
Zeroun membuka pintu kamar Serena. Pria itu menatap wajah Daniel lagi sebelum masuk ke dalam kamar. Sedangkan Daniel, dengan wajah yang begitu tenang, kini bersandar di dinding samping pintu kamar Serena untuk mendengar perkataan Serena dan Zeroun di dalam.
Hatinya juga berkecambuk dengan perasaan bersalah dan kesedihan. Daniel belum rela melepaskan wanita yang ia cintai dengan cara ini. Namun, hanya ini yang bisa ia lakukan agar Zeroun dan Serena bisa menjalani kehidupan yang jauh lebih baik. Tanpa ada bayang-bayang masa lalu yang selalu menghalangi jalan mereka untuk maju ke depan.
Di dalam kamar, Serena meletakkan majalah yang sejak tadi menemani kejenuhannya. Wanita itu tersenyum ramah saat melihat Zeroun muncul dari balik pintu.
“Zeroun ….” ucap Serena pelan.
“Erena, bagaimana keadaamu saat ini?” Zeroun mulai mengatur debaran jantungnya yang kini berdebar dengan cepat.
Sial ! kenapa aku mau menuruti perkataan pria itu. Jika seperti ini, aku akan semakin sulit untuk berbicara.
Zeroun terus-terusan mengumpat Daniel di dalam hati. Perlahan ia berjalan mendekati tempat tidur Serena, yang berada tidak terlalu jauh dari pintu masuk itu.
“Ada apa?” Serena mengerti wajah bingung yang kini terpancar dari raut wajah Zeroun.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
Serena mengerutkan dahinya, "Apa?"
“Ini tentang kita,” celetuk Zeroun sambil duduk di pinggiran tempat tidur Serena.
Deg, Jantung Serena kembali berdetak dengan cepat saat Zeroun mengucapkan kata ‘Kita’.
“Ada apa dengan kita?” tanya Serena ragu-ragu dengan napas yang tidak lagi normal.
“Apa kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi? apa karena kandungan itu kau ingin meninggalkanku, Serena?” Zeroun menatap wajah Serena dengan seksama.
“Serena?” ulang Serena dengan nada yang sangat pelan. Ini pertama kalinya ia mendengar Zeroun memanggilnya dengan nama Serena setelah ia tidak amnesia lagi.
“Ya, kau Serena. Bukankah Erenaku sudah tiada?” Zeroun memalingkan pandangannya dari Serena dengan mata berkaca-kaca dan hati dipenuhi kesedihan.
“Aku sudah tahu semua alasan yang menyebabkan kau melupakan semua janji kita. Kau mengorbankan semua hidupmu untuk melindungiku sejak dulu hingga sekarang. Tapi, kenapa kau masih tinggal dengan pria lain. Apa kau bisa menjelaskan semua ini, Serena? apa yang kau inginkan sebenarnya? antara aku dan Daniel, siapa yang kau pilih untuk menemani hidupmu hingga tua nanti.” Zeroun mengepal kuat tangan kirinya, untuk menekan perasaan sedih di dalam hatinya.
Sedangkan Daniel, juga beradu dengan perasaan bercampur aduk. Bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa lagi kalau nanti Serena mengatakan kata yang tidak sesuai dengan harapan dirinya.
“Aku tidak merasa mengorbankan apapun, Zeroun. Ya, aku melakukan semua itu karena aku masih peduli denganmu, aku gak ingin kau berada dalam bahaya karena ….”
Dengan lembut Zeroun meraih tangan Serena untuk menghentikan ucapan wanita itu.
“Ya, sejak awal aku percaya kalau kau akan selalu menyelamatkan nyawaku.” Zeroun menoleh ke arah pintu, ia tahu kalau saat ini Daniel masih menunggu keputusan akhir yang akan di katakan oleh Serena.
Daniel, cintamu sangat besar kepada Serena. Bahkan lebih besar dari cintaku kepadanya. Kenapa kau harus melakukan permainan seperti ini.
“Zeroun ….” Buliran air mata menetes dengan deras membasahi pipi Serena.
“Aku harus mengatakannya saat ini,” ucap Zeroun dengan tawa kecil yang menyelingi rasa sedihnya.
Bahkan aku masih bisa merasa bahagia, meskipun saat ini aku akan menyerahkan wanita yang kucintai pada orang lain.
Umpat Zeroun lagi di dalam hati dengan perasaan yang bercampur aduk.
“Serena, apa kau mencintai Daniel?”
Pertanyaan yang diungkapkan Zeroun secara mendadak itu membuat Serena tertegun kaget. Satu pertanyaan, yang gak tahu harus ia jawab jujur atau bohong saat itu.
“Zeroun … Aku ….”
Zeroun mendekati wajah Serena berbisik lembut di telinga Serena. “Tanyakan kepada hatimu Serena. Aku tidak ingin kau menyesali keputusanmu saat ini.”
Zeroun terus mendorong Serena agar mau jujur mengakui isi hatinya saat ini.
“Aku yakin kau sudah menyadarinya bahkan sebelum aku menanyakan hal ini. Kau hanya perlu mengakui semuanya di hadapanku dengan jujur. Tanpa tekanan ataupun paksaan.”
