
Di ruangan kerja Daniel.
Daniel memutar kursi kerja miliknya agar Serena bisa menatap wajahnya. Sedangkan Serena, masih menatap ke arah meja dengan pikiran yang melayang. Semua masa lalu Diva tergambar jelas di dalam imajinasinya. Tangis Diva saat wanita itu di nodai, bisa dirasakan Serena saat itu.
Kini wanita itu tahu, apa yang menyebabkan Angel menjadi terkena penyakit langkah seperti itu. Percobaan Diva untuk mengugurkan Angel yang menjadi penyebab semuanya. Diva tidak pernah rela kalau harus melahirkan anak tanpa sosok suami disampingnya. Di tambah lagi, Diva hamil karena pemerkosaan yang dilakukan oleh beberapa pria yang tidak ia kenali.
Daniel masih berdiri di samping Serena. Pria itu mengelus lembut rambut sang istri untuk memberikan ketenangan. Menghapus buliran air mata yang masih menetes satu persatu di wajah Serena. Sejak awal ia sudah tahu semua masa lalu Diva. Ia berencana untuk menceritakan semuanya saat pulang dari bulan madu. Tidak di sangka, Tama lebih dulu membocorkan rahasia penting ia sudah ia simpan rapi.
“Sayang ….” bujuk Daniel untuk yang kesekian kalinya.
Serena mendongakkan wajahnya menatap wajah Daniel yang saat itu berdiri di samping kirinya. Daniel menarik tangan Serena agar wanita itu berdiri dari duduknya. Melingkarkan satu tangannya di pinggang Serena, satu tangan yang lain mengelus lembut pipi Serena.
“Jangan sedih lagi. Semua sudah terjadi. Yang paling penting saat ini, kita harus segera menyembuhkan Angel dan menemukan Diva. Semua orang punya masa lalu yang beraneka ragam.” Daniel mengukir satu senyuman, berharap sang istri tidak lagi menangis.
Serena hanya diam. Wanita itu belum ingin mengeluarkan kata. Kepalanya tertunduk seperti orang yang tidak bersemangat. Daniel duduk di kursi kerja miliknya. Menarik tangan Serena agar wanita itu duduk di atas pangkuannya. Mengunci kedua tangannya di perut Serena. Kepalanya ia letakkan di pundak Serena sebelah kanan.
“Sayang, apa aku tidak pantas untuk berada di dalam pikiranmu? kenapa kau selalu saja memikirkan orang lain? aku akan ikutan sedih setiap kali melihat wajahmu sedih seperti itu.” Daniel mengecup pipi kanan Serena dengan lembut.
Serena mengusap lembut pipi Daniel dengan satu senyuman kecil. Memandang wajah Daniel yang kini berjarak sangat dekat dengan wajahnya.
“Sayang, maafkan aku. Aku hanya sedikit kaget saat mendengar berita ini,” ucap Serena dengan suara sedikit berbisik.
Daniel mengukir senyuman lagi, sebelum mencium bibir istrinya yang terlihat merah dan basah. Satu tangannya masih memeluk erat tubuh Serena, menahan agar wanita itu tidak terjatuh. Satu tangan yang lainnya terlihat mendorong kepala Serena agar tidak bisa menjauh dari hadapannya.
Ciuman itu berlangsung cukup lama. Ciuman yang diawali dengan kelembutan, kini sudah berubah panas dan penuh gairah. Daniel memejamkan matanya karena frustasi. Lagi-lagi ia ingat perkataan sang istri kalau wanita itu belum bisa untuk ia sentuh. Serena mengukir senyuman saat Daniel sudah melepas ciumannya.
“Sayang, maafkan aku.” Serena tahu, kalau saat ini suaminya lagi-lagi menginginkannya. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak untuk menyenangkan suaminya.
“Asal kau tidak sedih lagi, semua akan baik-baik saja,” jawab Daniel dengan satu kecupan singkat di pipi.
“Daniel, apa kau tidak bekerja? bagaimana S.G.Group bisa berkembang, jika mereka memiliki CEO yang bekerja dengan cara seperti ini.” Serena membuka-buka berkas yang tertumpuk rapi di atas meja kerja Daniel.
“Sayang, apa kau mau bekerja? kau bisa menemaniku hari ini.” Daniel mengambil berkas yang di ambil Serena. Membuka berkas itu untuk menunjukkan isinya.
“Apa aku boleh bekerja?” tanya Serena penuh antusias.
“Ya,tapi hari ini saja.” Daniel tertawa kecil.
“Daniel, aku ingin bekerja seperti dirimu,” protes Serena tidak terima.
“Jangan, biar aku yang bekerja. Kau hanya perlu mencintaiku dengan setulus hatimu. Agar aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan sempurna di sini.” Daniel menghidupkan laptopnya yang sempat terkunci.
“Daniel, aku akan duduk di sana. Sepertinya aku akan mengganggumu jika ada disini.” Serena mulai merasa tidak nyaman, saat ia berada di atas pangkuan Daniel. Kedua tangan Daniel berada di samping tubuhnya, membuat wanita itu tidak bisa bergerak bebas. Di tambah lagi, hembusan napas Daniel yang begitu terasa di telinganya, setiap kali pria itu mengeluarkan kata.
