
Zeroun menatap tajam wajah Laura, mengepal kuat tangannya karena kesal.
“Zeroun Zein. Apa kau mau menggantikan nyawa wanita ini dengan nyawa yang kau miliki?” Laura tersenyum licik menatap wajah Zeroun Zein.
Sejak awal, Zeroun Zein juga menjadi target Laura untuk membalaskan dendam.
Serena menatap wajah Daniel dan Zeroun secara bergantian. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini sebelum ia melihat Angel dengan selamat. Ia memperhatikan jumlah pasukan yang masih tersisa belasan orang. Mencari-cari keberadaan Kenzo dan Shabira. Sejak awal Serena sudah tahu, kalau Kenzo dan Shabira berhasil terpancing dengan Serena palsu yang Laura siapkan.
“Ya, aku bersedia. Lepaskan Erena jika kau menginginkan nyawaku.” Zeroun menatap wajah Serena dengan hati yang diselimuti kesedihan.
Daniel dan Biao menatap wajah Zeroun dengan seksama. Daniel menahan pundak Zeroun saat ingin melangkah maju.
“Jangan lakukan itu, Zeroun Zein.”
Zeroun menatap wajah Daniel dengan tajam, “Apa kau pikir wanita ini tidak gila. Dia akan melakukan segala cara bahkan rela kehilangan nyawa demi mencapai ambisinya. Biar aku yang mengurus semuanya, jangan halangi langkahku.” Zeroun melepas tangan Daniel yang menahan langkahnya. Maju beberapa langkah dan berdiri menghadap Serena dan Laura.
“Lepaskan dia!” teriak Zeroun lagi.
Laura tertawa dengan bahagia. Hingga tawanya memenuhi ruang kosong yang berukuran luas itu.
“Apa kau pikir aku wanita bodoh yang bisa kau tipu seperti dulu, Zeroun Zein?” Laura menatap wajah Serena dengan penuh kebencian.
“Bagaimana dengan kejutan ini? kau harus berpikir untuk tidak bermain-main denganku lagi Zeroun Zein!” Laura memperlihatkan bom yang sudah memenuhi tubuh Serena.
Daniel dan Zeroun semakin diselimuti rasa khawatir. Saat melihat bom dengan waktu yang sudah berjalan dan hanya tersisa 25 menit.
“Maju ke sini Zeroun Zein, kita bertiga akan mati bersama menemui James.” Laura tersenyum penuh kemenangan.
“Serena ….” ucap Daniel dengan nada yang lirih. Ia tidak sanggup jika melihat Serena pergi dengan cara seperti ini.
“Erena, serang wanita itu!” teriak Zeroun dengan penuh khawatir.
Serena tidak melakukan tindakan apapun, meskipun tubuhnya tidak lagi terikat dan bisa bergerak bebas saat ini. Tapi ia tidak ingin mencelakai Laura, karena Angel masih berada di bawah kekuasaan Laura.
“Kau berani memberi perintah pada wanita ini, Zeroun!” Mata Laura membulat penuh amarah.
“Bagaimana kalau aku juga memberi perintah padanya. Siapa di antara kita yang paling ia turuti.” Laura menyodorkan pistol di hadapan Serena.
“Tembak Zeroun Zein sekarang juga.” Laura menatap wajah Serena dengan tajam.
Serena menatap wajah Zeroun sebelum menerima pistol yang diberikan pada Laura.
“Serena, jangan lakukan itu!” teriak Daniel dari kejauhan. Langkahnya terhenti saat Biao menahan tubuh Daniel yang ingin mendekati posisi Serena saat ini.
“Maafkan saya, Tuan. Tapi, anda jangan bertindak emosi,” bisik Biao untuk menenangkan pikiran Daniel.
Daniel menatap wajah Serena dengan tatapan tak terbaca lagi.
Sayang, jangan lakukan itu. Apa yang harus aku lakukan. Kenapa semua jadi seperti ini. Dimana Kenzo dan Shabira, apa yang terjadi pada mereka.
Zeroun menatap mata Serena dengan tatapam tajam, tidak ada lagi kata yang bisa ia katakan. Semua perbuatan di masa lalu harus ia bayar saat ini juga.
“Kau tidak punya banyak waktu, Erena. Waktu terus berjalan.” Laura melirik waktu yang berjalan di bom yang melekat pada tubuh Serena.
“Maafkan aku Zeroun ….” Serena menodongkan pistol di hadapan Zeroun Zein.
“Serena, jangan!” teriak Daniel lagi.
Sosok yang baru muncul dari balik tangga, membuat Serena tersenyum tipis. Serena memutar arah pistol itu ke hadapan Laura dengan begitu tenang.
“Kau ingin menembakku, Erena?” Laura tersenyum licik.
