
Di Rumah Sakit.
“Apa kau sudah menemukan Nona muda?” tanya seorang pengawal kepada pengawal lainnya.
“Belum.”
“Aku juga tidak menemukan Nona muda di ruang rawat Diva,” ucap pengawal lainnya.
“Bagaimana ini, kita akan mendapatkan hukuman berat dari Nyonya.”
Kepergian Serena dengan Kenzo, dengan menaiki sepeda motor. Memang menjadi pilihan yang tepat. Para pengawal yang berjaga di parkiran mobil, tidak bisa melihat kepergian Serena bersama Kenzo.
***
Beberapa saat sebelumnya...
Dua orang pengawal yang berada tidak jauh dari toilet, masih menunggu Serena. Ada perasaan ganjil yang mereka rasakan. Sudah hampir satu jam, tetapi Serena tidak kunjung keluar dari toilet. Keduanya terus memperhatikan toilet, yang berada tidak jauh dari pandangan mata.
“Kita harus mengecek keadaan Nona muda. Mungkin terjadi sesuatu padanya, hingga ia tidak kunjung keluar dari dalam toilet itu.”
“Baiklah, aku akan masuk ke dalam untuk melihatnya.” Pengawal itu berjalan mendekati toilet, dan mencoba untuk masuk ke dalam.
Perasaan panik dan khawatir seketika itu muncul. Tidak terlihat batang hidung Serena, di dalamnya.
Dimana Nona muda?
Seorang pengawal terus bertanya-tanya dalam hati, dengan perasaan takut.
“Apa Nona muda ada di dalam ?” Melihat kedatangan temannya, pria itu bertanya penuh harap.
Namun, temannya juga tidak menemukan Serena. Ia hanya menggelengkan kepala sambil menunduk dalam.
“Aku akan cek di dalam ruangan Diva. Kerahkan semua pengawal untuk mencari Nona muda, di semua sudut rumah sakit ini.”
Tanpa menjawab, pengawal itu melaksanakan tugas mereka masing-masing.
Salah satu pengawal, masuk ke dalam kamar. Ia terus memperhatikan isi ruangan, untuk mencari keberadaan Serena di sana.
“Nona, apa Nona muda ada di dalam?” tanya seorang pengawal pada Luna.
“Tidak, kami sudah menunggu Nona Serena di sini selama satu jam. Kami sudah menyiapkan makan siang untuknya,” jawab Luna.
“Apa yang terjadi pada Nona Serena, kalian harus segera menemukannya,” pinta Diva yang mulai khawatir atas keselamatan Serena.
Karena tidak menemukan Serena di dalam, pengawal itu bergegas pergi dari ruang rawat Diva. Pengawal itu berjalan ke arah rombongan pengawal lainnya, yang sudah berkumpul di lantai bawah.
***
“Saya akan segera menghubungi Tuan Biao.” Mengambil sebuah handphone dari saku.
Tut....tut....
“Tuan, Nona Serena hilang. Kami sudah mencari ke seluruh rumah sakit. Namun, Nona muda tidak kunjung ditemukan,” ucapnya dengan nada takut. Pengawal itu memberanikan diri untuk menghubungi Biao.
“Saya akan mengurusnya. Tapi bersiaplah untuk menerima hukuman, atas keteledoran yang kalian lakukan.”
Kalimat yang singkat, padat dan tepat sasaran. Tanpa banyak kata, Biao memutuskan panggilan masuk itu secara sepihak.
Dan sudah pasti, membuat siapa saja yang mendengar kalimat itu, menjadi takut untuk berjumpa dengan Biao nantinya.
Selain di kenal dengan sifatnya yang dingin, dan tidak ramah sama sekali. Biao juga memiliki sifat kasar, yang cenderung tidak memiliki belas kasih. Siapapun yang bekerja di S.G. Group, tidak bisa melakukan kesalahan. Walaupun hanya satu kali. Tidak ada kesempatan kedua sama sekali, apabila kesalahan fatal itu menyangkut keselamatan keluarga besar Edritz Chen.
Di S.G. Group.
“Dasar pengawal tidak berguna, mereka ada sepuluh orang di sana. Tapi tidak bisa menjaga seorang wanita,” umpat Biao masih dengan hati yang kesal.
Pekerjaan yang harus segera ia selesaikan, terpaksa ia tinggalkan. Semua itu demi menyelesaikan tugas baru, yang ia hadapi saat ini. Kehilangan Serena, bukan satu masalah yang bisa disepelekan.
Biao mengetuk sebuah pintu yang bertuliskan Direktur Utama itu. Tanpa menunggu lama, sang penghuni ruangan telah mempersilahkan Biao untuk masuk.