“Sayang, tetap di sini.” Daniel masih fokus dengan pekerjaannya. Meskipun kini wanita itu ada di atas pangkuannya.
Serena hanya bisa menghela napas dan tidak lagi protes. Memperhatikan semua pekerjaan Daniel yang kini tersusun rapi di laptop. Senyum liciknya mengembang saat ia memikirkan sesuatu yang bisa mengerjai Daniel.
Serena duduk dengan gelisah di atas pangkuan Daniel sambil menahan tawa. Ia tahu, gerakan yang saat ini ia lakukan akan memecahkan kosentrasi suaminya itu. Membuat pria itu merasakan satu gairah yang tidak bisa untuk diungkapkan.
Daniel menghentikan aktifitas kerjanya, menatap wajah Serena dengan seksama.
“Sayang, apa kau sengaja melakukannya? apa kau sangat senang menyiksaku seperti ini?” tanya Daniel dengan wajah tak terbaca lagi.
Serena mengukir satu senyuman manis di depan Daniel. Satu suara kecil yang terdengar dari perut Serena membuat Daniel menundukkan kepalanya.
“Apa kau lapar, Sayang?” tanya Daniel serius.
Serena mengangguk sambil memegang perutnya yang terasa keroncongan. Ya, sejak dulu memang wanita yang berstatus ketua mafia itu tidak pernah bisa menahan lapar. Wajahnya akan terlihat sangat menyedihkan saat ia harus menahan lapar.
“Daniel, ayo kita pulang. Aku hanya ingin memakan makanan Pak Sam.” Serena memasang wajah manja agar Daniel tidak bisa menolak permintaannya saat ini.
“Hem, baiklah. Ayo kita pulang,” Daniel mematikan laptopnya dan menunda pekerjaan pentingnya siang itu.
Serena beranjak dari pangkuan Daniel, merapikan pakaian yang saat itu ia kenakan. Daniel juga terlihat merapikan jasnya sebelum menggenggam tangan Serena.
“Ayo kita pulang,” ucap Daniel dengan lembut.
Serena mengikuti langkah Daniel dengan senyuman indah. Ia kembali mengingat keberadaan Angel yang sejak tadi dijaga oleh baby sister.
“Daniel, dimana Angel?” tanya Serena sambil menatap wajah Daniel dengan seksama.
“Aku menyuruh perawat itu membawa Angel pulang ke rumah lebih dulu. Agar ia bisa mencoba kamar barunya.” Daniel mengedipkan sebelah matanya.
Serena hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Daniel. Langkah Daniel dan Serena terhenti saat Biao dan Tama berjalan menghampiri posisinya. Kedua pria itu menunduk hormat di hadapan Daniel dan Serena.
“Tuan, clien kita sudah menunggu di ruang rapat.” Biao berbicara lebih dulu, pria itu tahu kalau sahabatnya masih merasa takut untuk mengeluarkan kata di hadapan Daniel.
“Aku mau pulang bersama Serena. Aku harus menemani istriku ini makan siang. Kalian urus semuanya.” Daniel melanjutkan langkah kakinya.
“Tapi, Tuan ….” ucap Biao tertahan saat Daniel menghentikan langkahnya dan menatap wajah Biao dan Tama secara bergantian.
Serena tertawa kecil mendengar perkataan Daniel, “Sayang, jangan memberi beban kepada Tama dan Biao. kau pria yang sangat jahat.” Protes Serena sambil mencubit perut Daniel.
“Sayang, begini saja bagaimana kalau aku suruh mereka memilih.” Daniel meletakkan kedua tangannya di kedua pipi Serena.
“Memilih apa?” tanya Serena pensaran.
Daniel tersenyum lagi sebelum menatap wajah Tama dan Biao.
“Jika kalian di suruh memilih, kalian lebih memilih rapat dan melihat istri tercintaku ini kelaparan. Atau memilih ….”
“Tidak, Tuan tidak. Kesehatan Nona jauh lebih penting dari apapun,” sambung Biao cepat.
“Benar Tuan, saya akan menghubungi Pak Han untuk menyiapkan makan siang spesial untuk Nona Serena,” sambung Tama yang langsung mengeluarkan ponselnya dari saku.
“Rapat ini hanya rapat biasa, Tuan. Jangan khawatir, kami bisa membereskan semuanya,” sambung Biao lagi.
“Kalaupun kita kehilangan kontrak itu hari ini. Itu tidak akan membuat S.G.Group bangkrut, Tuan,” sambung Tama yang sudah melekatkan handphonenya di telinga.
Serena tertawa keras saat mendengar perkataan Biao dan Tama. Kedua pria itu seperti sudah tahu kalimat apa yang akan dikatakan Daniel selanjutnya. Sedangkan Daniel hanya tersenyum kecil melihat istrinya tertawa dengan begitu bahagia. Tidak ada lagi beban di wajahnya saat Daniel melihat tawa Serena.