“Sejak awal aku ingin membunuhmu, Laura!” jawab Serena dengan tenang.
“Apa kau tidak takut, jika bayi mungil itu meledak dan menyusul ibunya?” ancam Laura lagi.
“Tidak akan terjadi!” teriak sosok pria dari kejauhan.
Semua mata tertuju pada Lukas yang menggendong Angel dan berjalan mendekati tubuh Daniel.
“Apa anak kecil ini yang selalu kau jadikan senjata, Laura?” ucap Lukas dengan santai.
Laura terbelalak kaget, saat melihat tawanan kecilnya berhasil direbut oleh Lukas.
Serena memutar tubuhnya dan menendang tubuh Laura dengan kaki. Wanita itu jatuh ke lantai.
“Aku akan membalas dendam Diva!” Serena menodong pistol itu di depan wajah Laura.
“Kau juga akan segera meledak, Erena.” Laura masih tersenyum dengan kemenangan.
DUARR! DUARR!
Dua tembakan dilepas Serena ke arah dada Laura. Mata Laura melebar menatap wajah Serena. Bibirnya tersenyum penuh sakit, saat merasakan kekalahan yang kini ia terima.
“Kau iblis, Erena. Kau sudah berhasil membunuh Kakak beradik dengan begitu keji.” Laura tergeletak di atas lantai dengan mata terpejam.
Serena melempar pistol itu di samping tubuh Laura. Menatap wajah Daniel dan Zeroun secara bergantian.
“Serena ….” Daniel berlari untuk memeluk tubuh Serena. Hatinya sudah diselimuti kerinduan yang amat dalam.
“Berhenti, Daniel!” teriak Serena dari kejauhan.
“Kenapa, Serena?” Daniel menghentikan langkahnya saat tubuhnya berada di samping tubuh Zeroun.
“Jangan lakukan itu. Bom ini akan segera meledak, jangan dekati aku. Biar aku yang pergi.” Serena menjatuhkan beberapa bulir air mata.
“Jaga Angel untukku ….” ucapnya lagi.
“Apa yang kau katakan, Serena? jika kau mati aku juga akan mati bersamamu.” Daniel melanjutkan langkah kakinya.
Zeroun menarik napas dalam, “Dasar pria bodoh!” ucap Zeroun santai.
Daniel menatap wajah Zeroun tidak suka, “Apa maksudmu, Zeroun Zein? kau bilang aku bodoh?”
“Kau harus menghentikan bom itu, bukan ikut mati bersama wanita itu.” Zeroun berjalan dengan santai mendekati tubuh Serena.
Serena hanya diam mematung memperhatikan wajah Zeroun dan Daniel bergantian.
Daniel diam memperhatikan Zeroun yang berjalan mendekati tubuh Serena saat ini. Ia kembali sadar, kalau Zeroun bisa menjinakkan bom itu. Napasnya kembali lega, saat ia tahu kalau Serena akan segera selamat.
Serena menatap wajah Zeroun yang kini sudah berdiri tegap di hadapannya.
“Apa kau begitu benci padaku, hingga tidak ingin memintaku untuk membuka bom ini?” Zeroun mengambil belatih yang tersimpan. Ia mulai membuka kabel-kabel yang melingkari tubuh Serena saat ini.
“Maafkan aku ….” ucap Serena pelan.
Zeroun tidak lagi menjawab. Ia terus fokus melepaskan bom yang memiliki waktu lima menit terakhir itu. Dalam waktu cepat, ia berhasil melepas bom itu dari tubuh Erena.
“Aneh, kenapa aku tidak bisa menjinakkan bom ini.” Zeroun terus mengotak atik bom yang kini ada di genggaman tangannya.
“Dasar pria bodoh!” teriak Serena.
Zeroun menatap wajah Serena sambil mengerutkan dahi, “Apa maksudmu?”
“Kau tidak terima dibilang bodoh! tapi kau mengatai suamiku pria bodoh,” jawab Serena santai.
Tanpa banyak kata, Serena merampas bom yang ada di tangan Zeroun. Melemparkan bom itu keluar jendela. Hingga terdengar satu dentuman yang begitu keras.
“Kau terus menatap bom yang memiliki waktu!” ucap Serena kesal.
“Kau! kenapa kau melempar bom itu ke sana. Bagaimana kalau Gold Dragon ada di bawah!” teriak Zeroun tidak terima.
“Bom itu juga akan segera meledak di sini dan membahayakan semua orang yang ada di sini!” balas Serena tidak terima.
Daniel hanya diam mendengarkan perdebatan antara Serena dan Zeroun saat itu.
“Kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan, Erena?”
.
.
Vote yang banyak, biar besok crazy up...🤭
Terima kasih untuk reader setia yang sudah vote 😊