
Sudah Cukup lama Daniel menembus hutan hingga mendapatkan jalan keluar, terlihat sebuah mobil telah terparkir di jalan yang sempit itu. Pria yang menjadi penolong Daniel saat ini langsung naik dan duduk di belakang kemudi, di susul oleh Daniel yang meletakkan Serena di jok belakang dan menaruhnya di atas pangkuannya.
Kini mobil itu sudah melaju kencang menembus jalan hutan yang sempit dan tidak berpenghuni itu. Hanya ada kebisuan di dalam mobil, tanpa kata. Ego keduanya masih melekat kuat, hanya Serena yang menjadi penengah di antara keduanya hingga mereka mau berada di tempat yang sama saat ini.
“Bagaimana bisa kau menemukan kami?” ucap Daniel sambil menatap ke arah jendela mobil.
“Kau bukan orang biasa Daniel, Kekacauan yang terjadi sudah menjadi berita heboh di media.” Pria itu tetap menyetir dan fokus pada arah jalan.
“Aku tidak ingin memiliki hutang budi padamu, hal yang kau lakukan hari ini adalah bayaran atas perbuatan yang pernah kau lakukan waktu dulu,” ungkap Daniel dengan wajah tidak bersahabat.
Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk menebus kesalahanku di masa lalu Daniel.
Pria itu tetap memfokuskan pandanganya pada jalan lurus di depan.
Secara perlahan Serena mulai membuka matanya, terlihat sosok pria yang sudah tidak asing lagi ada di hadapannya. Posisinya terasa sangat dekat, karena Serena kini berada di atas pangkuan Daniel. Mencoba diam dan menikmati suasana, Serena kembali memejamkan matanya tanpa peduli dengan keberadaan dirinya saat ini.
Kalau tidak seperti ini, kapan lagi aku bisa berada di pangkuanmu Daniel.
Serena tertidur dengan perasaan bahagia. Meskipun senyuman itu hanya terlukis di hatinya.
“Daniel, maafkan aku,” ucapnya sambil tetap menyetir mobil dan perasaan yang di penuhi rasa bersalah.
“Aku tidak ingin membahas hal itu saat ini,” jawab Daniel singkat, yang masih belum menyadari kalau Serena sudah sadar sejak beberapa detik yang lalu.
“Tunggu tunggu, kok sepertinya Daniel sedang bicara sama seseorang. Dan ini seperti sedang berada di dalam mobil. Siapa pria itu, kenapa suaranya sangat tidak asing.” Dengan perlahan membuka mata untuk mengintip sosok pria yang menjadi lawan bicara Daniel saat ini.
“Kenzo!” Teriak Serena dengan nada yang tinggi, dan pandangan mata yang kaget.
Kini posisinya sudah tertududuk dan tidak lagi tergeletak di pangkuan Daniel, tanpa ia sadari tatapan mata Daniel sudah tertujuh padanya dengan penuh pertanyaan.
“Serena, kau sudah sadar?” tanya Daniel penuh kecurigaan, saat melihat Serena tiba-tiba teriak seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
“Apa kau baik-baik saja Serena?” ucap Kenzo sambil melirik ke arah spion mobil yang terdapat wajah Serena.
“Aku ... Aku terbangun saat mendengar percakapan kalian. Kalian sangat berisik,” jawabnya mencoba mencari alasan untuk menyelamatkan dirinya.
“Apa masih demam?” ucap Daniel sambil mengangkat tangannya untuk memegang kening Serena.
“Tidak, aku sudah sembuh Daniel aku tidak sakit,” jawab Serena sambil menolak tangan Daniel untuk berada di keningnya.
“Kau masih demam Serena.” Protes Daniel lagi.
“Tidak Daniel, aku baik-baik saja,” bantah Serena.
“Kita harus segera ke dokter Serena,” ucap Daniel tidak terbantahkan lagi.
“Terserah kau saja,” balas Serena dengan wajah cemberutnya dan menatap ke arah Kenzo.
“Kau yakin baik-baik saja Serena?” tanya Kenzo sambil tersenyum memandang Serena.
“Kau tetap harus di periksa Serena,” ucap Kenzo singkat yang mulai merasa perubahan sikap dari Daniel yang duduk di jok belakang.
