Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kunjungan Kenzo Part. 1



Kabar Serena sadar sudah menyebar luas di rumah utama. Semua pelayan dan pengawal yang mendengar berita itu kini kembali bernafas lega. Bukan hanya di rumah utama, kabar itu juga sampai ke telinga para karyawan S.G. Group dan beberapa perusahaan besar yang ada di kota itu.


Keluarga Edritz menutup rapat keberadaan Serena sejak pristiwa penyerangan itu. Sejak kejadian itu hingga Serena sadar kembali, belum ada orang yang bisa menjenguk keadaan Serena kecuali kerabat dekat yang memiliki ijin dari Daniel ataupun Ny. Edritz. Keluarga Edritz menjaga Serena dengan sangat ketat, mereka bersikap waspada atas Wubin yang masih berkeliaran di luaran.


Hari ini adalah hari kedua Serena di rumah sakit sejak ia sadar dan kembali ceria. Kenzo yang mendengar kabar tentang Serena yang telah sadar segera berangkat ke rumah sakit untuk memastikan kebenaran dari berita yang baru saja ia terima.


Hatinya di kembali bernafas lega, saat melihat Serena duduk di atas sebuah ranjang dengan senyum yang melingkar indah.


“Serena…” ucap Kenzo pelan yang baru saja tiba di kamar Serena.


Wajahnya terlihat bahagia saat ia melihat Serena sudah bisa tersenyum ceria seperti biasanya. Dengan membawa sebuket bunga lily kesukaannya, ia melangkah mendekat ke arah Serena.


“Kau sudah sehat Serena?” sambil melangkah ke meja untuk meletakkan buket lily itu.


“Kenzo!” ucap Serena kaget. Hatinya kembali di penuhi rasa takut jika Daniel melihat kehadiran Kenzo.


“Kenapa kau ada di sini?” tanyanya pelan sambil melirik sebentar ke arah Diva yang sedang merapikan tempat tidur Serena.


“Apa kau tidak suka melihatku ada disini Serena?” tanya Kenzo kecewa.


“Bukan begitu, tapi…” ucapannya terhenti.


“Daniel, kau takut kalau Daniel marah?” tanya Kenzo yang mengerti kekhawatiran Serena.


“Aku rasa dia tidak akan marah, setidaknya aku juga ikut bukan dalam bulan madu kalian berdua”, sambungnya lagi sambil tersenyum meledek.


“Kau ini, bisa-bisanya bercanda!” gumam Serena pelan.


“Apa kau tidak bosan ada di dalam kamar ini seharian, Serena?” tanya Kenzo sambil memandang ke arah Serena.


Pertanyaan yang baru saja di lontarkan Kenzo membuat perhatian khusus bagi Diva. Dengan cepat Diva membalas pertanyaan Kenzo.


“Maaf tuan, tapi saya harap anda tidak membawa nona kabur dari rumah sakit ini. Nona Serena masih sakit”, gumam Diva dengan wajah polosnya.


“Astaga, aku lupa. Disini ada pengawal cantik yang setia menjaga dirimu Serena”, sambil menepuk pelan keningnya.


Diva hanya diam sambil tertunduk, hatinya merasa bersalah terhadap Serena karena berani memotong pembicaraan sang majikan.


“Kau tidak perlu takut padanya Diva, dia teman yang baik”, ucap Serena yang mengerti dengan pemikiran Diva.


“Aku hanya ingin membawamu berkeliling di taman bunga yang ada di rumah sakit ini. Taman nya sangat indah, kau pasti sangat menyukainya Serena”, ucap Kenzo.


“Tapi…” ucap Serena masih ragu.


“Aku akan meminta ijin dari dokter pribadimu”, sambil mengeluarkan handphone dari sakunya.


“Adit, apa aku boleh membawa Serena berkeliling di taman bunga yang ada di bawah? Ia terlihat kurang sehat karena sudah lama tidak berjemur di bawah matahari”, ucap Kenzo sambil tersenyum lebar menatap Serena. “Baiklah, terima kasih atas surat ijinnya”, sambil memutuskan panggilan telepon dan memasukkannya ke dalam saku lagi.


