
Beberapa waktu kemudian, Daniel sudah menyelesaikan pekerjaanya. Matanya tertujuh ke arah sofa yang tadi di dudukin Serena. Satu senyuman kembali melingkar di bibirnya, saat menemukan Serena dalam keadaan tidur di sana.
Satu pemandangan yang sangat menyejukkan hatinya saat ini. Entah sejak kapan rasa itu muncul, tapi rasa benci yang selama ini tersimpan dalam hatinya. Detik ini sudah berubah menjadi rasa takut untuk kehilangan Serena.
Biao dan Tama hanya berani melirik sebentar ke arah Serena, sebelum menunduk hormat untuk pamit keluar. Hati keduanya kembali bernafas lega, saat senyum manis Daniel yang sempat hilang, kini telah terukir kembali. Meskipun masa lalu Serena, masih menjadi satu ancaman besar bagi keduanya.
“Kalian tetap di kantor, saya akan pulang bersama Serena.” Perintah Daniel singkat, sebelum beranjak ke arah sofa.
“Baik, tuan,” ucap Tama dan Biao bersamaan, dan berlalu pergi meninggalkan Daniel dan Serena di dalam.
Daniel menatap kepergian Tama dan Biao dari balik meja. Perlahan Daniel melangkahkan kakinya untuk mendekati Serena. Daniel mulai mendekatkan tubuhnya di depan wajah Serena. Satu pemandangan indah, yang selama ini sudah ia lewati begitu saja.
“Dia tidur dengan wajah yang tenang.” Mengusap pelan pucuk kepala Serena.
Hingga Serena mulai terjaga dari tidurnya, dan membuka matanya dengan pelan.
“Daniel, kau sudah selesai?” ucap Serena, masih dengan pandangan yang belum jelas.
“Sudah, apa kau lelah?” Membantu Serena untuk duduk.
“Tidak, dimana Tama dan Biao?’ Mencari-cari ke sembarang arah.
“Mereka sudah keluar,” jawab Daniel pelan, dan duduk di samping Serena.
Serena kembali menatap wajah Daniel yang kini terlihat menatap wajahnya. Senyum manis kembali terukir di wajah Serena, melihat wajah Daniel yang ia temui saat membuka mata.
‘Aku tidak ingin momen seperti ini, cepat berlalu Daniel,’ gumam Serena dalam hati.
“Kau mau makan Serena?”
“Bagaimana kalau kita makan di rumah saja, Daniel,” tawar Serena.
“Kau ingin kita pulang sekarang?” tanya Daniel kembali memastikan.
Serena hanya mengangguk cepat pertanda setuju. Hatinya terasa bahagia saat ia berhasil membawa Daniel untuk pulang. Rasa khawatirnya kepada Ny. Edritz memang masih melekat jelas di dalam hatinya. Bukan hanya membawa Daniel pulang, tapi Serena telah berhasil meluluhkan hati Daniel saat ini.
Keduanya beranjak dari sofa, dan berjalan beriringan keluar dari ruangan itu. Tatapan Daniel terpusat pada meja Sonia yang kini kosong. Langkah Daniel terhenti dan mulai mengambil Hp yang tersimpan di dalam sakunya.
“Biao, dimana Sonia? apa dia sudah menyelesaikan berkas yang tadi aku suruh!” ucap Daniel cepat.
Daniel memutuskan panggilan teleponnya dengan cepat. Tatapan matanya kembali ia arahkan ke wajah Serena yang kini ada di sampingnya. Serena kembali tertunduk takut, saat mengingat sikap kasar yang tadi ia berikan pada Sonia.
“Serena, apa semua baik-baik saja,” Menggenggam tangan Serena.
“Apa kau marah?” tanya Serena pelan.
“Marah? untuk apa aku marah?” tanya Daniel bingung.
“Karena Sonia tidak ada di sini,” jawab Serena pelan.
