Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 71



Langit sudah kembali gelap. Udara sudah berubah menjadi dingin. Suasana rumah sakit juga sudah mulai sepi dari kunjungan pasien. Beberapa Dokter yang dinas siang juga sudah kembali pulang. Beberapa orang yang sejak tadi berlalu lalang juga sudah berkurang.


Suasana kembali hening di lorong rumah sakit itu. Daniel masih menunduk sedih menunggu Dokter keluar dari kamar Serena. Sedangkan Kenzo dan Shabira pergi entah kemana. Daniel memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Mencengkram kuat rambut lurus yang ia miliki.


Serena, kau harus bertahan. Jangan tinggalkan aku.


Ucap Daniel di dalam hati dengan penuh kesedihan. Daniel memandang ke beberapa pengawal yang berdiri tegab di sana.


“Dimana, Biao?” Daniel menatap satu persatu pengawal S.G.Group. Sejak tadi siang, ia tidak lagi menemukan wajah Biao di sampingnya.


“Tuan Biao, menjemput Tuan dan Ny. Edritz di bandara, Tuan,” jawab salah satu pengawal dengan kepala menunduk.


Daniel kembali diam dan menundukkan kepalanya. Pikirannya dipenuhi dengan nama Serena saat ini. Setelah menunggu selama setengah jam, beberapa Dokter dan perawat yang menangani Serena keluar. Daniel beranjak dari duduknya dengan perasaan khawatir.


“Dokter, bagaimana keadaan istri saya?” Daniel menatap wajah Dokter itu dengan mata berkaca-kaca.


“Keadaan Nona Serena sudah kembali stabil. Sebaiknya, jangan mengganggunya dulu. Walaupun Nona Serena belum membuka mata, tapi ia bisa merespon keadaan sekitar.” Dokter itu menaikan kaca matanya sebelum melanjutkan perkataannya dengan Daniel.


“Nona Serena juga baru saja kehilangan bayi yang ia kandung. Kemungkinan jiwanya sedikit tidak stabil. Saya harap, anda bisa mengerti dengan kondisinya saat ini.”


“Terima kasih, Dok.” Daniel berjalan ke arah pintu kamar Serena. Beberapa Dokter dan perawat pergi meninggalkan tempat itu.


Di dalam kamar, Daniel masuk dengan langkah kaki yang sangat cepat. Matanya terus saja memandang wajah Serena tanpa berkedip. Daniel mengambil tangan Serena, mencium punggung tangan Serena berulang kali.


“Sayang, bangun.” Buliran air mata menetes, hatinya terasa perih saat melihat keadaan Serena.


Daniel menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Serena. Menyandarkan kepalanya di bantal yang sama dengan Serena. Salah satu tangannya melingkari tubuh Serena dengan erat. Daniel memejamkan mata untuk melupakan kesedihan hatinya sejenak.


Tubuhnya terasa lelah, hingga ia tertidur dan larut dalam mimpinya. Daniel tertidur sambil memeluk tubuh wanita yang paling ia cintai. Pria berusia 28 tahun itu tidak ingin berada jauh dari Serena lagi.


Di atap gedung Rumah Sakit


Zeroun menghapus beberapa buliran air mata yang menetes di wajahnya. Tubuhnya sudah terasa dingin karena terlalu lama terkena angin malam. Zeroun masih berdiri di atas gedung itu untuk meluapkan kesedihannya saat ini.


Langkah kaki membuat Zeroun kembali waspada. Dalam waktu yang cepat, ia membalikkan tubuh untuk melihat sang pemilik suara. Zeroun bernapas lega saat melihat Kenzo dan Shabira yang berdiri tidak jauh dari posisinya.


“Zeroun, apa yang kau lakukan di sini? anginnya sangat kencang. Kondisimu juga masih lemah.” Kenzo melangkah perlahan mendekati tubuh Zeroun. Sedangkan Shabira masih diam di tempat memperhatikan Zeroun dengan perasaan takut.


“Udara di sini jauh lebih segar. Aku terlalu bosan berada diruangan itu.” Zeroun memutar tubuhnya memandang ke arah kota.


“Zeroun, sebaiknya kau kembali ke kamar. Ayo, aku akan mengantarmu kembali ke kamar.” Kenzo sudah berdiri di samping Zeroun. Menatap wajah Zeroun dengan seksama.


“Bagaimana keadaan Erena?” tanya Zeroun tanpa memandang wajah Kenzo.


“Dokter masih menanganinya,” jawab Kenzo dengan wajah sedih.


Dari kejauhan, Shabira terus saja memperhatikan foto yang di genggam erat oleh Zeroun Zein. Hatinya terus saja bertanya-tanya tentang statusnya saat ini.


Apa Tuan Zeroun sudah melihat foto itu? apa foto itu tidak sama dengan wajah Zetta waktu masih kecil.


Wajah Shabira berubah sedih saat ia tidak melihat tanda-tanda kalau Zeroun adalah kakak kandungnya.


“Apa kau masih mengharapkan Serena?” Kenzo menatap wajah Zeroun dengan seksama.


Zeroun mengukir senyuman tipis, “Dokter bilang, usia kandungan Serena sudah hampir satu bulan. Seharusnya ia sudah tahu sejak awal bukan?” Zeroun menatap wajah Kenzo dengan tatapan penuh arti.


“Apa maksudmu, Zeroun. Bayi yang dikandung Serena adalah anak Daniel. Kalian berjumpa belum ada satu bulan.” Kenzo membalas tatapan Zeroun dengan tatapan penuh curiga.


“Ya, tentu aku tahu kalau itu bukan anakku. Tapi, aku juga tahu kalau Serena memilih Daniel karena anak itu bukan karena dia tidak mencintaiku lagi.” Zeroun mengukir senyuman tipis.


Dari kejauhan Shabira menutup mulutnya dengan kedua tangan yang ia miliki. Buliran air mata menetes dan hatinya terasa perih, saat mendengar kalimat yang baru saja dikatakan oleh Zeroun.


“Serena mencintai Daniel. Dia tidak mungkin mempertahankan pernikahannya hanya karena anak yang ada di dalam kandungannya.” Kenzo berusaha menyangkal pernyataan Zeroun.


Zeroun tertawa kecil, “Kejadian ini membuatku mengerti banyak hal dan mendapatkan sesuatu yang berharga. Aku tidak akan merebut Serena dari Daniel. Setelah Serena sembuh, aku akan kembali ke Hongkong dan menetap di sana,” ucap Zeroun dengan penuh keyakinan.


“Bagaimana dengan Z.E.Group?” Kenzo tahu, bagaimana kerja keras Zeroun selama ini untuk membangun Z.E.Group dari nol.


“Sudah ada seseorang yang akan menjaganya. Jika aku tidak turun tangan langsung. Semua musuh yang dimiliki Serena akan terus mengganggu hidupnya.”


Zeroun membayangkan beberapa musuh yang masih bisa benghirup udara segar sambil tertawa bahagia.Bukan hanya mencelakai Serena, tapi musuh-musuh itu juga akan mengancam nyawa Shabira. Zeroun tidak ingin kehilangan Zetta untuk yang kedua kalinya.


“Seseorang? siapa?” Wajah Kenzo semakin serius.


“Zetta, kau tidak ingin memeluk Kakakmu ini?” Zeroun membuka kedua tangannya untuk menyambut tubuh Shabira.


Buliran air mata semakin deras keluar dari pelupuk mata Shabira. Perasaan takut dan bahagia melebur menjadi satu memenuhi hatinya. Shabira memberanikan diri untuk melangkah dan mendekati tubuh Zeroun saat itu. Ia memandang wajah Kenzo dengan tatapan penuh tanya. Hatinya masih menyimpan keraguan, kalau Zeroun benar-benar mengakuinya sebagai adik.


“Zetta, maafkan aku. Tadi di ruangan Serena aku hanya mengerjaimu. Apa kau marah padaku?” Zeroun memandang wajah Shabira yang terlihat ragu-ragu.


“Kakak ….” ucap Shabira dengan nada yang sangat lirih. Shabira berlari mendekati tubuh Zeroun. Memeluk pria itu dengan erat dan dipenuhi air mata.


“Apa benar kau adalah Kakakku?” tanya Shabira pelan di dalam pelukan Zeroun.


“Maafkan aku Shabira, seharusnya aku bisa menemukanmu lebih awal.” Zeroun mengelus pundak Shabira sambil memejamkan mata. Buliran air mata juga menetes saat ia masuk ke dalam suasana haru pada malam itu.


Kenzo tersenyum bahagia melihat Zeroun dan Shabira saat ini. Ia pergi meninggalkan Shabira dan Zeroun di tempat itu. Ia tahu, kalau Zeroun dan Shabira butuh waktu untuk berdua saat ini.


