
Zeroun menatap ke arah Serena, memfokuskan pandangannya ke wajah Serena. Beberapa buliran air mata terlihat mengalir deras dari matanya, bibirnya bergetar. Zeroun menghela napas panjang, memeluk Serena dengan lembut. Mencium pucuk kepala Serena dengan kasih sayang.
“Kau menyelamatkan nyawaku lagi, sayang.”Mencium pucuk kepala Serena, “Terima kasih.”
Serena hanya diam, tanpa ingin menjawab. Serena menatap pemandangan kota dari ketinggian. Sebuah kota yang menjadi tempat pertemuannya dengan Daniel. Pria yang sudah menyakitinya dan juga mencintainya. Pria yang menjadi suaminya, dan memberi beribu cinta hanya untuknya.
Tubuh Serena lunglai dalam pelukanan Zeroun, membiarkan lelaki itu membelai rambutnya. Serena masih merasa bingung, dengan perasaan yang berkecambuk di benaknya. Masih teringat jelas ekspresi wajah Daniel, sebelum tubuhnya jatuh ke lantai.
Kesedihan itu, seakan-akan merenggut jiwa Serena. membuatnya ingin menangis dan berlari untuk kembali.
Namun, cintanya juga sangat besar untuk Zeroun. Pria pertama yang berhasil mendapatkan hatinya dan cintanya. Hingga Serena tidak ingin kehilangan Zeroun.
Beberapa jam kemudian, pesawat itu tiba di sebuah bandara. Zeroun turun dengan merangkul pinggang Serena. Senyuman terus menghiasi wajahnya. Serena hanya diam memandang sekitar bandara. Hongkong, negara yang menjadi tempat tinggalnya waktu dulu. Di negara ini ia bertemu dengan Zeroun dan menjalani hari-hari bahagianya.
“Sayang, apa kau bahagia.” Zeroun berbisik lembut di telinga Serena.
“Aku sangat bahagia.” Serena tersenyum manis.
“Ayo kita pulang," ucap Zeroun pelan.
Zeroun menarik tangan Serena, untuk masuk ke dalam mobil. Lukas mengambil alih untuk mengemudikan mobil itu. Mobil itu berjalan cepat, meninggalkan bandara. Menembus keheningan malam. Perjalanan malam ini memang sangat melelahkan.
Mobil itu melewati pepohonan besar yang berbaris. Menghempas dedaunan kering, yang berserakan di jalanan. Serena menatap keluar jendela, kembali mengingat semua hidupnya di kota itu.
Pintu gerbang yang tinggi dan besar, terbuka lebar untuk menyambut kedatangan Zeroun dan Serena. Mobil itu berhenti tepat di depan utama. Dua pengawal berlari cepat untuk membuka pintu mobil. Serena dan Zeroun turun secara bersamaan.
Beberapa pengawal tampak berbaris dan menunduk hormat. Menyambut kedatangan Serena yang sudah lama mereka rindukan.
“Selamat datang, Nona Erena,” ucap pengawal itu bersamaan.
Serena hanya diam tanpa mau menjawab sambutan itu. Serena terus melangkah masuk, ke dalam. Zeroun mengikuti langkah Serena. Serena menaiki anak tangga dengan cepat, dan masuk ke dalam kamar.
Serena menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk. Serena menatap sekeliling kamar itu dengan seksama. Tidak ada yang berubah, semua masih tersusun seperti dulu.
Zeroun masuk ke dalam kamar, dan melemparkan jas hitam miliknya. Menatap wajah Serena dengan penuh bahagia.
“Apa kau mau mandi bersamaku, sayang.”
“Tidak, aku sangat lelah. Aku ingin istirahat untuk beberapa saat.”
Serena memejamkan matanya dan melupakan semua masalah yang memenuhi pikirannya.
Zeroun melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Zeroun berendam di dalam bak mandi. Menyandarkan tubuhnya dengan tenang. Zeroun kembali bernafas lega, karena Serena telah kembali ke dalam pelukannya.
“Aku sangat bahagia, bisa bersama lagi denganmu sayang. Aku tidak akan, membiarkan dirimu dalam bahaya lagi.” Zeroun memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya.