“Biao bilang, Sonia pulang karena kurang sehat. Untuk apa aku marah?”
“Apa itu yang di katakan oleh Biao?” tanya Serena tidak percaya.
“Ya, memang ada sesuatu yang terjadi?” tanya Daniel penuh curiga.
“Tidak, ayo kita pulang.” Menggandeng tangan Daniel dan membawa Daniel untuk berjalan ke arah lift.
Kini Daniel dan Serena sudah ada di dalam lift. Serena memandang ke arah cermin, dengan cara sembunyi-sembunyi. Pantulan tubuhnya dan Daniel terlihat jelas di sana. Serena masih tidak ingin, melepaskan gandengan tangannya dari Daniel saat ini.
“Kau tidak marah, jika aku seperti ini,” tanya Serena pelan.
“Aku sudah terlalu sering marah padamu, hari ini kau bebas,” bisik Daniel di telinga Serena.
“Hari ini? apa maksudmu besok kau akan marah lagi?” Melepas tangannya dari Daniel.
“Itu tergantung sikapmu. Kau menyebalkan Serena.” Menarik lembut hidung Serena.
“Daniel,” ucap Serena dengan manja.
Keduanya berjalan keluar dari lift, secara beriringan. Sesekali Serena melirik ke arah karyawan yang selalu memperhatikan dirinya saat ini. Sikap Daniel yang terlihat tidak peduli, membuat Serena terus mempercepat langkah kakinya mengikuti Daniel.
Keduanya berjalan menuju ke arah parkiran. Satu supir sudah membuka pintu mobil. Daniel dan Serena masukke dalam mobil dengan cepat.
Serena menatap ke arah luar jendela kaca, sedangkan Daniel masih sibuk dengan laptopnya. Serena mengalihkan pandangannya dari kaca, senyumnya kembali melingkar saat melihat Daniel memasang wajah serius saat ini.
“Daniel, apa Sonia itu temanmu?” tanya Serena penuh hati-hati.
“Tidak, dia teman Aldy. Pria yang datang di pesta pernikahan kita waktu itu,” jawab Daniel yang masih fokus dengan layar laptopnya.
“Dia sudah lama bekerja di S.G. Group?”
“Tidak terlalu lama,” jawab Daniel singkat.
“Dia wanita yang cantik bukan,” sambung Serena lagi.
“Apa tadi kau bertemu dengannya?” Menatap wajah Serena.
“Apa dia mengatakan sesuatu padamu?” ucap Daniel penuh selidik.
Serena terdiam beberapa saat. Pikirannya mulai berputar, untuk menjawab pertanyaan Daniel saat ini. Serena memasang senyum indah, sebelum menjawab pertanyaan Daniel.
“Tidak, dia wanita yang baik,” jawab Serena penuh kebohongan.
“Benarkah? dia selalu bertengkar dengan Biao.” Kembali fokus pada layar laptopnya.
‘Bertengkar? jelas saja tadi Biao sangat benci terhadap Sonia,’ gumam Serena dalam hati.
Mobil melaju tidak terlalu kencang. Menembus terik matahari yang bersinar sangat terang. Meskipun hati Serena masih dipenuhi rasa penasaran. Serena lebih memilih diam dan menyimpan rapat rasa penasarannya itu untuk nanti.
Serena kembali menikmati pemandang dari luar jendela. Hingga beberapa saat kemudian, mobi itu sudah masuk melalui gerbang besar yang menjulang tinggi.
Dua orang pengawal berlari cepat untuk membukakan pintu Daniel dan Serena. Daniel dan Serena turun secara bersamaan. Keduanya berjalan menuju ke arah kamar Ny. Edritz. Satu pengawal yang berdiri tegab di depan pintu kamar Ny. Edritz, sudah membukakan pintu untuk memberi jalan.
“Daniel,” ucap Ny. Edritz lirih saat melihat Daniel tiba.
