
Di dalam mobil.
Daniel mengutak atik laptop yang kini ada di hadapannya. Memeriksa Email masuk, seperti biasa. Tama dan Biao masih fokus pada jalan lurus di depan. Daniel menutup laptop tiba-tiba. Ia memandang ke arah depan, sambil berpikir sejenak. Ia ingin, Shabira dan Kenzo segera bertemu hari ini. Tapi ia tidak ingin memaksa Serena untuk melakukan hal itu.
“Apa anda memikirkan sesuatu, Tuan?” tanya Biao yang sejak tadi memperhatikan Daniel dari balik spion.
“Aku ingin Shabira segera bertemu Kenzo. Serena terlihat sedih hari ini, karena dirinya.” Daniel kembali mengingat, penolakan Shabira untuk sarapan pagi ini.
“Apa tidak terlalu cepat, Tuan?” tanya Biao belum setuju.
“Aku tidak ingin Serena terus memikirkan masalah ini.”
“Tapi, Nona Serena akan marah, Tuan.” Tama membantu Biao untuk menolak.
Daniel kembali diam. Ia tahu, kalau Serena yang sekarang tidak sama seperti yang dulu. Serena akan marah pada dirinya, saat ia mengambil keputusan secara sepihak. Daniel tidak lagi ingin membahas masalah itu, ia memandang ke luar jendela.
“Tuan, mobil itu jadi milik Shabira.” Tama kembali memecah keheningan.
“Wanita itu tidak terlihat seperti wanita pada umumnya,” sambung Biao.
“Apa Shabira benar telah memukulmu, Biao?” tanya Daniel tidak percaya.
Tama menahan tawa. Ia menyetir sambil sesekali memandang wajah Biao untuk meledek, “Aku tidak pernah tahu, kalau tadi pagi kau bisa seceroboh itu.”
“Ya, Tuan. Wanita itu menyerang saya secara cepat. Sepertinya ia sudah terlatih sejak lama.” Biao mengakui kehebatan Shabira. Ini pertama kalinya ia di kalahkan oleh seorang wanita.
“Dia memang bisa di andalakan. Sejak dulu, Shabira yang melindungi Serena. Setelah bertemu dengan Kenzo, aku akan memintanya untuk selalu berada di samping Serena.” Daniel tidak ingin Serena dalam bahaya lagi. Ia sudah menyusun rencana, untuk membiarkan Shabira tinggal di rumah itu.
Suara handphone berdering.
Daniel Mengerutkan dahinya, saat melihat nomor asing yang menghubunginya. Dengan cepat Daniel mengangkat handphone itu, melekatkan di dekat telinga. Belum sempat Daniel mengeluarkan kata, ia sudah tesenyum dengan bahagia.
“Sayang, kau tahu nomor teleponku.” Senyuman sudah melingkar indah di wajah Daniel. Serena yang menelepon Daniel saat ini. Belum lama ia tersenyum, wajahnya kembali berubah serius. Serena ingin meminta ijin pada dirinya untuk membawa mobil dan mengantar Diva membeli sesuatu buat Angel.
“Sayang, pengawal akan menjagamu hari ini. Kau boleh membawa salah satu mobil sendiri, tapi tetap membawa pengawal.”
Tama dan Biao hanya diam mendengarkan perkataan Daniel. Memandang Daniel dari balik spion. Mereka tahu, kalau Nona mudanya pasti akan membuat masalah lagi.
Aku semangkin pusing menjaga Nona Serena. Ia jauh lebih berani saat ini, dibandingkan waktu dulu.
Biao menggeleng kepala, menarik napas dalam.
Nona, apa lagi yang kau minta. Jangan membuat Tuan Daniel, bingung seperti ini.
Tama memandang Daniel dari spion.
“Baiklah, kau boleh pergi. Telepon aku secepatnya, jika sudah sampai di sana.”
Daniel lagi-lagi mengalah. Sejak cintanya semangkin besar dengan Serena, sejak saat itu ia terus mengalah untuk Serena.
Daniel memasukkan Handphone itu ke dalam saku. Memandang wajah Biao dengan tatapan tajam, “Kirim pengawal tersembunyi untuk Serena, ia akan pergi keluar dan membawa mobil sendiri hari ini.”
“Baik, Tuan.” Biao mengambil handphone yang tersimpan, dan menghubungi seseorang.
Daniel lagi-lagi membuang pandangannya keluar jendela, sambil melamun membayangkan wajah Serena.
Bagaimana aku bisa tenang, Serena. Musuhmu masih bertebaran di luar sana. Aku tidak ingin kehilangan dirimu.
