
Rumah Sakit milik Adit.
Ambulan Serena berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Adit dan beberapa perawat sudah siap siaga untuk menyambut Serena malam itu. Setelah turun dari ambulan, Adit membawa tubuh Serena ke arah ruang operasi.
Semua sudah dipersiapkan Adit untuk menolong nyawa Serena malam itu. Shabira dan Kenzo juga berlari kencang mengikuti brankar yang membawa tubuh Serena. Sejak tadi, Shabira terus saja menangis melihat kondisi Serena yang lagi-lagi kritis.
Kenzo selalu setia memberi kekuatan kepada Shabira. Pria itu menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya. Bajunya terlihat basah, terkena air mata Shabira. Kenzo memejamkan mata di tengah-tengah lorong rumah sakit yang begitu tenang. Hanya terdengar isak tangis Shabira. Sejak pintu ruangan operasi tertutup rapat.
“Apa ini hukuman untuk perbuatan kami, Kenzo.” Shabira mengunci tangannya di pinggang Kenzo. Kepalanya ia sandarkan pada dada bidang milik Kenzo.
Malam yang begitu menegangkan lagi-lagi di mulai. Meskipun ingin menolak, tapi semua orang yang ada di situ harus bisa menerima. Tetes demi tetes buliran air mata terus jatuh dari pelupuk mata Shabira yang indah. Masalah itu seperti sebuah mimpi buruk yang membuatnya ingin segera terbangun dan melupakan semuanya.
“Sayang, jangan menangis lagi.” Kenzo mengusap lembut pundak Shabira.
Pria itu juga tidak mampu melakukan apa-apa saat ini. Hatinya diselimuti rasa bersalah, karena tidak bisa hadir di antara Daniel dan Zeroun. Sambil memejamkan mata, Kenzo melawan rasa bersalah yang kini memenuhi hatinya.
“Kenapa aku harus jadi pembunuh, Kenzo. Kenapa?” Shabira menatap wajah Kenzo dengan penuh penyesalan.
“Aku harus membayar perbuatanku selama ini. Walaupun kami semua sudah tidak membunuh lagi. Kami ingin hidup tenang Kenzo. Kenapa semua masalah ini datang lagi?” ucap Shabira dengan suara yang serak. Tubuhnya sudah semakin lemah dan tak berdaya. Kakinya sudah terlalu jauh berjalan dan berlari. Hanya sebuah pundak yang kini ia butuhkan, untuk meluapkan seluruh jeritan hatinya saat ini.
Kenzo tidak bisa mengeluarkan kata lagi untuk membujuk Shabira. Pria itu memeluk Shabira dengan erat sambil mencium pucuk kepala Shabira.
Dari kejauhan, Kenzo melihat kedatangan Tama dan yang lainnya. Kenzo melepas pelukannya dari tubuh Shabira. Menghapus buliran air mata yang masih tersisa di pipi Shabira.
“Jangan menangis lagi.” Kenzo mengecup pucuk kepala Shabira lagi.
Kenzo membawa tubuh Shabira yang lemah tak berdaya untuk duduk di sebuah kursi panjang.
Dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran, Ny. Edritz berlari kecil ke arah posisi Kenzo. Langkahnya terhenti, saat wanita paruh baya itu sudah berdiri di hadapan Kenzo dan Shabira.
“Kenzo, dimana Serena?” tanya Ny. Edritz dengan wajah panik.
“Serena masih menjalani operasi, Tante.” Kenzo memandang ruang operasi yang masih tertutup.
“Ma, sebaiknya duduk dulu.” Tuan Edritz menarik tubuh Ny. Edritz ke arah kursi.
Tama menatap tajam wajah Kenzo dengan seksama. Ingin sekali ia menanyakan keadaan Biao dan Daniel saat ini. Namun, ucapannya terhenti saat ia melihat Shabira dan Ny. Edritz yang menangis.
Jika semua yang dikatakan oleh Sonia menjadi kenyataan. Saat ini Tuan Daniel dan Biao mengalami masalah besar. Apa yang bisa aku lakukan saat ini. Aku hanya pria lemah yang tidak bisa bertarung.
Wajah Tama berubah sedih.
Beberapa jam kemudian. Adit keluar dari ruang operasi. Pria itu tersenyum bahagia, saat berhasil menyelamatkan nyawa Serena malam itu.
“Adit, bagaimana Nona Serena?” tanya Tama dengan penuh khawatir.
Tuan dan Ny. Edritz menatap wajah Tama dengan curiga. Tama menyadari tatapan mereka berdua. Pria itu menunduk penuh takut sebelum mengulang perkataannya.
“Dokter Adit, bagaimana keadaan Nona Serena?” ucap Tama ulang.
“Serena memang wanita yang kuat bukan? dia sudah melewati masa kritisnya. Tapi, dia harus tetap ada di dalam ICU. Jika besok pagi keadaannya semakin stabil, Serena bisa di pindahkan ke ruang rawat.” Adit menatap wajah semua orang yang ada di ruangan itu.
“Dimana Daniel dan Biao?” Adit memandang Kenzo dengan seksama.
Sonia, aku tidak pernah menyangka. Wanita selembut dirimu bisa menyebabkan kekacauan sebesar ini.
Adit menarik napas dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan. Pria itu berjalan mendekati Tuan dan Ny. Edritz.
“Nyonya, anda sebaiknya pulang ke rumah. Biar Tama dan Kenzo yang menjaga Serena malam ini di sini. Kesehatan anda juga harus anda jaga.” Adit memandang wajah Ny. Edritz yang pucat karena terlalu lelah.
