
Daniel duduk di lantai dengan wajah kecewa. Pria itu kini mulai putus asa dan kehilangan ide untuk bisa memecahkan solusi bom penjaga pintu itu.
“Ini jauh lebih sulit daripada harus menghadapi penembak-penembak tadi,” ucap Daniel dengan wajah frustasinya. Merasa tidak mendapatkan solusi lagi. Daniel lebih memilih untuk melakukan kegiatan lain. Pria itu mengambi ponselnya dari dalam saku.
Serena tertawa kecil melihat suaminya malam itu. Di saat yang begitu mencekam seperti ini sempat-sempatnya pria itu mengeluarkan ponsel. Wanita itu berjalan pelan untuk mendekati pintu itu. Pintu itu tidak akan meledak jika tidak di sentuh. Begitulah kira-kira isi pikiran Serena.
“Hallo, Pak Han. Apa Baby Al dan Baby El sudah tidur? Apa mereka baik-baik saja,” ucap Daniel dengan penuh semangat.
Serena menghentikan langkah kakinya. Wanita itu memutar kembali tubuhnya untuk menatap wajah Daniel. Serena menggeleng kepala sambil menahan tawa. Tapi, tiba-tiba saja Serena sadar kalau ruangan itu di lengkapi dengan camera cctv. Melihat ada banyak camera cctv, Serena kembali ingat dengan pintu-pintu itu.
“Ternyata pintu ini ada yang mengendalikannya. Ide yang cukup cerdas,” ucap Serena dengan senyuman kecil.
“Hallo, Sayang. Apa kalian belum tidur? Apa kalian kangen sama Papa? Hum?” ucap Daniel yang baru saja berhasil mendengar ocehan dua bayi kembarnya. Ceo makanan ringan itu tidak terlalu peduli dengan keadaan yang sekarang mereka hadapi, “Tidur lagi ya. Papa sama Mama akan sedikit lama pulangnya. Papa sayang sama kalian.”
“Daniel, kenapa kau menelpon Baby Al dan Baby El?” protes Serena sambil menodongkan senjata untuk menembak camera cctv yang sejak tadi mengintainya.
“Aku akan jauh lebih tenang jika mendengar mereka baik-baik saja, Sayang.” Daniel memasukan ponselnya ke dalam saku. Pada saat yang bersamaan, Kenzo muncul di lokasi yang sama dengan beberapa pasukan yang tersisa. Pria itu tampak baik-baik saja tanpa luka sedikitpun di tubuhnya.
“Apa yang terjadi? Apa kita sudah menang?” ucap Kenzo bingung saat melihat di ruangan itu hanya ada tim yang ia miliki. Tidak terlihat satupun musuh yang harus mereka lawan saat ini.
“Belum, mereka masih bisa tertawa detik ini.” Serena terus melanjutkan tembakan demi tembakan untuk menghancurkan semua cctv yang ada.
“Apa yang kita hadapi saat ini?” ucap Kenzo sambil memandang wajah Daniel dan Serena secara bergantian.
“Pintu itu akan meledak saat kita memegang handle pintunya. Salah satu pintu itu pasti menghubungkan ruangan tempat mereka bersembunyi saat ini,” jawab Daniel sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Pria itu menatap empat pintu yang kini ada di hadapannya.
“Ya, Heels Devils sangat hebat dalam merakit Bom. Sama dengan kemampuan yang dimiliki Laura bukan?” ucap Kenzo. Ia juga memandang pintu itu dengan tatapan bingung, “Andai saja Zeroun dan Lukas ada di sini. Masalah ini akan sangat musah untuk diatasi.”
Mendengar kalimat Kenzo, Serena terdiam beberapa detik. Wanita itu kembali mengingat teknik yang selama ini sering di gunakan Zeroun saat menghadapi bom-bom aneh seperti yang kini mereka hadapi.
“Kenzo, dimana bahan peledak kita.” Serena mencari-cari ke segala arah.
“Kau yang membawanya tadi,” ucap Kenzo sambil mengeryitkan dahi.
“Ini?” ucap Daniel sambil memberikan granat yang sejak tadi di bawah Daniel. Walaupun pria itu sendiri tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Serena dengan mudah melempar benda itu dan meledak. Sedangkan saat Daniel mencoba untuk melempar benda mudah meledak itu justru tidak terjadi apa-apa.
“Ya. Berikan padaku Sayang.” Serena mengulurkan tangannya. Wanita itu mengacungkan bom yang ada di tangannya mengincar salah satu pintu. Dengan gerakan cepat Serena melempar bom itu. Hingga terjadi ledakan dan membuat pintu itu terbuka.
Pada saat yang bersamaan, semua orang mengangkat pistol yang mereka bawa dengan sikap waspada. Ada sebuah tangga di balik pintu itu.
“Aku akan masuk ke pintu itu. Kalian lakukan hal yang sama dan periksa isinya.” Serena berlari dengan cepat di ikuti beberapa pasukan milik Kenzo. Kini yang tersisa di ruangan luas itu Daniel dan Kenzo yang saling menatap satu sama lain.
“Dia wanita hebat bukan. Seharusnya saat ini kita pikirkan nasip kita Daniel.”