Zeroun menjauhkan wajahnya dari wajah Serena. Namun, kedua bola matanya masih memandang wajah Serena dengan begitu serius.
Di luar, Daniel masih menunggu untuk mendengar semuanya dengan jelas. Jantunganya berdetak dengan cepat untuk menanti jawaban Serena yang tidak kunjung terucap.
Hatinya terus saja mengucapkan permohonan, kalau Serena masih tetap memilih dirinya daripada Zeroun. Meskipun saat ini, Serena tidak lagi mengandung anak dari dirinya.
Ku Mohon katakan ya, kalau kau memang benar-benar mencintaiku Serena.
Serena menarik napas dalam dengan jantung berdebar cepat. Menghembuskan napasnya secara perlahan untuk mengatakan keputusan terakhir yang akan menentukan masa depan untuk hidupnya.
“Malam itu, sebelum aku mengajakmu mencari Shabira. Aku merasakan sesuatu yang aneh, setiap detik aku memikirkan namamu. Bahkan sempat berpikir untuk kembali padamu lagi. Di tengah keraguan yang memenuhi pikiranku saat itu, aku baru tahu kalau aku telah mengandung anak Daniel. Entah kenapa aku sangat kecewa saat itu.” Serena menggenggam erat seprei tempat tidurnya.
“Bahkan hatiku belum siap untuk memberi tahu Daniel soal kehamilan itu. Aku kembali memastikan hatiku, dengan memberanikan diri untuk mengajakmu mencari keberadaan Shabira.” Menatap wajah Zeroun dengan mata berkaca-kaca.
“Apa kau tahu Zeroun, hatiku juga sangat luka melakukan semua itu. Tapi, aku tidak ingin mengorbankan anak yang ada di dalam kandunganku saat itu. Aku menyayanginya, aku gak mungkin kembali kepadamu dalam keadaan seperti itu.” Satu tetes air mata terjatuh, membuat Zeroun kembali menyentuh kedua pipi Serena.
“Jangan lanjutkan lagi. Serena, Aku mengatakan semua ini bukan untuk membawamu pergi lagi. Bukan untuk memaksamu untuk mencintaiku seperti dulu. Aku hanya ingin mengetahu isi hatimu kepada Daniel, apa kau benar-benar mencintai Daniel?” Perlahan buliran air mata Serena dihapus oleh Zeroun dengan penuh kelembutan.
“Ya, Zeroun. Aku mencintai Daniel. Aku sangat mencintainya. Bahkan, setelah aku menemuimu. Aku masih tetap mencintainya.” Buliran air mata menetes lagi di pipi Serena.
Awalnya ia memilih Daniel hanya karena kehamilan itu yang mendorong dirinya untuk tetap bersama Daniel. Tapi, seiring berjalan waktu hatinya benar-benar dipenuhi dengan nama Daniel. Wanita itu sudah jatuh cinta dengan Daniel, bahkan ia bisa melupakan cintanya dengan Zeroun Zein.
Zeroun menghusap air mata yang menetes di pipi Serena dengan senyuman. Memandang ke arah pintu lagi untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Daniel dari jarak jauh.
“Zeroun, maafkan aku. Seharusnya aku tidak melukai perasaanmu sampai seperti ini.”
Zeroun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah tahu sejak awal kalau kau memang mencintainya Serena. Tatapan matamu itu, tidak lagi sama seperti dulu. Kau selalu memandangku hanya karena rasa bersalah.” Zeroun meraih tangan Serena.
“Mulai detik ini, jangan pernah merasakan hal berat seperti itu. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu lagi. Ini takdir kita berdua, aku akan merestui hubungan kalian berdua. Aku juga akan pergi meninggalkan Jepang dan kembali ke Hongkong setelah pernikahan Shabira.” Zeroun kembali bernapas lega, saat berhasil melakukan permintaan konyol yang diminta oleh Daniel.
“Zeroun … kau akan pergi?” tanya Serena sedih.
“Aku juga akan mengejar kebahagiaanku. Jangan khawatir, luka di hati ini sudah sembuh seutuhnya. Mulai sekarang jangan memikirkan namaku sebagai kekasihmu. Mungkin sebagai sahabat atau seorang Kakak.” Zeroun menyeringai bahagia.
Serena tertawa mendengar perkataan Zeroun, “Apa kau pantas menjadi Kakakku?”
Zeroun tersenyum mendengar perkataan Serena, “Bagaimana kalau sahabat?” Zeroun mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan Serena.
“Sahabat?” tanya Serena tidak percaya.
“Apa kau mau bersahabat denganku Serena?” tanya Zeroun lagi dengan wajah yang serius.
“Tentu saja.” Serena mengikatkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Zeroun.
Serena kembali tertegun kehabisan kata-kata. Hanya kata maaf yang sampai detik ini bisa ia ukirkan untuk Zeroun. Maaf karena mengkhianati cintanya. Maaf karena telah melukai hatinya. Maaf karena pernah melupakannya.
“Daniel, keluarlah. Apa kau tidak lelah berdiri di depan pintu sebagai orang bodoh!” teriak Zeroun dari dalam.
