Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 33



Pagi yang cerah, Daniel dan Serena baru saja selesai mandi. Serena memasangkan dasi Daniel dengan senyum ceria. Daniel juga tersenyum bahagia memandang wajah Serena.


“Sayang, apa yang akan kau lakukan hari ini?” Daniel memandang tubuhnya di depan cermin.


“Tidak ada, aku akan berada di rumah seharian bersama Shabira.” Serena mengambil jas Daniel, memasangkannya perlahan.


“Aku akan menemanimu menemui Kenzo. Biar aku yang menjelaskan semuanya.” Daniel memandang wajah Serena.


“Kita akan ke rumah Kenzo?” tanya Serena pelan.


“Kita tidak perlu ke sana. Aku yakin dia akan ke sini sebentar lagi. Aku sudah mengenalnya sejak kecil.” Daniel mengedipkan sebelah matanya.


“Ayo sekarang kita turun, dan sarapan.” Daniel merangkul pinggang Serena.


Serena hanya diam memikirkan perkataan Daniel. Isi kepalanya masih dipenuhi dengan nama Kenzo dan Shabira. Karena dirinya, hubungan keduanya berpisah. Serena bertekad untuk menyatukan keduanya secepat mungkin.


Daniel dan Serena keluar dari dalam kamar. Belum sempat menuruni satu anak tangga, keduanya dikagetkan dengan suara tembakan dari halaman samping.


“Apa hari ini jadwal latihan?” Serena memandang wajah Daniel.


Daniel menggeleng cepat, “Tidak sayang, hari ini bukan akhir bulan.”


“Ayo kita turun untuk melihat apa yang terjadi.” Serena dan Daniel menuruni anak tangga dengan cepat.


Langkah keduanya terhenti di bawah tangga, saat memandang Biao dan Tama yang berlari cepat dari pintu depan.


“Apa yang terjadi?” tanya Daniel panik.


“Maaf, Tuan. Saya tidak tahu siapa yang latihan menembak di halaman samping.”


Tanpa banyak kata, Daniel dan Serena berjalan cepat ke arah halaman samping. Biao dan Tama juga mengikuti langkah Daniel dan Serena dari belakang.


Suara tembakan itu kembali terdengar. Semua orang berdiri mematung, saat tiba di halaman samping.


“Shabira!” ucap Serena pelan.


Serena berjalan mendahului Daniel. Ia mendekati tubuh Shabira yang kini terus saja latihan menembak.


“Shabira, apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini?” Serena memegang punggung Shabira.


Shabira menghentikan tembakannya, ia memandang wajah Serena dengan wajah sedih.


“Kak, aku masih kesal dengan Kenzo. Ia tidak menghubungiku lagi. Apa kami akan benar-benar berpisah.” Shabira memeluk tubuh Serena, lagi-lagi ia menangis karena kerinduannya pada Kenzo.


“Jangan menangis. Aku dan Daniel akan membicarakan ini padanya. Ia hanya salah paham terhadap dirimu.” Serena mengelus pelan punggung Shabira.


Shabira melepas pelukannya, “Apa dia akan percaya?” tanya Shabira dengan penuh keraguan.


“Tentu, dia akan percaya padamu. Sekarang kita sarapan dulu, masalah itu kita pikirkan nanti.” Serena menggenggam tangan Shabira.


Langkah Shabira terhenti. Serena kembali memutar tubuhnya untuk memandang wajah Shabira.


“Ada apa lagi?” tanya Serena sambil mengerutkan dahinya.


“Aku ingin melihat kakak menembak.” Shabira menyodorkan satu pistol di hadapan Serena.


“Jangan sekarang.” Serena menolak permintaan Shabira.


“Kak, aku tahu sesuatu akan terjadi. Aku hanya ingin memastikan semuanya, kalau kakak tidak lupa cara menembak.”


Serena memandang ke arah Daniel untuk meminta persetujuan. Daniel mengangguk sambil tersenyum memandang wajah Serena. Serena mengambil pistol yang diberikan oleh Shabira. Serena memandang pistol itu dengan seksama. Terakhir kali ia memegang pistol, saat penyerangan di rumah Diva, setelah itu ia tidak pernah memainkan pistol lagi.