“Sayang, kau sudah tahu jawabannya. Ayo kita pulang.” Daniel melanjutkan langkahnya. Menggenggam erat tangan Serena dengan begitu mesra menuju ke arah lift.
Sedangkan Biao dan Tama masih berdiri mematung memperhatikan punggung kedua majikannya itu.
“Jika Nona Serena setiap hari ada di S.G.Group. Kantor ini benar-benar akan tutup,” ucap Biao pelan.
“Padahal ini clien penting yang datang secara khusus dari luar negeri,” sambung Tama dengan wajah tidak kalah lesu dengan Biao.
“Tama, kau selalu memiliki ide brilian untuk mencari alasan. Pikirkan satu alasan yang bagus, agar clien kita hari ini tidak kabur.” Biao menatap serius wajah Tama.
“Masalahnya clien kita sudah tahu kalau Tuan Daniel ada di sini,” protes Tama sambil mengacak-ngacak rambutnya.
Tama dan Biao hanya bisa menarik napas sambil memikirkan alasan untuk cliennya. Dengan penuh hati-hati dan sedikit rasa gugup, kedua pria itu masuk ke dalam ruang rapat yang sudah dipenuhi orang-orang penting.
Biao menatap satu persatu wajah cliennya, tatapan matanya terhenti saat ia melihat satu wanita yang duduk di hadapannya. Wanita itu salah satu wakil perusahaan asing yang kini hadir untuk negosiasi.
Tama melirik sesaat ke arah Biao dan wanita itu. Satu senyuman licik lagi-lagi terlintas di benaknya.
“Selamat siang, Tuan dan Nona. Mohon maaf, karena ada sesuatu yang sangat penting dan darurat. Tuan Daniel tidak bisa hadir pada rapat siang ini. Mohon pengertiannya,” ucap Tama sambil menundukkan kepalanya.
“Rapat siang ini akan saya ambil alih,” sambung Tama lagi.
Rapat siang itu berjalan lancar, karena kemampuan negosiasi Tama yang sangat ahli. Sejak dulu, S.G.Group memang sudah berada didalam genggaman tangannya. Hampir semua kelemahan cliennya ia bisa mengetahuinya. Membuat Daniel semakin mudah dan terlihat santai setiap kali ia meninggalkan rapat.
Setelah rapat selesai, Tama berjalan mendekati wanita yang sejak tadi menjadi targetnya. Pria itu tersenyum manis di hadapan wanita itu sebelum mengeluarkan kata.
“Nona Anna, bagaimana kabar anda hari ini? jika tidak keberatan, apa anda mau makan siang bersama kami?” Tama melirik ke arah Biao yang terlihat sibuk merapikan berkas.
“Aku tidak ingin keluar,” jawab Biao dengan santai.
“Maaf, Tuan. Tapi saya harus menghadiri rapat di tempat lain. Permisi.” Wanita itu berlalu pergi begitu saja, tanpa kesan sedikitpun terhadap penampilan Biao dan Tama.
Tama menatap kecewa ke arah pintu saat wanita itu sudah menghilang. Pria itu kembali duduk di kursi yang sejak tadi ia duduki. Wajahnya terlihat kecewa.
“Apa kau menyukainya?” tanya Biao dengan wajah serius.
“Aku tidak menyukainya, aku sudah punya pilihanku sendiri,” ucap Tama dengan santai.
Biao menghentikan aktifitasnya saat mendengar perkataan Tama, “Siapa? aku tidak pernah melihat kau dekat dengan wanita manapun.”
“Aku sudah berjanji untuk menikahinya, tapi karena kau belum menikah jadi ….” Tama memasang wajah sedih yang sangat memprihatinkan.
“Wanita itu, yang tadi bernama Anna tadi. Aku akan menghubunginya,” jawab Biao dengan suara yang sangat pelan.
“Benarkah?” tanya Tama dengan wajah berseri-seri.
“Jangan sampai aku mengulangi perkataanku,” ucap Biao dengan wajah dingin.
“Aku akan membantumu melewati kencan pertamamu, sobat.” Tama merangkul pundak Biao dengan begitu mesra.
“Aku hanya ingin menghubunginya, bukan mengajaknya kencan.” Biao lagi-lagi protes tidak terima.
“Kau harus mencobanya,” sambung Tama dengan wajah berseri-seri.
Tama dan Biao meninggalkan ruangan rapat bersamaan. Berjalan beriringan menuju ke ruang kerja mereka masing-masing. Di tengah jalan, Biao menatap wajah Tama dengan seksama. Satu senyuman kecil terukir di bibirnya.
Tama, kau sahabat terbaikku. Maafkan aku karena sudah banyak menyusahkan hidupmu selama ini. Jika bukan karena kemurahan hatimu itu. Detik ini, aku tidak akan bisa menjadi seperti sekarang. Terima kasih untuk semuanya. _Biao
Biao, maafkan aku. Aku harus berbohong seperti ini agar kau mau membuka hatimu. Kau juga pantas bahagia dan dicintai. Aku tidak ingin sahabat terbaikku ini harus membenci cinta. Aku ingin kau hidup bahagia dan dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. _Tama