Di luar, Daniel memejamkan matanya mendengar pengakuan Serena. Bahkan saat ia rela melepas Serena untuk bahagia dengan pria lain, tapi wanita itu lebih memilih dirinya. Pria itu terperanjat kaget saat mendengar teriakan Zeroun dari dalam. Namun, masih belum berani untuk masuk menemui Serena di dalam.
“Apa Daniel ada di luar?” Wajah Serena berubah serius.
“Kau seharusnya tahu Serena, kenapa kau jadi wanita yang tidak peka seperti ini,” ucap Zeroun meledek prilaku Serena saat itu. Pria itu menatap wajah Serena lagi sebelum Daniel masuk ke dalam ruangan.
“Aku melepaskanmu, Serena. Tunanganku yang berharga. Terima kasih untuk semua cinta yang pernah kau berikan untukku. Terima kasih untuk semua momen berharga yang pernah kau lewati bersamaku. Sekarang kau sudah bebas dari hidupku. Kau bebas mencintai pria yang ingin kau cintai.”
Air mata mengalir deras dari pelupuk mata Serena. Hatinya penuh sesak campur bahagia saat mendengar ucapan Zeroun. Ada perasaan kelegaan luar biasa di dalam hatinya. Rasa bebas untuk mencintai yang selama ini ia impikan. Serena menarik tubuh Zeroun untuk memeluk pria itu terakhir kalinya, sebelum melepas pria itu selama-lamanya. Ia ingin detik itu berbagi tangis bersama Zeroun.
“Terima kasih, Zeroun,” ucap Serena serak.
Terima kasih juga, Serena. Karena bertemu denganmu, Aku bisa kembali menemukan Zettaku yang hilang sejak dulu.
Balas Zeroun dalam hati sambil memejamkan mata, memeluk erat tubuh Serena yang kini juga memeluknya.
“Jangan menangis lagi, kita masih bisa bertemu sebelum pesta pernikahan Shabira dan Kenzo.” Zeroun menghapus air mata Serena dengan kedua tangannya.
“Aku menyayangimu seperti aku menyayangi Shabira. Mulai dari sekarang, kalian berdua adalah wanita yang akan selalu aku lindungi. Kalian berdua harus hidup bahagia dengan pria yang kalian cintai. Ingatlah aku sesekali agar namaku tidak hilang dari hidup kalian.” Zeroun mencubit pucuk hidung Serena.
Serena tersenyum manis mendengar perkataan Zeroun. Tidak pernah terlintas di dalam pikirannya, detik ini ia dan Zeroun akan berstatus sebagai sahabat dan tidak lagi saling melukai.
“Aku harus pergi untuk menyelesaikan satu masalah lagi.” Zeroun beranjak dari duduknya.
“Tetap jaga kesehatanmu, Serena. Aku akan kembali lagi nanti untuk melihat keadaanmu.” Zeroun menyentuh lembut pipi Serena.
Serena hanya tersenyum saat mendengar perkataan Zeroun. Memperhatikan punggung Zeroun yang semakin menjauh dari dirinya. Menghapus sisa air mata yang tertinggal di pipinya.
.
.
Di depan kamar.
Zeroun menutup pintu kamar Serena secara perlahan. Menatap wajah Daniel yang masih berdiri di depan dinding kamar Serena.
“Apa kau sudah puas membuatku menangis seperti ini? bagaimana kalau pasukan Gold Dragon melihat semua ini,” protes Zeroun tidak suka.
Daniel tersenyum sebelum memeluk tubuh Zeroun. Hatinya sangat bahagia, bisa memiliki sosok sahabat seperti Zeroun Zein.
“Terima kasih, Zeroun. Aku dan Serena akan selalu menjadi sahabat terbaikmu. Kami akan selalu ada saat kau membutuhkan bantuan kami.” Daniel menepuk pelan pundak Zeroun.
“Daniel, kau ini!” protes Zeroun lagi sambil mendorong tubuh Daniel agar menjauh dari dirinya.
“Aku tidak terlalu suka di peluk oleh pria.”
Zeroun melipat kedua tangannya.
Daniel tersenyum lagi, “Terima kasih Zeroun. Karena kau sudah merestui hubunganku dengan Serena.”
“Sudahlah, jangan bahas masalah itu lagi. Masih ada satu urusan yang harus aku selesaikan. Pergi masuk dan temui Serena di dalam.” Zeroun memutar tubuhnya untuk meninggalkan Daniel di tempat itu.
Hatinya sudah terasa lega setelah mengatakan semua isi hatinya saat ini kepada Serena. Tidak ada lagi beban yang mengikatnya dengan Serena.
Semua yang telah terjadi di masa lalu hanya akan ia jadikan satu kenangan dan pelajaran untuk hidupnya. Kini Zeroun bisa melangkah maju tanpa ada bayang-bayang dan sakit hati akibat semua perbuatan Serena.
Zeroun bisa kembali bangkit menjadi dirinya sendiri seperti dulu lagi. Membuka hatinya untuk masa depan indah yang sudah menantinya di depan.