
Masih dalam keadaan diam, ruangan kini terasa sangat sepi. Hanya ada suara jarum jam yang terdengar setiap detiknya. Serena masih tertunduk diam dalam rasa bersalahnya. Ukiran permintaan maaf sudah tidak lagi mampu ia bentuk di dalam pikirannya.
Matanya sudah terasa perih sejak tadi, gumpalan air mata juga sudah memenuhi bola matanya. Serena semangkin mempererat genggaman tangannya pada seprey yang melapisi tempat tidurnya saat ini.
Perlahan Daniel mulai membuka matanya, hatinya masih dipenuhi perasaan yang teramat sangat sakit.
Kedekatan Serena dan Kenzo membuat sebuah irisan yang menjadikan hatinya terluka dan terasa perih. Daniel mulai mengatur hembusan nafasnya menjadi normal kembali.
“Kenapa harus dia Serena?” tatapan matanya kembali tajam memandang Serena.
“Maafkan aku Daniel”, ucap Serena lirih dan mulai memberanikan dirinya untuk menatap wajah Daniel.
“Kenapa kau hanya bisa mengatakan hal itu? Jelaskan padaku Serena! Kenapa harus dia pria yang kau pilih untuk dekat denganmu?” gumam Daniel yang masih menahan amarahnya.
“Aku hanya berteman dengan Kenzo, tidak lebih dari itu!” ucap Serena mencoba untuk menjelaskan keadaan sebenarnya.
“Aku tidak ingin melihatmu bertemu dengannya lagi Serena! dengan alasan apapun itu, aku tidak mengijinkanmu!” perintah Daniel dengan tegas dan tidak bisa untuk di tawar lagi.
Serena kembali membisu, kini buliran air mata yang ia tahan sejak tadi sudah mulai jatuh membasahi pipinya. Tangis Serenapun pecah, ia sudah tidak bisa mengatur nafasnya dengan normal lagi.
“Kenapa kau menangis Serena? Apa kau sedih karena tidak lagi bisa bertemu dengannya?” batin Daniel yang masih menatap wajah Serena dengan kecewa.
“Maafkan aku Daniel, aku tidak akan mengulangnya lagi”, ucap serena dengan nada yang sangat lirih.
Semua kalimat yang sejak tadi ingin ia katakan hanya tertahan di bibir, Daniel tidak mengucapkan satu katapun untuk melampiaskan emosinya saat ini. Wajah sedih Serena mengunci hatinya untuk tidak lagi menyakiti Serena.
Tatapan amarah Daniel perlahan mulai hilang, air mata Serena kembali meluluhkan hatinya. Daniel menggenggam tangannya dengan erat dan membuang tatapan matanya dari Serena. Hatinya dipenuhi rasa tidak tega saat melihat Serena menangis.
Daniel beranjak dari duduknya, masih berdiri tegab tanpa ingin memulai langkah kakinya. Perlahan Serena mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Daniel yang masih berdiri mematung menghadap ke tubuhnya.
“Daniel…” gumam Serena lirih.
Daniel menarik tubuh Serena untuk mendekat dan masuk ke dalam pelukannya. Perlahan Daniel mulai mencengkram dagu Serena dan mulai mencium bibirnya dengan lembut. Ciuman itu kini menjadi bentuk pelampiasan amarahnya pada Serena.
Mata Serena yang terbelalak kaget kini kembali terpejam, tangannya mulai ia lingkarkan pada leher jenjang milik Daniel. Entah berapa lama ciuman itu berlangsung, kini keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
“Aku akan kembali menemuimu nanti malam”, ucap Daniel singkat dan melepas pelukannya dari tubuh Serena.
Serena hanya menganggukkan kepalanya pelan, pandangan matanya mulai mengikuti langkah Daniel yang berjalan pergi meninggalkan dirinya di sana. Perlahan, Serena mulai memberanikan diri untuk menyentuh bibirnya. Senyuman indah terukir di wajahnya, detak jantung yang sejak tadi berdetak cepat kini sudah kembali normal.
“Apa dia baru saja menciumku?” batin Serena yang masih dipenuhi rasa tidak percaya.
Di depan kamar, terlihat Biao, Diva dan beberapa pengawal lainnya sudah berdiri tegab di sana. Keluarnya Daniel dari dalam kamar justru membuat semua orang menjadi semangkin khawatir dengan keadaan Serena di dalam. Semua tertunduk hormat menyambut kedatangan Daniel.
