Mafia's In Love

Mafia's In Love
Tentang Kenzo Part. 2



Di rumah utama, sebelum Tuan Edritz tiba di Gudang…


“Kita harus melakukan sesuatu!” ungkap Tuan Edritz.


“Tapi apa? Kita tidak bisa berbuat apa-apa saat ini”, jawab Ny. Edritz dengan wajah sedih.


Setelah kejadian besar yang membuat rahasia Serena hampir terbongkar, hari ini Tuan dan Ny. Edritz berada di kamar. Mereka masih memikirkan suatu rencana untuk menggagalkan penyelidikan Daniel tentang Serena. Pertanyaan Daniel di rumah sakit tadi siang, cukup menjadi perhatian mereka saat ini.


“Tuan Wang sudah membersihkan semuanya, aku yakin dia tidak akan menemukannya!” gumam Tuan Edritz sambil menatap ke arah luar jendela.


“Aku masih mengkhawatirkannya, Biao juga akan terus menyelidiki semua ini. Bagaimana kalau Daniel tau…” raut wajah Ny. Edritz sudah di penuhi kesedihan, hatinya terasa perih tiap kali ia membayangkan sikap Daniel ketika mengetahui semua kebenaran yang sudah ia simpan rapi.


“Kita harus menemukan pria itu”, celetuk Tuan Edritz sambil memandang wajah sang istri.


“Arion?” tanyanya singkat.


Mengangguk pelan, “Hanya dia orang yang saat ini ingin di temui Daniel, kita harus menemukannya lebih dulu!” sambil berjalan pelan untuk mengambil tumpukan kertas yang ada di atas meja.


“Apa itu?” tanya Ny. Edritz penasaran sambil melangkah mendekat.


“Beberapa hal yang berhubungan dengan Arion, pria itu masih memiliki kelemahan”, sambil tersenyum tipis “Aku harus menemuinya” berlalu pergi meninggalkan Ny. Edritz sendiri di kamar.


“Maafkan mama Daniel…” ucapnya lirih sambil memandang ke sebuah foto pernikahan. “Kalian pasangan yang sangat serasi sayang…” gumamnya dalam hati sambil tersenyum melihat foto Daniel dan Serena di sana.


Sementara itu, Tuan Edritz sudah bersiap untuk berangkat kesuatu tempat yang menjadi tempat pertemuan antara Daniel dan Arion. Di dampingi oleh beberapa orang kepercayaannya, kini mobil Tuan Edritz melaju dengan kencang menuju ke sebuah gudang.


Hatinya sudah di penuhi perasaan khawatir yang begitu besar. Satu detik saja ia terlambat datang, maka semuanya akan menjadi sia-sia.


“Kita harus segera tiba di gudang itu!” gumam Tuan Edritz kepada supir sekaligus orang kepercayaannya saat ini.


“Baik Tuan!” jawabnya pelan.


Mobil melaju dengan kencangnya, hingga beberapa jam kemudian rombongan Tuan Edritz sudah tiba di gudang itu. Hatinya semangkin di penuhi rasa khawatir saat ia melihat mobil Daniel sudah terparkir di sana. Dengan langkah cepat, Tuan Edritz masuk ke dalam gudang itu.


Sungguh pemandangan yang sangat kacau, perdebatan antara Daniel dan Arion begitu sengit. Hingga satu kalimat yang di ucapkan Arion membuat hati Tuan Edritz menjadi gusar.


Tatapan perintah sudah ia layangkan pada seorang pria yang menjadi pengawalnya hari ini. Dengan santai pria itu mengeluarkan sebuah pistol dan melayangkan satu tembakan tepat di dada Arion.


Mendapat tanggapan buruk dari Daniel atas prilakunya, sungguh membuat hati Tuan Edritz terasa luka. Meskipun hari ini ia berhasil membungkam mulut Arion, tetapi rasa percaya Daniel terhadap dirinya seketika itu juga sirna. Hanya ada tatapan marah di sana, hingga akhirnya Daniel pergi meninggalkan Tuan Edritz di gudang bersama beberapa pengawal pribadinya.


“Entah kapan saat itu akan tiba Daniel. Tapi papa harap kau mau memaafkan kami…” satu kalimat yang terukir di hati Tuan Edritz saat ini.


Kembali ke Rumah utama . . .


“Diva, kau sudah pulang? Bagaimana keadaan Serena?” ucap Ny. Edritz ketika melihat kehadiran Diva di rumah utama.


“Nona muda masih belum sadar Nyonya, saya ke sini ingin mengambil beberapa pakaian ganti untuk Nona Serena dan Tuan Daniel…” jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


“Apa dia tidak pulang malam ini?” tanya Ny. Edritz sambil kembali memikirkan Daniel dan Serena.


“Tidak Nyonya, Tuan Daniel akan menemani Nona Serena di Rumah Sakit malam ini”.


“Apa pengawal sudah tiba?” tanyanya lagi.


