
Di dalam rumah Laura.
Laura berdiri dengan santai di depan layar TV memperhatikan rekaman CCTV yang terpasang di setiap sudut rumahnya. Menonton pertunjukan yang terjadi di luar rumah, dari tamu yang tidak ia undang.
Serena duduk di samping Laura dengan kaki dan tangan yang masih terikat. Namun, bajunya sudah berganti dengan pakaian yang sangat kotor.
“Erena, apa hanya segitu pasukan yang kau miliki saat ini?” Laura tersenyum tipis memandang Serena.
“Meskipun hanya segitu, kau akan kalah Laura!” jawab Serena dengan tenang.
“Kau!”
PLAKKK!
Laura memukul pipi Serena dengan pistol yang ada di genggaman tangannya. Mencengkram kuat dagu Serena dengan tatapan kebencian.
“Apa kau tahu, kalau bayi kecil itu sekarang dalam perjalan menyusul ibunya. Semakin kau membantah, maka bayi kecil itu akan semakin cepat bertemu dengan ibunya.” Laura menghempaskan wajah Serena dengan kasar.
“Lakukan rencana B. Aku yakin, mereka akan tertipu dengan rencana keduaku saat ini.” Laura melipat kedua tangannya dengan santai.
Serena hanya diam memperhatikan rencana Laura selanjutnya.
Wanita ini memang sangat tenang. Ia memiliki sejuta cara untuk mengelabuhi musuhnya. Aku tidak tahu, rencana apa lagi yang akan ia gunakan untuk menghalangi Kenzo dan Daniel.
Satu wanita keluar dari dalam ruangan kecil. Menunduk hormat untuk menerima perintah Laura selanjutnya.
“Bagaimana Erena? apa kau kaget dengan rencanaku saat ini?” tanya Laura dengan senyuman licik.
Serena hanya diam tanpa ingin menjawab pertanyaan Laura lagi.
Bagaimana mungkin Laura bisa membuat orang yang sangat mirip denganku, hanya dengan sebuah topeng. Rencana ini bisa mengelabuhi Kenzo dan Daniel. Bahkan pakaian yang ia kenakan juga pakaian yang terakhir kali aku kenakan. Apa yang harus aku lakukan untuk menolong mereka.
“Lakukan tugasmu dengan baik. Buat separuh pasukan musuh kita pergi meninggalkan markas kita!” Laura mengambil sebotol anggur yang tersusun rapi di lemari kaca.
“Baik, Bos!” Wanita itu pergi untuk melakukan drama selanjutnya. Wajah dan postur tubuhnya memang sangat sama dengan Serena. Dari jarak jauh, siapapun yang melihat wanita itu akan menilai, kalau wanita itu adalah Serena.
“Apa kau haus, Erena?” Laura menyodorkan botol anggur itu di hadapan Serena.
Serena hanya diam tanpa ingin mengeluarkan kata. Menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan langsung dengan Laura. Sudah berhari-hari ia tidak meneguk air ataupun memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya.
“Kau pasti sangat haus, Erena.” Laura menyiram isi botol itu ke atas kepala Serena. Hingga tubuh Serena basah dan dipenuhi cairan berwarna merah dari minuman itu.
“Kau terlihat sangat menyedihkan!” Laura tersenyum tipis sebelum berjalan ke arah kursi. Ia duduk dengan santai untuk menyaksikan pertarungan musuh dari balik CCTV.
Serena hanya menarik napas dalam, untuk menahan emosinya saat ini. Apapun yang ia lakukan saat ini tidak akan berguna, sebelum Kenzo dan Daniel berhasil menemukan keberadaan Angel.
Aku sudah berhutang banyak dengan Diva. Aku akan melindungi Angel dengan nyawa terakhir yang aku miliki saat ini. Diva, aku berjanji untuk tidak mengecewakanmu lagi.
“Apa Zeroun Zein sudah melupakanmu, Erena? dia hanya mengirim pasukan Gold Dragon, tanpa ingin menolongmu secara langsung.” Laura tersenyum tipis.
“Padahal aku sangat ingin menghabisi nyawanya juga.”
Suasana kembali hening, saat Laura tidak mengeluarkan kata lagi. Beberapa pria bertubuh tegab dengan senjata berdiri untuk melindungi Laura di ruangan itu.
Zeroun … aku harap kau tidak lagi menolongku saat ini.
.
.
Di halaman belakang.
Pasukan Gold Dragon masuk ke halaman belakang dengan sangat mudah. Ini bukan pertama kalinya mereka berurusan dengan Bom. Kenzo terus saja bersikap waspada untuk melindungi Shabira dari bahaya.