Kenapa dia menatapku seperti itu, apa aku melakukan kesalahan lagi. Pasti dia sangat kesal karena tadi aku pingsan.
Serena menunduk takut.
Beraninya dia berbicara dengan pria lain tanpa rasa bersalah sedikitpun, awas saja kau nanti.
Daniel membuang napasnya secara paksa.
Kenapa wajahnya seperti itu, apa dia cemburu? Bukankah pernikahan mereka hanya keterpaksaan yang di minta oleh Ny. Edritz.
Kenzo juga terdiam, ia mencoba untuk memahami suasana saat ini.
***
Beberapa jam yang lalu.
Untuk urusan bisnis. Kenzo ada di kota yang sama dengan Daniel dan Serena.
“Jadi Serena adalah istri Daniel, sikap Biao waktu itu karena dia tidak ingin aku melakukan kesalahan lagi untuk Daniel. Tapi kenapa bisa kebetulan seperti ini,” ucap Kenzo saat menerima beberapa laporan dari bawahannya.
“Iya Tuan muda, semua bukti sudah ada di sana. Kalau wanita itu adalah istri dari Tuan muda Daniel,” jawabnya penuh penjelasan.
“Kau boleh pergi sekarang.” Kenzo mengambil remot TV dan menyetel sebuah berita yang menjadi trending topik hari ini.
“Sebuah penyerangan kembali terjadi. Penyerangan yang berasal dari sekelompok geng mafia yang selama ini masih menjadi buronan para polisi. Di duga penyerangan itu terjadi sore ini di sebuah kebun teh yang terletak tidak jauh dari vila keluarga ternama, yaitu Chen. Menurut beberapa saksi mata, ahli waris keluarga Edritz Chen yaitu Daniel Edritz Chen telah melakukan perjalanan bulan madu di vila bersama sang istri. Sampai sekarang keberadaan keduanya masih belum bisa diketahui. Sekian informasi berita terkini.”
“Serena, berarti Serena ada di sana, di vila. Aku harus segera menolongnya.” Kenzo mengambil kunci mobil dan pergi menuju ke arah vila.
Kenzo terus melajukan mobilnya ke arah vila yang sudah sangat akrab dengan dirinya. Keberadaan Kenzo saat ini memudahkan dirinya untuk segera sampai di vila. Bukan sosok yang asing, kehadiran Kenzo di vila di sambut beberapa pelayan. Dengan hormat, mereka menyambut kedatangan Kenzo yang tiba-tiba muncul di sana.
“Selamat malam Tuan muda Kenzo, ada hal apa yang membuat anda datang ke vila ini,” sapa salah seorang pelayan yang sudah sangat lama mengenal Kenzo.
“Daniel, dimana Daniel?” tanya Kenzo penuh dengan raut wajah kecemasan.
“Tuan muda Daniel dan Nona Serena masih belum di temukan Tuan. Semua pengawal sudah berpencar mencari keberadaan mereka sejak sore tadi,” jawabnya sambil menunduk tanpa berani memandang wajah Kenzo.
“Dimana kejadian itu terjadi?”
“Di perkebunan teh yang tidak jauh dari danau Tuan,” ucap pelayan itu mencoba untuk menjelaskan.
“Danau? Mereka pasti lari ke arah hutan.” Kenzo berlari cepat menuju mobil dan melajukannya dengan kencang.
Bukan hal yang baru bagi Kenzo lokasi perkebunan teh yang mengelilingi area vila keluarga Chen. Sejak kecil vila itu sudah menjadi rumah bagi Kenzo. Sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal nya tiap kali ia lari dari masalah yang menerpa dirinya. Bukan hanya danau yang menjadi tempat favoritnya untuk bermain, tapi hutan belantara yang terlihat menyeramkan itu juga menjadi salah satu objek favorit bagi Kenzo di masa itu. Seperti mengerti ke mana arah jalan menuju keberadaan Daniel, Kenzo menghentikan mobilnya di sebuah tepi jalan. Matanya menatap sekeliling hutan yang kini ada di hadapannya.
“Tempat ini masih sama seperti dulu.” Kenzo melangkah masuk menebus hutan yang rindang, untuk menemukan Daniel dan Serena yang tersesat di dalamnya.