“Sudah Nyonya. Sebelum saya berangkat ke sini, para pengawal sudah berjaga di depan kamar Nona Serena”,


“Diva, jangan ijinkan orang asing masuk ke kamar Serena!” ucap Ny. Edritz memberi perintah.


“Tadi siang, Nona Sonia dan Tuan Kenzo datang menjenguk Nona Serena”, ucap Diva perlahan sambil menahan rasa takut.


“Kenzo?” celetuk Ny. Edritz.


“Iya Nyonya, Tuan Kenzo…” jawab Diva pelan.


“Apa Kenzo yang dimaksud Diva adalah Putra tunggal Daeshim. Tapi, sejak kapan ia kembali dekat dengan Daniel”, gumam Ny. Edritz dalam hati sambil melamun.


“Maaf Nyonya, saya permisi mau ke kamar Nona Serena”, ucap Diva meminta ijin.


“Pergilah!” gumam Ny. Edritz yang juga melangkah pergi menuju mobil. “Aku harus memastikannya sendiri”, mobil pun melaju ke arah suatu tempat yang ingin di kunjungi Ny. Edritz.


“Selamat datang Ny. Edritz. Sudah lama anda tidak berkunjung”, ucap kepala pelayan rumah utama keluarga Daeshim.


“Dimana dia?” tanyanya singkat.


“Tuan Muda ada di dalam Nyonya, mari saya antar Nyonya”, ucapnya sambil melangkah masuk menuju sebuah ruang besar yang ada di lantai atas.


“Semua masih sama seperti dulu”, celetuk Ny. Edritz.


“Tidak ada yang berubah Nyonya, Tuan Muda tidak ingin kami merubah apapun dari rumah ini”, jawabnya pelan.


“Apa dia sudah memiliki kekasih?” tanya Ny. Edritz lagi.


“Belum Nyonya, sejak kejadian itu. Belum ada wanita yang dekat dengan Tuan Muda”.


“Benarkah?” tanya Nyonya Edritz tidak yakin.


“Benar Nyonya”, mengetuk sebuah pintu besar untuk meminta ijin sang pemilik, agar bisa masuk ke dalamnya.


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, pintu sudah terbuka dan sudah berdiri sosok pria muda yang sangat dekat dengan dirinya.


“Kenzo!” sapa Ny. Edritz.


“Tante! Kenapa Tante tidak bilang jika ingin datang ke sini”, ucapnya kaget, dan mempersilahkan Ny. Edritz masuk ke dalam.


“Apa kau sehat Kenzo?” tanya Ny. Edritz sambil melangkahkan kakinya masuk.


Kepala pelayan itu hanya menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan kamar untuk mempersiapkan sesuatu untuk Ny. Edritz.


“Aku tidak pernah merasa baik Tante, sejak…” perkataanya tertahan sambil menunduk sedih.


“Papamu akan memaafkan dirimu Kenzo, percaya sama Tante. Dia sangat menyayangimu…” sambil menepuk bahu Kenzo pelan.


“Tapi, aku sudah jahat terhadap dirinya Tante”, raut wajah sedih sudah terpancar di wajah Kenzo.


“Dia akan bahagia disana, jika kau juga bahagia” ucap Ny. Edritz sambil duduk di sebuah Sofa.


“Sudah lama Tante tidak datang kemari, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Kenzo penasaran sambil mengerutkan keningnya.


“Apa kalian sudah kembali seperti dulu Kenzo?” tanya Ny. Edritz sambil memandang Kenzo menagih sebuah jawaban.


“Maksud Tante, saya dan Daniel?” tanya Kenzo balik.


“Ya, apa hubungan kalian sudah baikan?”


‘Apa Tante tidak tau kalau aku yang menyelamatkan mereka dari hutan, atau hanya pura-pura tidak tau!’ dengan wajah melamun.


“Kenzo, apa kau mendengar Tante?” tanyanya lagi.


“Belum Tante, hubungan kami masih sama seperti dulu”. jawab Kenzo sambil menyandarkan kepalanya santai.


“Benarkah?” tanya Ny. Edritz tidak percaya.


“Tentu saja, untuk apa aku berbohong”, jawab Kenzo santai sambil menatap ke arah pelayan yang baru saja tiba membawa dua cangkir teh dan makanan ringan.


“Permisi Tuan”, gumam pelayan itu sambil berlalu pergi.


“Berarti Kenzo yang dimaksud Diva, bukan kau?” gumam Ny. Edritz pelan.


“Diva?” ucap Kenzo terhenti, sambil kembali mengingat kunjungannya tadi siang ke Rumah Sakit “Apa Diva yang Tante maksud adalah wanita yang saat ini menjaga Serena?” tanya Kenzo sambil mengambil secangkir Teh.


“Serena! Kau mengenal Serena Kenzo?” kepanikan sudah mulai menyelimuti wajah Ny. Edritz. “Ya, dia temanku”, jawab Kenzo santai.


“Sejak kapan kau mengenalnya?” tanya Ny. Edritz mulai menyelidiki.


Sebelum lanjut like dan komen dlu ya Readers...