“Apa dia mengijinkannya?” tanya Serena penuh harap.


“Tentu, dia dokter yang tidak ingin melihat pasiennya sedih bukan”, gumam Kenzo sambil memandang ke arah Diva “Boleh aku minta tolong nona, ambilkan kursi roda untuk tuan putri kita”, melirik sebentar ke arah Serena.


Tidak lagi memiliki pilihan, Diva hanya mengangguk pelan untuk menuruti perkataan Kenzo dan berlalu pergi untuk mengambil kursi roda yang diminta oleh Kenzo.


“Apa aku tidak bisa berjalan?” ucap Serena penuh rasa khawatir sambil menggerakkan kedua kakinya.


“Aku akan cepat sembuh Kenzo, aku wanita yang kuat bukan?” tanya Serena meminta jawaban.


“Ya, kau wanita yang kuat dan tangguh Serena”, jawab Daniel sambil tersenyum lebar kepada Serena.


Diva kembali masuk kedalam kamar dengan membawa sebuah kursi roda yang akan menjadi kendaraannya hari ini. Dengan perlahan Serena turun dari tempat tidur, dibantu oleh Diva dan Kenzo. Hatinya terasa lega saat kini ia sudah duduk di kursi roda dengan nyaman.


“Bisa kita mulai petualangan hari ini?” celetuk Serena sambil menatap ke arah Kenzo.


“Baiklah tuan putri, waktunya kita jalan-jalan”, sambil mulai mendorong kursi roda itu.


Diva hanya berdiri mematung tanpa bisa lagi mengeluarkan kata-kata prostes. Isi hatinya sudah di penuhi amarah dari Daniel yang akan segera ia dapatkan beberapa waktu yang akan datang.


“Kau tidak ikut Diva?” tanya Serena sambil memandang ke arah Diva yang masih mematung di sana.


“Bagaimana ini, aku tidak mungkin meninggalkan kamar ini. Bagaimana kalau tuan Daniel nanti datang”, batinnya yang masih saja dia mematung.


“Diva!” ulang Serena.


“Iya, saya ikut nona”, ucapnya pelan sambil berjalan mengikuti langkah Kenzo. Meskipun takut dengan amarah dari Daniel, namun Diva lebih takut jika Serena kembali dalam masalah. Diva memutuskan ikut untuk membantu Kenzo melindungi Serena selama di taman nantinya.


Memang bukan hal yang mudah dalam membawa Serena pergi dari ruangannya, meskipun itu hanya ke taman bunga yang terletak di lantai dasar rumah sakit. Beberapa pengawal penjaga mencegah langkah Kenzo untuk membawa Serena pergi.


“Maaf tuan, tapi anda tidak bisa membawa nona muda pergi tanpa ijin dari tuan muda”, ucap seorang pengawal penjaga.


“Saya hanya membawanya ke taman bawah, tidak terlalu jauh bukan?” gumam Kenzo pelan.


“Maaf tuan, kami tidak bisa mengijinkannya”, sela salah satu pengawal lainnya.


“Aku yang memerintahkan kalian untuk menginjinkan kami lewat. Apa kalian mau membantah perkataanku juga?” gumam Serena dengan tatapan serius.


Beberapa pengawal itu hanya terdiam sambil tertunduk, salah satu kalimat perintahyang pernah di layangkan oleh Biao adalah mematuhi perintah tuan dan nona muda.


“Kalian ingin diam seperti itu sampai berapa lama?” tanya Kenzo mulai kesal.


“Maafkan kami nona, tapi kami akan ikut bersama anda”, jawab pengawal itu putus asa.


“Terserah kalian saja, hanya ke taman bawah kenapa harus sebanyak ini yang ikut!” gumam Kenzo kesal.


Serena dan Diva yang melihat ekspresi wajah Kenzo saat ini hanya saling menatap dan tertawa pelan.


“Semoga Daniel tidak marah karena hal ini”, batin Serena dalam hati.


**Selamat malam semua pembaca setia Cinta Mafia.


Jangan lupa Vote ya teman2.


like dan komen.


jadikan Favorit untuk dpt notif tiap kali update.


Terima kasih author ucapkan kepada semua pembaca setia Cinta Mafia**.