetap pergi menolong Serena, dengan sisa pasukan yang kita miliki. Aku harap ini pertarungan kita yang terakhir kalinya, aku ingin segera mengurus pernikahanku dengan Shabira.” Kenzo meraih tangan Shabira, mengecupnya dengan lembut.
“Sayang, kita tidak akan menang. Aku juga tidak memiliki Queen Star lagi. Semua sudah tewas di rumah Arion.” Shabira menunduk sedih.
“Jangan pikirkan hal itu. Aku akan menghubungi beberapa orang yang ku kenal. Aku yakin, mereka mau menolongku saat ini.” Wajah Kenzodipenuhitekadyang kuat.
“Aku akan menghubungi rekan bisnis yang ada di Thailand. Kita bisa masuk ke negara itu dengan perjalanan bisnis. Tidak akan ada yang curiga.” Daniel angkat bicara. Saat ini, hatinya dipenuhi tekad yang besar untuk menyelamatkan Serena, istri yang paling ia cintai.
“Aku tidak selemah itu. Mulai detik ini, Aku akan melakukan apa yang istriku lakukan. Dia memiliki pistol aku juga akan memiliki pistol. Dia membunuh aku juga akan membunuh.” Mata Daniel berubah tajam.
Kenzo dan Shabira saling menatap satu sama lain. Kenzo semangkin erat menggenggam tangan Shabira.
“Daniel, semua sudah terjadi. Mulai sekarang, kau harus bisa membunuh tanpa belas kasih. Erena memang sangat kejam, semua musuh akan terus membalaskan dendam lama padanya. Aku akan mengajarimu untuk melakukan semua itu.”
Kenzo memandang wajah Daniel dengan penuh keyakinan.
“Ya. Kau benar Kenzo. Aku harus meninggalkan profesiku dari CEO untuk sementara.” Daniel tersenyum tipis.
“Tuan. Maafkan saya dan Kak Erena. Karena membuat pria baik seperti anda terjerumus ke dunia penuh darah ini.” Shabira memandang Daniel dengan wajah sedih.
“Shabira, Aku sudah bertekad untuk menyelamatkan Serena. Apapun akan aku lakukan, meskipun aku harus mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkannya.” Daniel memandang wajah Biao.
“Biao, siapkan semuanya. Malam ini kita berangkat.”
“Baik, Tuan.” Biao beranjak dari duduknya, menunduk hormat. Melangkahkearah pintu untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan Daniel saat ini.
“Daniel, Kau sudah banyak berubah. Aku bangga memiliki saudara seperti dirimu. Apapun resiko yang kita hdapai, kita akan tetap bersatu untuk menyelamatkan Serena.”
Kenzo beranjak dari duduknya, menarik tangan Shabira untuk beranjak dari tempat tidur itu.
“Sejak awal aku mengenal Shabira. Hatiku di selimuti rasa khawatir. Sejak saat itu, aku mulai menyeimbangkan kekuatanku untuk melindungi dirinya. Karena aku sangat cinta padanya ….” Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya.
Daniel tersenyum memandang kebersamaan Kenzo dan Shabira.
Sayang, maafkan aku. Caraku selama ini melindungimu, bukan cara yang benar untuk melindungimu.
Mulai detik ini, aku akan selalu ada di sampingmu, untuk membantumu menembak semua orang yang ingin menyakitimu. Bertahanlah, tunggu aku tiba untuk menjemputmu kembali….
***
Ruangan terlihat berantakan. Cairan merah bercecer di lantai yang putih. Prabotan rumah tidak lagi pada tempatnya. Beberapa pria berjas hitam formal, tampak tergeletak di lantai dan tidak lagi bernyawa.
“Siapa kalian? Apa mau kalian? kenapa kalian melakukan ini padaku?” Sonia merangkak mundur untuk menghindari sentuhan Lukas.
Wajahnya sudah dipenuhi cairan merah dan tanda biru. Kakinya tidak lagi bisa berjalan. Buliran air mata terus mengucur deras karena rasa takut yang kini memenuhi isi pikirannya.
“Jangan mendekat!” Sonia tidak memiliki jalan lagi, tubuhnya terpojok di ujung dinding.
“Apa kau pernah berpikir, bagaimana rasanya jika nyawamu di cabut secara paksa?" Lukas membuang tatapannya.
"Bayangkan dulu bagaimana rasanya, sebelum kau merencanakan sesuatu untuk membunuh orang lain.” Tersenyum tipis.
Lukas mengeluarkan belati dari sakunya. Memainkan belati itu di hadapan Sonia dengan tatapan tajam.
“Aku tidak tahu, apa yang kau katakan. lepaskan aku, aku mohon. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, Aku mohon.”
Sonia menatap wajah Lukas dengan ketakutan. Mengatupkan kedua tangannya untuk memohon di hadapan Lukas.
“Maaf, Nona. Saya tidak pernah tersentuh dengan tangisan seorang wanita. Hal itu membuat saya jijik dan ingin segera membunuh anda.” Lukas siap menusukkan belati itu ke arah perut Sonia.
“Hentikan!” Suara seorang pria muncul dari kejauhan.
Sonia dan Lukas menatap pria yang baru saja datang secara bersamaan. Lukas tersenyum tipis saat melihat pria berjas resmi itu berdiri tegab di ujung pintu.
“Aldi. Aldi tolong aku Aldi. Pria ini ingin membunuhku, Aldi.” Sonia menangis sejadi-jadinya.
“Jangan ikut campur dengan masalah kami, jika kau tidak ingin bernasip seperti mereka.” Lukas menatap pengawal-pengawal yang tergeletak.
“Aku tidak memiliki urusan dengan anda, Tuan. Tapi saya kenal dengan wanita yang ingin anda bunuh. Tolong, lepaskan wanita itu.” Aldi berjalan tiga langkah.
Lukas tersenyum tipis. Memutar tubuhnya dengan cepat, menusuk belati itu ke arah perut Sonia.
“Sonia!” teriak Aldi histeris.
Mata Sonia terbuka lebar. Wajahnya pucat karena takut dan menahan rasa sakit. Cairan merah berkucur deras dari perut bawahnya. Kedua tangannya menekan kulit yang sudah terkoyak lebar, sambil gemetar.
“Bagaimana rasanya? seperti di gigit semut bukan? Akan lebih sakit, kalau aku mencabut belati ini dengan perlahan. Tiap centinya akan terasa sangat manis.” Lukas tersenyum tipis memandang wajah Sonia.
Aldi berari cepat untuk menyerang Lukas. Dengan cepat tubuhnya terpental jauh, karena Lukas mendorong tubuhnya. Lukas berdiri untuk menghapus darah Sonia dari belatinya.
“Sayangnya waktuku sudah habis. Aku masih ingin bermain-main. Tapi ….” Lukas menatap wajah Aldi dengan senyuman licik.
“Anggap saja hari ini hari keberuntunganmu!”
Lukas berjalan pergi meninggalkan rumah Sonia dengan senyuman kemenangan.
Aldi berdiri dan berlari mendekati tubuh Sonia.
“Sonia, bangun Sonia!” Aldi menunduk sedih melihat keadaan Sonia saat ini. Ruangan itu hening seketika, hanya terdengar isakan tangis Aldi untuk Sonia.
“Sonia, Kau harus bertahan.” Aldi mengangkat tubuh Sonia. membawanya pergi meninggalkan rumah yang habis di bantai Lukas dengan begitu keji.
.
.
Hai hai
Saya Sisca Nasty.
🥀baca juga karya teman saya🥀
"CEO Dingin dan Gadis Sholeha"
Terima Kasih.