
Di S. G. Group.
Pagi hari di jam kerja, semua karyawan S.G. Group terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Beberapa satpam juga sudah terlihat berdiri tegab di beberapa tempat. Semua ruang kerja yang tadinya kosong kini sudah dipenuhi para karyawan-karyawati. Beberapa wanita terlihat berlalu lalang sambil membawa beberapa berkas untuk di tanda tangani atasan yang bersangkutan.
Di ruangan Daniel, terlihat Biao yang sedang menyampaikan daftar kegiatan Daniel hari ini. Dengan memegang sebuah tab kecil, Biao tampak serius memilih pertemuan penting yang lebih dulu di kunjungi Daniel pagi ini. Jarinya terhenti pada satu jadwal yang mewakili nama seseorang.
“Tuan, rapat pagi ini kita akan kedatangan tamu dari luar. Rapat di adakan di kantor kita”, gumam Biao sambil menatap wajah Daniel yang selalu saja fokus pada layar laptopnya.
“Setelah itu?” tanya Daniel singkat.
“Makan siang dengan investor lama kita tuan, sepertinya beliau ingin memperpanjang kerja sama dengan kita tuan” sambung Biao.
“Baiklah, persiapkan semuanya”, gumam Daniel pelan.
“Masih ada beberapa pertemuan lagi tuan”, seru Biao lagi.
“Aku ingin ke rumah sakit sebelum makan siang”, tegas Daniel tanpa mau menatap wajah Biao.
“Tuan, jam makan siang ada dua kegiatan yang belum mendapat persetujuan anda”, ucap Biao pelan dan penuh perhitungan.
“Dua? Siapa satu lagi?” tanya Daniel sambil mengerutkan dahinya.
“Mr. X tuan, beliau ingin bertemu dengan anda siang ini”, sambung Biao sambil tertunduk bingung.
“Mr. X?” tanya Daniel terhenti. “Apa pertemuan kita dengan investor itu sangat penting?” sambung Daniel lagi.
“Iya tuan, jika kita bisa melanjutkan kerja sama seperti biasa. Maka perusahaan kita akan mendapat banyak keuntungan”.
Daniel hanya diam berfikir dalam mengambil keputusan untuk pertemuannya siang ini. Meskipun ia bisa membatalkan kunjungannya ke rumah sakit siang ini dan mengambil kedua pertemuan itu, tapi hatinya menolak untuk melakukan hal itu.
Tidak seperti biasanya, yang selalu mengabaikan urusan pribadinya dan mengutamakan urusan perusahaan. Semua tidak lagi sama, kunjungannya ke rumah sakit menjadi satu hal penting yang harus ia lakukan. Kali ini Daniel harus berpikir keras dalam mengambil keputusan yang selalu ia anggap sepele itu.
“Tuan”, sapa Biao yang melihat Daniel hanya diam melamun.
“Kita percepat rapat pagi ini, dan segera berangkat ke rumah sakit!”perintah Daniel secara tegas.
“Baik tuan”, jawab Biao sambil menunduk hormat.
Biao sangat mengerti, kalau kalimat Daniel adalah sebuah perintah kepada dirinya untuk menyetujui dua pertemuan di siang itu. Pertemuan investor dan Mr. X harus di atur Biao sedemikian rapi agar keduanya bisa berjalan lancar.
“Apa anda mulai merindukan nona Serena saat ini tuan”, batin Biao sambil tersenyum tipis memandang Daniel yang kembali sibuk dengan laptopnya.
“Kenapa aku harus ke rumah sakit, wanita itu sudah di temani Diva dan di jaga beberapa pengawal di sana. Dia pasti akan baik-baik saja tanpa perlu aku kunjungi”, batin Daniel yang sudah tidak lagi fokus pada pekerjaan yang ada di depan matanya.
Tok…Tok…
Seseorang mengetuk pintu dengan cepat dan singkat, tatapan Daniel dan Biao kembali teralihkan ke arah pintu.
“Masuk!” ucap Daniel singkat.
“Dia lagi!” gumam Biao pelan saat melihat wajah Sonia yang muncul di sana.