Masa-masa indah bersama Serena akan terjalin seperti dulu lagi. Zeroun kembali mengingat rencana pernikahannya dengan Serena. Kali ini ia harus berhasil menikahi Serena, dan menjadikan Serena istrinya.
Zeroun keluar dari kamar mandi dengan setelan piama. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang. Matanya memandang Serena yang sudah tertidur dengan bahagia. Zeroun membelai lembut rambut Serena, dan menyelipkannya di belakang telinga.
Zeroun memeluk tubuh Serena. Menciumnya berulang-ulang, untuk melepaskan rasa rindunya selama ini. Ia tidak ingin melepaskan pelukan itu lagi.
Serena hanya tersenyum manis, berada di pelukan Zeroun. Pelukan yang selama ini terasa hilang, yang membuat hatinya menjadi kosong.
Serena membuka matanya dan memegang pipi Zeroun dengan lembut, “Maafkan aku, karena sudah melupakanmu.”
“Tidak sayang, semua tidak lagi berarti saat kini kau bersamaku. Berada di pelukanku, bersamaku.
Zeroun mencium pucuk kepala Serena, dengan begitu lembut. Hatinya terasa bahagia, saat Serena membalas ciumannya. Rasa cinta yang sempat hilang, kini sudah bersatu lagi. Serena menikmati kebersamaannya dengan Zeroun saat ini. Memeluknya erat dengan penuh cinta.
***
Daniel belum di perbolehkan untuk pulang. Tapi ia terus memaksa Adit, untuk mengijinkannya pulang. Tuan dan Ny. Edritz selalu berada di samping Daniel. Biao dan Tama juga tidak pernah ingin berada jauh dari Daniel.
Daniel turun dari ranjang rumah sakit, di bantu oleh Adit yang kini ada di hadapannya.
“Tidak seharusnya kau memaksakan diri untuk pulang!” ucap Adit kesal.
“Aku tidak ingin berada lama di sini!” jawab Daniel cepat.
Daniel melangkah ke sebuah kursi roda, yang kemudian di dorong oleh tuan Edritz. Hatinya masih terasa sakit. Saat mengingat bayangan wajah Serena, yang tidak kunjung muncul di hadapannya saat ini.
Apa kau benar-benar sudah melupakanku, Serena.
Biao dan Tama berjalan cepat mengikuti kursi roda Daniel dari belakang. Langkah Tama terhenti, saat mendengar Handphonenya kini Berdering. Matanya terbelalak kaget, saat melihat satu nama yang kini muncul di layar handphonenya.
Tama menghentikan langkahnya, dan mengangkat panggilan masuk itu dengan cepat. Senyuman kembali muncul di wajah Tama, Tama memandang rombongan Daniel yang kini sudah menjauhinya.
“Apa dia akan kembali,” ucap Tama pelan.
Beberapa saat kemudian, rombongan Daniel sudah tiba di rumah utama. Pak Han dan beberapa pelayan sudah menyambut kedatangan Daniel di sana. Pak Han menunduk hormat, saat rombongan Daniel kini ada di hadapannya.
“Selamat datang tuan,” ucap Pak Han penuh hormat.
Daniel tidak lagi memperdulikan lingkungan sekitar.
Daniel melangkah cepat menuju ke arah kamar. Untuk kembali menenangkan pikirannya tentang Serena.
Tuan dan Ny. Edritz terus mengikuti langkah Daniel dari belakang. Begitu juga dengan Tama dan Biao. Kini Daniel sudah berdiri di depan pintu kamarnya, langkahnya terhenti dan memandang ke wajah Ny. Edritz.
“Tinggalkan Daniel sendiri, ma.”
Ny. Edritz hanya mengangguk cepat, ia sangat mengerti apa yang kini di rasakan oleh putra semata wayangnya itu. Tuan Edritz merangkul bahu Ny. Edritz, untuk membawanya pergi meninggalkan Daniel.
Daniel masuk ke dalam kamar dengan cepat, membanting pintunya dengan kuat. Tama dan Biao hanya bisa diam melihat keadaan Daniel saat ini.
“Biao, ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Tama pelan.
Biao memandang ke wajah Tama yang kini terlihat tenang. Biao menggangguk pelan, dan mengajak Tama untuk pergi dari sana.