Shabira mengambil pistol lainnya. Ia juga menodongkan pistol ke arah bidikan. Shabira dan Serena memfokuskan pandang ke arah sasaran.


Daniel memandang serius ke arah Serena dan Shabira. Meskipun sudah dua kali melihat Serena menembak, tapi Daniel masih menyimpan rasa penasaran terhadap gaya menembak Serena. Tama dan Biao juga memandang ke arah Serena. Mata keduanya tidak lagi berkedip, pandangannya hanya di pusatkan, pada bidikan yang berada tidak jauh dari posisi Serena dan Shabira.


Duar!


Shabira melepas satu tembakan dengan tepat sasaran, ia tersenyum dengan bahagia sambil memandang wajah Serena.


“Aku sangat merindukan momen ini.” Shabira menunggu tembakan Serena, ia sudah tidak sabar, melihat Serena melawan dirinya pagi ini.


Suasana berubah hening seketika. Tidak terdengar apapun di sana. Pandangan semua orang, hanya ada pada sasaran Serena saat ini.


Duar!


Serena melepas satu tembakan. Semua orang terperanjat kaget. Serena tidak menembak ke arah bidik sasaran. Melainkan ke arah tembok tinggi yang membatasi rumah dengan jalan.


“Apa yang terjadi kak, kenapa kau menembak ke arah sana.” Shabira memandang ke arah tembok.


Daniel berlari mendekati Serena, “Sayang, apa yang terjadi?” tanyanya dengan penuh khawatir.


“Ada penyusup di sana,” jawab Serena santai. Ia meletakkan kembali pistol itu pada tempatnya.


“Biao!”


“Baik, Bos.”


Tanpa banyak perintah, Biao berlari mendekati tembok itu. Biao memperhatikan tembok itu dengan seksama. Ia menemukan percikan cairan merah di tembok yang berwarna putih.


“Ini pasti darah penyusup itu.”Biao berlari menemui Daniel dan Serena.


Biao menunduk hormat sebelum memberi informasi, “Benar, Tuan. Ada bekas darah di sana. Saya rasa, tembakan Nona Serena mengenai bagian tubuh pria itu.”


“Kau sungguh tidak berguna, Tuan. Kenapa bisa ada penyusup dengan penjagaan seperti ini.” Shabira protes, ia menatap tajam wajah Biao.


Daniel dan Shabira mengikuti langkah Serena. Biao dan Tama membungkuk hormat, saat Serena melewati tubuhnya.


“Selidiki penyusup itu.” Perintah Daniel singkat.


“Baik, Tuan.” Biao membungkuk lagi.


Shabira mendahului langkah Daniel, ia merangkul tangan Serena dengan manja.


“Kakak, kenapa kau sangat hebat. Aku tidak tahu kalau ada penyusup sejak awal. Tapi, hanya satu tembakan saja, kau berhasil melukai penyusup itu.”


“Aku sudah melihatnya sejak awal. Hanya tidak tahu, cara untuk menangkapnya,” jawab Serena santai.


Beberapa pelayan membukakan kursi untuk Daniel, Serena dan Shabira duduk. Pak Han sudah menyambut kedatangan Daniel. Tama dan Biao masih sibuk memeriksa halaman samping.


Wajah Daniel terlihat murung. Daniel hanya diam melamun, memikirkan penyusup yang baru saja di tembak oleh Serena. Serena memandang wajah Daniel dengan senyuman, memegang tangan Daniel dengan lembut.


“Ada apa? masih memikirkan penyusup itu?” tanya Serena lembut.


Daniel mengangguk cepat. ia menggenggam tangan Serena, “Aku sangat mengkhawatirkan dirimu, Serena.” Daniel mencium tangan Serena.


“Semua akan baik-baik saja,” jawab Serena penuh dengan keyakinan.


Shabira melirik ke arah Serena dan Daniel secara bergantian. Semangkin hari, ia semangkin tahu rasa cinta Daniel untuk Serena.


Pria ini juga sangat mencintai Kak Erena.


Pak Han membungkuk hormat. Ia membawa semua pelayan kembali ke dapur. Hanya tersisa Daniel, Serena dan Shabira di ruang makan. Tidak jauh dari ruang makan, ada pengawal yang berjaga.


Shabira memulai sarapan paginya. Ia tidak banyak mengeluarkan kata, saat melihat keharmonisan Daniel dan Serena.


Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah selesai sarapan. Tama dan Biao kembali datang menemui Daniel di meja makan.


Dua pengawal bertubuh tegab, menyeret paksa seorang pria asing. Pria itu berlumuran banyak cairan merah di bagian pundak kiri. Pria itu adalah target sasaran Serena pagi ini.


Daniel dan Serena beranjak dari duduknya, memandang ke arah pria yang berstatus sebagai penyusup itu.


Shabira juga berdiri ia berjalan ke samping Serena.


“Bos, pria ini adalah penyusup yang berhasil masuk ke wilayah kita.”


Biao berjalan mendekati penyusup itu, “Katakan, siapa yang mengirimmu.” Biao melempar satu pukulan kepada pria itu. Sejak tadi, penyusup itu hanya diam. Ia tidak ingin memberi tahu siapa yang telah mengirimnya.


Daniel dan Serena hanya diam, mereka tahu kalau pria itu tidak akan mudah memberi tahu nama bosnya. Serena melipat kedua tangannya memandang tajam ke arah penyusup itu. Shabira tersenyum tipis, ia kembali ingat satu cara untuk membuat penyusup itu mengeluarkan kata.


“Biar aku yang melakukannya.” Shabira berjalan mendekati penyusup itu. Biao dan Tama melangkah mundur, keduanya memberi kesempatan kepada Shabira.


Shabira menunduk memandang wajah penyusup itu dengan seksama, “Kau sudah kehabisan banyak darah, tapi masih keras kepala.”


Shabira kembali berdiri lurus, ia mengeluarkan pistol yang menjadi benda favoritnya. Shabira menodongkan pistol itu di kepala penyusup itu.


“Katakan permintaan terakhirmu, Aku akan mengirim cincangan tubuhmu ke rumah orang yang paling kau sayangi. Sangat mudah, mencari keberadaan keluargamu saat ini.”


Pria itu masih diam ketakutan, ia memejamkan matanya untuk menerima kematian yang sudah menjemputnya di depan mata. Tapi, wajah keluarga yang ia cintai kembali muncul. Ia tidak ingin keluarganya susah, karena pekerjaan yang ia miliki.


“Selamat tinggal.” Shabira mulai menarik pelatuk pistol itu secara perlahan.


“Maafkan aku.” Pria itu mengeluarkan kata dengan wajah memohon.


Shabira tersenyum tipis dengan penuh kemenangan.


“Sonia, Nona Sonia yang mengirimku ke sini. Tolong jangan sakiti keluargaku.” Pria itu menangis dengan penuh ketakutan dan rasa bersalah.


Serena tersenyum, ia tahu kalau sejak awal penyusup itu adalah kiriman Sonia. Daniel memandang tajam wajah penyusup itu.


“Biao!”


Duar!


Hanya dengan satu kata, yang keluar dari bibir Daniel. Biao mengeluarkan satu tembakan untuk menghabisi penyusup itu. Penyusup itu tergeletak di atas lantai dengan cairan merah yang berkucur deras.


Shabira menarik napas dalam, memandang wajah Biao dengan tatapan tajam.


“Kau merebut targetku. Aku belum selesai bermain-main dengannya.”


Tama dan Biao hanya diam. Keduanya tidak ingin berdebat dengan Shabira pagi ini.


“Bersihkan semuanya.” Tama memberi perintah kepada dua pengawal yang berdiri di sana.


Pengawal itu menunduk hormat, sebelum membawa tubuh pria itu pergi dari ruang makan.


Serena hanya diam tanpa kata. Daniel merangkul pinggang Serena, memberinya satu kecupan di pipi.


“Apa yang kau pikirkan?” bisiknya di telinga Serena.


Serena tersenyum manis, “Aku rasa, kita melupakan Sonia beberapa hari ini.”


“Siapa Sonia, Kak?” tanya Shabira dengan raut wajah penasaran.


“Kau bisa menanyakan tentang wanita itu kepada Kenzo.” Serena tersenyum manis.


Shabira terdiam. Lagi-lagi berkaitan dengan Kenzo. Shabira menarik napas dalam untuk menahan rasa penasarannya pagi ini.


“Sonia?” ucap Kenzo dari kejauhan.