“Semua akan di atur oleh Biao, tanyakan langsung saja padanya”, jawab Daniel acuh sambil menatap ke arah Biao yang masih berdiri tegab di hadapannya.
“Kenapa dia bersikap seperti itu, menyebalkan!” batin Sonia dengan tatapan kesal.
“Rapat akan segera di mulai, tamu kita juga sudah tiba di bawah”, gumam Biao sambil tersenyum penuh arti kepada Sonia.
“Baiklah, saya permisi dulu tuan”, pamit Sonia sambil berlalu pergi dari ruangan Daniel.
“Aku yakin, dia pasti pergi dengan penuh kekecewaan”, gumam Biao dalam hati sambil tetap memperhatikan langkah Sonia yang berlalu dari ruangan itu.
Daniel kembali melanjutkan kegiatannya di depan laptop, hingga beberapa menit kemudian Daniel memandang ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Baiklah, sekarang kita harus segera menyelesaikan rapat kita pagi ini”, ucap Daniel dan beranjak berdiri dari duduknya.
“Baik tuan”, jawab Biao memberi jalan pada Daniel.
Daniel segera berjalan menuju ruang rapat untuk menyambut kedatangan tamu pentingnya pagi ini.
Langkahnya terlihat cepat dan pasti, diikuti oleh Biao dari belakang. Di dalam ruang rapat terlihat beberapa karyawan dan Sonia yang sudah duduk manis menunggu kehadiran Daniel di sana.
Tidak menunggu lama, beberapa orang yang menjadi tamu penting di rapat pagi itu juga sudah tiba di dalam ruang rapat. Hingga akhirnya rapat penting pagi itu di mulai.
Berulang kali Daniel menatap ke arah jam yang melingkar di tangannya, pikirannya tidak lagi dipenuhi perihal pekerjaan. Hanya Serena dan Serena yang selalu saja muncul di kepalanya.
“Kenapa rapat ini lama sekali”, gumamnya gusar di dalam hati.
Satu jam terlewati, kini hati Daniel sudah dipenuhi pikiran untuk segera berangkat ke rumah sakit. Tanpa mengeluarkan satu katapun, Daniel melangkah cepat ke arah parkiran mobil diikuti oleh Biao dari belakang.
“Mau kemana dia, kenapa terlihat buru-buru sekali, bukannya jadwal selanjutnya di jam makan siang”, gumam Sonia dalam hati.
Kini Daniel dan Biao sudah ada di dalam mobil. Tanpa perlu bertanya kepada Daniel kemana tujuan mereka saat ini, Biao melajukan mobilnya dengan cepat ke arah rumah sakit.
Di dalam mobil Daniel hanya diam memandang ke arah luar jendela. Sesekali tatapannya kembali ia alihkan pada Biao yang masih fokus pada setirnya. Tanpa mau mengeluarkan satu katapun, kini Daniel menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan memejamkan matanya dengan tenang.
“Apa yang sedang kau lakukan saat ini, Serena…” batinnya sambil tersenyum kecil membayangkan wajah Serena.
“Apa tuan Daniel sedang memikirkan nona Serena saat ini? Ia terlihat sangat bahagia hari ini!” sambil melirik sekilas ke arah kaca spion.
Tidak butuh waktu yang lama untuk tiba di rumah sakit. Sebelum Biao sempat membukakan pintu mobil, Daniel lebih dulu keluar dari mobil dan melangah cepat ke arah kamar Serena. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat ia tidak menemukan pengawal jaga di depan kamar Serena.
“Kemana mereka!” bentak Daniel sambil terus melangkah masuk ke kamar Serena.
Pikirannya lagi-lagi dipenuhi rasa khawatir saat ia tidak menemui Serena ada di dalam kamar.
“Saya akan mencari nona Serena tuan”, ucap Biao cepat yang sudah tau isi pikiran Daniel saat ini.
“Aku juga akan mencarinya!” jawab Daniel singkat sambil melangkah cepat meninggalkan kamar Serena.
Daniel dan Biao mencari Serena dengan arah yang berlawanan. Langkah Daniel ia tujukan pada satu ruangan yang akan bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi.