
“Apa yang terjadi pada Serena, Daniel?” tanya Ny. Edritz yang kini sudah tiba di dalam kamar.
“Hanya sedikit sakit ma,” sambung Serena yang kini melihat raut wajah khawatir pada Ny. Edritz.
“Apa kau tidak terlalu memaksa Serena, untuk pulang Daniel? Serena masih terlihat sakit?” ucap tuan Edritz yang kini berdiri tidak jauh dari Daniel.
“Serena akan semangkin sakit jika terlalu lama di rumah sakit!” ucap Daniel dengan tegas.
Suasana kembali hening, bantahan Daniel membuat semua orang yang ada di dalam kamar itu tidak lagi berani mengeluarkan kata. Pak Han masuk secara tiba-tiba dengan satu gelas air minum dan beberapa butir obat yang sudah disiapkan Adit untuk Serena.
“Nona, anda harus segera meminum obat ini. Dokter Adit akan tiba sebentar lagi,” ucap pak Han pelan. Pak Han meletakkan gelas di atas meja yang terletak di samping Serena.
“Terima kasih pak Han,” ucap Serena dengan senyuman.
“Kau harus segera meminumnya Serena!” sambung Daniel yang langsung menyodorkan gelas berisi air itu dan butiran obat ke hadapan Serena.
Tanpa banyak bicara lagi, Serena mengambil satu persatu butiran obat yang ada. Serena meneguk satu gelas air putih itu secara perlahan. Daniel membantu Serena untuk membaringkan tubuhnya dan kembali beristirahat.
“Tinggalkan kami berdua Ma,” perintah Daniel tanpa ingin memandang wajah Ny. Edritz yang ada di seberang ranjang Serena.
“Baiklah,” jawab Ny. Edritz penuh kecewa.
Lagi-lagi hatinya harus menahan sakit karena perlakuan buruk dari Daniel. Buliran air mata menemani langkah Ny. Edritz keluar dari kamar Serena. Tuan Edritz hanya bisa menggenggam tangan Ny. Edritz dengan kuat. Tidak banyak yang bisa ia lakukan saat ini, untuk meluluhkan hati Daniel yang sudah membeku.
“Kita harus bisa bersabar untuk menghadapi keras kepala Daniel, dia akan kembali seperti dulu lagi,” bujuk tuan Edritz yang semangkin tidak tega dengan tangisan sang istri.
Ny. Edritz hanya mengangguk pelan dan mengikuti langkah tuan Edritz yang kini menuju ke arah kamar. Sikap Daniel yang selama ini selalu menghormati dirinya, kini telah berubah karena rahasia besar yang sudah ia sembunyikan.
'Apa kau akan semangkin membenci mama Daniel, jika nanti kau berhasil menemukan masa lalu Serena yang pernah hilang,' gumam Ny. Edritz di dalam hati.
Di dalam kamar, Daniel menarik selimut untuk menutupi seluruh bagian tubuh Serena. Saat ini hatinya kembali dipenuh rasa bersalah, karena sudah memaksakan keinginannya untuk membawa Serena pulang.
“Kau harus segera sembuh, Serena!” ucap Daniel yang kini sudah berbaring di atas ranjang yang sama dengan Serena.
“Aku baik-baik saja Daniel, mungkin sedikit lelah!” jawab Serena yang kini masih menatap ke arah langit-langit kamar.
“Serena,” sapa Daniel, memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Serena.
“Ada apa?” tanya Serena yang telah mengalihkan pandangan matanya ke arah wajah Daniel.
“Apa kau benar-benar tidak ingat dengan masa lalu mu?” tanya Daniel tiba-tiba.
Perasaan Serena berubah seketika, selama ini ia tidak pernah tahu kalau Daniel telah mengerti keadaannya yang kini lupa ingatan. Tatapan matanya ia alihkan ke sembarang arah untuk menutupi rasa bingung yang kini melekat di wajah Serena.
'Sejak kapan ia tahu, tentang hal itu,' gumam Serena dalam hati.
“Serena,” ulang Daniel lagi.
“Maafkan aku Daniel, karena telah merahasiakan hal ini dari dirimu,” ucap Serena lirih.
“Kau tidak perlu meminta maaf Serena, aku tidak marah padamu,” sambung Daniel dengan senyuman manis.
“Benarkah?” tanya Serena tidak percaya.
“Aku tidak terlalu pandai berbohong, seperti dirimu Serena,” canda Daniel untuk menghilangkan raut wajah takut pada Serena.
“Daniel, kau sangat menyebalkan,” ucap Serena dan dengan cepat mencubit pipi Daniel dengan tiba-tiba, "Juga menggemaskan," sambungnya lagi.