Daniel hanya menatap sebentar, sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan langkah kakinya. Meskipun tidak mengeluarkan kalimat perintah, dengan cepat Biao mengikuti langkah kaki Daniel dari belakang.
Diva yang sejak tadi ingin segera menerobos masuk untuk menemui Serena, kini sudah berlari cepat masuk ke dalam kamar. Nafasnya terlihat lega ketika melihat Serena tidak terluka sedikitpun.
“Apa nona baik-baik saja?”, ucapnya cepat sambil berlari kecil mendekat di ranjang Serena.
“Aku baik-baik saja Diva”, mengusap sisa air mata yang ada di pipinya.
“Apa yang terjadi, kenapa nona Serena seperti habis menangis?” tanya Diva dalam hati.
“Apa Daniel sudah pergi?” tanya Serena pelan.
“Sudah nona, tuan Daniel sudah pergi bersama tuan Biao”, jawab Diva pelan yang masih menyimpan raut wajah khawatir terhadap Serena.
Keduanya kembali larut dalam pikiran mereka masing-masing. Diva masih belum memiliki keberanian untuk bertanya pada Serena tentang apa yang baru saja terjadi di dalam kamar. Sedangkan Serena larut dalam lamunannya mengingat kejadian yang baru pertama kali ia rasakan sejauh ingatannya.
Tok…Tok… suara ketukan pintu kembali mengalihkan pandangan keduanya.
“Selamat siang nona Serena, apa kau baik-baik saja?” tanya Adit yang memang sejak tadi sudah mengkhawatirkan keadaan Serena.
“Saya baik-baik saja dokter Adit”, jawab Serena dengan senyuman kecil.
“Maafkan saya nona…” ucapannya terhenti.
“Serena, panggil saja saya Serena dokter”, sambung Serena.
“Baiklah, kau juga bisa memanggilku Adit. Aku sahabat Daniel, jangan terlalu formal memanggil dengan statusku”, pinta Adit dengan senyuman.
“Baiklah”, balas Serena.
“Seharusnya saya tidak mengijinkan Kenzo membawamu pergi Serena”, gumam Adit penuh penyesalan.
“Ini semua salah saya, tidak perlu menyalahkan dirimu seperti itu. Seharusnya aku menolak ajakan Kenzo sejak awal”, melirik sebentar ke arah Diva.
“Tidak seharusnya kita saling menyalahkan, aku akan memeriksa keadaanmu Serena”, mengambil pergelangan tangan Serena untuk memulai ritual pemeriksaannya.
“Kapan aku bisa kembali pulang?” tanya Serena penuh harap.
“Segera, kau akan segera pulang jika luka itu sudah kering Serena”, ucapannya terhenti. “Baiklah, selesai”, sambung Adit lagi.
“Apa lukanya masih terlihat parah dok?” tanya Diva penasaran.
“Tidak, lukanya sudah hampir kering. Kau memiliki daya tahan tubuh yang kuat Serena”, puji Adit pada Serena.
Serena hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Adit, namun pikirannya kembali mengingat keberadaan Kenzo yang tertinggal sendiri ditaman.
“Mungkin persahabatan kita tidak akan pernah berjalan dengan baik Kenzo”, batin Serena dengan tatapan melamun.
“Aku harus memeriksa beberapa pasien lainnya, cepat sembuh Serena”, gumam Adit pamit.
“Terima kasih dokter”, jawab Diva yang masih memperhatikan Adit melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
“Nona…” sapa Diva yang melihat Serena masih dalam keadaan melamun.
“Nona…” ulangnya lagi sambil menyentuh tangan Serena.
“Iya, dimana Adit?” tanya Serena bingung sambil memperhatikan sekeliling kamar.
“Dokter Adit sudah keluar nona”, jawab Diva.
“Benarkah? Aku tidak melihatnya”, ucap Serena kecewa.
“Apa anda masih memikirkan tuan Kenzo, nona?”
“Kenapa Daniel sangat membencinya Diva? Sebenarnya masalah apa yang pernah terjadi di antara mereka. Tatapan mereka dipenuhi dengan kebencian. Apa kau pernah memperhatikannya Diva?”
“Mungkin tuan Daniel cemburu pada tuan Kenzo, nona”.
“Cemburu?” tanya serena tidak percaya.
Diva hanya mengangguk pelan, pikiran Serena sudah dipenuhi dengan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Diva.
“Apa benar dia cemburu? Tapi itu tidak mungkin”, batin Serena dalam hati.