“Aku tidak pernah bermimpi kalau suatu saat nanti bisa bertemu dengan keluargaku. Aku tidak pernah bermimpi kalau aku masih memiliki keluarga.” Shabira mempererat pelukannya. Dia menangis sejadi-jadinya, hingga membasahi baju yang kini dikenakan oleh Zeroun.


“Jangan bicara seperti itu. Aku adalah Kakakmu, Shabira. Mulai detik ini dan seterusnya kau harus memanggilku dengan kata kakak.” Zeroun mengukir senyuman.


“Kakak,” ucap Shabira sambil memejamkan mata.


“Kak, apa yang terjadi dengan keluarga kita. Siapa orang yang melakukan ini semua pada kita?” Shabira mendongakkan wajahnya memandang Zeroun.


“Sekarang kau sudah kembali, itu sudah cukup berarti bagi hidupku.”


Shabira melepas pelukannya dari tubuh Zeroun. Memandang wajah Zeroun dengan wajah serius.


“Apa kita dulu tinggal di Hongkong?”


Zeroun mengangguk cepat, ”Ya, sejak dulu rumah kita di Hongkong. Bahkan pembunuh itu juga ada di Hongkong.”


Zeroun mengukir senyuman tipis, “Jangan pikirkan hal lain lagi. Aku sudah membalaskan dendam keluarga kita.”


“Benarkah? Kakak tidak menyisakan satu orangpun?” Shabira menatap mata Zeroun dengan tajam.


Zeroun tersenyum melihat tatapan membunuh yang terpancar dari mata Shabira, “Apa ada yang ingin kau tanyakan?”


“Kakak bilang aku diculik. Aku ingat, kalau sejak aku kecil aku berada di tengah-tengah Queen Star.” Shabira memandang wajah Zeorun dengan tatapan penuh arti.


“Zeroun menarik napas dalam, “Apa kau mencurigai Queen Star, Shabira?”


Shabira menggeleng pelan, “Mereka melindungiku seperti keluarga, bagaimana mungkin aku mencurigai Queen Star.” Shabira kembali mengingat masa-masa kecilnya yang penuh dengan darah.


“Bagaimana kalau memang Queen Star yang melakukan semua ini?” Zeroun memegang kedua lengan Shabira.


Shabira memandang mata Zeroun dengan tatapan tidak terbaca lagi, “Aku akan menghabisi mereka semua.” Tatapan mata Shabira dipenuhi dendam dan luka.


Zeroun menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya lagi, “Kau memang benar-benar adikku. Kau memiliki tatapan mata yang tajam, sama seperti diriku.”


“Tapi, itu semua tidak benarkan, Kak?” Shabira melepas pelukan Zeroun.


“Bukan Queen Star yang melakukan semua ini. Pasti Queen Star yang menyelamatkan aku dari penculikan itu.” Shabira berusaha menyangkal. Hatinya juga diselimuti kebimbangan, kalau ia harus mendengar Queen Star yang berada di balik pembunuhan itu.


Zeroun menggeleng cepat, “Bukan. Aku sudah menghabisi mereka hingga tidak tersisa satupun. Jangan khawatir, apa kau tidak mempercayai kakakmu ini, Zettaku sayang?”


Deg, hati Shabira tersentuh tiap kali Zeroun memangilnya dengan nama Zetta. Seperti mendengar satu kata yang bisa meluluhkan hati dan menenangkan jiwa. Shabira sudah mendapat identitas aslinya.


Shabira mengukir senyuman, “Aku percaya sama kakak.”


Angin kembali berhembus dengan kencang. Hingga membuat rambut Shabira yang terurai panjang berterbangan. Shabira merasakan dingin yang luar biasa. Ia kembali ingat dengan keadaan Zeroun yang masih belum sembuh.


“Kak, ayo kita masuk. Kakak harus menjaga kesehatan Kakak.” Shabira menatap tubuh Zeroun dengan penuh khawatir.


“Sejak detik ini, apa kau mau merawatku?” Zeroun mengukir senyuman.


“Tentu saja, mulai detik ini aku akan menjaga kesehatan Kakak. Ayo, kita kembali ke kamar. Kakak harus banyak istirahat.” Shabira merangkul tangan Zeroun. Menarik paksa agar Zeroun mau kembali ke kamar pasien.


Zeroun hanya menurut menerima perlakuan Shabira sambil mengukir senyuman bahagia.


Tidak semua hal harus kau ketahui Shabira. Biar aku yang menanyakan semua ini langsung pada Erena nantinya.