“Ada apa Biao, kau baru saja keluar dari ruanganku?” tanya Daniel, yang masih fokus menatap layar laptopnya.
Aku rasa dia memang pengganggu yang harus aku singkirkan, bahkan satu menit saja ia tidak mengijinkanku untuk berduaan bersama Daniel.
Sonia menatap Biao, dengan wajah tidak suka.
Sonia masih berada di ruangan Daniel, untuk membacakan seluruh agenda yang akan dilakukan Daniel hari ini. Semua pekerjaan Tama, diserahkan kepada Sonia. Sehingga membuat Sonia memiliki banyak waktu, untuk berada di dekat Daniel.
“Nona Serena hilang, Tuan,” ucap Biao singkat.
“Benarkah?” celetuk Sonia dengan nada tinggi. Tanpa ia sadari, Daniel dan Biao telah memandangnya dalam.
“Upps, Maaf.” Sonia menutup mulut dengan tangannya.
“Di mana pengawal yang menemaninya?” tanya Daniel dengan nada tinggi.
“Mereka juga ada di rumah sakit, Tuan.” Biao mulai mengerti, arti dari tatapan Daniel.
“Selesaikan semuanya, berikan pekerjaanmu kepada Sonia. Aku akan menyelesaikan seluruh pertemuan hari ini. Temukan dia secepatnya!” perintah Daniel.
“Baik, Tuan.” Biao melangkah pergi, meninggalkan Daniel dan Sonia di dalam.
Aku tidak perlu melakukan apapun, untuk mengusirmu. Kau sudah pergi dengan sendirinya, Biao.
Sonia berteriak riang dalam hati, memancarkan wajah kemenangan.
Kini Biao sudah ada di dalam mobil, tangannya mengambil sebuah handphone yang tersimpan di sakuanya. Satu nama yang saat ini ada dipikirannya, Tama. Dengan cepat, Biao menghubungi Tama.
“Tama, bisakah kau membantuku untuk menghubungi Nona Serena. Dia menghilang dari rumah sakit.”
Hanya Tama satu-satunya orang, yang pernah dekat dengan Serena. Bahkan hanya Tama yang menyimpan Nomor Handphone, yang bisa menghubungkannya dengan Serena.
“Baiklah, aku akan coba menghubungi Nona Serena,” jawab Tama dari kejauhan.
“Aku akan ke rumah sakit, hubungi aku secepatnya.” Biao mengakhiri panggilannya.
Selesai nama Tama, Biao kembali menghubungi seseorang yang bisa membantunya menemukan Serena. Sambil tersenyum tipis ia mendekatkan layar handphonenya di telinga.
“Aku ingin kau memeriksa seluruh CCTV rumah sakit. Aku ingin hasilnya sudah ada, saat aku tiba disana.” Biao mulai menginjak gas mobilnya, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Entah apa yang saat ini ia pikirkan, tapi gambaran Serena akan segera ditemukan sudah terpancar dari raut wajah Biao.
Sementara itu, di ruang kerja Daniel.
“Tuan, nanti malam kita akan rapat bersama Mr. X. Rapat kali ini, kita akan membahas tentang hasil kerja sama kita yang sudah berjalan beberapa minggu ini,” ucap Sonia mencoba menjelaskan kegiatan yang harus di hadiri Daniel.
“Di mana?” balasnya singkat.
“Di Restoran yang ada di Apartemen, yang letaknya tidak jauh dari gedung ini, Tuan.”
“Atur semuanya, Sonia. Satu lagi, tolong tinggalkan saya sendiri saat ini,” ucap Daniel ketus.
“Baik, Tuan.” Dengan wajah tidak senang, Sonia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Daniel.
Sejak pernikahannya dengan Serena, Daniel meminta Sonia untuk tidak lagi memanggil namanya. Daniel meminta Sonia untuk menghargai dirinya sebagai seorang atasan. Dengan berat hati, sejak permintaan Daniel waktu itu, Sonia membiasakan diri untuk memanggil Daniel dengan sebutan Tuan.
“Lagi-lagi aku gagal untuk merayunya, ini adalah waktu yang tepat. Tapi aku tidak berhasil.” Sonia melangkah pergi, dengan hati yang kesal.
Diruangannya, Daniel tidak lagi fokus untuk menyelesaikan tugasnya. Kabar Serena hilang, berhasil membuat seluruh konsentrasi yang ia miliki hilang begitu saja. Pikirannya dipenuhi dengan nama Serena.
“Kemana dia? apa dia dalam bahaya?”