***
Serena berjalan cepat menjejaki anak tangga itu. Di lantai atas, Serena menemukan sekelompok orang bersenjata api. Satu pria yang menjadi pimpinan geng itu juga ada di situ. Pria itu duduk di sebuah kursi hitam dengan senyuman tipis di bibirnya.
“Selamat datang, Erena. Kau terlambat 15 menit. Padahal kami sudah menyiapkan pesta kejutan untuk menyambutmu sejak tadi.” Pria itu berdiri dengan satu petikan jari. Dalam hitungan detik, pengawal yang di bawa Serena tewas terkena tembakan dari sniper yang bersembunyi.
“Sekarang kau sendirian, Sayang. Mari bermain-main dengan Heels Devils.” Pria itu merentangkan tangannya dengan tawa yang cukup keras. Bahkan tawanya berhasil memenuhi ruangan berukuran luas itu.
Serena memperhatikan letak-letak sniper itu bersembunyi. Mengingat setiap tempat dan jarak antar satu dengan yang lainnya. Belum siap pria itu menyelesaikan tawanya, Serena sudah menembak kaki seorang pria bersenjata yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat memutar tubuhnya dan menembak satu persatu sniper yang tersembunyi. Tubuh pria yang kini ia genggam, ia jadikan sebagai pelindung dari tembakan-tembakan yang sedang mengincarnya.
Pria itu sempat terdiam saat melihat kelincahan gerak Serena saat itu. Kedua tangannya terkepal kuat. Dalam hitungan waktu satu menit, semua sniper yang ia miliki tewas.
Kenzo dan Daniel juga muncul dengan puluhan tembak yang memba*bi buta. Memberi tembakan balasan kepada sekelompok pria bersenjata yang masih tersisa.
Pria itu terlihat kebingungan saat melihat pasukannya mulai habis. Dengan cepat, ia berlari untuk melarikan diri. Daniel mengejar pria itu untuk menghalanginya agar tidak berhasil kabur. Pria itu mengeluarkan belati untuk menusuk Daniel. Tapi, Daniel menahan tangan kekar pria itu dengan sekuat tenaga. Tubuh dua pria terjatuh di lantai dan saling berputar-putar.
Serena mematung saat melihat pria yang ia cintai kini dalam bahaya. Kenzo yang sudah berhasil mengnaklukan pasukan Heels Devils berdiri di samping Serena dengan wajah bingung. Gerakan dua pria itu sangat cepat. Serena menodongkan senjatanya untuk menembak ke arah musuh. Tapi wanita tangguh itu terlihat ragu-ragu. Meleset sedikit saja tembakannya maka pria yang ia cintai yang akan menjadi korbannya.
“Serena, kau pasti bisa.” Kenzo memandang wajah Serena dengan penuh harapan.
DUARR
Satu tembakan di layangkan Serena dengan tatapan mata yang sangat tajam. Peluru itu meluncur dan menancap di lengan kekar musuhnya. Membuat pria itu kehilangan kosentrasinya dengan belati yang ada di tangannya. Dengan cepat Daniel merebut paksa belati itu. Menancapkan belati berukuran agak besar itu ke arah dada musuhnya. Tidak cukup sekali tusukan. Ceo makanan ringan itu bahkan menusuknya berulang kali hingga darah berkucur deras dan mengenai kemeja putih yang ia kenakan malam itu.
Serena dan Kenzo menghela napas saat melihat aksi berani Daniel malam itu.
“Serena, sepertinya Daniel banyak belajar sejak menikah denganmu. Ya, walaupun tusukannya terlihat kurang rapi. Tapi itu jauh lebih menyiksa dari tusukan yang biasa.”
Serena tertawa mendengar perkataan Kenzo, “Aku hanya memberi contoh satu kali. Dia pria yang cukup cepat dalam belajar.”
“Ya, dia memang pria yang pintar dalam segala hal,” jawab Kenzo sambil tertawa kecil.
Daniel beranjak dari tubuh musuhnya saat pria itu benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Daniel terlihat sangat bangga dengan apa yang baru saja ia lakukan. Belati yang sempat ada di tangannya ia lempar tepat di samping musuhnya tergeletak.
“Sayang, lihatlah. Aku tidak kalah hebat denganmu bukan?” ucap Daniel sambil berjalan pelan mendekati posisi Serena dan Kenzo berada.
“Ya, setidaknya aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi. Saat ini Biao sudah tidak ada di sampingmu Daniel.”
“Sudah sangat malam. Kita harus pergi ke rumah sakit untuk melihat Mama dan Papa.” Daniel menggandeng pinggang ramping Serena dengan cukup mesra. Mengecup pipi wanita tangguh itu dengan wajah bahagia.
Kenzo hanya bisa memutar tubuhnya dan pergi dengan pasukan yang tersisa. Pria itu juga ingin segera menemui istrinya yangsejak tadi sangat ia rindukan. Malam itu misi Serena untuk membersihkan Heels Devils dari kota Sapporo telah berhasil. Bahkan sebelum pasukan Gold Dragon yang di kirim Zeroun tiba di kota itu. Serena mengukir senyuman sambil berjalan pergi meninggalkan gedung berisi puluhan nyawa itu.