“Mama,” melangkah cepat ke ranjang Ny. Edritz.
Tuan Edritz duduk disofa, yang tidak jauh dari posisi Ny. Edritz. Kedatangan Daniel dan Serena, membuat dirinya berdiri untuk menyambut kedatangan keduanya.
“Maafkan mama.” Tangis Ny. Edritz pecah.
“Daniel yang salah ma, maafkan Daniel.” Menggenggam tangan Ny. Edritz dan menciumnya.
“Mama yang salah sayang.” Masih meneteskan air mata.
“Mama jangan sedih, Daniel akan selalu sayang sama mama.” Menghapus tetesan air mata di pipi Ny. Edritz.
“Daniel, maafkan papa,” sambung tuan Edritz.
“Sudahlah pa, kita lupakan semua yang terjadi.” Masih memandang wajah Ny. Edritz.
“Mama makan ya,” sambung Serena, yang kini sudah berdiri di samping Daniel.
“Iya sayang. Terima kasih, karena sudah membawa Daniel pulang,” menatap Daniel dengan perasaan bahagia.
“Serena akan ambilkan makan untuk mama,” melangkah pergi meninggalkan kamar Ny. Edritz.
“Ma, rahasiakan ini semua dari Serena. Daniel tahu, semua ini mama lakukan untuk kebaikan Serena. Maafkan Daniel ma.”
“Mama yang salah, seharusnya mama tidak merahasiakan semua ini dari dirimu, Daniel. Ini pernikahanmu, seharusnya mama bisa lebih terbuka sejak awal.” Menunduk sedih.
“Jangan sedih ma, mama harus tersenyum seperti biasa.”
“Mama sangat menyayangimu.” Menggenggam tangan Daniel.
“Apa ini obat dari Adit.” Mengambil box kecil berisi buliran obat, “Mama belum meminumnya,” ucap Daniel tidak suka.
“Mama akan meminumnya.” Mengambil paksa box yang di pegang Daniel, “Mama ingin selalu sehat, hingga nanti mama bisa bermain dengan cucu mama.”
“Mama masih memikirkan hal itu?” tanya Daniel sambil mengerutkan kening.
“Tentu, kau dan Serena harus segera memberikan mama cucu.” Mencubit pipi Daniel.
“Sekarang harus sehat dulu. Baru memikirkan cucu lagi,” ucap tuan Edritz.
“Benar kata papa, ma.” Tersenyum lebar.
“Mama harus membuat rencana bulan madu ke dua untuk kalian,” ucap Ny. Edritz pelan.
“Mama, kenapa masih memikirkan hal seperti itu lagi,” jawab Daniel tidak suka.
“Hanya kau pewaris tunggal Edritz Chen. Bagaimana perusahaan ini bisa berkembang, jika kau terus menunda memberikan mama cucu.”
‘Hubunganku dengan Serena, baru saja membaik ma,” gumam Daniel dalam hati.
“Mama akan mendapatkan apa yang mama inginkan, sekarang mama harus cepat sembuh.”
Serena masuk ke dalam kamar, di temani dengan pak Sam dan beberapa pelayan. Membawa beberapa jenis makanan dan minuman ke dalam kamar Ny. Edritz.
“Aku sudah melarang pak Sam, tapi pak Sam membawa semua ini,” ucap Serena pelan.
“Tidak apa-apa, kita akan makan di sini bersama mama,” jawab Daniel sambil tersenyum.
“Ya, papa juga belum makan sejak pagi.” Memegang perutnya yang keroncongan.
Suasana kamar Ny. Edritz kembali di penuhi dengan canda tawa. Keluarga harmonis yang sempat mengalami keretakan itu, kita sudah kembali bersatu. Hadirnya Serena di antara mereka, memang membuat warna di dalam keluarga Edritz Chen.
Like, Komen, Vote, itu satu bentuk respon kalian terhadap karya ini.
Terima kasih sudah membaca.😘😘