“Ma, apa yang dikatakan Adit benar. Mama juga baru sembuh sakit. Ayo kita pulang untuk istirahat. Kita sudah pulang ke negara kita. Tidak akan ada orang yang menyerang Serena di sini.” Tuan Edritz mengusap lembut pundak Ny. Edritz.
Ny. Edritz hanya mengangguk pelan. Pikirannya masih belum tenang, sebelum ia mendapat kabar tentang anak semata wayangnya itu.
“Saya sudah menyiapkan mobil dan supir yang akan mengantar anda pulang ke rumah utama, Tuan.” Tama membungkuk hormat.
Tuan Edritz mengangguk, sebelum membawa tubuh Ny. Edritz pergi meninggalkan rumah sakit. Adit duduk di samping Kenzo, menarik napas dalam sebelum bertanya.
“Apa semua baik-baik saja? kalian sudah sering menyerang musuh, aku yakin kalian akan menang.” Adit tertawa kecil.
Kenzo memandang wajah Shabira yang sudah terlelap. Wanita itu terlihat sangat lelah atas perasaan yang kini ia rasakan. Kenzo menyentuh pipi Shabira, dengan wajah sedih sebelum menatap wajah Adit lagi.
“Aku terjun ke dunia mafia untuk bisnis. Zeroun terjun ke dunia mafia untuk bisnis.” Kenzo mengalihkan pandangannya ke arah Tama.
“Dua wanita tangguh ini juga terjun ke dunia mafia untuk berbisnis. Hanya saja, bisnis mereka tidak menggunakan hati nurani. Mereka mendapatkan uang dari darah manusia yang tidak bersalah. Hampir seluruh dunia ini, mereka jelajahi untuk menyelesaikan misi dan mendapatkan uang.” Kenzo menarik napas dalam.
“Sekarang seluruh dunia menyerang mereka untuk balas dendam. Sehebat-hebatnya ba**kai disembunyikan pasti akan kecium juga baunya bukan?” Kenzo menatap Adit dengan senyum pahit.
“Aku dan Zeroun sudah jatuh cinta pada wanita tangguh ini. Kami akan selalu melindunginya dari bahaya. Hanya saja, aku dan Zeroun punya tugas yang berbeda. Aku bertugas untuk melindungi Serena dan Shabira. Sedangkan Zeroun bertugas untuk menghalangi musuh. Tapi, Aku tidak tahu kalau Daniel juga tertinggal di sana untuk membantu Zeroun. Aku rasa CEO makanan ringan itu sudah semakin dewasa dan mengerti apa yang harus ia perbuat untuk wanita yang ia cintai.”
Kenzo tersenyum pahit membayangkan wajah keras kepala dan cuek Daniel waktu dulu. Tidak pernah ia membayangkan, kalau Daniel bisa melakukan hal seperti ini demi seorang wanita. Sejak dulu, selain Ny. Edritz tidak akan ada wanita manapun yang menjadi prioritas utama dalam hidup Daniel.
“Apa kau tidak bisa mengirim orang untuk menolong mereka? kau menguasai seluruh Jepang ini Kenzo.” Adit menatap wajah Kenzo dengan penuh harap.
“Dari Wubin, hingga Laura. Sekarang aku tidak tahu lagi, siapa nama musuh selanjutnya. Kami diserang dalam waktu dekat. Tanpa persiapan sama sekali, bagaimana caranya aku mengumpulkan orang-orangku lagi dan mengirim mereka ke Thailand?” Kenzo mengerutkan dahinya.
Dari kejauhan, Kenzo menatap Sonia yang jalan perlahan bersama Aldi. Wanita berambut pendek itu berwajah sedih dengan mata yang bengkak. Selang infus masih tertancap di punggung tangannya.
“Sonia,” ucap Kenzo pelan.
“Kenzo, aku sudah mengirim orang untuk membantu Daniel dan Zeroun di Thailand. Aku harap orang yang aku kirim bisa membantu mereka.” Sonia menatap ke arah ruang ICU dengan wajah sedih.
“Adit, apa aku boleh melihat keadaan Serena?” Sonia menatap Adit dengan wajah penuh harap.
Adit mengangguk cepat, “Tapi hanya boleh dari luar. Ada kaca yang akan mengubungkanmu dengan ruang rawat Serena. Masuklah ke dalam.”
Sonia mengukir senyuman tipis, sebelum berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Aldi masih setia menemani Sonia agar wanita itu tidak terjatuh.
“Kenzo, bawa wanita itu pergi dari sini untuk istirahat. Aku punya ruangan pribadi di lantai atas. Kau bisa mengunakan ruanganku itu untuk beristirahat. Biar aku dan Tama yang menjaga Serena satu malam ini.” Adit mengeluarkan kunci kamar pribadi miliknya.
“Terima kasih, Adit.” Kenzo menerima kunci kamar itu. Pria itu mengangkat tubuh Shabira ke dalam gendongannya. Berjalan cepat menuju ke arah lift yang ada di ujung lorong rumah sakit.
Tama dan Adit memandang punggung Kenzo yang sudah hampir menghilang di balik lift. Tama berjalan ke arah kursi yang sama dengan Adit. Menunduk sedih dengan kedua tangan yang mencengkram kepalanya dengan kuat.
“Hidup yang sangat rumit,” keluh Tama sambil memejamkan mata.