
“Aku ingin menjadi kekasihmu,” bisik Alice yang kini menggoda Zeroun di telinganya.
“Kau yakin dengan ucapanmu? Kau akan menyesal!” bisik Zeroun di telinga Alice.
“Wanita mana yang tidak ingin menjadi kekasihmu, Zeroun. Kau sangat menggoda, aku menginginkanmu saat ini.”
Zeroun mulai membelai nakal pa*a wanita itu. Menatapnya dengan penuh hasrat. Hingga tiba-tiba, Zeroun mengambil sebuah pistol yang tersembunyi di sana.
“Apa maumu?” teriak Zeroun dan mendorong tubuh Alice untuk menjauh dari dirinya.
Alice mulai berhenti untuk berakting. Semua kebohongannya, sudah ketahuan saat ini. Alice mulai menyerang Zeroun, dengan ilmu bela diri yang ia miliki.
Alice dengan mudah melucuti pistolnya yang kini berada di genggaman Zeroun. Meskipun mengenakan sepasang high heels yang tinggi, Alice terlihat profesional dalam menyerang Zeroun.
Zeroun melintir tangan Alice ke belakang. Dan menghentikan aksi wanita itu untuk sesaat.
“Kenapa kau menyerangku? Siapa yang mengirimmu Alice?” tanya Zeroun di sela-sela aksinya.
“Kau tidak perlu tahu!” bentak Alice.
Alice kembali melawan Zeroun dengan serangan balik. Alice berhasil mendorong Zeroun dan berlari pergi meninggalkan Zeroun di sana.
Duarr!
Satu tembakan melumpuhkan Alice. Alice terjatuh di atas rerumputan dengan bersimbah cairan merah yang sangat kental. Zeroun menatap Lukas yang berdiri santai di kejauhan. Lukas menurunkan senjata yang baru saja ia todongkan ke tubuh Alice.
Zeroun hanya menatap dingin ke arah Lukas, sebelum berjalan mendekati tubuh Alice.
“Siapa wanita ini sebenarnya,” tanya Zeroun penuh dengan tanda tanya.
“Wanita ini penyanyi di club malam milik Arion, bos,” jawab Lukas sambil melangkah mendekat ke tubuh Alice.
“Cih, ternyata dia sudah berani, mengirim orangnya ke dalam rumah ini!” Melangkah pergi meninggalkan Alice dan Lukas di sana.
Lukas kembali memandang tubuh Alice, yang sudah tidak bernapas. Tatapan benci dan tidak suka sudah melekat jelas, di wajah Lukas saat ini.
“Jangan melakukan segala sesuatu secara diam-diam, atau kau akan mati secara sia-sia.” Lukas berjalan pergi meninggalkan tubuh Alice.
Zeroun sudah berada di halaman belakang. Memegang sebuah pistol dan mengarahkannya ke bidik sasaran yang kini ada di hadapannya. Lukas berdiri di samping Zeroun, untuk menemani latihan Zeroun pagi ini.
“Apa semua berjalan lancar?” tanya Zeroun singkat. Zeroun mengganti pistolnya dengan jenis yang lain.
“Semua aman, Tuan. Semua barang sudah berhasil kita kirim,” jawab Lukas cepat.
Zeroun tidak lagi merespon perkataan Lukas. Matanya sibuk dengan pistol yang kini ada di genggaman tangannya.
Gold Dragon, geng mafia yang terjun ke bisnis gelap dengan menjual aneka minuman keras. Kejayaan bisnis geng Gold Dragon, membuat geng White Tiger kalah dalam persaingan bisnis. Arion yang menjadi ketua geng mafia White Tiger, merasa di khianati dengan Zeroun. Zeroun dan Arion memang bersahabat sejak dulu.
Keduanya juga sudah terjun ke dalam bisnis gelap, sejak beberapa tahun yang lalu. Namun, perkembangan yang begitu pesat, yang akhir-akhir ini di raih oleh gold dragon. Membuat perselisihan itu muncul, hingga Arion memutuskan untuk menjadi musuh Zeroun.
Zeroun selalu saja menghindari pertikaian itu. Zeroun masih menganggap Arion sebagai sosok sahabat yang sejak dulu ia kenal. Zeroun selalu memilih untuk menghindar, dari pada harus menyerang dan mengalahkan Arion.
“Bos, kita ada pertemuan dengan beberapa ketua mafia hari ini.” Lukas kembali menyebutkan agenda Zeroun hari ini.
“Atur semuanya, kita akan menemui mereka semua.”