***
Di rumah utama.
Setelah mengantar Shabira ke depan pintu utama, Serena dan Diva duduk di ruang utama. Serena berencana untuk membelikan sebuah hadiah, untuk Angel. Hari ini adalah hari ulang tahun Angel. Serena sangat ingin membelikan sesuatu yang spesial.
“Tapi, Nona. Kenapa anda tidak ingin membawa pengawal?” tanya Diva penuh rasa khawatir.
“Aku ingin bebas. Pengawal itu akan membuat semua orang memperhatikanku. Aku merasa tidak nyaman dengan hal itu.”
“Tapi, Nona. Bagaimana kalau ada orang yang ingin mencelakai anda?”
“Jangan khawatir. Ayo kita pergi.” Serena beranjak dari duduknya.
Serena mengambil beberapa kunci mobil yang sudah tersedia di sana. Berjalan beriringan dengan Diva menuju ke garasi. Serena berdiri cukup lama, saat melihat mobil yang kini berbaris di hadapannya.
“Kenapa dia tidak memiliki mobil yang bagus.” Serena memasang wajah kecewa. Saat hadiah yang ia inginkan, belum sempat dipenuhi oleh Daniel.
“Nona, ini mobil yang bagus. Kenapa anda bilang tidak bagus?” tanya Diva dengan wajah bingung.
“Ayo kita masuk.” Serena memilih mobil Mercedes Benz berwarna silver. Sisa kunci ia berikan pada supir yang berdiri di sana. Serena dan Diva masuk ke dalam mobil secara bersamaan.
“Nona, apa anda yakin. Tidak ingin membawa supir?” tanya Diva yang masih dipenuhi keraguan.
“Diva, apa kau takut. Jika aku yang mengemudikan mobil ini sendiri?” tanya Serena dengan senyuman.
“Tidak, Nona. Saya percaya pada anda. Tapi ….” Diva menghentikan perkataannya. Ia tidak ingin membuat Serena sakit hati.
“Ayo kita berangkat.”
Serena memundurkan mobil itu agar keluar dari garasi. Melajukan mobilnya perlahan dengan senyuman. Sejak kecelakaan, ini pertama kalinya ia mengemudikan mobil. Hatinya terasa berbunga-bunga. Ia sangat bahagia, bisa mendapat kebebasan seperti ini dari Daniel.
“Nona, anda jangan kebut-kebutan. Bahaya.” Diva tidak lagi bisa duduk tenang. Saat di jalan sunyi, Serena melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Serena tertawa lepas, “Aku sedang latihan, untuk menghindari musuh.”
“Musuh, Nona?” Diva memandang ke arah belakang mobil.
“Tidak akan kelihatan, mereka sudah tertinggal jauh,” ucap Serena dengan santai.
“Apa ada musuh yang mengikuti kita, Nona?” Diva semangkin panik. Hatinya dipenuhi rasa khawatir.
“Kau tidak tahu Diva. Kalau Daniel mengirim pengawal tersembunyi untuk menjagaku. Dia sudah ingkar janji bukan? aku akan memberinya hukuman nanti malam.” Serena tersenyum licik.
“Dari mana Nona tahu, kalau pengawal Tuan Daniel mengikuti kita?” tanya Diva pensaran.
“Jelas saja aku tahu, hal itu sudah sering aku alami waktu du ….” ucapan Serena terhenti. Ia tidak ingin membuka identitas aslinya, di depan Diva.
“Du … apa Nona?” Diva menatap Serena dengan penuh tanya.
“Tidak ada. Kau salah dengar Diva. Pengawal itu terlihat mencolok, hingga aku bisa mengenali mobil mereka.” Serena mengalihkan pembicaraan. Ia kembali fokus pada kemudinya.
Diva hanya menggeleng pelan. Sifat majikannya memang sangat berbeda, dari wanita lainnya.
Mobil Serena terus melaju kencang, menembus keramaian kota. Satu toko baby shop menjadi pilihan Serena saat itu. Serena memarkirkan mobil di depan toko. Ia tersenyum bahagia saat turun dari mobil.
“Diva, apa Angel suka dengan boneka?” Serena melihat jajaran boneka yang terpajang di etalase.
“Angel sangat suka dengan boneka, Nona. Dia memiliki satu boneka kesayangan. Sejak aku sering pergi meninggalkannya, boneka itu menjadi pengganti diriku.” Wajah Diva berubah sedih.
“Ayo, kita masuk. Mulai hari ini, Angel tidak akan kesepian lagi.”
Serena menggandeng tangan Diva, membawanya masuk ke dalam toko. Wajahnya terlihat sangat berseri.