Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kembalinya Tama Part. 2



Di dalam ruangan, Daniel dan Biao sudah menunggu Tama sejak tadi. Masih banyak pertanyaan yang ingin Daniel tanyakan, tentang masa lalu Serena yang telah Tama ketahui. Munculnya Tama denga raut wajah bahagia, setelah berhasil mengancam Sonia. Menimbulkan tanda tanya besar di dalam pikiran Biao dan Daniel.


“Apa yang terjadi?” tanya Biao bingung.


“Tidak ada, aku hanya sedang bercanda kecil dengan Sonia di depan,” jawab Tama santai.


“Tama, jelaskan padaku semuanya,” tanya Daniel tanpa perlu banyak basa basi.


“Jelaskan tuan?” tanya Tama bingung.


“Tentang masa lalu Serena, yang sudah kau ketahui.”


Tama membuang tatapan matanya kepada Biao yang kini berdiri di sampingnya. Sedangkan Biao hanya tertunduk diam, tidak dapat membela Tama saat ini.


“Nona Serena,” ucapannya terhenti, bibirnya terkunci untuk mengungkapkan satu kenyataan pahit yang akan di dengarkan oleh Daniel.


“Apa kau ingin bercanda denganku, Tama?” ucap Daniel yang sudah beranjak dari duduknya dan menatap tajam ke arah Tama.


Biao masih tetrunduk diam, Biao memang sudah lebih dulu tahu semua masa lalu nona mudanya itu. Tama telah menceritakan semuanya, saat keduanya berjumpa di restoran saat Daniel dan Mr. X bertemu waktu itu. Biao yang menghilang dan tidak kunjung muncul, saat itu sedang membahas masa lalu Serena yang sudah berhasil diketahui oleh Tama.


“Tama!” teriak Daniel hingga suaranya memenuhi isi ruangan itu.


Lamunan Biaopun terhenti saat mendengar teriakan Daniel, matanya ia arahkan pada wajah Tama yang masih belum memberikan informasi.


“Tama,” ucap Biao sambil menganggukkan kepala, untuk memberi kode kepada Tama agar menceritakan semuanya saat ini.


Tama menarik nafasnya dalam dan membuangnya secara perlahan. Entahh peristiwa apa lagi yang akan terjadi, saat Daniel mendengarkan berita penting yang ingin ia sampaikan saat ini.


“Nona Serena memiliki kekasih bernama Zeroun Zein, tuan,” ucap Tama pelan dan penuh rasa ketakutan.


“Kekasih?” ulang Daniel memastikan.


“Benar tuan, pria itu juga ketua geng mafia bernama Gold Dragon,” sambung Tama lagi.


Biao masih menyimpan rasa cemas, atas reaksi berikutnya yang akan di lakukan oleh Daniel. Biao mengintip sebentar kearah Daniel, untuk memastikan keadaan tuannya saat ini. Sedangkan Daniel hanya diam tanpa mengeluarkan ekspresi sedikitpun.


“Kau sudah memiliki kekasih, Serena?” gumam Daniel dalam hati.


“Arion adalah musuh utama Zeroun tuan, nona Serena ikut terlibat karena dia adalah kekasih dari Zeroun.”


“Dimana sekarang pria itu?” tanya Daniel cepat.


“Kami belum berhasil menemukannya tuan, sejak kecelakaan nona Serena waktu itu. Kabar tentang geng mafia Gold Dragon juga menghilang. Belum ada yang mengetahui dimana pria itu kini berada,” jawab Tama lagi.


“Kenapa dia tidak mencari Serena?” tanya Daniel penuh selidik.


“Tuan Wang mengarang cerita tentang kematian nona Serena tuan. Mungkin pria itu mengira nona serena telah meninggal tuan.”


“Zeroun Zein! aku mau secepatnya kalian menyelidiki keberadaannya,” perintah Daniel cepat.


“Baik tuan,” ucap Biao dan Tama bersamaan.


“Cerita masa lalumu sangat menarik, Serena. Apa yang akan kau lakukan, jika nanti kau kembali mengingat semuanya,” gumam Daniel dalam hati.


Suasana ruangan itu kembali hening, Daniel masih larut dalam pikirannya sendiri. Tama dan Biao hanya saling menatap, tanpa ingin mengeluarkan perkataan lagi.


***


Di rumah utama, Adit baru saja tiba setelah membaca pesan singkat yang di kirmkan Tama beberapa menit yang lalu. Adit terlihat berjalan santai masuk ke dalam rumah, dengan membawa tas hitam yang menjadi pelengkapnya untuk bekerja.


Serena yang masih duduk di meja makan dengan Diva, tersenyum manis menyambut kedatangan Adit.


“Dokter Adit, kenapa anda ke sini? Saya sudah sehat,” ucap Serena penuh percaya diri.


