Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Bab. 46



Daniel juga segera mengeluarkan pistol yang tersimpan. Pria itu bersikap waspada atas musuh yang kini mengincar keluarga kecilnya. Tatapan sepasang suami istri itu sangat-sangat tajam. Bahkan jauh lebih tajam daripada sebilah belati. Daniel berjalan maju untuk melindungi istri dan anaknya yang ada di belakang. Walaupun ia tahu bagaimana kemampuan yang ia miliki saat ini. Tapi, Daniel tidak mau menyerah. Ia ingin berjuang keras untuk melindungi keluarga yang ia cintai. Cukup Tuan dan Ny. Edritz yang sudah menjadi korban. Daniel tidak mau istri dan dua anaknya terluka juga.


“Sayang, apapun yang terjadi. indungi anak kita. Jangan pikirkan aku. Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri. Aku mempercayakan kedua anak kita kepadamu.” Daniel memandang kedua buah hatinya dengan hati yang di selimuti kekhawatiran.


Serena mengangguk pelan, “Berhati-hatilah. Jika aku bisa menyembunyikan anak kita di tempat aman. Aku akan segera membantumu nanti. Kita harus membunuh pria itu hari ini juga, Daniel. Kita tidak akan aman meninggalkan Mama dan Papa, jika pria itu masih hidup. Dia yang memimpin Heels Devils. Dia yang di kirim Jesica untuk kita.” Serena memandangsosok pria yang kini berjalan untuk mendekati posisi mereka berada. Seluruh pengawal S.G. Group telah mengeluarkan senjata api. Mengarahkan ujung pistol mengkilat itu ke arah lawan yang kini berbarik acak di hadapan sang majikan.


Belum sempat Daniel dan Serena menyelesaikan cerita singkat mereka, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan. Serena mendorong baby sister yang tidak jauh dari trolly bayinya. Hingga akhirnya peluru itu meleset dan baby sister itu selamat.


“Terima kasih, Nona,” ucap Baby sister itu dengan wajah ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan keringat yang berkucur deras. Ia jatuh terduduk di atas jalan berdebu. Kedua tangannya menggenggam erat rok biru yang ia kenakan.


Serena dan Daniel menodongkan senjata api mereka ke arah musuh yang baru saja tiba, “Pergilah dari sini. Temui Kenzo dan Shabira. Katakan pada mereka kalau kami di serang di parkiran,” perintah Serena sambil mengeluarkan peluru dengan begitu ahli.


“Baik, Nona.” Baby sister itu lari dengan wajah ketakutan. Ia ingin segera tiba di dalam rumah sakit agar bisa merasakan aman dari bahaya yang kini mengancam nyawanya. Serena menatap tajam ke arah musuh untuk memastikan kalau tidak tidak ada yang mengincar baby sister itu saat ini.


Suara tembakan terdengar dimana-mana. Bahkan sangat memekakan telinga. Dua buah hati Daniel dan Serena tidak suka dengan suara tembakan itu. Dua bayi itu menangis sejadi-jadinya. Seolah mereka protes atas keributan yang tidak mereka sukai.


“Daniel, aku akan membawa anak kita pergi menjauh dari tempat ini,” ucap Serena pelan.


“Sayang, berhati-hatilah. Apapun yang terjadi padaku. Tetap utamakan anak kita,” ucap Daniel dengan tatapan tidak terbaca. Pria itu tidak rela jika harus berada jauh dari anak dan istrinya. Tapi, ia juga tidak mungkin menahan mereka di lokasi itu.


Serena mengenggam trollynya untuk membawa dua bayi kembarnya menjauh. Sedangkan Daniel bertahan di tempat itu bersama dengan pengawal S.G. Group.


“Erena, kau mau lari kemana!” teriak pria yang wajahnya tidak asing lagi bagi Serena. Tapi, Serena terlihat tidak peduli. Wanita itu mempercepat langkah kakinya untuk menjauh dari lokasi parkiran.


“Jangan coba-coba menyakiti keluarga saya,” ucap Daniel sambil menghadang pria berbadan besar itu. Daniel tidak memberi cela sedikitpun untuk pria itu mengejar istri dan anaknya.