Beberapa tembakan kembali di keluarkan oleh Zeroun, dari balik tatapan mata dingin dan tidak terbaca.
***
Pukul 02.00 Siang, di sebuah gudang.
Beberapa ketua geng mafia, sudah menunggu kedatangan Zeroun. Beberapa mobil mewah tampak berbaris rapi. Kerumunan orang berseragam hitam-hitam, juga sudah berdiri tegab di sana. Zeroun baru saja tiba di dalam gudang itu. Satu tatapan dingin yang menjadi ciri khasnya, membuat siapa saja yang tidak mengenalinya akan berdiri ketakutan.
Lukas menarik sebuah kursi untuk mempersilahkan Zeroun duduk di sana. Dengan waktu yang singkat, Zeroun memulai rapat siang itu secara tenang. Semua orang mendengarkan secara seksama. Beberapa orang terlihat merokok, untuk mencairkan suasana yang terasa tegang itu.
Hingga beberapa saat kemudian, Zeroun sudah mengakhiri rapat singkatnya. Zeroun memandang ke beberapa botol minuman keras miliknya. Senyumnya menyeringai, saat kini ia sudah berada di atas kejayaanya.
Beberapa bos mafia, tampak mengucapkan selamat atas keberhasilan Zeroun saat ini. Sosok pria misterius terlihat menelepon seseorang. Matanya terus memandang Zeroun dan rombongan yang kini sudah bersiap untuk pergi.
“Bos, kita harus segera kembali.”
Zeroun mengangguk dan melangkah cepat menuju ke arah mobil. Dengan cepat, Lukas masuk ke dalam mobil untuk melajukan mobil itu. Lima mobil yang berisi pengawal Zeroun, juga mulai mengiringi lajunya mobil Zeroun saat ini.
Tidak jauh dari letak gudang itu berada. Beberapa mobil terlihat berbaris menghalangi jalan Zeroun saat ini. Satu sosok pria yang tidak asing bagi dirinya, terlihat duduk di depan mobil hitam miliknya.
“Bos, Arion menyerang lagi,” ucap Lukas pelan.
“Mari kita sambut permainannnya.” Zeroun turun dari mobil dengan cepat.
Satu senyuman yang melingkar di bibir Arion, menyambut kedatangan Zeroun. Tatapan penuh kebencian terlihat jelas di mata Arion saat ia memandang Zeroun.
“Selamat siang, Zeroun Zein.” Membuang salivanya sebagai tanda kebenciannya terhadap Zeroun.
“Aku bahkan sangat jij*k menyebut namamu di bibirku!”
Lukas sudah menggenggam pistolnya dengan cepat, menodongkannya ke wajah Arion. Zeroun menghalangi niat Lukas, memberi kode kepada Lukas untuk kembali menurunkan senjatanya.
“Ada apa kau mengahalangi jalanku saat ini?” ucap Zeroun.
“Kau masih berani untuk bertanya?” menatap sinis ke arah Lukas, “Tentu saja aku menginginkan nya*amu. Kau harus ma*i di tanganku, Zeroun!” teriak Arion hingga memekakan telinga.
Lukas dan beberapa pengawal lainnya, kembali menodongkan pistol. Beberapa pengawal Arion juga sudah menyambut gencatan senjata Zeroun saat ini. Suasana menjadi tenang. Tidak ada terdengar suara sedikitpun. Semua sibuk dengan incaran mereka masing-masing.
“Aku tidak ingin berkelahi denganmu!” balas Zeroun dengan tenang.
“Aku tidak pernah meminta pendapatmu.” Arion melepaskan tembakannya ke atas langit, untuk memberi kode penyerangan.
Suasana kembali gaduh, Zeroun menarik Arion dan melucuti senjata milik Arion. Kini keduanya sudah saling berhadapan dengan senjata kosong.
“Terima pembalasanku, Zeroun.”
Perkelahian antara geng Gold Dragon dan geng White Tiger, berlangsung dengan durasi yang cukup lama.
Perkelahian itu terus berlanjut, meskipun kedua belah pihak sudah di penuhi dengan luka pukulan. Beberapa pengawal terlihat sudah tidak berdaya, dan tergeletak di atas tanah.
Zeroun berlari kencang untuk menghindari Arion, yang sudah terlihat lemah tidak berdaya. Namun Arion tidak ingin menyerah sampai di situ. Arion terus mengejar Zeroun, untuk mengalahkannya saat ini juga.
Sebelum Lanjut, like, komen dan Vote 🤗