Langkah mereka terhenti, saat melihat beberapa pria dan wanita bertubuh tegab membawa tubuh Serena dengan paksa ke dalam mobil.
“Shabira, jangan gegabah. Kita akan mengejar mereka.” Kenzo memperhatikan pasukan Gold Dragon yang berdiri di belakang.
“Bagi pasukan menjadi dua, sebagian ikuti aku dan sisanya tetap kuasai rumah ini. Bantu Daniel untuk menemukan Laura!” perintah Kenzo dengan tegas.
“Baik, Bos!” ucap beberapa pasukan secara bersamaan.
“Ayo, sayang kita harus cepat menuju mobil.” Kenzo menarik tangan Shabira, berlari cepat membawa Shabira masuk ke dalam mobil.
***
Dari atas gedung.
Zeroun meletakkan senjata yang sejak tadi ia jadikan alat untuk mengintai. Saat melihat tubuh Serena keluar dari halaman belakang, membuat Zeroun kembali bingung dan dipenuhi pikiran yang bercabang.
“Apa itu Erena? kenapa Laura membiarkan bawahannya pergi membawa Erena keluar meninggalkan markas.” Zeroun duduk di kursi yang tidak jauh dari posisinya mengintai.
“Wanita ini sungguh sangat licik.” Zeroun mengambil handphone dari sakunya, untuk menghubungi Lukas.
“Apa semua bisa di atasi?” tanya Zeroun cepat.
[Saya masih mengejar mobil itu, Bos. Sepertinya mereka tahu, kalau saya mengejar anak kecil itu, Bos.]
“Lakukan tugasmu dengan cepat, Lukas! hanya anak kecil itu yang bisa menyelamatkan nyawa Erena saat ini.”
[Baik, Bos. Saya akan menyelesaikan tugas ini dengan cepat.]
“Temui aku secepatnya dan bawa anak itu ke hadapanku!” Zeroun memutuskan panggilan teleponnya, hatinya di sulut emosi. Jantungnya berdebar dengan cepat, saat mengingat wanita yang ia cintai berada dalam keadaan terancam.
“Erena. Maafkan aku. Aku tidak bisa turun tangan langsung untuk menolongmu.” Zeroun membuka jas hitam yang kini ia kenakan. Memperhatikan warna kemeja putihnya yang sudah brubah dengan warna merah.
“Luka ini. Kenapa tidak kunjung sembuh!”
“AAAAAAAAAA!” teriak Zeroun dengan frustasi.
Saat ini kondisinya berada di titik paling lemah. Meskipun belum bertarung, stress yang memenuhi pikirannya membuat lukanya pendarahan lagi. Luka yang di berikan oleh Wubin memang tidak bisa di biarkan begitu saja. Di tambah lagi, setelah kejadian Zeroun hanya menjalani perawatan di rumah. Meskipun di sentuh oleh dokter yang cukup profesional, tapi hal itu tidak menjamin luka yang ia miliki cepat kering.
Zeroun berjalan ke ujung gedung itu lagi, mengambil senjata laras panjang miliknya. Mengganti posisi pengintainya untuk menguasai isi rumah Laura saat ini.
“Kali ini aku harus berhasil menemukan wanita licik itu.” Zeroun mengatur posisi pengintaiannya dengan posisi yang sangat nyaman. Posisi itu ia tujukan pada salah satu jendela kamar yang ada di rumah Laura.
“Kali ini aku harus bisa menemui wajahmu, Laura. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.” Zeroun memejamkan matanya untuk membidik keadaan yang ada di dalam kamar itu. Matanya terbelalak kaget, saat melihat Serena duduk dengan kondisi yang sangat menyedihkan.
“Apa yang sudah kau lakukan pada Erena!” ucap Zeroun dengan penuh kebencian.
Zeroun melihat jelas wajah Serena yang dipenuhi luka dan darah yang sudah mengering. Mengenakan pakaian basah dan kotor. Rambut yang sangat acak-acakan. Tubuh Serena juga terlihat sangat lemah dan tidak berdaya.
Tanpa menunggu lama lagi, Zeroun menyimpan senjata laras panjang itu. Mengambil dua pistol, menggenggamnya dengan erat. Pria itu siap untuk bertarung lagi meskipun ia masih memiliki luka yang tidak kunjung sembuh.
“Aku tidak bisa diam di sini hanya untuk menonton wanita yang kucintai di siksa.” Zeroun masuk ke dalam mobil, melajukan mobil itu untuk mendekati lokasi rumah Laura.
.
.
.
Readers... kita up setiap jam 12 malam ya.
sambil nunggu up, kalian bisa baca novel teman saya. Action romantis.
Author Alvi Barta Jadul
Judul "Girl On The Gangster"