“Benarkah? boleh aku ikut sarapan?” pinta Adit sambil memegang perutnya, “Aku belum sarapan."


“Tentu saja, mari kita sarapan bersama,” ucap Serena lembut.


“Apa Ny. Edritz sudah sehat?” Mengambil satu buah roti dan mengisinya dengan selai.


“Mama sakit?” tanya Serena panik.


“Kau tidak mengetahuinya?” tanya Adit balik.


Serena hanya menggeleng pelan, hatinya di penuhi rasa kecewa saat mengetahui kabar sakit Ny. Edritz dari orang lain.


“Apa aku salah bicara,” gumam Adit dalam hati.


“Nona Serena,” panggil Adit cepat yang masih mengunyah roti di dalam mulutnya.


“Kenapa dokter tidak selesaikan dulu sarapannya? Diva akan menemani anda di sana,” ucap Serena sambil menahan tawa atas prilaku Adit pagi ini.


“Bisakah kau menemaniku sebentar, nona? ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Adit memohon agar Serena mau menuruti permintaannya.


“Tapi aku ingin melihat mama.”


“Kita akan menjenguknya bersama-sama nanti,” tawar Adit lagi.


“Baiklah,” ucap Serena menuruti permintaan Adit.


Serena kembali melangkah menuju ke meja makan bersama dengan Adit. Diva terlihat berdiri di sudut meja, saat melihat Serena pergi menuju kamar Ny. Edritz.


“Diva, bisakah kau membuatkanku segelas teh,” pinta Adit yang mengusir Diva secara tidak langsung.


“Baik, tuan.” Melangkah pergi menuju ke dapur.


“Apa yang ingin kau katakan, Dokter Adit?” tanya Serena penuh selidik.


“Serena, apa ada hal yang kau ingat. Sebelum kau lupa ingatan? maksudku, apa yang menyebabkanmu hingga lupa ingatan?” tanya Adit cepat.


“Kau memberi tahu hal itu pada Daniel, dokter?” tanya Serena balik.


“Ya, aku memberi tahunya. Apa itu jadi masalah saat ini?”


Serena hanya menggeleng pelan, sebelum menjawab pertanyaan Adit sebelumnya.


“Papa bilang, aku ….” ucapannya terhenti, saat ia kembali mengingat perkataan tuan Wang kalau dirinya lupa ingatan karena frustasi dan melompat dari atas gedung.


“Nona Serena,” sapa Adit lagi.


“Aku tidak pernah memberi tahu siapapun. Tapi karena dokter memaksa, aku akan mengatakannya.” Serena menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai cerita yang ia ketahui, “Papa bilang, kalau aku tidak pernah mendapat kasih sayang dari papa sejak mama meninggal, dan aku bunuh diri dengan melompat dari atas gedung,” ucap Serena dengan nada yang semangkin pelan.


“Bunuh diri?” Teriak Adit dengan kaget.


“Jangan terlalu kuat, nanti ada yang dengar.” Melirik ke beberapa pengawal yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.


“Bekas luka itu bukan seperti habis jatuh dari sebuah gedung, luka itu berasal dari satu kecelakaan yang sangat parah,” gumam Adit dalam hati.


“Dokter Adit, apa ada yang salah?” tanya Serena khawatir.


“Tidak, aku hanya ingin tahu penyebabnya saja,” jawab Adit penuh kebohongan.


“Apa aku bisa sembuh? apa aku bisa kembali mengingat semuanya?” tanya Serena yang sudah di penuhi rasa penasaran yang amat besar.


“Kau ingin mengingat semua masa lalumu, nona?”


“Ya, tentu saja. Aku tidak tahu itu hal yang membahagiakan atau tidak. Tapi, aku selalu merasa kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku, dokter.”


“Jangan terlalu memikirkan hal itu, kondisimu masih belum sehat sejak peristiwa penembakan itu,” bujuk Adit agar Serena tidak lagi memaksakan ingatannya.


“Apa ada cara agar aku bisa kembali mengingat masa laluku?”


“Tidak ada Serena,” ucapan Adit terhenti saat melihat kedatangan Diva dengan satu gelas teh hangat, “Aku ingin memeriksa Ny. Edritz, kau mau ikut?” ajak Adit pada Serena.


“Ya, aku juga ingin melihat mama. Tapi, Diva baru saja membawakan minuman yang kau minta.”


“Aku akan meminumnya nanti.” Beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke arah kamar Ny. Edritz. Di ikuti oleh Serena dari belakang.


Like, komen, vote.


Baca juga Novel kakakku.


"Arsitek Cantik" dan "Cinta Untuk Dokter Nisa"


By. Fit TRee Fitri


Jadikan favorit, like, komentar dan bintang 5.


Terimakasih sudah membaca.


Author sayang kalian...😘😘