“Anda pria yang sok berani, Tuan. Bahkan tanpa bertarung sekalipun sudah bisa di pastikan kalau saya yang akan menang,” ucap Pria itu dengan wajah sombongnya. Pri itu menurunkan senjata api yang ada di tangannya, “Kemarilah, lawan aku dengan tangan kosong. Aku tidak ingin terlalu cepat untuk menang.” Pria itu meregangkan otot-otot lehernya. Kedua tangannya saling beradu seperti sedang meremukkan sesuatu.


Daniel meletakkan senjata apinya di lantai. Pria itu menatap pengawal S.G. Group yang kini terlihat sibuk menembak. Dengan wajah penuh percaya diri, Daniel menyerang lebih dulu pria berbadan besar itu.


Ini merupakan pertarungan pertamanya tanpa bantuan Biao di sisinya. Biao tidak lagi bekerja dengannya. Biao sudah menyandang status presdir untuk mengurus cabang besar S.G. Group di Amerika. Walaupun tanpa ada Biao di sisinya. Tapi, Daniel memiliki keyakinan yang cukup besar. Ia sangat yakin kalau bisa mengalahkan musuhnya saat itu.


Sedangkan Tama, pria murah senyum itu sedang bulan madu dengan Anna. Pernikahan mereka baru saja terjadi beberapa hari yang lalu.


Tanpa menunggu lama agi, Daniel melayangkan satu gerakan kaki untuk mengincar wajah lawannya. Gerakan kaki Daniel di tahan oleh pria itu. Dengan mudahnya ia mendorong tubuh Daniel yang tidak sebanding dengan berat badannya. Daniel mundur beberapa langkah sambil mengeryitkan dahi. Pria itu tetap tidak mau kalah. Daniel lagi-lagi menyerang lawannya tanpa mau memberi jeda. Tubuhnya ia putar dengan kaki di angkat. Kali ini tendangannya tepat sasaran.


Ada luka di wajah pria itu akibat terkena sepatu hitam milik Daniel. Sepertinya Daniel sudah berhasil menguasai ilmu bela diri di tahap yang cukup tinggi. Tidak cukup sampai di situ. Daniel memukul perut pria itu dengan tangan. Namun kali ini gerakannya tertahan. Pria itu bahkan memelintir tangan Daniel hingga pria itu mengalami sakit yang luar biasa.


Satu tendangan juga ia dapatkan tepat di bagian perut. Daniel mengatur napasnya saat tiba-tiba saja napasnya terhenti seketika.


“Aku sudah bilang sejak awal. Kau bukan lawan yang setimpal untukku. Daniel Edritz Chen.” Pria itu tampak menyombongkan diri. Saat melihat Daniel mulai lengah, ia kembali menyerang Ceo makanan ringan itu.


***


Baby sister itu berlari dengan napas terputus-putus. Hatinya benar-benar takut dan ingin segera bersembunyi saat itu. Lorong yang menghubungkan tempat Shabira dan Kenzo berada kini terasa seperti sangat jauh. Padahal sebelumnya lorong itu terasa dekat.


Dari depan ruang operasi itu,Shabira dan Kenzo memandang curiga atas baby sister yang baru saja tiba. Wanita tangguh itu terlihat mencari-cari keberadaan Daniel dan Serena saat ini.


“Kenapa kau kembali?” tanya Kenzo cepat.


“Dimana twin baby?” tanya Shabira dengan wajah yang sangat kahwatir.


“Tembak, Nona. Tembakan,” ucap wanita itu dengan nada terputus-putus.


“Dimana?” tanya Shabira dengan tatapan tajam.


“Di parkiran,” jawab Baby sister itu cepat.


Shabira dan Kenzo tidak mau berpikir terlalu lama lagi. Sepasang suami istri itu berlari cepat menuju ke arah parkiran. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu kepada Daniel dan Serena saat ini.


Di tambah lagi, sekarang sudah ada twin baby. Mereka tahu akan sangat sulit bagi Daniel dan Serena saat ini untuk melindungi dua bayi kembar itu saat sedang bertarung. Walau pada akhirnya, mereka harus berani mengambil resiko yang cukup besar. Meninggalkan Tuan dan Ny. Edritz tanpa penjagaan di dalam ruangan itu.


Uda deg deg kan belummm....🤣