“Apa kau sudah berani denganku, Serena?” tanya Daniel dengan ekspresi yang tidak terbaca.
“Maaf,” ucap Serena penuh ketakutan, 'Bodoh, bodoh, kenapa aku seberani itu,' gumam Serena dalam hati.
“Hei, aku hanya bercanda. Kenapa kau setakut itu? apa wajahku sangat menyeramkan?” tanya Daniel yang kini sudah duduk di atas ranjang.
“Daniel, kenapa marah dan bercandamu, tidak ada bedanya sama sekali?” tanya Serena polos.
'Dia bisa dengan mudah nya tertawa,' gumam Serena dalam hati.
“Aku ingin mandi, kau jangan terlalu banyak bergerak Serena,” ucap Daniel yang kini sudah melangkah pelan menuju ke arah kamar mandi, namun langkahnya lagi-lagi terhenti, “Apa kau mau mandi juga, Serena?” tawar Daniel tiba-tiba.
“Tidak!” jawab Serena cepat.
Satu tawa lepas kembali terukir di wajah Daniel, melihat wajah Serena yang kini berubah menjadi merah membuat hiburan tersendiri di dalam hatinya.
“Baiklah, jika kau tidak ingin mandi. Aku tidak memaksa,” menarik handle pintu dan siap untuk mendorongnya.
Tok…Tok…
Suara ketukan pintu dengan ritme yang cepat.
“Siapa?” tanya Daniel dari dalam.
“Dokter Adit sudah datang tuan,” balas pak Han yang kini telah berdiri tegab di depan kamar Daniel bersama dengan Adit.
“Untuk apa dia ke sini?” teriak Daniel dari kejahuan.
“Daniel, aku akan memaksa masuk! walaupun kau tidak memberi ijin!” ancam Adit dengan nada kesal.
Daniel mengurungkan niatnya untuk mandi dan berjalan pelan untuk membuka pintu.
“Serena sudah membaik, kau tidak di butuhkan lagi Adit!” ucap Daniel cepat saat kini sudah berhadapan di depan Adit.
“Apa kau bahagia? karena sudah berhasil merepotkanku?” ucap Adit dengan kesal.
“Baiklah, agar kedatanganmu tidak sia-sia ke sini! kau bisa memeriksa pak Han. Dia terlihat sakit!” ucap Daniel dengan tatapan tajam ke arah pak Han yang kini berdiri di samping Adit.
“Benar, dokter Adit. Anda bisa memeriksa saya. AKhir-akhir ini saya tidak enak badan,” sambung pak Han menyetujui pernyataan Daniel.
“Apa kau mengerjaiku lagi Daniel?” ucap Adit tidak terima.
“Adit, kau pasti lapar. Pak Sam memasak puluhan menu di meja makan. Kau bisa makan sepuasnya di sana!” tawar Daniel lagi.
“Kau ini, ijinkan aku melihat nona muda sebentar saja,” menerobos masuk ke dalam kamar.
“Kau ini! aku tidak mengijinkanmu!” ucap Daniel kesal, “Adit!” sambungnya dengan geram saat kini Adit sudah berhasil masuk ke dalam kamar.
“Dokter Adit?” sapa Serena dengan senyuman.
“Apa kau baik-baik saja nona muda?” tanya Adit pelan.
“Ya, tadi sedikit sakit. Tapi sekarang sudah membaik setelah meminum obat itu,” menunjuk ke arah box kecil yang berisi buliran obat dan terletak di atas meja.
“Jangan pernah memaksakan ingatan masa lalumu untuk kembali nona. Itu bisa memperburuk keadaanmu. Kau akan mendapatkan rasa sakit yang luar biasa, jika terus memaksakan ingatanmu,” jelas Adit.
‘Apa Adit yang memberi tahu Daniel tentang keadaanku saat ini,’ gumam Serena dalam hati.
“Serena akan baik-baik saja, kau bisa pulang sekarang!” ucap Daniel kesal.
“Baiklah, aku rasa kalian butuh waktu untuk berdua saat ini,” ledek Adit dengan senyuman penuh arti, “Kita harus keluar pak Han, mereka akan saling melepas rindu,” sambung Adit lagi.
Daniel hanya terdiam tidak lagi bisa membantah. Perkataan Adit barusan, telah membuat wajah Daniel berubah menjadi salah tingkah. Tatapan matanya ia alihkan pada Serena yang terlihat menahan tawa dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Apa kau senang?” celetuk Daniel dan berlalu pergi menuju kamar mandi.
“Kau sangat menggemaskan Daniel,” ucap Serena pelan yang masih menatap ke arah pintu kamar mandi.
Jangan lupa like dan komen kakak….